KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN LEMBATA
Sekertariat,
Jln. Trans Lembata, Ake Lohe, Lewoleba Timur-Lembata NTT
AMANAT KETUA KPU KABUPATEN LEMBATA DALAM UPACARA APEL BENDERA DALAM
RANGKA MEMPERINGATI HUT RI YANG KE 75
Yang terhormat Komsiner KPU Kabupaten
Lembata
Yang saya hormati, Aparat Pemerintahan Desa
dan Perangkat BPD desa Balerebong
Yang saya hormati, Sekertaris, Pejabat dan
Pelaksana serta seluruh staf KPU Kabupaten Lembata. Yang saya hormati, Ina, Ama
Kakak, Arik, warga dusun Lepan Batan
Selamat pagi, salam damai
sejahtera untuk semua kita....
Mengawali pidato ini, terlebih dahulu saya ajak semua kita memekikan yel-yel kebangsaan untuk membangkitkan semangat juang bersama : Merdeka...., Merdeka....Merdeka...., terimakasih.
Perserta upacara yang saya
muliakan...
Jika sebelumnya, Agustus dimaknai sebagai bulan Suka Cita, bulan Kemerdekaan, yang dirayakan dengan gegap gempita, kini ditahun 2020, Agustus terasa kosong, sepih, seram menakutkan. Kemeriahan Agustus yang dipenuhi dengan tari menari, vestifal dan karnaval tidak kita nikmati.
Situasi global sebagaimana yang disampaikan Presiden dalam Pidato Kenegaraan, Jumad 14 Agustus 2020, bahwa sebanyak 215 negara, tanpa terkecuali, sedang menghadapi masa sulit di tengah pandemi Covid-19. Dalam catatan WHO, sampai dengan tanggal 13 Agustus 2020, terdapat lebih dari 20,4 juta kasus di seluruh dunia, dengan jumlah kematian di dunia sebanyak 744.000 jiwa.
Semua negara, baik negara miskin, negara berkembang hingga negara maju, sedang mengalami kemunduran. Ekonomi negara maju bahkan minus hingga 17-20 persen.
Inak, Amak, Kaka, Arik, yang go hungen baat tonga belolo....
Tak cuma negara, kondisi nan sulit pun terasa hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Kita sadar, bahwa hidup ditengah gempuran wabah covid, serba rumit. Bahkan hanya untuk saling mengunjungi antar saudarapun kita dibatasi. Namun demikian, tidak berarti bahwa kita kehilangan rasa syukur pada Tuhan teti lera wulan dan Allah lali tana langun, karena telah melindungi perjalanan bangsa ini hingga mencapai usia 75 tahun kemerdekaan, dan menjaga Lewo dan semua kita dari serangan penyakit mematikan, serta diberi kesempatan untuk bersua, guna merayakan kemerdekaan bangsa di tempat nan indah ini.
Ina, ama, reuk, binek ata senaren wahan kae....
Dan mungkin juga ada pertanyaan, mengapa hari ini KPU Lembata, ada di Wade bersama warga Balerebong, dan warga Dusun Lepan Batan secara khusus? Jika berkaca pada Surat Edaran KPU RI, nomor 26 Tahun 2020, tentang Peringatan HUT RI yang ke 75, maka mestinya saya dan kawan-kawan tidak hadir disini. Kami diarahkan untuk mengikuti Apel HUT RI dan peringatan Detik-Detik Proklamasi secara virtual, yang disiarkan langsung dari istana negara.
Perserta upacara yang go muliakan...
Indonesia bukan saja Jakarta dan Pulau Jawa. Begitu juga Lembata, bukan saja Lewoleba. Tetapi Lembata adalah satu kesatuan wilayah, yang terhitung dari Suba Wutun hingga ke Tanjung Leur. Dan jika yang lain berpikir untuk merayakan HUT RI secara terpusat ditengah kota, maka dalam konteks kebhinekaan berpikir, dan setelah mempertimbangkan situasi lokal, dimana Lembata sedang berada di zona hijau, dan dengan keyakinan bahwa Tuhan dan Lewotana, senantiasa melindungi semua kita, KPU Lembata memutuskan untuk hadir disini, ditengah warga Wade yang tak lain adalah warga pemilih.
Kehadiran kami, sekaligus memastikan bahwa KPU, sebagai lembaga penyelenggara Pemilu, tidak saja ada menjelang Pesta Demokrasi. Tetapi dalam semangat Motto, “KPU Melayani,” kami ingin ada dimana-mana bersama masyararakat, melayani dan menyampaikan informasi pemilu dan demokrasi. Dan tak kalah pentingnya, melalui kegiatan semacam ini, dari salah satu daerah terjauh di bumi Lepanbatan, ingin kita gaungkan keterpaduan KPU dan masyarakat, untuk menjemput momentum demokrasi dimasa yang akan datang.
Situasi sulit, bukan penghalang. Justru kondisi semacam ini, memacu kita untuk berpikir kreatif, menelurkan ide-ide baru, yang tidak saja untuk kemajuan ekonomi, tetapi sekaligus mendorong kemajuan demokrasi secara meluas.
Yah... Situasi krisis, memaksa kita untuk menggeser pola pikir dan pola kerja, dari biasa-biasa menjadi luar biasa. Dalam konteks pendidikan pemilih, jika sebelumnya KPU mengajak warga untuk datang dan berdiskusi di kantor, kini berbeda pola. Penyadaran pemilih dilakukan dengan strategi “makan bubur panas”. Kami menyisir warga pemilih terluar, sambil merangkak pelan masuk ketengah-tengah jntung kota. Kami mendorong kesadaran berdemokrasi dari orang-orang kecil, sambil pelan-pelan mendesak perubahan pola berdemokrasi kaum terdidik, dan generasi calon pemimpin bangsa.
Jika sebelumnya, kerja sama hanya digalang pada kelompok-kelompok terbatas, kini dalam tema KPU Melayani, kami membuka diri, KPU siap berada dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.
Melalui kegiatan semacam inilah, warga disadarkan bahwa mengikuti Pemilu tidak sekedar didaftar sebagai pemilih, lalu mengakhiri tugas dengan menggunakan hak pilih di TPS, tetapi pemilu adalah satu rangkain utuh, yang dimulai dari mendorong kesadaran warga pemilih untuk mengerti, tentang pentingnya hak pilih, dan mengapa menggunakan hak pilih.
Inak, Amak, Kaka Arik, yang go hungen baat tonga belolo....
Indonesia Maju, tidak bisa kita raih, jika kita masih terseret dalam ketertinggalan pola pikir dan pola kerja, demokrasi hancur bila warganya hidup dalam situasi keterbatasan. Oleh karena itu, di momentum yang berbahagia ini, saya mengajak semua kita untuk menjadikan situasi sulit sebagai nutrisi untuk menambah enegeri, menggalang kekuatan bersama untuk bangkit dari kerbelakangan pola pikir, lalu merangsek maju mengejar ketertinggalan.
Dan kami percaya, bila gempuran perubahan terus digalakan, maka, bukan tidak mungkin lembata kedepan adalah lembata dengan sumberdaya manusia yang mumpuni dan sudah pasti akan lahir dari rahim pemilu, pemimpin baru, pemimpin cerdas dan merakyat, pemimpin yang senantiasa berpikir untuk kemajuan rakyat dan Lewotana.
Dan tak lupa, melalui kesempatan ini pun ingin kami kabarkan bahwa, Lembata sebentar lagi akan memasuki era baru, era dimana semua kita akan disibukan dengan kerja politik. Era dimana, kita warga disiapkan untuk memilih pemimpin yang akan memimpin tanah lepan batan ini, lima tahun kedepan. Kami pun telah mendengar bahwa, kerja-kerja politik untuk mensosialisasikan diri, dan menggalang dukungan, tengah dilakukan pihak-pihak tertentu. Tetapi untuk sekiankali, sebagai penyelanggara Pemilu, KPU ingin memastikan, bahwa Pilkada Lembata sebagaimana digaungkan akan terjadi pada 2022, belum berkepastian hukum. Undang-undang Pemilu sebagai pengganti Undang-Undang Pemilu nomor 7 tahun 2017 masih dalam pembahasan ditingkat DPR-RI. Itu berarti, Pilkada mungkin saja terjadi terjadi tahun 2024, tetapi mungkin juga terjadi 2022.
Kapanpun itu, tentu menjadi kerinduan bersama. Tetapi, hendaknya dimasa menjemput hadirnya pesta demokrasi 5 tahunan, kita wajib memperbaharui semangat semangat berdemokrasi, serta melindungi lewo dari ancaman perpecahan.
Inak, Amak, Kaka Arik, perseta upacara yang berbahagia...
kami senang ada disini, ditengah warga dusun Lepanbatan dan warga Belerobong umumnya, kami bangga ina ama telah menerima kami dengan penuh keramahan dalam semangat persaudaraan. Karena itu, dalam rasa bangga, saya atas nama keluarga Bersar KPU menyampaikan terimakasih kepada Kepala desa Belerobong dan seluruh perangkat pemerintahan desanya, juga terimakasih buat pimpinan dan perangkat BPD, terimakasih tak terhingga juga buat Kepala Dusun Lepanbatan, dan terimakasih buat dukungan warga Wade dan ina ama sekalian. Kami berdoa, semoga Tuhan dan Lewotana melindungi kita sekalian.
Akhirnya, dari Wade, pantai nan indah ini, semua kita menyampaikan Selamat Hari Kemerdekaan Buat Bangsa Kita Tercinta. Kita berdoa, agar Indonesia semakin maju dan kokoh berdiri sebagai bangsa yang berdaulat dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.
Wade, 17 Agustus
Ketua
Elias Kaluli Making