Minggu, 04 Juli 2021

Omong Dengan Tresi. 'Mengintip Maria Dari Balik Kacamata Sex'

 Maria masih menjadi topik diskusi antara saya dan kekasihku Tresi. Bukan apa-apa, kekonyolannya dalam berargumentasi, serta sikap Maria yang selalu menang sendiri dan menjugde lawan debat sebagai musuh, semakin menjadi-jadi. Cara pandang ekstrim terhadap sebuah persoalan dan sering menganggap diri pintar diantara orang pintar menjadi blunder buat Maria.

Sebenarnya saya sendiri jenuh membicarakan Maria. Karena bagi saya, dia bukan apa-apa. Maksud saya dia hanyalah orang lain dari hubungan saya dan kekasih saya Tresi. Tetapi, karena selalu dikeluhkan, maka saya berpikir untuk perlu membuat semacam analisis kecil. Paling tidak, di mata Tresi saya bisa menjadi teman diskusinya.

Tetapi, padangan saya mengenai Maria tentu beda dengan cara pandang banyak orang. Iya... kali ini saya mencoba melihat Maria dengan cara pandang  beda dari cara pandang sesama yang lain. Beda, bukan karena ingin tampil beda, tetapi sebenarnya saya telah kehabisan kata untuk menjelaskan tentang Maria kepada Tresi. Dan, setelah berpikir beberapa saat, saya menemukan alasan yang setidaknya menurut saya paling pas untuk bisa saya sampaikan kepada Tresi. Hal yang ringan dan muda untuk dipahami.

“Ok, Mari kita bedah sikap Maria dari cara pandang Anis, lelaki kampung dari negeri antaberanta.” Ujar saya kepada Tresi.

saya cukup berhati-hati membawa Tresi ke cara pandang Lelaki Kampung di Negeri Antaberanta. Sebabnya, cara pandang Anis adalah cara pandang sex. Hal yang dianggap tabu untuk dibicarkan, tetapi nikmat bila disebut. Tetapi saya yakin, kekasih saya ini, mampu menerima hal yang akan saya sampaikan. Dan berikut petikan penjelasan dan diskusi saya dengan Tresi... Mohon untuk tidak diskip ya, simak ceritanya.  

Bahwa Maria sebenarnya adalah manusia cerdas. Tetapi, sangat arogan dalam berjuang. Dia  suka menyepelehkan pendapat orang, dan cendrung mengabaikan perjuangan kelompok. Dan semestinya, orang dengan cara pandang demikian tidak penting untuk didiskusikan. Toh, semakin kita mengabaikan, semakin dia merasa sendiri dan akhirnya diam. Tetapi Maria terlanjur dianggap sebagai publik figur, maka apapun pernyataan pribadi yang seolah-olah mewakili kelompoknya, jelas mengganggu publik.

Bukan apa-apa, publik figur mestinya menjadi guru bagi orang kebanyakan, bukan mengajari cara berjuang yang tidak beretika.

Nah.., lantas mengapa Maria menjadi manusia yang arogan dalam berjuang? Untuk pertanyaan ini, Tentu setiap orang punya jawaban. dan untuk menjawab tanya kekasih saya Tresi, saya punya beberapa jawaban yang paling tidak bisa membuatnya paham.

Manusia dengan tipe arogan dan mengabaikan pendapat orang lain, mungkin saja yang dicari adalah kepuasan batin pribadinya, dia hanya ingin menjadi matahari tunggal, dengan demikian dia tak ingin ada orang lain yang tampil jauh lebih cerdas dari dirinya. Jiwanya terus memberontak. Bila hal yang diingkan belum dia capai. Ada kebutuhan alam bawa sadarnya yang belum dia terpenuhi.

Jika dilihat dari cara pandang sex, maka orang dengan tipe ini adalah manusia hiper. Birahinya terus memuncak, walau kebutuhan seksualnya sudah dia dapatkan dari pasangan resminya. Orang dengan tipe ini, kadang suka berkelana mencari kepuasan dari lawan jenis lain, yang sebetulnya adalah sebuah tindakan terlarang. Dia suka menggoda lawan jenis untuk berselingkuh.

Dan bagaimana kalau kepuasan sex tidak dia dapatkan secara normal? Pada titik ini, pilihan manusia hiper adalah melepas syahwat dengan bermain solo (baca Onani). Menghayal, sambil kerja keras membongkar semua yang tertahan. Dengan ber-solo ria, ia tak perlu membangun komunikasi dengan pasangannya. Tak lelah merayu. Cukup dengan menghayal membayangkan tubuh lawan jenisnya yang indah, merangsang lalu... dorrrr.

Berbeda dengan manusia yang hidup dengan kepuasan sex yang terpenuhi secara baik. Tentu dari pasangan yang resmi. Orang dengan tipe ini, biasanya hidup dengan komunikasi yang bagus dan diterima oleh banyak pihak. Dalam berjuang, dia memikirkan tujuan bersama, bukan capaian diri sendiri. Itulah kenapa hadir kata “saya” dan “kita” atau “Kami” hidup dengan sex yang normal tentu memikirkan juga bagaimana pasangannya mencapai orgasme (Puas), tetapi orang dengan sex menyimpang, memikirkan kepuasannya sendiri, dengan cara instan lalu pergi setelah merenggut nikmat tubuh pasangan selingkuhnya.

Manusia arogan dan senang mencari kepuasan pribadi, biasanya mencari kekasihnya sesewaktu, saat dia membutuhkan kepuasan. Dia tak peduli pada apa yang terjadi pada pasangannya. Dia berpura-pura baik. Seperti berpura-pura berjuang untuk kelompoknya, dia cerdas membungkus kepentingan pribadinya dalam kepentingan banyak orang, dia suka berkata saya dari pada mengatakan kami atau kita. Dia suka menghayalkan kebolehannya untuk merangsang lawan, berpikir seolah dirinya yang peling hebat dari lainnya.

Tresi... Manusia pilihan yang tampil memimpin kelompok, adalah manusia dengan relasi sosial yang bagus, dia mampu membangun komunikasi yang cerdas dengan siapa saja, demi memperjuangkan kepentingan bersama. Dia yang menurut lelaki cerdas dari negeri antaberanta, adalah manusia yang membenci onani, manusia mengharamkan selingkuh. Dia hanya ingin bersetubuh. Karena bersetubuh hanya dilalui dengan komunikasi dua arah yang baik, saling memberi dengan rasa cinta dan ikhlas. Dengan bersetubuh, kita saling membagi kenikmatan, dan memperhatikan kepuasan pasangan.

Eh... tapi ini teori dari kampung antaberanta. Entah benar, entah salah. Tetapi, Anis lelaki kampung di negeri antaberanta itu, sering menggunakan teori sex dalam menilai kehidupan berdemokrasi di negerinya. Dan saya hanya meminjam teorinya saja.

“o.. Jadi abang mau bilang,  Maria itu suka selingkuh atau suka main solo?. Maria manusia hiper sex begitu?” Sinis Tresi. “Woe.... Sayang, poin saya adalah mungkin saja cara yang sahabatmu sering lakukan itu, karena dia hanya mau kepuasanya sendiri. Bukan perjuangan kelompok. Sayang.... bisa paham dengan yang abang maksudkan?” demikian saya mengklarifikasi pernyataan Tresi.

“Ah.. tapi abang bisa saja benar. Soalnya, ada selentingan kabar, katanya kabar itu disampaikan Burung, entah burung apa, tapi katanya kalau teman saya yang itu, saat malam datang, dia sering pergi sendiri ke kampung sebelahnya lagi,” timpal Tresi.

“Adik..., jangan suka percaya burung. Soalnya ada burung baik, ada burung yang nakal. Tetapi adindaku, mohon jangan bawa saya ke topik diskusi tentang burung, sebaiknya kita menikmati masakannmu, sebelum kita menikmati kenikmatan yang lainnya, hhhhh...” demikian saya menggoda Tresi.

“Ai... Abang e, tahan-tahan dululah, soalnya kita belum sah menikah, sekarang juga sudah malam jadi abang pulang saja. Kalau abang terus berlama-lama disini, nanti ada burung tetanga yang intip lalu terbang memberi kabar yang buruk pada burung lainnya. Yang Sabar yah sayang... ada waktunya untuk kita menghabiskan malam bersama.,”  kata Tresi menyudahi diskusi kami.

NB : Cerita ini hanyalah sebuah hanyalan penulis, bila ada kesamaan nama, itu hanya sebuah kebetulan belaka.