![]() |
Foto : Yogi Making |
Tangis gelombang pecah di bebatuan
Dan riak seakan mengirim sinyal gelisah penghuni laut
Buih-buih gelombang yang biasanya ramah bermain mengikuti irama laut, datang malu-malu
Ah..lautku dipagi ini tak ceria
Jika kemarin masih ada senyum
Hari ini diliputi gamang
Nyanyian laut tak semerdu kemarin
Dan camar-camar itu,
Kemarin baru saja menyanyikan lagu riang
Kini tak lagi datang menggoda ikan
Ah..pagi ini lautku tak ceria
Aku terpekur, tanya mengusai pikiran
Membuncah, carut marut tak berarah
Dan gundah datang menghampiri jiwa
Ada apa, hingga lautku tak ceria?
Padahal kemarin...yah..baru saja kemarin
Kulihat saudaraku nelayan mesra bercengkrama dengan lautnya
Tapi hari ini tidak
Kemana perahu-perahu kecil itu?
Dimana layar-layar itu ditiup angin
Dimana mereka?
Akh...kemana kucari jawab
Sudah kutanya pada laut, juga angin dan camar, juga pada buih gelombang itu...
Namun semua kembali tanpa kata
Hem..jika aku adalah diam mungkin sudah ku dengar bisik alam
Andai aku adalah sepih mungkin jawab sudah kudapat
Jika aku adalah tenang mungkin kutangkap gamangnya laut
Sayang, aku hanya bising...
Yang sibuk berpikir tentang apa yang kumakan
Aku bising yang sibuk dengan apa yang kupakai juga, jabatan, uang dan kekayaan
Tentang nama dan harga diri, bisnis dan kolegaku
Aku bising yang terpesona dengan hasrat menguasai dunia
Lalu lupa menjadi sepih...
Padahal jauh disana di dasar laut Teluk Lewoleba, koloni karang sedang menangis
Aku menolak tenang
Padahal dilaut sana para ikan bingung kemana harus menitip telur
Akupun tak mau menjadi diam
Padahal dengan diam aku mendengar keluh ombak
Aku mengusir hampa dan menjadi tuli bagi nyanyian camar
Yah..dengan sepih kita mampu mendengar dentang lonceng
Isyarat kematian para penguhuni laut
Dan hanya melalui sepi kita bersetubuh dengan alam
Pantai Lapa, Lewoleba, Selasa, 19/9/2017
Yogi Making
Tidak ada komentar:
Posting Komentar