Minggu, 24 September 2017
Selasa, 19 September 2017
Resah Penghuni Teluk Lewoleba
![]() |
Foto : Yogi Making |
Tangis gelombang pecah di bebatuan
Dan riak seakan mengirim sinyal gelisah penghuni laut
Buih-buih gelombang yang biasanya ramah bermain mengikuti irama laut, datang malu-malu
Ah..lautku dipagi ini tak ceria
Jika kemarin masih ada senyum
Hari ini diliputi gamang
Nyanyian laut tak semerdu kemarin
Dan camar-camar itu,
Kemarin baru saja menyanyikan lagu riang
Kini tak lagi datang menggoda ikan
Ah..pagi ini lautku tak ceria
Aku terpekur, tanya mengusai pikiran
Membuncah, carut marut tak berarah
Dan gundah datang menghampiri jiwa
Ada apa, hingga lautku tak ceria?
Padahal kemarin...yah..baru saja kemarin
Kulihat saudaraku nelayan mesra bercengkrama dengan lautnya
Tapi hari ini tidak
Kemana perahu-perahu kecil itu?
Dimana layar-layar itu ditiup angin
Dimana mereka?
Akh...kemana kucari jawab
Sudah kutanya pada laut, juga angin dan camar, juga pada buih gelombang itu...
Namun semua kembali tanpa kata
Hem..jika aku adalah diam mungkin sudah ku dengar bisik alam
Andai aku adalah sepih mungkin jawab sudah kudapat
Jika aku adalah tenang mungkin kutangkap gamangnya laut
Sayang, aku hanya bising...
Yang sibuk berpikir tentang apa yang kumakan
Aku bising yang sibuk dengan apa yang kupakai juga, jabatan, uang dan kekayaan
Tentang nama dan harga diri, bisnis dan kolegaku
Aku bising yang terpesona dengan hasrat menguasai dunia
Lalu lupa menjadi sepih...
Padahal jauh disana di dasar laut Teluk Lewoleba, koloni karang sedang menangis
Aku menolak tenang
Padahal dilaut sana para ikan bingung kemana harus menitip telur
Akupun tak mau menjadi diam
Padahal dengan diam aku mendengar keluh ombak
Aku mengusir hampa dan menjadi tuli bagi nyanyian camar
Yah..dengan sepih kita mampu mendengar dentang lonceng
Isyarat kematian para penguhuni laut
Dan hanya melalui sepi kita bersetubuh dengan alam
Pantai Lapa, Lewoleba, Selasa, 19/9/2017
Yogi Making
Senin, 18 September 2017
Minggu, 17 September 2017
Pelaut, Anak Pantai, Generasi Nelayan
Anak pantai
Keturunan gelombang
Dilahirkan pasir
Dibesarkan karang
Diasuh ikan
Anak laut generasi Nelayan
Rumahnya karang
Dihidupi ikan
Berteman hiu
Bersaudara paus
Kami pelaut, generasi Nelayan
Sekolah kami, sekolah laut
Buku kami laut
Pena kami dayung
Cita-cita kami adalah semburat mentari pagi
Mimpi kami adalah senjah
Anak laut, generasi Nelayan
Tamat dilaut
Berijasah laut
Kerja kelaut
Anak laut
Memacari ikan
Dicumbui gelombang
Dibelai riak
Mengawini duyung
Kami pelaut, keturununan Nelayan
Hidup miskin dikampung kumuh
Amis ikan parfum kami
Buih gelombang lipstik kami
Pelaut itu cita-cita
Nelayan itu kerja
Pelaut itu suara
Nelayan itu kemenangan
Kami Pelaut generasi Nelayan
Hidup kami proyek
Sakit kami program
Lingkungan kami uang
Mati kami keuntungan
Kami Pelaut, generasi Nelayan
Desahan kami hempasan gelombang
Siulan kami nyanyian camar
Tawa kami ombak
Canda kami riak
Marah kami taufan
Amuk kami badai
Kami Pelaut, generasi Nelayan
Nenek moyang kami pelaut
Wangatoa, Minggu 17/9/2017
Yogi Making
Sabtu, 16 September 2017
KEJAR ASA TANPA RAGU
![]() |
JELSY MAKING |
Sejuk seakan mejamah pori-pori
Dan embun pagi menetes perlahan,
Seiring mentari menyapa dunia
Refleks aku tersenyum penuh syukur menyapa pagi dari balik jendela kamar
Pagi, kusapa dunia
Membangkit asa meraih cita
Kupacu raga mengahadirkan semangat
Agar juang tak boleh layu
Bangun wahai raga
Tegak wahai kaki
Tatap dunia wahai mata
Lihat, cita dan mimpi diujung penah
Rengkuh wahai tangan
Genggam wahai jemari kecilku
Rebutlah asa tanpa ragu
Asput Binawirawan, Maumere 14/9/2017
Jelsy Making
Siswa Kelas 1 IPA, SMA Frateran Maume
Jumat, 15 September 2017
Warkat Resah Nelayan
Kepada tuan pemilik kursi
Buat baginda pemegang mandat
Mohon siap sedikit waktu
Untuk baca resah kami
Wahai tuan pemilik kursi
Ini kami warga nelayan
Yang menggantung hidup pada laut
Sudi dengar gelisah kami
Ini resah tentang laut
Ini gelisah tentang hidup
Mohon tuan bijaksana
Beri kami ruang hidup
Wahai baginda pemegang mandat
Lama sudah kami menanti
Titah putus soal laut
Tempat kami menaruh harap
Laut kami hidup kami
Masa depan anak nelayan
Tapi kini hendak direbut
Oleh mereka yang bermodal
Wahai tuan penguasa jagad
Coba datang bersama kami
Kita ceritera tentang karang
Juga tentang ikan dan siput
Jika tuan tak bertitah
Kami tak bisa mencari makan
Karena karang akan dibunuh
Oleh mereka yang bermodal
Lalu ikan lari mengungsi
Bawa pergi semua siput
Oh...Tuan pemilik kursi
Hanya oleh titahmu
Untuk Laut kami,dan ikan kami
Dan jika tak jua datang..
Ikan akan habis,Sebab karang telah mati d bunuh..
Dan Laut...
Hanya untuk di pandangi
Wahai tuan dikursi kuasa
Sabar tunggu hampir habis
Gelisah resah mendekat punah
Akibat lama menanti titah
Mohon tuan memberi jawab
Sebelum laut berhasil di rompak
Sebelum karang habis dibunuh
Sebelum ikan berlalu pergi
Sebelum kami mati lapar
Sebelum bayi kehabisan susu
Sebelum anak putus sekolah
Wangatoa, Jumad 15/9/2017
Yogi Making
Saat Rindu Dirawat Alam
Pagi ini untuk waktu yang tak ku hitung
Aku kembali ke sini
Di pantai ini
Menyapa wadas dan pasir yang kemarin
Juga laut dan hempasan gelombang
Tak lupa, pada akar mengrove yang kokoh melingkar mendekap wadas
Semua masih sama
Tak ada yang berubah
Juga rindu yang terpahat pada wadas yang dilingkar akar mangrove
Iya.., rindu yang kemarin
Masih setia dirawat wadas
Utuh dalam dekap lengan akar magrove
Aman dalam naung rindang daunnya
Ah..terimakasih alamku
Dan pagi ini, seperti pagi yang kemarin
Dengan laut dan gelombang masih sama
Sama seperti kemarin
Dimana gelombang terus saja menari
Tarian yang menggoda pantai
Gemulai merangsang libido bebatuan
Membangkitkan gairah untuk segera bercinta
Akh..alam tak pernah lelah bercinta
Bergumul dalam mesra
Membangkit iri dalam diri
Menyapa sepi dalam hati
Sebab aku disini
Sendiri dipantai ini
Wangatoa, Jumad 15/9/2017
Yogi Making
Kamis, 14 September 2017
Rabu, 13 September 2017
Langganan:
Postingan (Atom)