Jumat, 03 Januari 2020

RASA YANG MATI



Benar, sungguh kau benar
Benar-benar tak merasa
Apa yang kami rasa

Benar, kau benar
Mungkin karena kedudukanmu sebagai penguasa 
Sehingga menghadirkan ego kuasa yang ujung-ujungnya menyumbat nilai dasar kemanusiaanmu
Manusia harus pintar merasa apa yang dirasakan manusia lainnya
Bukan merasa pintar sendiri  
Hanya boleh menyalahkan tapi tak boleh disalahkan
Padahal kau dituntut untuk berpikir tentang saudaramu yang melarat

Kau mati rasa sehingga merasa tak punya tanggungjawab
Pada seorang ibu yang menangis akibat anaknya tak lagi sekolah, karena ayahnya di pecat pengusaha saat menuntut upah kerjanya di bayar
Dan rasa manusiamu hilang kala memutuskan untuk tidak meluluskan ratusan anak negeri ini menjadi PNS, padahal mereka sudah menunjukan kesetiaan mengabdi puluhan tahun,
Kau lari saat mereka menuntut tanggungjawabmu

Ego kuasamu telah melahirkan kehancuran alam indaku
Laut yang dulu mampu menghidupi ratusan anak nelayan kecil, kini berubah menjadi neraka
Terumbuh karang hancur, ikan-ikan kecil hingga ikan besar diangkut nelayan berkapal
Hutan-hutan keramat tempat bersemayam kewokot Lewo ini kau ubah menjadi tempat pelesir
Dan kau bangga karena berhasil mengubah negeri suci nenek moyangku itu menjadi arena mesum pemuda nakal

Kau benar…
Benar-benar mati rasa 
Hadirmu tak hanya mengubah alam, tetapi budayaku hilang
Ribu ratu yang dulunya hidup damai sekarang menjadi sensitive
Semangat taan tou hilang, dan keakuan tumbuh subur
Lihat di ujung tanah ini, rathun pulo harus turun bertarung saling membunuh demi sejengkal tanah

Lihatlah pula sekarang rakyatku hanya untuk berbudayapun mereka harus di bayar
Hedung, hamang, namang sole menjadi mahal
Dan kau menghancurkan segalanya
Kau benar. Benar-benar mati rasa, 

Kau..yah, kau…kau layak ku maki
Ingin ku kencingi mulutmu busukmu
Serta memukul tepat ke wajahmu
Agar kau tahu bagaimana rasanya sakit saat kau di permalukan
Itulah caraku untuk kembalikan rasamu yang mati

Kau..hei kau yang mati rasa, berhentilah melatih kami untuk bermimpi
Karena kami sudah punya mimpi sendiri
Tentu bukan mimpi tentangmu, tetapi tentang lewo di masa datang
Kami ingin lewo dan tanah ini ini kembali, dan kami rindu damai kami yang dulu

Yogi Making, 
Wangatoa, 3/1/2017