Saar Belajar Menjadi KPPS |
Mereka peserta didik SMK Witihama,
Adonara yang sejak 17 Januari 2022 menjalankan Pendidikan Sistim Ganda (PSG) di
Kantor KPU Lembata dan baru berakhir kemarin 17 Maret 2022. Dua bulan lamanya, 11
Orang siswa SMK Witihama, Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan itu ada bersama
kami.
Dua bulan adalah waktu yang tidak
panjang, hanya sebentar apalagi untuk tujuan belajar, tentu tidak maksimal. Tetapi
mau bagaimana? itu sudah menjadi ketentuan kurikulum belajar mereka. Dimasa ada
bersama, kami berusaha memberi apa yang bisa kami beri. Berupaya membimbing mereka
untuk memanfaatkan waktu PSG dengan belajar menyesuaikan pengetahuan kejuruan
yang mereka terima dengan terapan teknologi computer di dunia kerja.
Pada sisi lain, KPU Lembata pun
tidak lupa mendidik mereka menjadi generasi melek Pemilu, tidak sekedar pengetahuan
tentang pemilu dan demokrasi, tetapi mereka juga kami latih untuk menjadi Penyelenggara
Pemilu tingkat Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Yah… kami tau,
bahwa mereka kemudian akan menjadi pemilih Flores Timur (paling tidak untuk
Pemilu dan Pemilihan tahun 2024), tetapi adalah tugas KPU untuk menyampaikan
informasi kepemiluan yang benar sesuai cita-cita demokrasi. Kami berharap
mereka kemudian tumbuh menjadi generasi cerdas yang paham tentang tanggungjawab
warga Negara untuk menghadirkan pemimpin melalui sebuah Pemilu.
Tidak berhenti dengan pendidikan
Pemilih dan Simulasi Pungut Hitung, mereka juga kami ajak untuk belajar menulis
berita. Tentu tidak bermaksud untuk menjadikan mereka sebagai wartawan remaja,
tetapi pengetahuan tulis itu kami anggap penting untuk “diinstal” sebagai
pengetahuan tambahan buat mereka, generasi dari “tanah bermahar gading” itu, apalagi diakhir masa PSG nanti mereka wajib
menulis laporan akhir.
Omong-omong tentang 11 peserta PSG
dari SMK Witihama Adonara, mereka anak-anak yang unik. Hadir dengan kemampuan
dan karakter berbeda, yang dengan sendirinya sedikit memaksa para
pembimbing di masing-masing Sub Bagian pada kantor KPU Lembata maksimal berpikir dan mencari cara agar mereka mampu menyesuaikan pengetahuan yang mereka terima dari sekolah
dengan terapan di dunia kerja.
Membimbing anak seusia mereka
tentu tidak mudah, apalagi mereka baru saja kami kenal. Hehehe… kadang kami
harus memposisikan diri sebagai orang tua tetapi kadang harus turun tingkat
menjadi kakak, dan teman mereka. Ada yang datang dengan tingkah cuek, malas tau
bahkan terkesan tidak mau tau dengan kewajiban mereka sebagai pelajar yang
sedang menjalani PSG. Tetapi ada pula yang tekun, kemauan untuk menjadi tau sangat
tinggi, ada yang centil dan lucuh, dan ada pula yang tenang dan pendiam.
Dan iya… kemarin Kamis 17 Maret
2022 tepat hari akhir PSG mereka dijemput guru. Acara pelepasan di buat KPU
Lembata secara sederhana. Tampak sekali kalau 11 generasi asal “Lewo Tadon
Adonara, Tana Naran Nuha Nebon “ itu enggan pulang ke sekolah, hehe… mungkin
karena mereka sudah terlanjur dibuat betah.
Tetapi masih ada satu kewajiban
dari mereka harus mereka selesaikan yakni Laporan PSG. Yah.. saya tau bahwa
untuk laporan akhir itu, masing-masing mereka dalam 1 bulan terakhir ini
berjibaku untuk mencari materi untuk menulis. 11 orang dengan 11 judul laporan
yang berbeda, stretegi ini sengaja dibuat Sekertaris KPU Lembata agar isi
laporan mereka tidak sama. Tentu saja, cara ini memaksa mereka untuk berlomba
mencari bahan, melakukan wawancara dan menuangkan dalam bentuk narasi laporan.
Masa PSG 11 siswa SMK Witihama
sudah berakhir kemarin, tetapi siang tadi tanpa saya duga beberapa diantara
mereka tetiba muncul lagi di KPU. “kami soreh ini baru jalan bapak. Kami punya
laporan bapak belum tanda tangan,” jelas mereka sambil menyodorkan laporan
untuk saya bubuhkan tanda tangan.
Beberapa mereka yang temui saya
siang tadi itu adalah: Ina Tokan, Nia Tokan, Susan, Mia, Nanda, Akbar, Crespo,
Alfa. “Diamana yang teman-teman kalian yang lain?” Tanya saya. “mereka sudah
jalan duluan bapak,” jelas Mia.
Nia dan Ina yang serius belajar |
Khusus untuk siswa perempuan,
laporan mereka sudah selesai lebih awal, dan kemarin pasca acara pelepsan sudah
ditandatangani, tetapi beberapa anak lak-laki baru bisa saya bubuhkan
tandatangan siang tadi.
Ok, salam pisah buat kalian
semua. Semoga kalian tumbuh menjadi generasi Lamaholot yang cerdas dan
berbudaya. Terimakasih untuk SMK Witihama yang mempercayai KPU sebagai tempat
siswa menjalankan PSG.
“Salam Satu Lamaholot,” …”KPU,
Melayani,” …”SMK, Bisa,”
Alfa dan Crespo di hadapan Kasubag Teknis KPU Lembata, Edwad Tokan |
Akbar Siswa Unik sedang menanti laporannya di Print bang Wempi |
Nanda, Si kecil bedialeg Kupang |
Susan, Anak Nelayan Meko yang serius mendengar penjelasan dari Kakak Bastian |
Foto dan Narasi
Oleh : Yogi Making