Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2021

Tingkatkan Gairah Seks, Kendalikan Gula Darah dan Cegah Parkinson dengan Komsumsi Jenis Ikan Ini

 

Ikan Kembung, Hasil Pancingan di Teluk Lewoleba
Foto : By : Yogi Making

Tahukah kita bahwa laut Teluk Lewoleba merupakan lumbung pengasilan bagi warga nelayan di pesisir kecamatan Nubatukan dan Ile Ape? Luas laut yang dihimpit daratan dari pulau Lembata dan Pulau Adonara itu, ternyata menjadi lumbung ikan, kerrang, kepiting dan beberapa jenis biota laut lainnya.

Nah, salah satu jenis ikan terbaik dalam teluk Lewoleba adalah jenis ikan Kombong, atau dalam sebutan umumnya adalah Ikan Kembung. Ikan ini adalah sekelompok ikan laut pelagis kecil yang termasuk genus Rastrelliger. Meskipun bertubuh kecil, ikan ini masih sekerabat dengan tenggiri, tongkol, dan tuna. Ikan Kembung (Rastrelliger spp) dapat di bedakan mеnјаdі 3 species уаіtu Rastrelliger kanagurta, Rastrelliger brachysoma, dаn Rastrelliger neglectus.

Pengamatan visual saya, ikan kembung di Teluk Lewoleba terdiri dari dua jenis, masing-masing ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) dаn Kembung Perempuan (Rastrelliger brachysoma). Mungkin terdengar asing dengan penamaan Ikan Kembung Lelaki- dan Ikan Kembung Perempuan.

Karena untuk ikan yang satu ini, masyarakat Lembata tidak membedakan berdasarkan Jenis. Penamaan ikan kembung lelaki dan ikan kembung perempuan pun, pertama kali saya dengar dari seorang ahli perikanan di Lembata, Mantan Kapala Dinas Kelautan dan Perikanan Lembata, Paulus Kedang. Dan warga lembata hanya mengenal dan menyebutnya dengan ikan kombong.

Ikan Kembung Lelaki dan Ikan Kembung Perempuan?

Sepenggal penjelasan tentang ikan Kembung dari Kedang Paulus dan tambahan informasi dari situs aruna.id menyebutkan, nama Ikan Kembung Lelaki dan Ikan Kembung Perempuan hanyalah penamaan local, yang tidak merujuk pada jenis kelamin. Masing-masing jenis memiliki pejantan dan betinanya sendiri. aruna.id menyebutkan, kedua jenis ikan ini sering berada Bersama dalam satu gerombolan, mungkin karena itu pula, warga lembata tidak membedakan mana jenis ikan kembung lelaki dan jenis ikan kembung perempuan.

Sebelum sampai pada manfaat ikan kembung atau ikan kombong dalam sebutan Orang Lembata, terlebih dahulu kita mengenal ciri dari masing-masuing-masing jenis ikan kembung, untuk membedakan jenis ikan kembung lelaki dan ikan kembung perempuan.

Ikan Kembung Lelaki :

1.    Ikan ini berukuran kecil hingga sedang antara 20-25 cm, namun dapat tumbuh maksimal hingga 35 cm. Bentuk badan agak langsing dan pipih atau lebih ramping. 

2.    Pada ikan hidup atau ikan yang masih segar, bagian kepala dan punggung umumnya didominasi warna biru hijau kekuningan atau keemasan dengan dua sampai tiga baris totol-totol hitam. Tiga atau empat garis hitam memanjang juga dapat dilihat di sekitar gurat sisi (garis-garis sempit memanjang di sisi atas).

3.   Perut umumnya memiliki warna putih keperakan. Dua garis keemasan membujur di perut atas. Bintik hitam dekat tepi bawah sirip dada. Bintik hitam ini tidak ditemukan pada jenis perempuan.

4.    Sirip punggung depan kekuningan dengan tepi hitam, sirip ekor biasanya gelap, dan sirip-sirip selebihnya abu kehitaman. Jarak antara sirip punggung pertama dan kedua cukup jauh.

5.   Kembung Lelaki bersifat epipelagik, mengembara terutama di perairan dangkal sekitar paparan benua. Ikan ini tersebar mulai dari Indo–Pasifik Barat. Daerah penyebarannya dі perairan pantai Indonesia dеngаn konsentrasi terbesar terdapat dі perairan Laut Jawa, Kalimantan, Sumatera Barat, dаn Selat Malaka.

Ikan Kembung Perempuan :

1.       Bentuk tubuh lebih lebar dengan kepala lebih besar dibanding Kembung Lelaki. 

2.       Bentuk moncong runcing dengan struktur rahang atas yang kokoh.

3.    Pada warna tubuh memiliki warna yang kontras antara bagian punggung dan perut. Tubuh bagian atas didominasi warna hijau keperakan dengan bintik-bintik hitam kecil.

4.     Tapis insang terlihat dari sisi kepala ketika mulut terbuka. Sirip ekor berwarna kekuningan.

5.   Kembung Perempuan termasuk jenis epipelagik,  dapat ditemukan di perairan rataan terumbu karang yang dangkal hingga daerah estuaria di sekitar muara sungai. Ikan ini tersebar mulai Hindia Timur & Pasifik Tengah Barat.

 Catatan : Sumber : aruna.id/2021/06/16/ikan-kembung-perempuan-dan-lelaki/

 Manfaat Ikan Kembung :

Ikan Kembung, dikenal sebagai ikan yang sangat gurih untuk konsumsi, dan menjadi salah satu primadona laut teluk lewoleba. Ikan jenis ini tidak saja bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan protein tubuh, tetapi ternyata bermanfaat untuk mencegah beberapa jenis penyakit.

Nah… biar tidak penasaran, ini dia manfaat ikan kembung menurut lansiran aruna.id, (https://aruna.id/2021/04/05/4-manfaat-ikan-kembung-yang-sering-terlupakan/)

1. Mengendalikan kadar gula darah

Tidak banyak yang tahu kalau ikan kembung punya kandungan Omega 6 yang tinggi. Secara umum, Omega 6 adalah asam lemak tak jenuh ganda yang menjalankan fungsi-fungsi esensial untuk tubuh. Nah, Omega 6 ini juga berkhasiat mengendalikan kadar gula darah kita lho! Bagi para penderita diabetes, tentu ini adalah kabar baik karena ikan kembung bisa jadi alternatif yang ideal untuk konsumsi sehari-hari.

Selain itu, jika Omega 6 dikonsumsi dengan seimbang bersamaan dengan Omega 3 maka akan membantu tubuh mengurangi peradangan. Caranya cukup mudah juga. Kita bisa melengkapi menu ikan kembung dengan ikan-ikan berlemak seperti Sarden dan Tenggiri. 

2. Menjaga sistem kekebalan tubuh

Selain Omega 6, ikan kembung juga memiliki kandungan Omega 9. Menurut ahli gizi, Omega 6 dan 9 ini bisa menjaga kesehatan jantung jika dikonsumsi dengan baik. Kabar baiknya adalah jika jantung kita sehat, maka resiko terkena serangan stroke dan komplikasi lain yang bermuara pada jantung juga bisa dikurangi.

Omega 9 sangat berguna juga untuk membantu penyerapan berbagai vitamin dalam tubuh. Artinya, Omega 9 bisa menjaga kebutuhan gizi kita.

3. Menambah massa otot dan meningkatkan gairah seksual

Bagi kita yang sedang menjalani program pembentukan tubuh ideal dan ingin menambah massa otot, ikan kembung juga punya kelebihan yang bisa dimanfaatkan. Salah satu alasannya adalah karena ikan kembung memiliki kandungan protein hewani yang tidak kalah dengan daging sapi. Jadi, mengkonsumsi ikan kembung dengan rutin akan membantu mencukupi kebutuhan protein hewani tubuh kita. Ini berarti, ikan kembung bisa jadi alternatif bagi daging merah.

Manfaat lain yang saya lansir dari sumber berbeda menyebutkan, konsumsi ikan kembung dengan kandungan protein yang tinggi ternyata berkhasiat untuk mendorong gairah seksual seseorang. 

4. Mencegah Alzheimer dan Parkinson

Kandungan docosahexaenoic acid (DHA) dalam ikan kembung dapat mencegah Alzheimer dan Parkinson. DHA berperan besar dalam proses pembentukan sistem saraf, mata, dan otak manusia. Oleh karena itu, para ahli gizi berpendapat kalau konsumsi DHA yang terkandung dalam ikan kembung baik untuk menjaga kesehatan saraf, membantu daya ingat, serta baik untuk dikonsumsi ibu hamil demi perkembangan janin yang sehat. Jika sistem saraf sudah terbentuk dengan baik, DHA akan berfungsi untuk merawatnya juga. Oleh karena itu, DHA baik untuk menjadi asupan nutrisi bagi segala usia.

Sebagai tambahan, ada pula manfaat ikan kembung yang memiliki kandungan vitamin D. Dengan vitamin D, penyerapan kalsium akan semakin maksimal sehingga secara langsung berfungsi untuk mendukung pembentukan, perawatan, dan penguatan tulang dan gigi.

Nah setelah tahu manfaat ikan kembung, yuk dicari untuk konsumsi supaya lebih sehat!

 

 

 

 

 

Minggu, 27 Desember 2020

Masalah Psikososial Mengacam Pengungsi Korban Erupsi Ile Lewotolok

 

Ile Lewotolok, (Foto : Yogi Making)

Sebagaimana diketahui bahwa akibat erupsi, ada ribuan warga asal kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur menggungsi. Selain di rumah-rumah keluarga, pemerintah juga menyiapkan beberapa posko penanganan pengungsi.

Meski terdapat ragam kekurangan, namun dapat dikatakan bahwa penanganan pengungsi korban erupsi Ile Lewotolok secara umum terbilang baik. Selain pemerintah, bantuan juga datang dari berbagai pihak. Dari sisi kesehatan, pun dibutuhkan penanganan khusus. Tak cuma penanganan kesehatan fisik, kesehatan psikispun penting untuk diperhatikan.

Tidak kita pungkiri, bila selama masa mengungsi banyak warga yang sakit. Ada diantaranya menderita sakit bawaan, tetapi ada pula yang menderita sakit saat berada dipengungsian. Kita juga mencatat, sejak erupsi hingga sekarang beberapa warga meninggal dunia. Mengenai warga yang meninggal selama masa penggungsian saya tidak punya data lengkap, tetapi khusus untuk desa Jontona, hingga Minggu 27 Desember 2020 tercatat empat telah warga berpulang menghadap sang khalik.

Tentu bukan karena salah pemerintah, karena sepengetahuan saya, khusus di posko-posko utama, selalu disiagakan petugas medis. Pelayanan kesehatan bagi pengungsi dilakukan secara gratis, termasuk bila ada pengungsi yang sakit dan terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit dan menjalani rawat inap.

Ok, saya kira penanganan kesehatan fisik clear, tetapi bagaimana dengan penanganan gangguan psiskis akibat stres dan trauma bencana? Kegiatan perlindungan pengungsi pada keadaan darurat bencana sesuai Perintah pasal 14 huruf “d” Peraturan  Badan Penanganan Bencana Nasional Nomor 3 tahun 2018, meliputi, penyediaan layanan kesehatan dan psikososial. 

Psikososial adalah suatu kondisi yang terjadi pada manusia yang mencakup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya. Psikososial merujuk pada hubungan yang dinamis antar faktor psikis dan sosial yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. (Ahmad Baihaqy; dictio.id), masalah psikososial diantaranya: beduka, Ansietas atau kecemasan atas situasi yang dianggap berbahaya, ketidakbersayaan, resiko perilaku sehat, gangguan citra tubuh, koping tidak efektif, koping keluarga tidak efektif, sindrom pasca trauma, penampilan peran tidak efektif, dan HDR situasional.

Merujuk pada definisi dan penyebab gangguan psikososial diatas, maka bukan tidak mungkin gangguan psikosiosial dapat dialami oleh pengungsi. Beberapa fakta lapangan bisa kita lihat, banyak pengungsi yang walau telah berada di tempat aman, tetapi selalu merasa cemas, bahkan takut pulang kampung, karena membayang ancaman kematian akibat erupsi Ili Lewotolok.

Kondisi ketakutan seperti ini bisa menjadi akut, bahkan bagi warga yang mungkin mengidap penyakit bawaan tertentu, bisa berakibat fatal. Catatan ini sengaja saya sampaikan, sebagai saran bagi pemerintah dan pihak pemerhati bencana erupsi Ile Lewotolok, agar mulai berpikir dan melakukan pendampingan warga pengungsi untuk mencegah terjadinya gangguan psiskososial masif.

Trauma berat akan bencana sudah terjadi, apakah langkah penanganan dan pendampingan warga untuk mencegah dan rehabilitasi warga pengungsi dari gangguan psikososial, terlambat?

Penanganan Kesehatan Jiwa (halaman 130, Buku Pedoman Teknis Penaggulangan Krisis Kehatan Akibat Bencana terbitan Depkes RI Tahun 2007), meliputi meliputi 2 fase Penanganan Kesehatan Jiwa.

Fase pertama disebut Fase Kadaruratan akut, dalam fase ini intervensi masalah psikososial dilakukan setelah 48 jam setelah bencana, atau 2 hari setelah bencana. Dan fase kedua adalah fase rekonsolidasi, pada fase ini dilakukan intervensi psikososial yang relevan dan kegiatan psikoedukasi.

Gejala psikososial seperti, rasa cemas, gelisah dan panik, sedih, mengisolasi diri, gangguan tidur, juga berkurangnya napsu makan, serta beberapa gejalan lain, mulai tampak. Gejala-gejala seperti ini adalah, tanda-tanda ringan yang bisa diatasi dengan edukasi dan pemberian informasi yang benar, namun bukan tidak mungkin, gangguan psikososial ringgan ini menjadi menetap dan bisa saja menimbulkan akibat fatal bagi penderitanya.

Sebagaimana yang saya sampaikan pada bagian terdahulu, perhatian pemerintah dan kelompok organisasi relawan terhadap pengungsi korban erupsi Ili Lewotolok, terbilang baik, yang ditandai dengan ketersediaan tenaga relawan, pelayanan logistik dan perbekalan memadai, penyediaan petugas kesehatan dan sarana kesehatan.

Namun disisi lain belum tampak penanganan masalah gejala psikososial. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan belum dilakukan upaya pencegahan gejala psikososial, karena setahu saya, sudah mulai muncul relawan yang khusus mengajak anak untuk bermain, tetapi bagaimana dengan penanganan terhadap orang dewasa?

Situasi warga penggungsi dengan gejala gangguan psikososial, bahkan bisa diperparah dengan informasi-informasi kebencanaan yang tersebar bebas tanpa bisa di filter dengan baik yang dengan mudah diakses melalui akun-akun media sosial.

Tak kalah seruhnya dengan dengan informasi digital, Informasi lisan tentang erupsi, banjir lahar dingin yang mengancam pemukiman, peta zonasisi wilayah berbahaya, juga info terkait kondisi hewan ternak yang tidak diurus terus terus saja mendera warga pengungsi. Penyebaran informasi kebencanaan yang tidak terfilter ikut mempengaruhi keadaan psikologi penggungsi.

Dengan demikian, melalui catatan ini, ingin saya himbau kepada semua yang peduli dengan bencana erupsi Ile Lewotolok, untuk mulailah berhati-hati dan cobalah memilah pilih, informasi yang patut dan tak patut untuk disampaikan. Ada informasi yang baik untuk disampaikan secara umum, tetapi ada pula yang hanya cukup didiskusikan dalam kalangan tertentu. Bukankah dalam situasi tanggap darurat yang tanpa bisa diprediksi kapan berakhirnya ini, dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi-informasi yang menguatkan dan memberi keyakinan pada warga korban erupsi agar menimbulkan keyakinan dan menggembalikan rasa percaya diri.

Tentu himbauan yang sama pun saya sampaikan buat Pemerintah, bahwa situasi tanggap darurat dengan ribuan penggungsi memang rumit dan butuh pikiran ekstra untuk memage, namun perlu juga diingat, bahwa penanganan pengungsi harus dilakukan secara menyeluruh, awal sampai akhir sampai pada tahap rehabilitasi. Terhadap penanganan kesehatan psikis, sebagaimana petunjuk buku pedoman teknis penanganan kesehatan akibat bencana, haruslah melibatkan banyak pihak. Mulai tokoh masyarakat, tim relawan, tenaga medis, sampai pada guru agama.

Selain itu, saya pun berharap agar pemerintah perlu memfilter informasi secara baik, serta melakukan edukasi penanganan bencana secara benar dan rutin kepada warga pengungsi, Tentu dengan harapan, warga korban bencana harus tetap sehat jiwa, untuk menghadapi hidup pasca bencana. SEMOGA (Yogi Making-27 Desember 2020)

 

 

 

Selasa, 13 November 2018

Markus Mangu Lajar, Kisah Petani Sukses, Ketika Padang Kritis Jadi Lahan Produktif


Tetapi, cita­cita saya adalah kebun saya itu tidak boleh sama dengan kebun umumnya di kampung ini. Saya harus siapkan kebun untuk masa depan saya dan terlebih untuk anak­anak,”

LEWOLEBA,FBC-­Musim hujan tahun akhir 2013 hingga awal 2014 merupakan malapetaka bagi masyarakat petani di Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata ratusan hektar lahan padi dan jagung
miilik petani terancam gagal panen, kenyataan ini sungguh mencemaskan, terumama bagi petani yang hanya menggantungkan hidupnya pada padi dan jagung.

petani asal desa Nubahaeraka, yang dulunya pernah hidup merantau di luar Lembata ini. Melalui usaha pertaniannya, Markus kini mampu menghasilkan pundi­pundi uang bernilai ratusan juta rupiah dari kebun yang dulunya berupa lahan gundul, kritis dan jadi langganan kebakaran hutan.

Markus tidak sendirian. Melalui sentuhan tangan Yayasan Bina Sejahtera (YBS), lahan yang dulunya bahkan tak pernah dilirik oleh petani lain di desanya, berhasil diubah menjadi taman uang. Dari lahan seluas lebih dari 1 hektar itu, setiap tahunnya Markus memanen uang ratusan juta.

Lahan Kritis jadi Produktif

Dari Lewoleba­ ibukota Kabupaten Lembata, kami mendengar informasi yang menyebutkan Markus Mangu Lajar berhasil mengubah lahan kritis menjadi lahan produktif. Kami pun segera menyambangi Desa Nubahaeraka, guna menggali kisah suksesnya dan melihat dari dekat lahan yang konon di tanami pohon­pohon uang, berikut ulasan lengkapnya.

Di era 1980, situasi kekeringan menyulitkan petani untuk berkebun. Kondisi alam ini mempersulit
perekonomian desa­desa di Lembata, tidak terkecuali di Desa Nubahaeraka, desa asal Markus Mangu Lajar.

Kondisi yang dialami warga, juga membawa pengaruh yang besar bagi perjalanan hidup Markus Mangu. Ketika itu ia masih lajang. Ia memutuskan untuk merantau ke Manggarai. Di Manggarai, selama perantauan ia mengerjakan apa saja untuk menyambung hidupnya. Di belahan barat pulau Flores inilah, ia juga akhirnya menemukan belahan jiwanya.

“Saat saya kembali dari Manggarai, orang tua dan keluarga tanya, apa oleh­oleh yang dibawa. Saya hanya bilang saya bawa oleh­oleh isteri dan anak,” kenang Markus.

Ia menuturkan, sekembali dari Manggarai dan mengalami situasi kampung ia pun menjadi bingung. “Setelah tinggal beberapa di kampung saya bingung, apa harus saya kerjakan, sekolah juga terbatas, apalagi uang. Tetapi saya punya semangat untuk berusaha,” ujarnya.
 
Markus Mangu Ladjar, Petani Yang Sukses Mengubah Lahan Kritis Menjadi Produktif
Foto : Yogi Making
Berbekal semangat dan warisan tanah milik orang tuanya Markus mulai memilih untuk “menceburkan” diri menjadi petani. Awalnya, dari lahan warisan orang tua itu, ia mulai menanam pisang. Ia pun perlahan mulai menikmati hasil tanamannya karena ratusan anakan pisang yang ia punya mulai dibeli dari warga setempat.
Sejak itu, seluruh perhatian dicurahkan untuk mengelola lahan yang baru ditanami pisang, hingga satu ketika, secara tak sengaja dia bertemu dengan Markus Sidhu Batafor, Pengelola YBS.

Dari pertemuan singkat itu, dia tahu kalau YBS adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat non pemerintah (NGO) yang giat melakukan pendampingan dan mengajak petani untuk merubah lahan
kritis menjadi lahan produktif dengan kampanye “back to nature”.

Semangat Markus untuk memperdalam pengetahuannya di bidang pertanian mulai muncul. Dia lalu membentuk kelompok tani dan meminta YBS untuk mendampingi. Kelompok tani bentukan Markus itu beranggotakan tiga rumah tangga petani.

“Kelompok kami awalnya hanya tiga keluarga. Setiap hari kami kerja buka padang untuk dijadikan kebun. Tetapi, cita­cita saya adalah kebun saya itu tidak boleh sama dengan kebun umumnya di kampung ini. Saya harus siapkan kebun untuk masa depan saya dan terlebih untuk anak­anak,”
kenangnya.

Pendampingan YBS

Lajar kian bersemangat kala YBS yang dikomandani oleh Purnawirawan Kolonel Markus Sidhu Batafor mulai melakukan pendampingan. Kampanye kembali ke alam diterapkan secara sungguh.

Saat itu, hamparan terjal yang disebut sebagai “Kuat” oleh masyarakat setempat, dipenuhi semak belukar. Padang itu didominasi ilalang dan tanaman perdu liar, Gersang dan terlantar. Setiap tahunnya, padang Kuat, demikian warga setempat menamakan padang itu, selalu menjadi langganan kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi lahan kritis ini tidak membuat Markus patah semangat. Ilmu pertanian lahan kering yang ditularkan penyuluh YBS dia terapkan. Markus kian terobsesi untuk merubah lahan kering itu menjadi pohon uang tat kala hadir Benyamin Michel seorang pria bule berkebangsaan Ingris, tenaga Volentir yang dikirim Oxfam GB untuk mengabdi bersama Yayasan Bina Sejahtera di Lembata.

Bersama Ben, demikan pria bule itu disapa, mereka menebas gulma, menebang perdu liar  membangun terasering, dan menanam gamal sebagai tanaman penguat teras.

“Gama­gamal itu, tidak sekadar penguat teras tetapi juga menghijaukan lahan, memperbaiki iklim lokal, dan memperbaiki stuktur tanah, begitu kata teman­teman pendamping dari YBS dulu” kata Markus.

Awal ketika lahan itu dibuka, Markus hanya menanam kacang tanah. Kacang­kacang ni, selain untuk di panen, batang dan daun kacang tanah ternyata mengandung banyak unsur hara. Sekitar tahun 1996, atau satu tahun setelah lahan kuat dibuka, Markus mulai menanam tanaman jangka
panjang.

Terhadap lahan itu, Lajar bermimpi untuk menanam beberapa jenis tanaman yang bisa di panen dalam waktu berbeda. Mimpi Lajar, disampaikan kepada staf YBS, ersama seorang staf YBS mereka
membuat sketsa perencanaan kebun, dengan memperhitungkan kondisi lahan, iklim dan jenis tanah.

Beberapa tanaman dipilih Markus untuk ditanam. “Saya bilang ke Pak Elias bahwa, saya mau kebun saya itu akan menjadi pohon uang” ujarnya.

Mengerti akan mimpi Markus, Elias staf YBS itu lalu merancang kebun masa depan milik Mangu Lajar. Dari lahan seluas lebih dari 1 hektar, beberapa tanaman direncakan untuk ditanam berupa, Kemiri, Alpokat, Kopi, dan Siri.

Ke Kebun Markus

Ayah tiga orang anak itu bersemangat saat didatangi floresbangkit.com Ia mengajak kami menuju dua lahan kebun miliknya yang letaknya tak berjauhan. Menurut Lajar dua lahan itu, masing­masing seluas lebih dari 1 hektar.

Kemiri muda usia menjulang tinggi sementara butiran kemiri berserakan ditanah, buah alpokat bergelanntungan di ujung dahan, sementara dahan kopi mengeluarkan bulir­bulir yang lebat. Tidak terbayang, areal yang dipenuhi tanaman komoditi ini adalah areal gersang, tandus pada era 1980­an. Kebun itu terawat baik.
 
Markuss Manggu, diantara Kebun Uang Miliknya. Foto : Yogi Making

Mangu Lajar menuturkan, Yayasan Bina Sejahtera mengajarkan kepadanya untuk tidak menggunakan bahan­bahan kimia, baik sebagai penyubur tanah maupun pembasmi hama.

YBS sangat menganjurkan untuk menerapkan pola pertanian yang ramah lingkungan, gulma liar setelah di bersihkan tidak boleh di bakar, dahan gamal yang mulai tinggi, harus pangkas dan daunya dihampar diatas lahan, kelak daun­daun itu akan berubah menjadi humus tanah.

Demikian juga dengan terasering, selain untuk menahan erosi, terasering juga bermanfaat untuk memperlancar resapan air hujan kedalam tanah. Dengan demikian, dikala musim panas, lahan yang lain tampak kering, tetapi lahan milik Markus lembab, tanaman tetap hijau.

Kami tidak saja diajak melihat kebun uang di Kuat, tetapi Markus juga membawa kami untuk melihat lahan lainnya. Tak beda dengan lahan kuat, lahan Markus lainnya terletak di lembah Bauraja.  Tampak alpokat berbuah lebat, demikian juga kopi dan KKO. Dan menariknya, di pintu masuk kebun kami disambut dengan buah markisa yang menghambur di tanah.

“Ama (Bapak­red) buah markisa ini saya lepas saja, kadang saya ambil untuk kasih makan babi,” kata Lajar. Lahan Marskus di lembah Bauraja desa Nuba Alojo itu, sedikit berbeda dengan lahan miliknya di Kuat. Di lahan seluah 1 hektar itu, selain dipenuhi tanaman komoditi, markus juga menama keladi.

“Keladi ini setiap satu tahun saya penen, saya jual ke peternakan babi milik Misi Katolik Lewoleba dengan harga Rp. 1. 500 per kilo, sementara kemiri sekarang Rp. 15 ribu, kalau alpokat satu kilo Rp. 10 ribu, kopi sekarang dengan harga Rp. 15 ribu per kilo,” urai Markus.

Dia mengatakan, dalam setahun pohon uangnya itu menghasilkan ratusan juta rupiah. Dari  penuturan itu, kemudiandiketahui kalau petani sukses di lahan kritis itu tidak hanya menanam tanaman komoditi, pada lahan lainnya Lajar menanam Jati, dan mohoni yang jumlahnya hampir mencapai ribuan.

“Saya tanam bukan untuk saya, tapi untuk anak­anak saya. Dari pohon­pohon uang itu, saya bisa sekolahkan anak, dan bangun rumah, bahkan saya naik pesawat untuk kunjung anak yang sekolah di Bali,” katanya.

Tidak Gelisah

Di tengah hamparan “pohon uang” milik Markus, FBC pun mulai ingat akan musim yang kini tak menentu dan banyak petani lain yang harus berjuang untuk mengatasi. FBC pun bertanya dan meminta komentarnya tentang minimnya curah hujan dan ancaman gagal panen.

Sambil tersenyum Markus menjawab. “Saya tidak gelisah. Pohon­pohon ini masih memberi saya hidup. Dan semua ini karena Bapak Sidhu Batafor juga dan staf­stafnya yang setia mendampingi kami. Terimakasih YBS,” bangga Lajar.

Musim yang tak menentu dan alam yang kritis memang punya ceritra sendiri. Tapi suksesnya Markus mengatasi kondisi itu sungguh jadi kekaguman buat kami. Tapi semua itu tak berdiri sendiri. Seluruh cerita Markus tidak lepas pengakuan akan adanya pendampingan. Mungkin inilah penyambung yang mesti jadi pelajaran.

Sukses petani di desa Nubahaeraka, Atadei, Kabupaten Lembata ini memberi bukti bahwa, masyarakat petani harus terus didampingi, dibimbing dan dimotivasi terlebih dengan menerapkan sistim pertanian yang ramah lingkungan.

Petani harus diajari untuk mengerti bahwa pemenuhan kebutuhan pangan tidak serta merta dilakukan hanya dengan peningkatan produksi beras dan jagung, tetapi lebih dari itu, mereka harus bisa diajari untuk mencintai alam, dengan tidak menerapkan cara­cara instan seperti penggunaan pestisida dan herbisida karena cara instan seperti itu hanya akan membuat sikap ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi modern. Peningkatan produksi yang diterjemahkan melalui program­program kongkrit seperti penggunaan benih unggulan yang disediakan pemerintah seperti, pupuk dengan dosis tertentu, pengendalian hama dengan pestisida, sistem berbudidaya termutakhir dan sebagainya saat diterapkan di lapangan meninggalkan banyak jejak.

Tak hanya peningkatan produksi, penerapannya yang terus­menerus juga telah mengubah tatanan sosial, system ekologis alam, dan sendi­sendi ekonomi rumah tangga petani. Dan diatas semua itu, upaya menggenjot produksi di tengah­tengah suasana kapitalistik telah menggerus pelan­pelan mentalitas dan kecerdasan petani sebagai bagian dari kekayaan lokal.

Kami pun meninggalkan perkebunan Markus Lajar. Kami ingat, budaya masyarakat wilayah ini  memang sangat dekat dengan alam. Hanya saja perkembangan yang terlampau cepat seringkali menggoda masyarakat untuk tidak yakin akan kecintaan pada alam yang dimiliki. Lagi­lagi pendampingan itu yang diperlukan. (Yogi Making)

Berita ini tayang di www.floresbangkit.com pada 22/2/2014
Dimuat kembali oleh : Yogi Making

Catatan : 
Tulisan ini sengaja saya muat ulang sebagai kenangan terhadap, teman, sodara juga guru saya, alm. Markus Mangu Ladjar,  
"Duka Mendalam Buatmu Sodaraku,"  

Jumat, 05 Oktober 2018

Cantigi, Si Kerdil Di Ile Lewotolok Yang Terlupakan



Cantigi di Puncak Ile Lewotolok. Foto Yogi Making
CANTIGI, tumbuhan ini mungkin tidak asing di telinga. Kebanyakan mengenalnya sebagai tumbuhan pantai. Padahal tidak demikian. Cantigi banyak ditemui pada ketinggian 2000 mdpl ke atas pada zona sub-alpin atau didaerah puncak gunung, daunnya berukuran kecil dengan warna hijau dan merah. Perpaduan daun berwarna merah muda dan batangnya yang merah kecoklatan memberikan keindahan tersendiri.

Berbeda dengan saudaranya yang di pantai, cantigi gunung disebut juga dengan cantigi ungu atau dalam nama latinnya di sebut “Vaccinium varingifolium” sebagai tanaman gunung, “Nubi” demikian nama yang disematkan masyarakat Ile Ape pada tanaman perdu, yang diburu karena dipercaya banyak khasiat itu, memiliki akar yang mencengkram kuat tanah dan tebing.

Tanaman yang juga banyak tumbuh diwilayah pesisir Lembata ini, ternyata meruang rimbun pada hamparan mendekati puncak Ile Lewotolok. Sejauh ini, Cantigi di puncak gunung api Lewotolok, nyaris tak diperhatikan. Para penakluk gunung Lewotolok, biasanya larut dalam keindahan kawah mati.

Manfaat Cantigi

Cantigi termasuk tanaman pioneer kelas 1 karena memiliki ketahanan yang tinggi terhadap segala kondisi dan lahan kritis dengan kondisi ekstrim (tahan dengan asap belerang dan tanah kawah beracun). Umumnya berukuran kecil. Beberapa literature yang sempat saya baca menyebutkan cantigi gunung hanya setinggi 1 – 2 meter. Kondisi ini berbeda dengan yang saya temui di puncak Ile
Lewotolok, pada Rabu 3 Oktober 2018.

Pemandangan Kawah Mati Ile Lewotolok. Foto Yogi Making
Sebagai tanaman gunung, si kerdil di puncak Ile Lewotolok yang menjadi tumpuan bagi pendaki dan diyakini sebagai pelindung dikala badai itu hanya tumbuh kurang dari satu meter.  

Pohon ini juga menghasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan bagi pendaki yang tersesat. Sehebat apapun badai cantigi tidak akan tumbang. Pohon ini kuat menghadapi cuaca yang ekstrim dingin dan menepis panas yang menyengat dan lekang.

“Nubi” diakui kala popular dengan edelweiss. Namun jangan salah, selain beberapa manfaat yang disebut pada bagian terdahulu, beberapa sumber menyebutkan cantigi memiliki banyak manfaat, terutama bagi kesehatan. Apa saja kegunaan bagi kehidupan manusia? Berikut urainya :
  1.  Membuat awet muda : Cantigi  memiliki kandungan berupa  antosianin yang merupakan antioksidan sehingga bisa membuat awet muda, terutama pada buahnya yang berwarna gelap. Karena sistem kerja daun cantigi adalah mengeluarkan racun-racun atau toksin sehingga jika tubuh bebas racun membuat aura seseorang terpancar.
    Cara penggunaannya dengan merebus daun cantigi, lalu diminum secara rutin maka akan membuat wajah menjadi awet muda dan kencang.
  2. Mengatasi  keriput halus.
    Cara penggunaannya : Dengan mengambil beberapa daun cantigi, kemudian dicuci hingga bersih dan direbus dengan air sebanyak tiga gelas, hingga mendidih. Setelah mendidih, lalu didiamkan hingga airnya menjadi hangat, kemudian disaring.
    Mengatasi kulit keriput juga bisa dilakukan dengan mengoleskan cairan yang bersifat pengelupasan kulit, membuat kulit mati dan menggantinya dengan kulit baru. Sesudah itu, cairan tersebut akan merangsang bantalan kulit untuk tumbuh menjadi lapisan kolagen, sehingga kulit terisi dan terlihat awet muda.
  3. Untuk menyembuhkan luka, bengkak, terbakar, nyeri dan bisul. Cara penggunaannya dengan menyediakan daun cantigi yang segar, kemudian dikeringkan dan dijadikan bubuk yang dipakai sebagai astringent, lalu tempelkan pada luka.
  4. Sebagai obat  analgesik, antiradang, spasmolitik, antivirus dan agen hipotensif, serta gangguan lambung. 
    Cara penggunaannya dengan merebus daun cantigi hingga matang,  air cantigi akan berbuah menjadi warna kemerahan seperti air teh. Rebusan air daun cantigi ini diminum dua kali sehari, pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur, sebaiknya dilakukan sesudah makan, agar tidak menimbulkan masalah pada perut. Jangan khawatir akan rasa pahit, karena air rebusan ini tidak berbau dan terasa hambar di lidah.
  5.  Buahnya yang berasa manis sepat dapat dikonsumsi sebagai penambah nutrisi bagi pendaki.
  6. Tanaman Cantigi adalah penanda sudah mendekati kawasan puncak.
  7.  Pegangan untuk mendaki di daerah yang terjal.
  8. Tempat perlindungan dari badai (akar yang kuat ini juga membuat cantigi tahan dari terjangan badai).
  9. Pada beberapa kalangan Cantigi diyakini memiliki kekuatan magis, dan sering dijadikan jimad untuk menangkal aura negative.
    Tim Ekspedisi Soromaking pose Bersama di Puncak Ile Lewotolok. Foto Yogi Making

    Hamparan Cantigi di Puncak Ile Lewotolok. Foto Yogi Making




    Nah.. ternyata “sikerdil” yang terlupakan itu banyak manfaat bukan? Karena itu, mari jaga, biarkan ia tumbuh pada habitatnya. (Yogi Making)





Kamis, 04 Oktober 2018

Jejak Toleransi Dari Lembata



Perbedaaan Membuat kami semakin kuat, Foto : Yogi Making
Wulandoni, Yogi M-
Pulau Lomblen memiliki beberapa nama alias. Dalam peta buatan Belanda tahun 1919 Lomblen atau sekarang populer dengan sebutan Pulau Lembata, dikenal dengan  nama pulau Kawula, Lomblen merupakan sebuah gugusan Kepulauan Solor, yang secara geografis terletak diantara Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Alor, Propinsi NTT.

Pulau lomblen terletak diposisi, 8°10′–8°11′ LS dan 123°12 –123°57′ BT, dengan batas-­batas sebelah utara dengan Laut Flores, Selatan dengan Laut Sawu,  Timur  dengan Selat Alor, barat dengan Selat Lamakera dan selat boleng.

Dari sisi administrasi, sejak tahun 1958 Lembata merupakan bagian dari Kabupaten Flores Timur, namun berdasarkan Undang­ Undang Nomor, 52 Tahun 1999 Pulau Lomblen resmi berdiri menjadi sebuah kabupaten dengan nama Kabupaten Lembata,
dengan luas wilayah 1266,48 km² atau 126.648 Ha.

Bedasarkan data statistik tahun 2010 pulau  Lomblen duhuni  oleh 121. 12 jiwa, yang tersebar di 7 ( Sekarang  9)  kelurahan dan 144 (sekarang 151) desa. Walau masing-­masing etnis memiliki bahasa daerah, namun  orang  Lembata  bersepakat untuk menjadikan bahasa lamaholot sebagai alat komunikasi antar etnis.

Penduduk Kabupaten Lembata terdiri dari penduduk asli maupun pendatang. Penduduk asli terdiri dari dua etnis yaitu etnis Lamaholot dan etnis Kedang.

Etnis Kedang mendiami wilayah Kecamatan Omesuri dan Kecamatan  Buyasuri. Sedangkan etnis Lamaholot mendiami wilayah Kecamatan Ile Ape,  kecamatan  Ile Ape Timur, Kecamatan Nagawutun, Kecamatan Wulandoni,  Kecamatan Atadei, Kecamatan  Nubatukan dan Kecamatan Lebatukan.

Katolik­ Islam

Pulau kecil dengan luas lautan 3.353,895 ini, sejak dahulu sudah membagi penduduknya kedalam dua
kepercayaan Agama,  sebagian besar memegang teguh agama Katolik, atau dalam sebutan lamaholotnya sebagai orang kiwanen (masyarakat pedalaman-­red). Sedang yang beragama Islam disebut watanen (masyarakat pesisir-­red). Masyarakat di pulau kawula ini, selalu memandang perbedaan iman kepercayaan sebagai hal lumrah. Katolik dan Islam sejak dulu hidup berdampingan Data Kementrian Agama Kabupaten Lembata, pemeluk Agama di Lembata tahun 2012, dari Total 124.736 penduduk Lembata, jumlah pemeluk agama Katholik, 87.271, Islam  35.469.  Kristen 1.920, hindu 73, Budha 3.

Kami Menyatu di Pasar Barter Wulandoni Foto : Yogi Making
Keadaan seperti ini dengan mudah dijumpai pada hampir semua wilayah di pulau Lembata. Di Kecamatan Wulandoni misalnya, kita dengan mudah menyaksikan inter­aksisosial antar dua kelompok masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda,  kelompok muslim berbaur erat dengan saudara­-saudara mereka dari  kalangan katolik.

Kehidupan masyarakat di  kecamatan Wulandoni ini sesungguhnya sedang menggambarkan bagaimana  dulu ketika pertama
kali masyarakat mulai  menganut ajaran Tuhan, sudah hidup berdampingan.

Sejarah mencatat, awal mula Gereja Katolik berdiri di Lembata pertama kali tahun 1886 atau 127 tahun silam bersamaan Dengan datangnya seorang Biarawan Katolik berkebangsaan Belanda, Pater Bernard Bode SVD. Masuknya Agama Katolik jauh sebelum orang Lebala mengenal islam, Tokoh muslim Lebala Sujudin Mayeli menuturkan, Agama Islam baru dibawah masuk oleh 
raja Ibarahim Mayeli tahun 1926, atau empat puluh tahun setelah Pastor Bode berkarya di Lembata.

“Dimasa penyebaran agama, Pater Bode datang dari Lamalera bertemu raja Lebala, niatnya untuk membangun gereja disini, tapi raja tidak mau. Tetapi saat gereja lamalera dibangun, raja mengutus salah satu orang kerajaan untuk ikut rapat disana. Jadi kami disini sudah hidup berdampingan sejak dulu,” ujar Sujudin Mayeli, ketika di Jumpai dalam sebuah kesempatan di Lebala belum lama 
ini.

Masyakat yang di tanah Lepan Batan sejak dulu hidup rukun. Terbukti, sejak masa penyebaran agama hingga sekarang, tidak pernah terjadi gesekan antar masyarakat. raja Lebala bahkan sangat menghargai perbedaan.

“Masyarakat saat itu sangat takut dengan raja,apapun 
yang diperintah pasti mereka ikut, tetapi terbukti Islam hanya berkembang di Lebala, sedang kampung lainnya yang masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Lebala, masyarakatnya menganut ajaran Katolik,”
 ujar Mayeli.

Penuturan Sujudin tak beda dengan catatan harian Bapa Bode, demikian sapaan akrab masyarakat Lamalera kepada pastor Belanda ini, sebagaimana di kutip dari buku 125 tahun Gereja Katolik Lamalera.

Dalam catatan itu bapa Bode munulis,“tanggal 14 Agustus 1943 di Labala tidak mendapat hasil apa­apa. Banyak orang dikampung­kampung takut dengan raja Labala. Di Atawolo 2 anak dari keluarga Paulus Nara dipermandikan,”

Catatan ini menunjukan niat Bapa Bode untuk “Mengkatolikan” orang Lebala yang sesungguhnya sudah menga nut agama Islam. Walau menolak keinginan sang penyebar Katolik, Bapa Bode  disambut dan diperlakukan secara santun di Lebala.

Pasar Barter

Menyempitnya kran toleransi disebahagaian besar negeri ini, ternyata tidak berlaku di  Kabupaten Lembata, agama bagi anak lepan batan (Lembata) hanyalah urusan manusia dengan Penciptanya, Alam menjalankan akfitas keseharian orang Lembata tidak membatasi diri dengan agama yang dianutnya.

Kenyataan seperti ini bisa dijumpai dihampir semua wilayah Lembata, dan Pasar Wulandoni
menjadi bukti  pembauran orang  kiwanen dan watenen. Walau masyarakatLembata sudah mengenal uang sejak lama, namun di pasar wulandoni transaksi jual beli dengan cara bater.

Menariknya, hasil kebun masyarakat pedalaman (penganut agama katolik)  berupa, padi, jagung, buah­-buahan, dan sayuran ditukar dengan hasil laut masyarakat pesisir yang mayoritas beragama muslim.

Aktivitas pertukaran di Pasar Barter Wulandoni
Foto Yogi Making
Di pasar ini, orang watenen membuat janji dengan orang kiwanen. Hubungan pertemanan antar dua penganut  faham berbeda ini disebut dengan “breung” (teman­red). Sebagai sahabat mereka saling membuat janji, untuk bertemu kembali pada hari pasar berikutnya, dengan membawa barang pesanan 
breung masing­masing.

Sebagai misal, jika seorang kiwanen membutuhkan garam, maka dia akan menjalin breung  dengan orang watenen yang biasa membuat garam, dan sebaliknyaorang watanen. Jika yang dibutuhkannya 
adalah padi, maka dia membuat janji dengan
 sahabatnya yang orang kiwanen  untuk bertemu kembali
 di pasar yang sama  untuk saling melakukan barter.

“Barang yang kami bawa ini, selain ditukar dengan uang, kami juga tukar dengan barang­barang. Uang kami  pakai untuk kebutuhan membiayai sekolah anak, barang kami tukar  ini untuk kebutuhan makan sehari­hari,” kata Ijah, warga muslim dari kampung Lebala.

Pembauran antar umat beragama ini,  dapat juga dilihat pada wilayah­wilayah lain di Lembata. floresbangkit.com  belum lama ini, merilis berita tentang keterlibatan warga katolik di Kecamatan 
Ile Ape dalam kegiatan warga  muslim. Warga katolik, bahkan ikut dalam pementasan qasidah. Sebuah kenyataan yang mungkin tak mudah dijumpai dalam wilayah lain di Indonesia.

Bagi  masyarakat di Kecamatan Wulandoni dan orang Lembata umumnya,  keterikatan antar Kiwanen dan  Watanen sudah terjalin sejak beberapa generasi sebelumnya, dan tidak mudah
untuk dilepas. Sebuah hal positif yang patut dicatat dan dilestarikan dalam kehidupan berbangsa di  jaman ini.

Kiwanen dan Watenen

Kiwanen dan Watenen adalah sebutan orang Lamaholot kepada dua penganut agama
besar di Kabupaten Lembata. Kiwan berarti gunung, jika ditambah akhiran “en”
kata kiwan akan berubah arti menjadi orang gunung atau orang pedalaman. Sedang Watan atau watanen merupakan kebalikan dari  kiwan atau kiwanen. Dalam bahasa lamaholot,  sebutan kiwanen dan watanen merupakan istilah atau
 sebutan bagi kaum penganut ajaran agama Katolik dan Islam.

Kiwanen adalah sebutan bagi kaum penganut ajaran Katolik, hal ini dikerenakan orang katolik rata­rata berdomisilidi wilayah pedalaman, atau biasanya pada kampung­kampung tertentu masyarakat 
katolik memilih tinggal sedikit menjauh dari pesisir pantai.
Prasasti Ina Ata Jawa
 bukti kejayaan masa lalu Kerajaan Labala
Foto : Yogi Making
Pilihan tempat tinggal bagi masyarakat penganut agama katolik ini, di pandang cocok karena 
kebanyak orang Katolik bermata pencharian
 sebagai petani. Hal ini berbanding terbalik dengan 
masyarakat penganut ajaran muslim. Rata­rata penganut muslim di Lembata memilih tinggal di 
pesisir pantai, kerana muslim Lembata melekat dengan mata pencharian nelayan.

Sumber sejarahwan mengatakan istilah watanen dan kiwanen mulai dikenal sejak dua  agama besar ini masuk di Lembata.

“Ada istilah Solor Watan Lema (Solor lima pantai­red) merupakan sebutan bagi komunitas kerajaan  muslim  yang bernaung dibawah raja Larantuka,”
kata sejarahwan Lebala, Sujudin Mayeli.

Kerajaan yang tergabung dalam komunitas Solor Watan Lema, adalah adalah, Kerajaan Lohayong, 
Kerajaan Terong, Kerajaan Lamahala, 
kerajaan Lamakera, empat kerajaan 
ini sekarang berada dalam wilayah administrasi Kepemerintahan kabupaten Flores Timur, dan satu­satunya kerajaan di Lembata sebagai sebuah kerajaan Islam, adalah
Kerajaan Lebala. Untuk di ketahui, penduduk di daerah bekas kerajaan Islam ini, hingga sekarang tetap memeluk ajaran Islam  (Yogi Making)

Rabu, 03 Oktober 2018

Labala, Serambi Mekahnya NTT



Masjid  Almukkarabin, Desa Leworaja- Lembata, Masjid Tertua di NTT.
Foto Yogi Making
LEWOLEBA, FBC- ­Haruslah diakui bahwa perjalanan dari Lewoleba menuju desa Lebala, cukup 
menguras kenyamanan fisik. Sebuah perjalanan yang mencerminkan betapa masih belum meratanya 
akses jalan yang baik untuk desa­desa terpencil Setidaknya  itu yang saya alami pada Jumat
(12/7/2013).

Akibat kondisi jalan yang buruk, sehingga perjalanan dari Lewoleba,
(Ibukota Kabupaten Lembata) menuju kampung Lebala, jika menggunakan kendaraan sepeda motor bisa memakan waktu
sekitar 3 jam. Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya sekitar pukul  6.30 petang kami iba di Kampung Lebala atau dikenal juga dengan Desa  Lewo Raja. Lebala terletak di kecamatan
Wulandoni, Kabupaten Lembata.

Gemuruh ombak laut selatan terdengar membahana seakan menyambut kedatangan kami. Bagian utara kampung ini, di bentengi tebing tinggi menjulang. Pemukiman kampung di ujung pesisir selatan Pulau Lomblen itu , tertata apik Rumah­rumah penduduk ditata tepat di pesisir pantai.

Wajah­wajah bersahaja dan lembut menyapa kami yang berjalan menenteng kamera dan tas ransel di pundak. Suara Azan dari Langgar dan surau kecil di tepi jalan menuju Desa Lewo Raja sungguh  menggambarkan,  kami sedang berada di kampung Islam, serambi Mekkah NTT dari Lembata. Dari Desa Leworaja, bekas Kerajaan Lebala inilah, orang Lembata  mengenal agama Islam yang menyebar
hingga saat ini. 

Bekas Kerajaan Lebala inipun dijuluki “Serambi Mekkah NTT”. Meski Jumlah penduduk di Lembata kebanyakan Katolik, namun Islam di embata semakin hari semakinberkembang dalam nuansa damai, berdampingan dengan umat beragama lain.
 
Sujuddin Mayeli (baju Batik) didamping
Kepala Desa Leworaja. Foto Yogi Making
Kepala Kementrian Agama Kabupaten Lembata, Dorothia Nahak, Minggu (14/7/2013) menjelaskan data pemeluk Agama di 
Lembata Tahun 2012,dari Total 124.736 penduduk Lembata, jumlah pemeluk agama Katholik, 87.271, Islam 35.469. Kristen 
1.920, Hindu 73, Budha 3.

“Meski Lebala memulai penyebaran agama Islam namun Kantong Muslim di Lembata terbanyak di wilayah Kedang, Nubatukan dan paling sedikit di Kecamatan Wulandoni,” ujar Nahak.

Dari Pedagang Terong dan Lamahala

Kampung Lebala pada jaman sebelum penjajahan, berbentuk kerajaan yang mengusai 18 kampung di pulau Lembata, antara lain, Desa Lusilame, Nuba Haeraka, Atakore, Lerek, Alap Atadei, Leba Ata, Atalojo, Atakore, Karangora. Kampung­kampung ini sekarang  tersebar di dua kecamatan yakni, kecamatan Atadei dan kecamatan Wulandoni.Pada masa pra Islam Kerajaan Labala berturut­turut
dipimpin oleh Raja Mayeli, Raja Pada Mayeli, Raja Sare, Kiwan Gelu Ama atau Raja  Atageha, 
Raja Baha Mayeli (1897­1926) dan Raja Ibrahim Baha Mayeli, sebagai raja terakhir yang memerintah tahun 1926­ -1945, dan berlanjut hingga masa Republik Indonesia Serikat (RIS).
Beduk peninggalan di Masjid  Almukkarabin,
 Foto Yogi Making

Sekedar catatan, Raja Kiwan Gelu Ama bernama asli Atageha (orang lain) karena Sang Raja berasal 
dari Klan/suku Lamarongan, bukan klan suku Mayeli. Dengan demikian dapat dikatakan, keturunan 
Raja  Labala setelah Raja Kiwan Gelu Ama (Atageha) bukanlah asli suku Mayeli.

Pada Masa pemerintahan Raja Baha Mayeli, Raja Lebala Kelima (1897­1926), Lebala sudah mulai mengenal Islam, melalui pedagang yang datang dari kerajaan Terong dan Lamahala, dua kerajaan di 
pulau Adonara yang penduduknya terlebih dahulu memeluk agama Islam.

“Penduduk dimasa itu belum memeluk Islam, tetapi mereka sudah kenal Islam dari para pedagang 
asal kerajaan Lamahala dan Terong, ketika di Lebala mereka melakukan ritual keagamaan,jadi 
secara tidak langsung mereka sedang memperkenalkan agama islam,” tutur Sujudin Mayeli.

Sementara hubungan dengan daerah­ daerah lain di pulau Lembata pada era itu, sangat terisolir karena infrastruktur jalan tidak ada.  Transportasi laut adalah satu­ satunya pilihan untuk berinteraksi. Maka tidak mengherankan jika Kerajaan Lebala lebih  intens  berinteraksi dengankerajaan­kerajaan di pulau 
lain yang memang jauh lebih mudah untuk dijangkau. Interaksi sosial terutama dengan wilayah kerajaan

 “Solor Watan Lema” menyebabkan Raja Baha Mayeli, Raja Lebala Kelima (1897­1926), ingin mendalami dan mengembangkan Agama Islam ke wilayah­wilayah kekuasaannya, maka ia mengirimkan putra mahkota  (putra sulungnya, Ibrahim Mayeli) pada tahun 1908, untuk belajar 
Foto Gubernur Belanda bersama Raja-Raja Solor Watan Lema.
Foto : Arsip Rumah Adat Mayeli
Agama Islam pada Raja Marjuki Nampira Raja Alor. Ibrahim Mayeli mendalami Agama Islam 
selama 10 tahun di Kerajan Alor.

“Hubungan dagang ini berpengaruh pada pemahaman terhadap ajaran agama Islam,” ujar Sujudin 
Mayeli. Sujudin dipercaya sebagai Juru kunci  rumah  adat Suku Mayeli, juga bertugas untuk menjaga kuburan tua Raja  Mayeli, Kepala Tongkat Ratu Wilhelmina II dari Kerajaan Belanda, Masjid tertua NTT, Almukkarabin dan prasasti keramat dari ukiran kayu “Ina Ata Jawa”, Sabtu 
(13/7) di Desa Lewo Raja.

Pada tahun kesepuluh, atau usai Putra Mahkotanya belajar Islam di Alor, Raja Baha Mayeli mengutus orang ke Alor guna memanggil kembali putra mahkota untuk menggantikan kedudukannya sebagai Raja, namun Ibrahim Mayeli menolak titah sang ayah. Ibrahim, lalu ememerintah utusan ayahnya itu untuk kembali dan berpesan agar sang ayah terlebih dahulu mengislamkan semua penduduk kampung Lebala, serta memusnahkan semua hewan anjing dan babi bianatang piaraan penduduk. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, maka ia menolak untuk kembali dan memilih untuk terus menetap di Alor. Penduduk Lebala ketika itu, masih menganut kepercayaan animisme.

Segera setelah pesan putranya disampaikan para utusan yang disuruh kembali, Raja Baha Mayeli 
dengan kuasanya, memerintahkan untuk memusnahkan seluruh anjing dan babi dan mengislamkan  kampung Lebala, yang saat ini menjadi Desa Lewo Raja. Setelah semua Tuntutan sang putra mahkota terpenuhi, Raja Baha Mayeli lalu, mengutus lagi para abdinya untuk menjemput putranya di Alor.Raja Baha Mayeli. menyerahkan tongkat kerajaan Lebala kepada putra sulungya Ibrahim Baha Mayeli tahun 1926, pada  masa pemerintahan Raja Ibrahim kerajaan Lebala mencapai puncak 
kejayaannya, yakni Tahun 1945 dan berlanjut hingga masa pemerintahan RIS, atau setelah sistim 
kerajaan dilebur dalam sistim administrasi  pemerintahan republik indonesia.

Dituturkan pula, selain menjalankan roda pemerintahan sebagai Raja, Ibrahim Mayeli pun kerap 
menyebarkan Agama Islam dengan cara ­cara bersahaja. Namun antangan terberat dirasakan sang Raja karena pengaruh penjajah Belanda yang telah   terlebih  dahulu  menyebarkan agama Katholik di 
Lembata melalui Desa tentangga, Lamalera, hingga ke Desa­desa yang  menjadi  wilayah  kekuasaan 
kerajaan Lebala maka Islam hanya berkembang di Kampung Lebala dan kampung Luki, Desa Tetangga.
 
“Karena upaya menyebarkan Islam ini dianggap sebagai penghalang bagi Misi Penjajah Belanda, 
Sujuddin Mayeli, dan Prasati Kayu Yang Mengisahkan Kehadiran Masjid Labala
Foto : Yogi Making
maka Raja Ibrahim pun ditangkap dan diasingkan pemerintah Belanda ke Ende. Raja Ibrahim di”penjarakan” di Kandang Sapi,” ujar Penjaga Situs Masjid tertua di NTT di Lembata, Sujudin 
Mayeli.

Kian hari, kesibukannya pemerintahan kian bertambah. Misi menyebarkan Raja Ibrahim untuk 
menyebarkan Islam semakin sulit  dijakannya, menyadari hal itu, Ibrahim lalu meminta bantuan 
sahabat dekatnya Raja Ismail di Kerajaan Lamahala, untuk mencarikan baginya seorang pendaqwah.

Bersama Raja Ismail, raja Ibrahim lalu menemui Habib Agel yang bermukim di Waiwerang,(kabupaten Flores Timur), permintaan dua raja ini dipenuhi oleh Habib  Agel dengan mengutus seorang mu’allaf warga keturunan Cina Kupang, Baba Abdullah, yang dinilai sudah
mampu berdaqwah. Misi mengembang kan Islam selanjutnya dijalankan oleh Baba Abdullah.
(Yogi Making)

Artikel ini terbit di Majalah on line, www.floresbangkit.com