(Pada
Perempuan Mulia)
Surat Anis buat sang ibu..
Ibu,
Ibu, ini suratku yang kelima buat mu, Dan untuk kesekian
kali itu pula tak pernah sekalipun kau membalasnya.Tapi aku belum resah, sebab
sudah sering pak pos pulangn surat yang ku kirim buatmu. Meletakan di pagar
bambu rumah kita, hingga angin meniupnya terbang, demikian pula rinduhku akan
belaianmu melayang di tengah siang yang gersang. Tapi aku tak peduli. sebab
sekalipun kau tak menerima suratku, aku tak lelah buat mengirimu keluh resahku.
![]() |
Zombi by Google |
Ibu,
Dalam suratku
kali ini,
Aku berceritera tentang mimpi burukku. Mimpi yang sangat
mengerikan hingga aku harus memeluk erat tubuhku sendiri di malam menjelang
subuh itu.
Dalam mimpiku, aku melihat orang-orang berubah wajahnya
menyerupai wajah bapak. Bahkan sangat mirip hingga aku hampir tak sanggup
membedakan satu dengan yang lainnya. Mereka berlarian keluar dari gua-gua
persembunyian, ada yang berhamburan dari hutan belantara, dari bukit-bukit yang
tandus. Mereka menyebut dirinya malaikat pencabut nyawa. Di tangan mereka
tergenggam tombak bermata dua. Sebagian mengacungkan bedil. Sebagian lain membawa
tongkat dengan sangkur di tangan satunya, dan cambuk di sebelahnya.
Ibu.
Mereka
mengencingi gubuk tua samping kebun sayur tempat kakek beristirahat menabur
benih buat sekeping uang logam di hari tuanya.
Ada juga dari mereka yang membuang tinjanya di lubang bekas
galian, lalu menjadikannya buat tempat kita menabur dupa dan lilin untuk
sembayang setiap memasuki musim arwah.Sungguh mengerikan ibu.
Dimimpiku, aku menyaksikan wajah bapak ada dimana-mana.
Menempel di setiap kepala orang-orang yang selama ini menjilat bekas tapak
kakiknya, sebelum kembali ke kampung-kampung mereka. Wajah orang-orang itu. tak
ubah wajah serigala di tengah purnama seperti yang pernah kakek dongengkan
ketika mengantarku tidur saat usia belia dulu.
Kini mereka memasuki tengah kota. Mereka tidak lagi
malu-malu. Tubuhnya telanjang tak berkasut. Kuku kaki dan jari-jari tangan
mereka tajam-tajam. Pun demikian gigi dan mulut mereka, menyebarkan aroma bau
busuk yang menyengat. Menambah ketakutanku usai tersadar dari mimpi buruk itu.
ada yang masih berlumuran darah. Ada juga yang masih menempel serpih daging
yang bergelantung seperti saat nenek menjemur kulit ikan di tiris dapur
belakang rumah kita.
Ibu, kini mereka berhamburan memasuki gedung-gedung sekolah,
merampas pensil dan kertas dari tangan anak-anakmu, untuk kemudian melukiskan
wajah bapak dengan bibir merah jambu. Sebagian dari mereka bahkan menerobos
menara lonceng, menarik tali-tali dengan begitu keras hingga mendentumkan
suara-suara kebisingan. Telingaku pekak, mengalirkan darah, tumpah membasahi
satu-satunya potret wajahmu yang ku simpan sebagai kenangan akanmu, ibu. Sedang,
sebagian yang lain dari mereka, berteriak dengan lantang membilang nama bapak
seperti sorak sorai bala pasukan usai merebut gerbang kota dari para jelata
dalam kisah kepahlawanan tempo dulu.
Mereka meneror kota. Menyanyikan kidung kemuliaan diiring
ratap tangis dan jerit perempuan-perempuan serupamu. Anak-anak dibiarkan
mengusap pipi dari bercak air mata dan darah, sebab mereka belum bisa apa-apa.
Tumbuh tanpa belaianmu di paksa menyembah bapak sambil terus memuja-mujanya.
Ibu.......
Terorr.......
Ibuuu...
Teror-teror itu terus terngiang-ngiang dalam mimpi-mimpiku.
Teror-teror itu....
Memaksaku menyaksikan mimpi burukku....
Ibuuu....
Dua belas orang dari mereka, kemudia menjarah rumah ibadah.
Merampas mikropon dari tempat kami merasakan keteduhan jiwa yang resah.
Kau lihat ibu, kota kini di penuhi orang-orang dengan wajah
serupa bapak. Ada yang menyerupai topeng menyembunyikan wajah asli mereka. Ada
yang menempelkan poster tepat di batok kepala mereka. Ada yang memakunya tepat
di dada dekat jantung, bahkan ada yang menggantungnya di perut dekat
selangkangan. Sungguh mengerikan. Orang-orang itu seperti kehilangan jiwa.
Berjalan tak beraturan, menopang tubuh palsu.
Ibu.
Aku harus bangun dari mimpiku. Agar teror itu segera
berakhir. Sebab membiarkan jiwaku terus menjauh dari tubuhku adalah memaksakan
kekosongan yang hampa tanpa makna.