Kamis, 13 September 2018

Kopi






Aroma menggoda
Membawa lamun pada parfum birahi malam
Ampas mengambang
Meliuk tenang bak tari perawan lugu
Mengantar mimpi pada lidah dan manis liur perempuan binal

Kopi bumbu celoteh para sahabat
Tentang janji pujangga panggung
Yang melacurkan idealisme
Demi kursi yang tak bersandar

Atau tentang
Selera pesta tuan penjaga negeri
Yang sukanya menghabiskan uang untuk berfoya-foya
Dengan anjing piaraanya

Aku masih ada,
Bersama kalian
Dalam coloteh pagi ini
Karena kopi mempersatukan kita
Ditanah, tempat hidup pujangga tanpa hati

Aku masih ada
Menemani dan kita bercerita
Tentang tuan dan piaraannya

Yah…Kopi
Pekat nikmat
Menyatukan kita yang malang,
Mepersatukan mereka yang congkak,
Mengikat rasa yang senasib

Kopi
Celoteh tak boleh berakhir di dasar gelas
Sebab kita masih disini
Mari mendidihkan peluh dan air mata
Agar kata dan rasa tak boleh mati

(Yogi Making-Lelaki Kampung, Kamis 13/9/2018)

Senin, 27 Agustus 2018

Luka Agustus

(Buat Wae Kewa, Reu Nardo dan Mama Yuliana Tuto)

Harap direnggut
Asa di tebas
Rindu digantung

Jiwa pamit
Raga terbujur
Luka, Perih…
Duka dan nestapa

Laksana Tombak menembus lambung
Ibarat Pedang menebas leher

Agustus
Sepi dalam keramaian
Ada tanggis diantara sorak gempita
Dan Agustus, aku seperti tenggelam dilaut teduh

Agustus
Entah sial
Entah takdir


Wangatoa, 25/8/2018
(Yogi Making-Lelaki Kampung)



SUDAHKAH MERDEKA?


73 tahun
Belum lama, rasanya baru kemarin
Sebab Gaung proklamasi dan pekik merdeka
Masih menghentak gendang telinga
Mantul-menabrak dinding hati


73 Tahun 
Mestinya sudah tua
Para proklamator telah mangkat
Dan para penjasapun banyak yang telah pergi menghadap sang khalik
Mungkin sebagian lagi masih hidup
Tapi sudah rentah, tak lagi berkuasa


Rasanya memang belum lama pekik Merdeka itu didengung
Tapi bukan dari mulut para pejuang
Diatas panggung politik
Dari balik podium penguasa


Belum lama, merdeka
Ku dengar, dirumah kumuh petani kampung
Di sekolah, di kebun, di kampus bahkan di gedung-gedung mewah
Dari mulut bocah kampung
Dari teriakan demonstran
Dari balik mimbar rumah ibadah
Juga datang dari mulut sang koruptor


Padahal sudah tua
Lebih dari setengah abad
Tapi rasanya masih baru


Merdeka!! 
Rakyatku, kehabisan BBM
Merdeka, ratusan orang miskin mengantri pada rumah sakit kelas rendah 
Merdeka!!
Nelayanku menangis, dan lautnya dicuri
Merdeka, tanah petani untuk kaum kapitalis


Indonesiaku Merdeka
Hampir satu abad
Tetapi rasanya belum tua


Sebab baru kudengar pekik Merdeka
Dari mulut anak negeri
Dari bibir para pejabat
Dari teriakan penghianat


Merdeka!!
Ratusan nyawa melayang di rumah Tuhan
Merdeka!!
Pejuangku di penjara


Merdeka itu
Bebas, menjarah 
Merdeka itu hukum dipermainkan
Koruptor bebas hidup mewah dalam tahanan

Merdeka itu
Bebas merebut kuasa
Merdeka, ribuan anak negeri kehilangan kerja
Merdeka, yang miskin tetap miskin


Merdeka....
Mulut kritis disumbat duit
Pejuang dikerangkeng
Dan Pejabat tak kunjung merakyat
Merdeka, angka kemakmuran direkayasa


Rasanya memang baru kemarin
Kudengar pekik merdeka dari mulut bocah SD


Dan hari ini rasanya ingin kutemui kamu 
Untuk bertanya bagaimana rasanya medeka? 
Bertanya pada kalian semua, sudahkah kita benar-benar Medeka?


Wangatoa, Jumad, 17 08 2018
(Yogi Making-Lelaki Kampung)


Selasa, 19 September 2017

Resah Penghuni Teluk Lewoleba

Foto : Yogi Making

Tangis gelombang pecah di bebatuan
Dan riak seakan mengirim sinyal gelisah penghuni laut
Buih-buih gelombang yang biasanya ramah bermain mengikuti irama laut, datang malu-malu
Ah..lautku dipagi ini tak ceria

Jika kemarin masih ada senyum
Hari ini diliputi gamang
Nyanyian laut tak semerdu kemarin

Dan camar-camar itu,
Kemarin baru saja menyanyikan lagu riang
Kini tak lagi datang menggoda ikan
Ah..pagi ini lautku tak ceria

Aku terpekur, tanya mengusai pikiran
Membuncah, carut marut tak berarah
Dan gundah datang menghampiri jiwa
Ada apa, hingga lautku tak ceria?

Padahal kemarin...yah..baru saja kemarin
Kulihat saudaraku nelayan mesra bercengkrama dengan lautnya
Tapi hari ini tidak

Kemana perahu-perahu kecil itu?
Dimana layar-layar itu ditiup angin
Dimana mereka?

Akh...kemana kucari jawab
Sudah kutanya pada laut, juga angin dan camar, juga pada buih gelombang itu...
Namun semua kembali tanpa kata

Hem..jika aku adalah diam mungkin sudah ku dengar bisik alam
Andai aku adalah sepih mungkin jawab sudah kudapat
Jika aku adalah tenang mungkin kutangkap gamangnya laut

Sayang, aku hanya bising...
Yang sibuk berpikir tentang apa yang kumakan
Aku bising yang sibuk dengan apa yang kupakai juga, jabatan, uang dan kekayaan
Tentang nama dan harga diri, bisnis dan kolegaku
Aku bising yang terpesona dengan hasrat menguasai dunia

Lalu lupa menjadi sepih...

Padahal jauh disana di dasar laut Teluk Lewoleba, koloni karang sedang menangis
Aku menolak tenang
Padahal dilaut sana para ikan bingung kemana harus menitip telur
Akupun tak mau menjadi diam
Padahal dengan diam aku mendengar keluh ombak
Aku mengusir hampa dan menjadi tuli bagi nyanyian camar

Yah..dengan sepih kita mampu mendengar dentang lonceng
Isyarat kematian para penguhuni laut
Dan hanya melalui sepi kita bersetubuh dengan alam

Pantai Lapa, Lewoleba, Selasa, 19/9/2017
Yogi Making




Minggu, 17 September 2017

Pelaut, Anak Pantai, Generasi Nelayan


Pelaut
Anak pantai
Keturunan gelombang
Dilahirkan pasir
Dibesarkan karang
Diasuh ikan

Anak laut generasi Nelayan
Rumahnya karang
Dihidupi ikan
Berteman hiu
Bersaudara paus

Kami pelaut, generasi Nelayan
Sekolah kami, sekolah laut
Buku kami laut
Pena kami dayung
Cita-cita kami adalah semburat mentari pagi
Mimpi kami adalah senjah

Anak laut, generasi Nelayan
Tamat dilaut
Berijasah laut
Kerja kelaut

Anak laut
Memacari ikan
Dicumbui gelombang
Dibelai riak
Mengawini duyung

Kami pelaut, keturununan Nelayan
Hidup miskin dikampung kumuh
Amis ikan parfum kami
Buih gelombang lipstik kami

Pelaut itu cita-cita
Nelayan itu kerja
Pelaut itu suara
Nelayan itu kemenangan

Kami Pelaut generasi Nelayan
Hidup kami proyek
Sakit kami program
Lingkungan kami uang
Mati kami keuntungan

Kami Pelaut, generasi Nelayan
Desahan kami hempasan gelombang
Siulan kami nyanyian camar
Tawa kami ombak
Canda kami riak
Marah kami taufan
Amuk kami badai

Kami Pelaut, generasi Nelayan
Nenek moyang kami pelaut

Wangatoa, Minggu 17/9/2017
Yogi Making




Sabtu, 16 September 2017

KEJAR ASA TANPA RAGU

JELSY MAKING

Sejuk seakan mejamah pori-pori
Dan embun pagi menetes perlahan,
Seiring mentari menyapa dunia
Refleks aku tersenyum penuh syukur menyapa pagi dari balik jendela kamar

Pagi, kusapa dunia
Membangkit asa meraih cita
Kupacu raga mengahadirkan semangat
Agar juang tak boleh layu

Bangun wahai raga
Tegak wahai kaki
Tatap dunia wahai mata
Lihat, cita dan mimpi diujung penah
Rengkuh wahai tangan
Genggam wahai jemari kecilku
Rebutlah asa tanpa ragu

Asput Binawirawan, Maumere 14/9/2017
Jelsy Making
Siswa Kelas 1 IPA, SMA Frateran Maume

Jumat, 15 September 2017

Warkat Resah Nelayan


Kepada tuan pemilik kursi
Buat baginda pemegang mandat
Mohon siap sedikit waktu
Untuk baca resah kami

Wahai tuan pemilik kursi
Ini kami warga nelayan
Yang menggantung hidup pada laut
Sudi dengar gelisah kami

Ini resah tentang laut
Ini gelisah tentang hidup
Mohon tuan bijaksana
Beri kami ruang hidup

Wahai baginda pemegang mandat
Lama sudah kami menanti
Titah putus soal laut
Tempat kami menaruh harap

Laut kami hidup kami
Masa depan anak nelayan
Tapi kini hendak direbut
Oleh mereka yang bermodal

Wahai tuan penguasa jagad
Coba datang bersama kami
Kita ceritera tentang karang
Juga tentang ikan dan siput

Jika tuan tak bertitah
Kami tak bisa mencari makan
Karena karang akan dibunuh
Oleh mereka yang bermodal
Lalu ikan lari mengungsi
Bawa pergi semua siput

Oh...Tuan pemilik kursi
Hanya oleh titahmu
Untuk Laut kami,dan ikan kami
Dan jika tak jua datang..
Ikan akan habis,Sebab karang telah mati d bunuh..
Dan Laut...
Hanya untuk di pandangi

Wahai tuan dikursi kuasa
Sabar tunggu hampir habis
Gelisah resah mendekat punah
Akibat lama menanti titah

Mohon tuan memberi jawab
Sebelum laut berhasil di rompak
Sebelum karang habis dibunuh
Sebelum ikan berlalu pergi
Sebelum kami mati lapar
Sebelum bayi kehabisan susu
Sebelum anak putus sekolah

Wangatoa, Jumad 15/9/2017
Yogi Making

Saat Rindu Dirawat Alam


Pagi ini untuk waktu yang tak ku hitung
Aku kembali ke sini
Di pantai ini
Menyapa wadas dan pasir yang kemarin
Juga laut dan hempasan gelombang
Tak lupa, pada akar mengrove yang kokoh melingkar mendekap wadas

Semua masih sama
Tak ada yang berubah
Juga rindu yang terpahat pada wadas yang dilingkar akar mangrove

Iya.., rindu yang kemarin
Masih setia dirawat wadas
Utuh dalam dekap lengan akar magrove
Aman dalam naung rindang daunnya
Ah..terimakasih alamku

Dan pagi ini, seperti pagi yang kemarin
Dengan laut dan gelombang masih sama
Sama seperti kemarin
Dimana gelombang terus saja menari
Tarian yang menggoda pantai
Gemulai merangsang libido bebatuan
Membangkitkan gairah untuk segera bercinta

Akh..alam tak pernah lelah bercinta
Bergumul dalam mesra
Membangkit iri dalam diri
Menyapa sepi dalam hati
Sebab aku disini
Sendiri dipantai ini

Wangatoa, Jumad 15/9/2017
Yogi Making