Selasa, 22 Desember 2020

Di Desa Jontona, Lahar Dingin Takhluk dengan Kekuatan Koda dan Menunjuk

 *Mitigasi Bencana Banjir Lahar Dingin Ala Orang Jontona*


Materian Batu yang diangkut Lahar dingin, 15/12/2020
(foto : Yogi Making)


Sejak erupsi Ile Lewotolok pada Minggu 29 Nopember 2020, masyarakat adat Lewuhala, warga desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur terus melakukan ritual penyembahan. Ritual ini dimaksudkan untuk meredakan amukan  gunung.

Dalam ulasan sebelumnya yang bertajuk, “Gunung Meletus, Bilamana Orang Jontona Mengungsi,” telah saya sampaikan bawah, ribuan warga penghuni kaki gunung Ili Anakoda atau yang dikenal luas dengan nama Ili Lewotolok mengungsi. Tak ketinggalan juga warga desa Jontona. Kendati demikian, khusus warga desa Jontona, tidak semua memilih menggungsi, tetapi ada belasan warga juga yang masih tinggal menjaga kampung.

Tinggal menjaga kampung, bukan berarti mereka tidak takut mati. Dalam diskusi bersama warga Jontona yang belum keluar kampung untuk mengungsi, disampaikan bahwa, bencana dipercaya sebagai teguran alam kepada manusia. Karena itu, tidak boleh semua warga pergi mencari tempat aman untuk mengungsi, tetapi harus ada yang tinggal. Warga yang tinggal, atau belum keluar kampung, merupakan wakil dari beberapa marga/suku yang secara adat memiliki kewenangan untuk membuat ritual penyembahan.

Mitigasi lokal yang dianut masyarakat adat Lewuhala, kampung Baopuke, desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, tidak melibatkan semua warga. Hanya butuh beberapa orang yang merupakan anak keturunan marga/suku tertentu. Jika dalam situasi darurat bencana, anak keturunan dari suku pemimpin (Bele Raya) seperti Halimaking dan Soromaking, juga suku-suku pelaksana tugas ritual seperti, Purlolon, Labamaking, Balawanga, juga orang tertentu yang berkamampuan khusus atau disebut dengan Molan, serta beberapa marga lain yang berkaitan dengan tugas menanggulangi bencana, wajib tinggal untuk melakukan ritual adat dengan tujuan mengamankan kampung, dan melindungi warga dari gempuran bencana alam.

Dalam ulasan bertajuk, “Gunung Meletus, Bilamana Orang Jontona Mengungsi,” telah saya ulas secara khusus tentang membaca tanda alam pra bencana erupsi gunung berapi, dan bilamana atau waktu yang tepat bagi warga untuk mengungsi, saya juga berjanji untuk kembali mengulas khusus soal, mitigasi bencana lahar dingin ala masyarakat adat Lewuhala khusus yang bermukim di Desa Jontona. Dan ulasan ini, adalah pemenuhan janji saya.

Mengenal Lahar Dingin

Lahar Dingin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online adalah, endapan bahan lepas (pasir, kerikil, lapili, batu, bongkahan batu, dan sebagainya) disekitar lubang kepundan gunung berapi yang bercampur air hujan dan meluncur memasuki lembah dan sungai (ketika hujan turun).

Beberapa literatur on line yang saya baca menyebutkan, lahar dingin biasanya terjadi saat hujan lebat. Tesis ini berbeda dengan yang biasanya dialami oleh warga desa jontona. Sebagai infomasi, desa Jotona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, tertelak persis di kaki gunung Ili Lewotolok, terdapat kali yang menganga lurus dari puncak gunung Lewotolok, menuju pemukiman warga Jontona.

Lahar dingin, kata warga Jontona, tidak terjadi bersamaan dengan hujan lebat. Tetapi lahar biasanya ditandai dengan hujan gerimis. Selain gerimis, Lahar atau Mae dalam sebutan lokal, juga ditandai dengan bunyi gemuruh dari puncak. Kadang terjadi bersamaan dengan gempa, dan bila malam hari terlihat jelas cahaya seperti nyala lampu senter.

Warga Jontona mengenal lahar dingin dalam dua jenis. Mae Lakki (jantan), dan Mae Bo’i (betina). Lahar Lakki, biasanya garang dan paling berbahanya,  munculnya mae lakki, ditandai dengan gempa dan gemuruh yang membahana. Sementara yang betina, meski tetap berbahaya tetapi sedikit pemalu.

Di jontona, terdapat beberapa kali aliran lahar. Warga setempat menuturkan, jalan lahar, atau kali tempat meluapnya lahar di desa mulanya berada di tengah pemukiman warga. Namun, seiring perkembangan penduduk dan meluasnya pemukiman warga, jalan lahar di tengah pemukiman dipindahkan ke tepi timur desa. Pemindahan jalan lahar dilakukan melalui seremonial adat.

“kali kecil ditimur gedung sekolah, atau persis di tepi barat lapangan bola kaki desa jontona, pada jaman dulu, adalah kali tempat meluapnya lahar dingin,” ungkap Matheus Kiwan Halimaking.

Di jelaskannya, sejak ritual pemindahan, lahar dinggin dari puncak tidak lagi mengalir ditengah pemukiman, tetapi dengan sendirinya pindah ke tepi timur. Kali yang terletak di sisi timur kampung tempat meluapnya lahar dingin, oleh warga lokal menyebutnya dengan “Mae Larang”.

Pembagian Jalan Lahar

Desa Jontona, kampung Baopuke, adalah sebuah desa tua di Ile Ape Timur. Warga kampung Baopuke, desa Jontona dari generasi ke generasi telah mentap di Jontona. Rata-rata warga jontona, adalah petani dan mengelola lahan pertanian di areal kaki gunung Lewotolok.

Mengenai lahar, dalam tutur para tokoh adat desa Jontona menyebutkan, mulanya jalan lahar dari puncak mengarah ke Jontona. Mengamati bahaya bencana banjir lahar, pendahulu soromaking, Kia Soro membagi jalan lahar menjadi dua bagian. Kali besar yang menganga dari puncak gunung itu, di perintah terbelah dua. Satu jalur dibagi mengarah ke Kampung Lamariang dan Lamawolo, sementara yang lainnya diarahkan ke Jontona. Cerita kehebatan pendahulu itu, di tutur dari generasi pendahulu ke generasi berikutnya. Dan sejak saat itu, lahar dapat diatasi dengan bahkan hanya dengan menunjuk.

Hali Making, Marga Penghalau Lahar

Tumpukan batu bercampur masir,bukti beringasnya Lahar dingin
di desa Jontona, 15/12/2020 (Foto : Yogi Making)

Bila marga Soromaking bertugas membagi jalan lahar, maka tugas menjaga kampung dari gempuran lahar dimandatkan kepada Halimaking. Marga halimaking memiliki 12 rumah adat, dalam pemerintahan lokal, masing-masing marga mendapat mandat/tugas sendiri. Dan untuk urusan mengatasi lahar, dimandatkan ke Hali Making Sili Keko. Kendati demikian, dalam situasi tertentu, peran mengahalu lahar dapat dilakukan oleh anak keturunaHalimaking dari rumah adat lainnya.

Cerita menghalau lahar dingin bagi warga kampung Baopuke, desa Jontona, bukan isapan jempol. Lahar dingin akibat erupsi Ili Lewotolok akhir bulan Nopember 2020 adalah fakta kedigdayaan anak keturunan Halimaking dalam menghalau lahar.

Bedi Halimaking, adalah salah satu dari belasan warga jontona yang tidak ikut mengungsi. Bedi, memilih tinggal dan menjaga Jontona, untuk merawat petuah sang ayah, laran Kopong Halimaking. Selain itu, di desa Jontona, Bedi adalah salah satu aparat desa Jontona. Dan cerita menghalau lahar, dibuktikan sendiri oleh Bedi halimaking.

Saat ditemui beberapa waktu lalu, bersama warga yang tidak ikut mengungsi di aula desa Jontona, Bedi, Yakobus Asan, Marsel Tuan, Dorothea Soromaking, Matheus Kiwan, Lorens Lema dan beberapa warga lainnya menuturkan, lahar dingin sempat terjadi beberapa kali.

Suatu malam, tepatnya Selasa 15 Desember 2020, sekitar pukul 12 malam, terdengar gemuruh yang diawali dengan munculnya cahaya terang seperti sorot lampu senter, dari tengah gunung di sekitar hutan kayu. Belasan warga jontona yang saat itu masih berjaga-jaga di aula desa, keluar menyaksikan cahaya dan mendengar suara gemuruh.

Mulanya, Bedi anak kandung laran Kopong itu tak sadar kalau, dirinya yang adalah anak keturunan Halimaking, tak boleh menunjuk, pun dia pantang menghardik lahar. Menunjuk, atau menghardik lahar, kendati dilakukan dengan cara tak sengaja, lahar dipastikan meredah. Secara alami, muatan materialnya ditinggal pada sebuah tempat dibelakang kampung, banjir meredah, dan pelan-pelan air lahar dingin mengalir menuju pantai.

Malam kejadian dimana Bedi membuktikan kekuatan adat yang diwarisi sukunya itu, pada 15 Desember 2020, saat mendengar gemuruh yang diawali dengan munculnya cahaya, bedi tak sengaja menunjuk ke arah datangnya lahar. Tidak lama berselang, gemuruh dan kilauan cahaya berhenti.

“Malam itu, kalau bedi tidak angkat tangan dan tunjuk ke arah cahaya, pasti lahar besar turun. Dan mungkin saja menerjang kampung,” ujar Yakobus Assan, diamini Bedi dan Dorothea Soromaking. Warga lainnya yang ikut berjaga di aula desa, ikut membenarkan cerita tentang Bedi menunjuk ke arah datangnya lahar.  

Warga kampung baopuke punya cara sendiri untuk menghalau lahar. Cara yang terkesan mistik itu, adalahl warisan leluhur dari generasi ke generasi. Matheus Kiwan, sepuh Halimaking yang didapuk sebagai pemimpin adat masyarakat Lewuhala, menuturkan, lahar dapat diatasi dengan bentakan, atau hanya cukup dengan menujuk ke arah lahar, dan cara lainnya adalah “tuba” (tikam).

Tikam lahar, atau Tuba Mae menggunakan sepotong bambu bulu dan satu butir telur ayam kampung. “jadi kalau kita sudah dengar bunyi besar seperti irama gong gendang dari puncak gunung, itu berarti ada mae, jadi kami lari ke wanga larang (jalan lahar) lalu, telur dilempar, diikuti dengan menikam bambu bulu di tengah kali. Kalau itu sudah kita lakukan, berarti mae dengan sendirinya redah,” katanya. Lebih jauh Matheus Kiwan menjelaskan, mengahalau lahar hanya bisa dilakukan anak keturunan Hali Making. Lahar tak semata dilahalau dengan tuba,  untuk Mae Bo’i cukup dengan menunjuk atau dengan dengan bentakan.

“ada koda (mantra adat) yang kita sampaikan sebelum tuba mae,  jadi bukan hanya buang telur dan tikam bambu bulu. Kalau mae bo’i, cukup dengan bentak atau dengan tunjuk,” sambung molan (dukun adat) adat Yakobus Assan Balawanga.

Tutur warga ini membangkitkan rasa penasaran dan keingintahuan saya. Paling tidak, saya ingin membuktikan, kalau, ancaman lahar dingin itu nyata. Tetapi bisa dihalau. Saya pun kemudian meminta Yakobus Assan dan Ponaan saya Kopong, menghantar saya ke kali tempat jalan lahar, dan menyaksikan dari dekat, bekas material berupa batu besar, pasir dan kerikil yang tumpuk lahar dingin pada sebuah tempat sekitar kurang lebih 1 KM  ke arah utara desa Jontona, tepat di lokasi ladang warga. Benar seperti yang dituturkan, sepanjang melintas pada kali tempat meluapnya lahar, tercium bau belerang menyengat hidung. Jejak lumpur lahar masih membekas pada bebatuan dan dasar kali.

Pada bagian lain, saya menyaksikan tumpukan material berupa batu-batu besar seukuran meja makan, juga pasir dan kerikil. Batang-batang pohon besar tampak ditumpuk pada lokasi yang berbeda. Ajaibnya, jauh dibawa kaki bukit itu, material yang diangkut banjir lahar ditumpuk rapi, seperti dibuat oleh kedandaraan berat. Saya terkesima menyaksikan keajaiban alam, ada rasa bangga pada generasi moderen orang baopuke, meski hidup di tengah jaman modern, kearifan lokal masih dirawat awet.

Kebersatuan mereka dengan alam sangat kuat, hingga meski terkesan mistis namun fakta membuktikan bila alam masih mau mendengar maunya manusia. Bencana memang sulit untuk diprediksi kapan datangnya, namun bencana sepatutnya dapat dihindari, apalagi bila manusia tak tamak mengeksploitasi alam sesukanya, bila ingin alam tak mencelakai manusia, maka mestinya alam harus dijaga dan dirawat.

Dan, mitigasi bencana ala orang Jotona, tak semata untuk mengatasi lahar. Tsunami pun bisa dihalau, tentu peran ini diambil oleh anak keturunan dari marga lainnya. (tentang menghalau tsunami, akan saya ulas di topik berbeda)

Mitigasi ala kearifan lokal orang Baopuke, desa Jontona adalah mitigasi murah dan mudah dilakukan, upaya yang jauh dari sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dan saya percaya, keyakinan adat bahwa, anak keturunan Lewuhala bisa memerintah alam, yang oleh logika ilmu pengetahuan pun akan sulit dipecahkan.

Semoga, kepercayaan orang Lewuhala ini terus dirawat, untuk kemudian menjadi harta yang ditinggalkan pada generasi-generasi berikutnya. (Yogi Making, Senin, 21/12/ 2020)

22 komentar:

  1. Saya suka baca.. dan tunggu cerita selanjudnya.. terimakasih!

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih, siap. utan tentu akan saya bayar pada saatnya...hh

      Hapus
  2. Balasan
    1. Milla Lolong, Perempuan penulis dan Penulis Perempuan. tks ya adik..

      Hapus
  3. Terimakasih banyak nana, tulisan ini sangat membantu sekali untuk kami generasi penerus baopuke, ditunggu tulisan berikutnya nana..

    BalasHapus
  4. Ulasannya menarik minat untuk di baca,ditunggu ulasan selanjutnya Abang...

    BalasHapus
  5. Ulasan yang sangat menarik nana..ditunggu ulasan selanjutnya

    BalasHapus
  6. Tanggungjawab kita adalah kearifan lokal harus tetap dijaga dan bukan hanyabjaga tapi dipraktekan untuk kebaikan lewotana

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo terjaga tentu akan dipraktekan...tks tuk dukungannya

      Hapus
  7. Luar biasa.. terima kasih utk catatan penuh makna ini!

    BalasHapus
  8. Teruslah menulis abang untuk jd bahan cerita turun temurun kita turunan Lewohala

    BalasHapus
  9. Tulisan yang bernilai emas juga kalah mahalnya

    BalasHapus