Rabu, 02 Februari 2022

Memposisikan Budaya Ditengah Tekanan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Ritual Tolak Tambang, Komunitas  Adat Leragera (Yogi Making) 

Bila adat dan budaya adalah perahu, maka gelombang badai adalah hantaman budaya baru. Hantaman gelombang budaya baru kadang melempar keluar orang-orang yang tidak punya pegangan budaya dan adat yang kuat, Dia akan segera hanyut dan mungkin dihempas kedalam gulungan gelombang besar.

Parahu adat dan budaya tak boleh dilepas kosong. Pemimpin Adat dan Warga Komunitas Adat harus tetap ada dalam naungan perahu budaya. Ada untuk menjaga haluan kapal, tidak untuk melawan arus, tetapi agar tidak ikut hanyut dan digulung arus budaya baru. Budaya baru yang hadir dalam bungkusan Ilmu Pengetahuan dan Teknlogi cendrung mengabaikan etika dan moral.  

Pastor Jhon Mansford Prior dalam ulasan berjudul “Membedah Hubungan Antar Agama dan Budaya” menulis percakapan ilmiah antara Joseph Ratzinger dengan Hebermas tentang budaya ditengah pengaruh zaman sebagai berikut : “Perjumpaan antar pelbagai aliran kebudayaan dewasa ini, mencampur-adukkan rupa-rupa nilai budaya yang saling mempertanyakan kebenarannya masing-masing. Akibatnya, nilai-nilai budaya, termasuk nilai-nilai etis-moral tidak lagi mengikat. Konsensus dasar dalam masyarakat menghilang dan yang tinggal hanya konsensus politik yang cuma berdasarkan suara (kepentingan) mayoritas sesaat. Alhasil, masyarakat tenggelam dalam “kediktatoran relativisme”.

Ratzinger menggarisbawahi kebutuhan akan suatu landasan etis-moral (etos budaya) dalam masyarakat majemuk dan mondial untuk memberi motivasi dan arah dasar. Landasan etis-moral tidak ditemukan dalam ilmu pengetahuan atau kemajuan teknologi, tetapi dalam filsafat dan agama.

Menurut Ratzinger, soal yang dihadapi oleh masyarakat pasca-pencerahan ialah pemisahan antara akal budi (budaya) dan agama. Jika akal budi (budaya) dan agama bekerja sendiri-sendiri, keduanya menderita semacam “patologi”. Ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa landasan etis mengancam keberadaan manusia sendiri (misalnya, penemuan bom nuklir dan pemusnah-pemusnah massal lainnya serta pengrusakan lingkungan hidup).

Saya menangkap pesan bahwa, Ratzinger dalam ulasan P. Jhon Prior, SVD mendorong agama dan kebudayaan tetap berdiri pada dua sisi berbeda untuk saling mendukung, agama mebawa keyakinan iman seseorang akan Tuhan Pencipta Semesta dan Kebudayaan mengajarkan etika dan moral. Budaya didefinisikan sebagai bentuk umum pengungkapan pengertian dan nilai-nilai yang berkembang secara historis, yang merupakan ciri kehidupan satu kesatuan masyarakat.

Gereja dalam penyebaran injil di wilayah Asia, membangun diskusi dengan banyaknya kebudayaan asia, lalu berusaha untuk tidak mencampuri, tetapi saling menjaga, itulah kemudian hadir inkulturasi budaya kedalam gereja.

Inkulturasi tidak berarti Budaya dan Agama dipadukan, tetapi budaya hanya memabawa masuk nilai-nilai tertentu kedalam gereja, terutama pada nilai liturgisnya, dan  Budaya tidak mengubah nilai spritualitas agama. Itu sebabnya, tidak ada peristiwa Bau Lolong (tuang tuka sambil menyampaikan doa adat-Lamaholot, Pen) diatas Altar Tuhan, Tuak dan Janggung Titi  tidak digunakan sebagai pengganti Tubuh dan Darah Yesus. Tetapi Imam boleh mengenakan jubbah kebesarannya dengan memadukan motif tenunan daerah, begitu juga kidung-kidung pujian, di gubah kedalam bahasa daerah dan bernuansa budaya setempat, dilagukan dalam persembahan misa kudus.  

Bila Gereja saja menghargai budaya dan menempatkannya pada sisi penting dan saling mendukung, maka semestinya diikuti juga oleh sendi kehidupan yang lain, termasuk didalamnya adalah politik, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada bagian budaya yang boleh diterobos tetapi ada bagian lain dari budaya yang harus dijaga. Ada sisi privat sakral yang tidak bisa diterobos oleh ilmu pengetahuan dan teknologi dan mestinya dijaga dan dlindungi. Pandangan ilmu pengetahuan yang diperkuat oleh teknologi terhadap sakit dan penyakit yang diderita manusia, atau terhadap sebuah kejadian bencana alam beda dengan cara pandang budaya, begitu pula dengan model pendekatan untuk menyelesaikan masalah pun jauh berbeda.

Masyarakat adat dengan keyakinan budayanya, memindahkan jalan/aliran lahar dingin hanya dengan ritual dan menyajikan sesembahan. Sebuah pendekatan yang tidak masuk akal dari cara pandang ilmu pengetahuan, tetapi tradisi ini sudah dipraktekan secara turun temurun dan pada faktnya alam seperti ikut kemauan manusia, luapan lahar dingin pindah sesuai keinginan masyarakat adat. Pada titik seperti inilah, ilmu pengetahuan dan teknologi hadir untuk memperkuat budaya.  

David Jonassen pernah mengatakan, “Dosa intelektual terbesar yang dilakukan kami para guru ialah terlalu menyederhanakan kebanyakan gagasan, membuatnya lebih mudah diteruskan kepada para murid” mungkin karena pandangan ini pula, kadang kita temukan banyak diantara kaum cendikia berusaha untuk menerobos ruang-ruang privat budaya, mengenalisisnya dan mencoba membangun teori-teori logis untuk diterima semua pihak. Penjelasan-penjelasan ilmiah yang lebih diterima dan masuk akal itu, lambat laun mempengaruhi keyakinan dan menggeser kesakralan budaya dari ruang kepercayaan masyarakat. 

Penulis : Elias Kaluli Making

Orang Kampung, tinggal di Wangatoa

Sumber : Jhon Manford Prior : Membedah Hubungan antara Agama dan Kebudayaan dalam Teologi Joseph Ratzinger dalam Terang Teologi FABC