Kamis, 25 Juni 2020

Penyair 1




Ia tak lagi berpesta dengan puisinya
Balada dilafal sebagai dogeng penghantar tidur
Rima dan nada menggaung dalam ruang bawah tanah
Sepih ditengah riuh  

Bagai makhluk asrtal
Sendiri, menarikan rima dalam makna
Suara yang dulunya mampu mengetar jiwa
Dijambret elit
Gaung puisi ditukar dengan suara politisi
Hinggar binggar mendesak rasuk, memekakan telinga

Puisi suara fakir
Penyair menjadi asing ,tersingkir
Suara nurani yang lahir dari tetesan waktu yang murni
Mengecil dan sayup ditelan suara zaman

Lelaki Kampung, 
(Yogi Making)

Wangatoa, 25/06/2020

Rabu, 24 Juni 2020

Kembalikan Indonesiaku


Kaumku Di Paksa Lahir 
Hanya untuk Menjadi Rakyat Biasa
Tak Boleh Memerintah
Hanya Bisa Diperintah

Lalu Dimana Indonesiaku Yang Dulu?
Ah..Ingin Ku Temukan Dia Kembali

Wangatoa, 4/11/2016
Yogi Making

Rabu, 20 Mei 2020

Indonesia Terserah, Lembata Suka-Suka, Para Medis Pasrah

Gambar mungkin berisi: 1 orang




Indonsia Terserah, tagar yang viral diperbincangan pengguna dunia maya. Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Siti Zunariyah, dalam sebuah artikel berjudul “Indonesia Terserah” yang tayang di Kompas.com 20 Mei 2020, menilai topik ini, viral sebagai ekspresi kekecewaan dan protes para medis kepada pemerintah dan masyarakat ditengah kondisi perang melawan pandemi covid 19.

Senada dengan Siti Zunariyah, Direktur Lingkar Mandani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti yang saya kutip dari Sindonews.com tegas mengkritk pemerintah. Ray menilai, tagar Indonesia Terserah, merupakan respons negatif masyarakat Indonesia atas kinerja pemerintah dalam menanggulangi wabah corona.

"Bukan saja karena publiknya yang mungkin kurang patuh, tapi tak jarang malah pokok soalnya adalah elit politik yang seperti tidak satu pandangan dan suara dalam menjalankan aturan yang dibuat," ujarnya Ray.

Dua pendapat saling bertaut diatas, seakan menjelaskan kepada publik bahwa Pemerintah seolah ada untuk menghadirkan aturan, tetapi menghilang saat penerapan aturan dilapangan. Atau bisa dengan kata lain, aturan dibuat pemerintah hanya untuk rakyatnya, sementara aturan tidak mengikat mereka para elit pembuat aturan.

Tidak perlu jauh-jauh, intip saja ke laman face book anda, kegiatan mengumpulkan banyak orang seakan tidak bisa dihindari. Elit negeri ini rutin bertandang ke desa dengan berbagai tujuan. Ada monitoring sekaligus terlibat membagi BLT, ada yang katanya monitoring kegiatan belajar sekolah, ada pelantikan, ada kunjungan kerja, Kunjungan PKK dan lain-lain agenda, yang rata-rata semua kegiatan para elit itu melibatkan masyarakat.

Untuk menghidari pikiran negatif, saya sempat mengarah kepada pandangan positif. Kunjungan ke desa adalah sebuah aksi sosial. Mumpung PSBB berlaku, sehingga menutup ruang perjalanan ke luar Lembata. Tetapi, semakin kesini, pikiran pikiran awal saya mulai berubah. Saya seperti mencium aroma politis yang dibungkus dengan aksi kemanusiaan.

Aksi sosial para elit terjepit diantara lipatan celah aturan pembatasan sosial. Sebuah tindakan yang baku tabrak secara langsung. Disatu sisi, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial yang salah satunya, menghimbau agar sedapat mungkin menghidari kegiatan yang melibatkan banyak orang, tetapi pada sisi yang lain, hadirnya para elit ditengah kampung, membuat sibuk banyak orang didesa.

Oh... tentu ada (pasti ada) yang beralibi, kan dalam kunjungan itu, meski melibatkan banyak orang, tetapi selalu dianjurkan untuk mengenakan masker, ditempat kegiatan sudah disiapkan perlengkapan cuci tangan, ada penyemprotan desinfektan, sehingga boleh dijamin aman. Benarkah? Sebelum berpikir benar atau salah saya ajak untuk kita lihat yang ini dulu. Hehehe... lihat pertanyaan sederhana ini. Siapakah yang membuat aturan pembatasan sosial? Bukankah itu datang dari pemerintah dan rakyat wajib mematuhinya? Lantas kenapa sekarang berubah?

Ah, mungkin ini yang diawal saya sebut bahwa, aturan tidak dibuat untuk pembuat aturan, tetapi hanya semata-mata berlaku untuk rakyat.

Akibat pembatasan sosial, pesta-pesta sebagai sarana silahturahmi antar keluarga ditiadakan, bahkan arisan keluarga pun mungkin tak boleh dilakukan. Tetapi warga boleh berkumpul, atau lebih tepatnya dikumpulkan, karena elitnya berkunjung.

Lha...khan, BLT harus dibagi, dan warga mesti dikumpulkan. Benarkah? Yah... BLT adalah hak yang wajib diterimakan kepada warga terdampak covid. Tetapi, tidak harus dengan mengumpulkan mereka. Kegiatan bisa dibalik. Kades dan perangkatnya yang datangi warga dari rumah kerumah. Dan ini yang sedang dilakukan oleh daerah-daerah lain diluar Lembata. Aksi-aksi protokoler birokratis yang lazim berlaku sebelum pembatasan sosial, hendaknya kita hindari. Jika warga dihadirkan hanya untuk mendengar sambutan, maka sambutan bisa disampaikan melalui pengeras suara. Maksud saya, biarkan warga mendengar sambil bekerja dirumah. 

Haloo... Jika hanya untuk sebuah monitoring, maka baiknya memanfaatkan teknologi. Ada beragam aplikasi komunikasi yang mempermudah kehidupan dijaman canggih ini. Pembatasan sosial tidak berarti, semua kegiatan terhambat. Hanya media dan caranya berbeda. Rapat-rapat, monitoring pembagian BLT, pelantikan, ditengah situasi perang covid ini, bisa dilakukan secara virutal. Memang tidak semua desa di Lembata bisa menggaskes teknologi informasi ini, karena keterbatasan jaringan telekomunikasi.

Sentuhan fisik secara langsung mungkin tidak terjadi, tetapi covid bisa menyebar melalui media lain. Saya perhatikan pada foto-foto pembagian BLT dibeberapa akun pengguna FB. Penyerahan uang BLT disampaikan langsung oleh elit ke tangan warga. Kasus covid di beberapa belahan dunia, membuktikan kalau, amplop, dan uang adalah sarana terbaik untuk memindahkan covid dari satu orang ke orang lainnya.

Artinya, tanpa hadirnya elit, BLT, Pelantikan, dan lain kegiatan bisa dikoordinir oleh desa. Toh, otonomi sesungguhnya itu ada didesa, bukan adanya dikecamatan atau kabupaten.  Dan saya percaya, kalau Kades dan perangkatnya mampu melaksanakan semua harapan pemerintah Pusat, hingga pemerintah Kabupaten. 

Miris memang. Himbauan jaga jarak, pembatasan sosial baku tabrak dengan agenda kunjungan para elit. Padahal fakta terkini menyebutkan kalau virus kian ganas menyerang secara cepat, merangsek hingga ke pelosok. Penderita covid dari hari-ke hari meningkat. Di NTT, virus ini berkembang sangat pesat. Melompat dari deret hitung ke deret ukur. Jika sebelumnya hanya 1 orang dinyatakan positif corona, sekarang penederita covid di NTT mendekati angka 100. Situasi yang harusnya membuat kita semakin berhati-hati.

Para Medis, Ujung Tombak Yang Pasrah

Saya pernah ulas begini, anggapan bahwa “Para Medis Adalah Ujung Tombak Melawan Corona”, adalah anggapan yang “SALAH BESAR”. Terbukti, Pernyataan yang dimula dari bibir sexi elit ini, kemudian terbukti berpengaruh pada cara padang dan cara tindak setiap kita.

Iya, Para Medis, menurut saya, hanyalah BENTENG PERTAHANAN TERAKHIR dalam Perang melawan corona. Sesungguhnya yang berada digaris terdepan adalah kita. Kita sebagai warga dan pemerintah. Ibarat pasukan, kita adalah pasukan infantri. Orang pertama digaris depan perjuangan.

Prajurit perang beralih, kita hanya berdiri sambil bertepuk tangan menyaksikan satu demi satu nyawa saudara kita para medis gugur dimedan tempur. Disaat yang sama, banyak diantara kita termasuk elit negeri, hanya bisa bilang prihatin, sambil terus mengangkangi aturan pembatasan sosial.


Pandangan awal terhadap para medis itu seperti kita melepas tanggungjawab memberantas corona. Biar semua tahu, kita dianggap peduli terhadap perang covid maka cukuplah dengan menghimbau, yah...kita menggap cukup sebagai penyemangat dengan mengatakan, PARA MEDIS ADALAH UJUNG TOMBAK DALAM PERANG MELAWAN CORONA.

Akh...Perang covid yang sebelumnya adalah murni gerakan kemanusiaan, perlahan mulai tercium aroma politis.

Tak cuma tanggungjawab memberantas corona yang diserahkan kepada pada Medis, setelah berdarah-darah dimedan tempur, mereka juga terkena imbas pemotongan TUKIN dan biaya Jasa Pelayanan.

Tidak saja nyawa diserahkan, para medispun harus rela memberi sumbangan pada negara dari hasil keringat dan darah yang tercecer dimedan tempur. Dan mirisnya lagi, kendati tunjangan kinerja dan jasa pelayanan dipangkas, para medis tidak dibekali dengan Alat Pelindung Diri yang maksimal. Belum terlihat, kebijakan elit yang berpihak kepada perlindungan nyawa para medis.

Bagaimana mungkin, prajurit disuruh perang, tanpa dilengkapi dengan senjata yang memadai. Bila mereka adalah tombak, maka lengkapi juga dengan prisai, bila bedil ditangan mereka, maka baiklah mereka diperisai baju anti peluru.

Jangan biarkan mereka turun bertempur hanya dengan modal tepukan tangan dan pujian manis. Pujian dan tepukan tangan, ibarat menghantar nyawa pada kematian lalu pulang dengan julukan PAHLAWAN.
Wangatoa, 20/05/2020
Yogi Making

Rabu, 06 Mei 2020

Malam Tak Berujung (Sajak Corona)



Terang padam kala mentari masih membakar
Bulan menolak hadir, bintang memilih pergi
Malam tak berujung
Gelap pekat selimuti bumi
Alam sepih resah

Perkasa makhluk bumi luluh lantah
Senjata kapar, hanyut lepas dari tangan
Saat Maut menggertak hebat
Pasrah berserah, menanti waktu datang menjemput

Aroma kematian begitu dekat melekat
Maut mengintai
seperti elang menanti mangsa
Bumi sepih hening

Malam tak berujung
Pekat hitam menebar aroma kamboja
Bangunkan arwah yang terbaring
Seram menghambur ke seantero jagat

Tuhan...Bolehkan aku membisik doa
Mampukan kami untuk hidup dalam gelap
Hingga terang hadir menjemput
Tuhan....Bolehkan aku membisik doa
Satukan kami bila waktumu datang menjemput.


Lelaki Kampung, Yogi Making
Wangatoa, 06/05/2020

Senin, 20 April 2020


TRESI, CORONA MEMBATUKAN RINDU

Alam tersirat engan menjelaskan hariku yang hampa

Aku hanyut terperkur dalam bising musik tetangga
Sepih, hari terasa hampa.

Tresi...
Entah alam yang  berduka
Atau hariku yang pilu
Tetapi yang pasti cantik wajah dan manis senyum
Membeku dalam benak

Akh..., Rindu yang kemarin panas mencair
Kini dibekukan
Corona bagai bongkahan es di kutup utara
Alam luluh dalam dingin
Dan rindu ikut membatu

Entah kapan sibangsat itu pergi
Agar panas segera menghampir
Bangunkan alam yang tertidur
Mencairkan rindu yang membatu

Tresi...
Dan bila saat itu datang,
Pastilah rindu menghantarku pulang
Pulang dalam dekapmu,
Dan aku ingin tidur dimatamu

Baik-baiklah kau disana
Tetaplah merawat cinta
Jagalah jarak dengan sesama
Seperti menjaga cintamu padaku.

Wangatoa, 17/4/2020
By, Lelaki Kampung
Yogi Making

Jumat, 03 Januari 2020

RASA YANG MATI



Benar, sungguh kau benar
Benar-benar tak merasa
Apa yang kami rasa

Benar, kau benar
Mungkin karena kedudukanmu sebagai penguasa 
Sehingga menghadirkan ego kuasa yang ujung-ujungnya menyumbat nilai dasar kemanusiaanmu
Manusia harus pintar merasa apa yang dirasakan manusia lainnya
Bukan merasa pintar sendiri  
Hanya boleh menyalahkan tapi tak boleh disalahkan
Padahal kau dituntut untuk berpikir tentang saudaramu yang melarat

Kau mati rasa sehingga merasa tak punya tanggungjawab
Pada seorang ibu yang menangis akibat anaknya tak lagi sekolah, karena ayahnya di pecat pengusaha saat menuntut upah kerjanya di bayar
Dan rasa manusiamu hilang kala memutuskan untuk tidak meluluskan ratusan anak negeri ini menjadi PNS, padahal mereka sudah menunjukan kesetiaan mengabdi puluhan tahun,
Kau lari saat mereka menuntut tanggungjawabmu

Ego kuasamu telah melahirkan kehancuran alam indaku
Laut yang dulu mampu menghidupi ratusan anak nelayan kecil, kini berubah menjadi neraka
Terumbuh karang hancur, ikan-ikan kecil hingga ikan besar diangkut nelayan berkapal
Hutan-hutan keramat tempat bersemayam kewokot Lewo ini kau ubah menjadi tempat pelesir
Dan kau bangga karena berhasil mengubah negeri suci nenek moyangku itu menjadi arena mesum pemuda nakal

Kau benar…
Benar-benar mati rasa 
Hadirmu tak hanya mengubah alam, tetapi budayaku hilang
Ribu ratu yang dulunya hidup damai sekarang menjadi sensitive
Semangat taan tou hilang, dan keakuan tumbuh subur
Lihat di ujung tanah ini, rathun pulo harus turun bertarung saling membunuh demi sejengkal tanah

Lihatlah pula sekarang rakyatku hanya untuk berbudayapun mereka harus di bayar
Hedung, hamang, namang sole menjadi mahal
Dan kau menghancurkan segalanya
Kau benar. Benar-benar mati rasa, 

Kau..yah, kau…kau layak ku maki
Ingin ku kencingi mulutmu busukmu
Serta memukul tepat ke wajahmu
Agar kau tahu bagaimana rasanya sakit saat kau di permalukan
Itulah caraku untuk kembalikan rasamu yang mati

Kau..hei kau yang mati rasa, berhentilah melatih kami untuk bermimpi
Karena kami sudah punya mimpi sendiri
Tentu bukan mimpi tentangmu, tetapi tentang lewo di masa datang
Kami ingin lewo dan tanah ini ini kembali, dan kami rindu damai kami yang dulu

Yogi Making, 
Wangatoa, 3/1/2017

Kamis, 12 September 2019

MARAH ENAM SEMBILAN



Kata dendam merah garang
Tersulut diujung panah
Entah buat siapa atau kepada apa yang kau sasar, 
Tapi panah melesak, laju tanpa arah


Marah mesti dibidik pada sasar
Biar kata tak dibaca kesasar
Marah boleh kasar tapi jika tanpa arah
Pesan mengapung bak perahu patah kemudi


Marahmu merah 
Tapi terbang menggelembung bagai buih sabun terayun bayu 
Pecah, lalu jatuh tanpa bekas


Kawan... marahmu merah
Tapi dendang lagu kita mesti telanjang
Tak lagi merdu didengung
Sebab kaki masih kau pijak ditengah panggung sandiwara


Bila marah tanpa sasar
Maka kata melaju pada bohong
Lalu kemana panah dituju?
Bukankah musuh harus dipilah
Mana musuh yang layak untuk dimusuhi?


Marahmu enam sembilan
Seperti kaki menendang kepala


Yogi Making
06/09/2019


Jumat, 30 Agustus 2019

SAMBUTAN KETUA KPU KABUPATEN LEMBATA DALAM UPACARA APEL BENDERA HUT RI SABTU 17 AGUSTUS 2019



KOMISI PEMILIHAN UMUM
KABUPATEN LEMBATA


Selamat Pagi, dan Salam Sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati,
  1. Rekan-Rekan Komisioner KPU Lembata
  2. Sekertaris KPU Kabupaten Lembata
  3.  Para Kasubag
  4.  Dan yang saya banggakan saudara/i Staf KPU Kabupaten Lembata

Selamat Pagi, Salam Damai Sejahtera buat semua kita...

Marilah senantiasa kita bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha kuasa, karena pada hari ini kita diberi kesempatan untuk memperingati 74 tahun Kemerdekaan Negara kita tercinta, Republik Indonesia, dalam keadaan sehat wal’afiat.

Rasa syukur ini tentu akan lebih bermakna apabila disaat yang berakhmat dan penuh sukacita ini tidak diperingati sebatas tanggal dan hari, juga tidak semata untuk  mengenang jasa para Pahlawan, tetapi lebih dari itu hendaknya moment HUT RI, kita manfaatkan untuk meningkatkan patriotisme dan jiwa nasionalisme, serta  rasa cinta pada Bangsa untuk pengabdian tanpa batas pada Lewotana tercinta.

Peserta upacara yang saya hormati,

Tidak terasa, 74 tahun kita merdeka. Dalam hitungan umur, 74 tahun rasanya baru seumur jagung. Tua dalam hitungan umur manusia, namun belia dalam hitungan bernegara. Kendati demikian, di mata dunia, dalam banyak sisi Indonesia menjadi salah satu negara yang diperhitungkan. Tentu, lompatan kemajuan bangsa sebagaimana sama kita ikuti, tidak lepas dari peran seluruh anak bangsa.
Lompatan kemajuan yang telah dicapai bangsa ini, tidak lalu membuat kita berpuas diri, tetapi justru menjadi pemicu untuk terus merangsek maju berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Peserta upacara yang saya hormati,

Puji Tuhan, belum lama ini kita sukses menyelenggarakan Pemilu Serentak yang aman, damai dan demokratis. Tetapi kerja belum tuntas,  di depan masih banyak agenda kepemiluan yang akan kita hadapi. Berkaca pada rumitnya kerja kepemiluan yang sudah kita lalui itu, boleh jadi kerumitan penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 menjadi bahan evaluasi para pengambil kebijakan di tingkat nasional.

Dan bukan tidak mungkin, agenda Pilkada pun mengalami perubahan. Itu berarti, Pilkada Lembata yang mestinya berlangsung di tahun 2024 bisa di geser ke 2022. Dan jika perubahan terjadi, maka tidak lama lagi agenda super penting itu akan kita hadapi bersama.

Kita harus siap untuk menghadapi perubahan-perubahan yang mungkin saja terjadi, kalau berkaca pada pelaksanaan pemilu sebelumnya, maka kitapun mesti jujur mengakui bahwa masih banyak yang kurang. Terlalu banyak yang bolong, dan butuh perhatian serta tanggungjawab yang lebih serius untuk menanganinya.

Dan sudah pasti, Sumber Daya Manusia menjadi kuncinnya. Kesiapan kita dalam menghadapi kerja kepemiluan di masa depan, sudah harus kita lakukan dari sekarang. Salah satunya adalah dengan mendorong peningkatan pengetahuan sumberdaya manusia, melalui Bimtek-bimtek, pelatihan juga rakor yang rutin diselenggarakan, baik di tingkat KPU RI, maupun provinsi.

Kerja kepemiluan untuk melahirkan pemimpin baru kedepan tentu semakin rumit dengan tuntutan provesionalitas penyelenggara yang mumpuni. Karena itu, tepat di HUT RI yang ke 74 yang mengusung tema SDM Unggul Indonesia Maju, maka masing-masing kita mulai memperbaiki diri, baharui motivasi kerja, mendorong semangat juang dan jiwa rela berkorban.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan demokrasi, maka manusia KPU kedepan adalah manusia tidak cukup dengan mengatakan siap, tetapi manusia KPU yang mampu membalikan kelemahan menjadi kekuatan, manusia yang dibutuhkan KPU kedepan adalah manusia yang cakap mengubah kesulitan menjadi kemampuan, manusia yang selalu merasa tak cukup dengan melayani dari belakang meja, tetapi manusia yang siap bekerja dilapangan, manusia yang taat asas, yang setia pada sumpah, janji dan kode etik. Dan dalam melaksanakan kerja kepemiluan KPU butuh manusia dengan kerja yang terukur dan bertanggungjawab.

Manusia penyelenggara pemilu kedepan adalah manusia yang menolak kompromi dengan hal yang menghancurkan demokrasi, manusia yang jujur, yang provesional dan berdidikasi.


Akhirnya, dari tempat ini, saya ajak semua kita untuk menaikan puji serta syukur kita pada Tuhan, atas pernyertaannya pada perjalanan bangsa dari waktu ke waktu. Kita berdoa, semoga para pejuang yang mengabdikan diri demi meperjuangkan kemerdekaan, senantiasa mendapat tempat yang layak di sisiNYA.

Dirgahayu Bangsaku, Dirgahayu negeriku
SDM Unggul Indonesia Maju

Lewoleba, 17 Agustus 2019
KPU Kabupaten Lembata
Ketua


Elias Kaluli Making




SAMBUTAN KETUA KPU LEMBATA DALAM RAPAT PLENO PENETAPAN KURSI DAN CALON TERPILIH DPRD TINGKAT KPU LEMBATA





KOMISI PEMILIHAN UMUM
KABUPATEN LEMBATA


  1.  Teman-Teman Komsioner KPU Lembata yang saya kasihi,
  2.  Ketua dan Anggota Bawaslu Kabupaten Lembata yang saya banggakan,
  3. Yang saya hormati, Bupati dan Wakil Bupati Lembata,
  4. Pimpinan DPRD Kabupaten Lembata yang saya hormati,
  5. Yang saya hormati, Kapolres dan Koramil Lembata Barat,
  6. Jajaran pimpinan Dinas instansi pemerintahan Kabupaten Lembata yang sempat hadir yang saya hormati,
  7. Yang saya hormati, Para tokoh masyarakat, tokoh agama yang sempat hadir,
  8. Yang saya hormati, Saudara-Saudara Para Pimpinan Partai Politik,
  9.  Sekertaris KPU, Kasubag dan seluruh staf KPU Lembata yang saya hormati,
  10. Para Insan Pers dan pemerhati demokrasi kabupaten Lembata yang saya hormati.


Selamat soreh, dan salam demokrasi buat semua kita....

Sebagai insan Tuhan, diawal acara ini saya ajak semua kita untuk menundukan kepala, menaikan puji dan syukur kepada Tuhan dan rasa terimakasih kepada Leluhur Lembata, karena atas restu dan perkenaannyalah, kita dipertemukan dalam keadaan sehat walafiat, dan Rapat Pleno Penetapan Kursi dan Calon Terpilih DPRD tingkat KPU Kabupaten Lembata, sebagai bagin akhir dari tanggungjawab KPU, dapat kita langsungkan pada hari ini, tanpa hambatan apapun.

Di kesempatan yang berrahmat ini, mewakil kawan-kawan komsioner KPU Lembata, Sekertaris dan Seluruh Keluarga Besar KPU Kabupaten Lembata, menyampaikan Selamat Merayakan Idul Adha 2019 bagi saudaraku kaum muslim Lembata. Mari, Jadikan Momentum Idul Adha sebagai jalan memperbesar pengorban dan pengabdian diri bagi Bangsa dan terutama bagi Lewotana Lembata tercinta.

Hadirin sekalian yang saya banggakan...

Pemilu 2019 patutlah dicatat dalam bagian sejarah tersendiri, banyak kalangan menilai, Indonesia sebagai salah satu Negara demokrasi terbesar di dunia, mampu menunjukan kwalitasnya dengan melaksanakan pemilu serentak yang rumit, unik namun sukses. Sebagai  anak bangsa patut kita berbangga.

Kita berbangga bukan semata-mata karena menjadi bagian dari sukses Pemilu semata, namun lebih dari itu, karena kita mampu menjaga bangsa dan terutama Lewotana  ini dari kehancuran akibat perpecahan politik.

Panas pertarungan politik dalam pemilu 2019 di daerah lain bisa kita lihat. Tak cuma pada akar rumput, pada tataran elitpun ikut menyumbang lahirnya Politik indentitas, menghadirkan berita hoax, dan eksplotasi ujaran kebencian. Pembelahan terjadi dengan sangat tajam.

Panas pertarungan politik para elit, menjalar bebas ke akar rumput. Namun tidak untuk Lembata. Meski kompetisi politik berjalan demikian ketat, tetapi panasnya situasi politik nasional itu, tidak banyak membawa pengaruh negatif kedalam kehidupan bermasyarakat di Lewotana ini. Patut pula dicatat, Lembata yang sebelumnya disebut sebagai salah satu daerah terawan dalam Pemilu 2019 di Indonesia, mampu dibalikan. Faktanya, kesan rawan yang sebelumnya tersemat tidak terbukti. Justru masyarakat bersuka cita menyambut dengan gegap gempita hadirnya pesta demokrasi lima tahunan dalam nada persaudaraan. Pemilu serentak 2019 di Lembata berlangsung aman, lancar dan demokratis.

Hadirin yang saya banggakan...

Kendati demikian, Pemilu 2019 tidak sekedar meninggalkan cerita sukses. Sejarah mencatat, dibalik semua apresiasi kesukseskan penyelenggaraan Pemilu, lahir juga kisah pilu. Ratusan nyawa Penyelenggara Pemilu dan prajurit TNI/Polri melayang setelah menjalan tugas di TPS.

Disaat yang hampir bersamaan, dibalik pengorbanan tanpa batas para petugas pemilu dan aparat TNI/Polri, rasa tidak percaya dan tudingan keras terhadap institusi Penyelenggara Pemilu gaung membahana di seantero egeri. Tamparan demi tamparan menghujam tanpa bisa di  elakan.

Ketidakpercayaan kelompok tertentu kepada institusi penyelenggara pemilu, berujung di Pengadilan Mahkama Konstitusi. tak Cuma gugatan berskala nasional, pada tataran lokal, terhadap Keputusan KPU Lembata nomor 21/HK.03.1/Kpt/KPU-KAB.53.5313/V/2019 tentang Penetapan Hasil Penghitungan Perolehan Suara Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lembata, khusus untuk Daerah Pemilihan Lembata 3, digugat ke MK oleh Partai Amanat Nasional.

Rasa tidak percaya yang kemudian melahirkan hujatan serta gugatan ke MK, bagi kami selaku penyelanggara pemilu adalah hal positif. Hujan hujatan akibat ketidakepercayaan yang mengguyur tubuh penyelenggara, adalah bentuk kontrol warga bangsa sekaligus awasan bagi kami setiap insan penyelenggara Pemilu untuk berdiri kokoh, teguh memegang sumpah, janji dan kode etik penyelenggara.

Pemilu sudah berlangsung, pilihan pun sudah kita jatuhkan. Namun niatan untuk mengakhiri seluruh agenda penyelenggaraan Pemilu melalui tahapan penetapan sebagaima perintah Peraturan Komisi Pemilihan Umum RI Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum harus di geser hingga ke hari ini.

Dan Puji berilmpah serta berjuta terimakasih, patutlah kita daraskan kehadirad Tuhan dan Leluhur Lewotana, sebab  melalui putusan MK Nomor 120-12-19/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 perihal Amar Putusan, yang dibacakan dalam sidang Pengucapan Putusan Selasa, 6 Agustus 2019. Hakim Mahkama Konstitusi menyatakan menolak seluruh permohonan pemohon.

Dengan ditolaknya gugatan Pemohon, maka berakhir pula sengketa PHPU. Bagi kami dikalangan penyelenggara Pemilu, baik KPU maupun Bawaslu Kabupaten Lembata,  mempertanggungjawabkan kerja penyelenggaraan Pemilu dihadapan warga bangsa dan dihadapan sidang MK, adalah hal positif.
Dengan gugatan itu, pihak Pemohon telah benar membuktikan kalau penyelenggara Pemilu, bekerja sebagaimana sumpah dan janji untuk menjalankan tugas secara transparan, provesional dan adil serta berkepastian hukum, demi mewujudkan Pemilu yang berkwalitas dan berintegritas.

Melalui gugatan, partai politik dan penyelenggara pemilu memberikan pelajaran hukum yang baik kepada warga bangsa. Bahwa Kritik, rasa curiga bila terus dipelihara dapat merusak hubungan antar personal bahkan mungkin akan memunculkan fitnah dan pembunuhan karakter pelaku penyelenggara pemilu.

Rasa curiga terhadap instutusi dan kerja oknum penyelenggara pemilu mungkin saja memantik dendam, dan menyalakan api kebencian. Melalui gugatan dan pembuktian hukum dihadapan pengadilan adalah cara yang paling elegan untuk mengakhiri rasa curiga dan tudingan negatif terhadap institusi penyelenggara pemilu. Apapun hasil yang kemudian diputuskan pengadilan, semua pihak wajib hukumnya berbesar hati untuk menerima. Disinilah letak kenegawaran seseorang.
Karena itu, melalui kesempatan yang berharga ini, untuk kesekian kalinya, kami atas nama seluruh penyelenggara pemilu menyampaikan terimakasih secara khusus kepada Partai Amanat Nasional, yang telah mengambil langkah hukum dengan mengajukan gugatan sengketa PHPU ke pangadilan MK.

Dengan pembuktian dan putusan MK yang menolak seluruh gugatan pemohon, kami berharap seluruh pikiran negatif terhadap institusi KPU dan Bawaslu selaku institusi penyelenggara pemilu yang mungkin saja pernah singgah dalam benak, hendaknya dilupakan. Mari kita bersinergi demi membangun demokrasi di tanah Lembata yang sama kita cintai ini. 
Hadirin sekalian yang saya banggakan....

Untuk itulah hari ini, sesuai perintah Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum. KPU Kabupaten Lembata menggelar Rapat Pleno Penetapan Kursi dan Calon Terpilih.

Siapapun yang kemudian ditetapkan dalam pleno ini, adalah sesungguhnya lahir dari rahim rakyat Lembata, mereka putra-putra terbaik yang dipercayakan untuk memanggku jabatan wakil rakyat selama masa lima tahun ke depan.

Bagi saudaraku yang dalam pemilu kemarin belum meraih kepercayaan, hendaknya menjadikan momentum Pemilu sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ini bukan kekalahan, tetapi ini  soal kesempatan menang belum datang. Begitu juga bagi yang meraih suara terbanyak, jangan pula berbangga dan menepuk dada,  karena kerja dan tanggungawab membangun Lewotana sesungguhnya baru dimulai. Rawatlah selalu kepercayaan masyarakat yang diberikan kepadamu, berjuanglah dengan tulus demi perubahan dan perbaikan demokrasi untuk masa lima tahun mendatang.

Dan kepadamu para calon terpilih, saya dan kawan-kawan komsioner KPU Kabupaten Lembata, sekertaris dan semua keluarga besar KPU Kabupaten Lembata menyampaikan proviciat atas kepercayaan besar yang ditampuk rakyat keatas pundakmu. Ingatlah... Kerja dan tanggungungjawab besar terhadap kemajuan Lembata sedang menanti anda, semoga Tuhan dan Leluhur Lewotan Menyertai Perjalan Karirmu.

Hadirin yang saya muliakan...

Sebagaimana yang telah saya sampaikan pada bagian terdahulu, bahwa Sukses Pemilu tak semata karena kerja Penyelenggara Pemilu, namun berkat kerja sama semua kita.
Untuk itu, perkenankan saya mewakili seluruh jajaran KPU selaku penyelenggara teknis Pemilu se Kabupaten Lembata, menyampaikan terimakasih sebesar-bersanya kepada :

  1. Kawan-kawan Komsioner Bawaslu dan seluruh jajaran Bawaslu Kabupaten Lembata.
  2. Kapolres Lembata, Koramil dan seluruh jajaran TNI/Polri di Kabupaten Lembata
  3. Kepada Pemerintah Kabupaten Lembata
  4. Kepada Kepala Kejaksaan dan Kepala Pengadilan Negeri Kabupaten Lembata
  5.  Para tokoh masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan dan seluruh pemerhati demokrasi di Kabupaten Lembata
  6. Terimakasih juga kami daraskan kepada Pimpinan Partai Politik, para calon perseorangan, tim pemenangan dan tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden.
  7.  Sekertaris KPU, Para Kasubag, dan Semua Staf KPU Kabupaten Lembata
  8. Rekan-rekan panitia Adhoc, PPK, PPS dan KKPP se Kabupaten Lembata
  9. Rekan-rekan Jurnalis Lembata
  10. Serta terimakasih mendalam juga untuk seluruh lapisan masyarakat Lembata

Bahwa dengan kerja keras, kerja tepat juga kerja cerdas, dengan cara kita masing-masing, akhirnya perjalanan pemilu serentak 2019 yang memakan waktu, biaya dan energi,  berlangsung aman, dan sukses.

Dan dari tempat ini pula, bersama kawan-kawan komisioner KPU Lembata, Sekertaris dan seluruh keluarga besar KPU Lembata, menyampaikan permohonan maaf, bila kemarin dalam urusan kepemiluan, baik dalam bentuk pelayanan, tutur kata, maupun sikap yang kami lakukan kurang berkenan dihati saudaraku sekalian.

Hadiran yang saya muliakan...

Dan akhirnya, dengan memohon kehadiran Tuhan dan Restu Leluhur Lewotana Lembata, saya nyatakan, Rapat Pleno Terbuka Penetapan Kursi dan Calon Terpilih Tingkat KPU Lembata pada hari ini, Minggu 11 Agustus 2019 saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Lewoleba, 11 Agustus 2019
KPU Kabupaten Lembata
Ketua KPU Lembata

Elias Kaluli Making



Selasa, 06 Agustus 2019

Akhir Sengketa PHPU

(Sebuah Catatan Kecil tentang sengketa PHPU Dapil Lembata 3)

Pemilu 2019 tidak berakhir begitu saja, tetapi semua kita harus menahan napas, mengeser sedikit rasa penantian untuk KPU menetapkan calon terpilih. Pesta demokrasi 5 tahunan yang dilaksanakan secara serentak itu, menyisahkan banyak cerita. Tak semata cerita senang, tetapi banyak juga cerita duka.

Mulai dari kisah kematian kawan-kawan penyelenggara, demonstrasi, dugaan kecurangan hingga gugat menggugat di Mahkama Konstitusi. Sebagai penyelenggara, riak-riak demokrasi sebagaimana yang kita lewati adalah hal yang biasa. Bahkan demi tegaknya demokrasi, nyawapun kami siap pertaruhkan untuk bangsa. 

Untuk Lembata, secara umum Pemilu 2019 berlangsung sukses. Tentu berkat sentuhan tangan semua elemen masyarakat. Sebagaimana yang pernah saya sampaikan sebelumnya melalui akun FB, Sukses Pemilu 2019 di Lembata adalah kerja keras, kerja cerdas dan Kerja Tepat semua kita, baik itu kita sebagai Penyelenggara, Pemerintah, Aparat Keamanan, dan tentu juga semua Masyarakat Lembata. Ehh.... hampir lupa, dan juga berkat upaya keras dari para politisi dan pengurus Paropl. Sukses Pemilu bukan Semata Sukses Penyelenggara, tetapi sukses Pemilu 2019 adalah Bangsa. 

Tetapi pemilu tidak berakhir setelah pleno di tingkat KPU. Untuk Lembata (juga banyak daerah lainnya) ternyata hasil pemilu yang sudah ditetapkan dalam Pleno Rekapitulasi dan Penghitungan Suara itu, direspon dengan gugatan dari Parpol. Gugatan di MK itulah membuat KPU belum menetapkan kursi terpilih.

Sebagai informasi,  proses penetapan kursi terpilih untuk DPRD Kabupaten hasil Pemilu 2019, tingkat KPU Lembata harus ditunda. Pasalnya, hasil Pemilu khusus untuk Dapil Lembata 3 (Omesuri dan Buyasuri) digugat oleh Partai Amanat Nasional.

Sejak gugatan itu dilayangkan, KPU juga Bawaslu berupaya maksimal untuk membuktikan kalau gugatan atau tuduhan yang dilayangkan tidak terbukti. Dalam sidang MK, KPU dan Bawaslu berupaya menghadirkan fakta riil. Tidak maik-main, seluruh dokumen hasil pemilu dari tingkat TPS hingga rekapitulasi tingkat KPU Lembata dijadilan alat bukti untuk memperkuat dalil bantahan terhadap gugatan Pemohon. 

Dan Puji Tuhan, setelah melewati proses panjang dan melelahkan, hari ini, Selasa 06/8/2019 dalam sidang Pengucapan Putusan, Hakim Mahkama Konstitusi-RI menyatakan menolak seluruh permohonan pemohon karena tidak memiliki alasan yang kuat menurut hukum.

Artinya, Hakim MK mengabulkan seluruh bukti dan dalil bantahan KPU selaku Termohon. Tetapi bukan soal menang atau kalah. Bagi kami, perkara/sengketa PHPU telah memberikan pembelajaran hukum yang peenting kepada bangsa. Bahwa kecurigaan, adalah hal wajar dalam sebuah kompetisi. Tetapi kecurigaan, hendaknya dimanage secara bijak agar tidak melahirkan konflik yang kemudian berdampak buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dugaan kecurangan tak berakhir hanya dengan sebuah argumentasi belaka, karena dapat menimbulkan fitnah dan kerugian demoktasi, tapi butuh pembuktian. Dan dalam urusan dengan Sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) tempat pembuktian kebenaran itu melalui Sidang MK. Melalui sidang MK, argumentasi hukum kita adu, di sidang MK kita adu bukti dan  data.

Iya, bahwa putusan MK, tidak semata memberi rasa bangga, tetapi hampir pasti kalau keputusan itu  menyisahkan rasa ketidakpuasan terutama pada kalangan tertentu, dan mungkin kepada Parpol tertentu. Tetapi apapun itu, kami percaya, bahwa Hakim MK telah melihat dengan telitih seluruh fakta persidangan, seluruh bukti dan keterangan saksi juga keterangan pihak terkait sebelum benar-benar menjatuhkan putusan. Semoga putusan MK dalam Sidang Sengketa PHPU nomor 120 memenuhi rasa keadilan semua pihak.

Semua sudah berakhir, untuk itu bersama Kawan-Kawan Komisioner KPU dan seluruh Cru KPU Kabupaten Lembata, dan jajaran penyelenggara adhock, kami menyampaikan rasa terimakasih mendalam kepada semua pihak atas dukungannya. Akhiri Seluruh Perbedaan, sambung kembali tali persuadaraan yang mungkin pernah putus, mari saling mendukung demi tegaknya demokrasi bangsa dan perubahan bagi Lewotana Lembata Tercinta. Mohon doanya agar KPU Lembata segera melaksanakan agenda Penetapan Kursi dan Penetepan Calon DPRD Terpilih Hasil Pemilu 2019.

Bravo Lewotana Salam Demokrasi....

Penulis : Elias Kaluli Making
(Ketua KPU Lembata) 


Selasa, 23 Juli 2019

Pemarah Yang Aneh



Marah..banyak orang menjadi pemarah
dan gila atas kemarahan
Sehingga sering marah-marah
Lalu cemas bila tak marah

Itu aneh bukan?
Bukan marah akan keanehan
Tetapi menjadi pemarah, kerena kemarahan
Aneh, pemarah marah akan kemarahan

Ah..lihat diujung sana banyak pula yang cemas
Mereka cemas bila tak marah
Lalu marah-marah atas kecemasan
Cemas kalau tak marah, dan menjadi pemarah kalau cemas

Ini gila.. Dunia kini dihuni oleh kaum pemarah
yang tergila-gila atas kemarahnya
dan menjadi gila karena kemarahannya
Pemarah yang gila adalah mereka yang menggilai kemarahannya
Lalu marah-marah
Tanpa tau kemana marah bermuara

Di facebook marah
Twitter marah
Instagram juga marah-marah
Telegram penuh kata marah

Ah..Marah mengantri pada semua tempat
Sehingga dunia terasa sesak dengan jejeran kata marah

Ruang Kerja, 23 Juni 2019
By, Yogi Making




Sabtu, 13 Juli 2019

Tentang Kota Yang Egois




Aroma busuk lumpur menyelinap diantara jejeran bangunan kota
Bersaing dengan riuh mesin dan kepul asap kendaraan
Berebut masuk pada rongga hidung pejalan kaki
Meresap lalu kering pada paru anak jalanan

Lalu siapa peduli...?
Ah..., kota sangat egois
Masa bodo pada lirih pengemis tua
Yang merangkak lemas diantara tong sampah

Tuan..aku lapar,
Aku belum makan..
Siapa peduli..?
karena rintih pengemis
hanya lenyap diantara molek bibir pelacur jalanan

Kota yang egois
Tak peduli pada resah kaum miskin
Menolak iba pada tangis bayi pengemis
Tapi luluh pada pinggul tante girang
Lalu tenggelam diantara jepitan paha pelacur

Siapa peduli..?
Sementara kulihat kau dilayar televisi
Hanya bicara
Berdebat ribut dan saling ancam
Hanya demi kuasa

Siapa peduli..?
Karena disini, dikota ini
Dasi pejabat lebih mahal dari nyawa kaum papa

By : Yogi Making
Kamar Hotel Bunga-Bunga, Jln. Antara No : 2
Pasar Baru, Jakpus, 11/7/2019



Minggu, 16 Juni 2019

Ingin Kutulis Kata Rasa





Kuingin tulis
Tentang rasa yang terpendam
Tentang kata yang hilang
Tentang bising yang sepih
Tentang senjah
Tentang malam
Juga tentang pagi

Ingin kutulis
Tentang syair yang hampa tanpa huruf
Tentang sajak tanpa rima
Tentang lagu tanpa lirik

Tapi bukan pada dinding face book
Apalagi pada tembok rumah
Bukan pada dinding pagar
Tak juga pada batu berlumut
Tapi pada hati
Agar kata rasa dibaca dengan rasa

Karena bila ia adalah lagu
Maka syairnya adalah rindu
Bila ia adalah sajak
Maka rimanya sepih
Dan bila ia adalah kata maka
Maka kalimatnya adalah rintih

Kutulis hanya pada hati
Agar kau membaca dengan rasa

Yogi Making
Yogi Making
Minggu, 16 Juni 2019