Kamis, 30 Juni 2016

Seribuh Wajah Bapak

(Pada Perempuan Mulia)

Surat Anis buat sang ibu..

Ibu,
Ibu, ini suratku yang kelima buat mu, Dan untuk kesekian kali itu pula tak pernah sekalipun kau membalasnya.Tapi aku belum resah, sebab sudah sering pak pos pulangn surat yang ku kirim buatmu. Meletakan di pagar bambu rumah kita, hingga angin meniupnya terbang, demikian pula rinduhku akan belaianmu melayang di tengah siang yang gersang. Tapi aku tak peduli. sebab sekalipun kau tak menerima suratku, aku tak lelah buat mengirimu keluh resahku.

Zombi by Google
Ibu,
Dalam suratku kali ini, 
Aku berceritera tentang mimpi burukku. Mimpi yang sangat mengerikan hingga aku harus memeluk erat tubuhku sendiri di malam menjelang subuh itu.
Dalam mimpiku, aku melihat orang-orang berubah wajahnya menyerupai wajah bapak. Bahkan sangat mirip hingga aku hampir tak sanggup membedakan satu dengan yang lainnya. Mereka berlarian keluar dari gua-gua persembunyian, ada yang berhamburan dari hutan belantara, dari bukit-bukit yang tandus. Mereka menyebut dirinya malaikat pencabut nyawa. Di tangan mereka tergenggam tombak bermata dua. Sebagian mengacungkan bedil. Sebagian lain membawa tongkat dengan sangkur di tangan satunya, dan cambuk di sebelahnya.

Ibu.
Mereka mengencingi gubuk tua samping kebun sayur tempat kakek beristirahat menabur benih buat sekeping uang logam di hari tuanya.
Ada juga dari mereka yang membuang tinjanya di lubang bekas galian, lalu menjadikannya buat tempat kita menabur dupa dan lilin untuk sembayang setiap memasuki musim arwah.Sungguh mengerikan ibu.

Dimimpiku, aku menyaksikan wajah bapak ada dimana-mana. Menempel di setiap kepala orang-orang yang selama ini menjilat bekas tapak kakiknya, sebelum kembali ke kampung-kampung mereka. Wajah orang-orang itu. tak ubah wajah serigala di tengah purnama seperti yang pernah kakek dongengkan ketika mengantarku tidur saat usia belia dulu.

Kini mereka memasuki tengah kota. Mereka tidak lagi malu-malu. Tubuhnya telanjang tak berkasut. Kuku kaki dan jari-jari tangan mereka tajam-tajam. Pun demikian gigi dan mulut mereka, menyebarkan aroma bau busuk yang menyengat. Menambah ketakutanku usai tersadar dari mimpi buruk itu. ada yang masih berlumuran darah. Ada juga yang masih menempel serpih daging yang bergelantung seperti saat nenek menjemur kulit ikan di tiris dapur belakang rumah kita.

Ibu, kini mereka berhamburan memasuki gedung-gedung sekolah, merampas pensil dan kertas dari tangan anak-anakmu, untuk kemudian melukiskan wajah bapak dengan bibir merah jambu. Sebagian dari mereka bahkan menerobos menara lonceng, menarik tali-tali dengan begitu keras hingga mendentumkan suara-suara kebisingan. Telingaku pekak, mengalirkan darah, tumpah membasahi satu-satunya potret wajahmu yang ku simpan sebagai kenangan akanmu, ibu. Sedang, sebagian yang lain dari mereka, berteriak dengan lantang membilang nama bapak seperti sorak sorai bala pasukan usai merebut gerbang kota dari para jelata dalam kisah kepahlawanan tempo dulu.

Mereka meneror kota. Menyanyikan kidung kemuliaan diiring ratap tangis dan jerit perempuan-perempuan serupamu. Anak-anak dibiarkan mengusap pipi dari bercak air mata dan darah, sebab mereka belum bisa apa-apa. Tumbuh tanpa belaianmu di paksa menyembah bapak sambil terus memuja-mujanya.

Ibu.......
Terorr.......
Ibuuu...
Teror-teror itu terus terngiang-ngiang dalam mimpi-mimpiku.
Teror-teror itu....
Memaksaku menyaksikan mimpi burukku....
Ibuuu....

Dua belas orang dari mereka, kemudia menjarah rumah ibadah. Merampas mikropon dari tempat kami merasakan keteduhan jiwa yang resah.
Kau lihat ibu, kota kini di penuhi orang-orang dengan wajah serupa bapak. Ada yang menyerupai topeng menyembunyikan wajah asli mereka. Ada yang menempelkan poster tepat di batok kepala mereka. Ada yang memakunya tepat di dada dekat jantung, bahkan ada yang menggantungnya di perut dekat selangkangan. Sungguh mengerikan. Orang-orang itu seperti kehilangan jiwa. Berjalan tak beraturan, menopang tubuh palsu.
Ibu.


Aku harus bangun dari mimpiku. Agar teror itu segera berakhir. Sebab membiarkan jiwaku terus menjauh dari tubuhku adalah memaksakan kekosongan yang hampa tanpa makna.