Rabu, 20 Mei 2020

Indonesia Terserah, Lembata Suka-Suka, Para Medis Pasrah

Gambar mungkin berisi: 1 orang




Indonsia Terserah, tagar yang viral diperbincangan pengguna dunia maya. Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Siti Zunariyah, dalam sebuah artikel berjudul “Indonesia Terserah” yang tayang di Kompas.com 20 Mei 2020, menilai topik ini, viral sebagai ekspresi kekecewaan dan protes para medis kepada pemerintah dan masyarakat ditengah kondisi perang melawan pandemi covid 19.

Senada dengan Siti Zunariyah, Direktur Lingkar Mandani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti yang saya kutip dari Sindonews.com tegas mengkritk pemerintah. Ray menilai, tagar Indonesia Terserah, merupakan respons negatif masyarakat Indonesia atas kinerja pemerintah dalam menanggulangi wabah corona.

"Bukan saja karena publiknya yang mungkin kurang patuh, tapi tak jarang malah pokok soalnya adalah elit politik yang seperti tidak satu pandangan dan suara dalam menjalankan aturan yang dibuat," ujarnya Ray.

Dua pendapat saling bertaut diatas, seakan menjelaskan kepada publik bahwa Pemerintah seolah ada untuk menghadirkan aturan, tetapi menghilang saat penerapan aturan dilapangan. Atau bisa dengan kata lain, aturan dibuat pemerintah hanya untuk rakyatnya, sementara aturan tidak mengikat mereka para elit pembuat aturan.

Tidak perlu jauh-jauh, intip saja ke laman face book anda, kegiatan mengumpulkan banyak orang seakan tidak bisa dihindari. Elit negeri ini rutin bertandang ke desa dengan berbagai tujuan. Ada monitoring sekaligus terlibat membagi BLT, ada yang katanya monitoring kegiatan belajar sekolah, ada pelantikan, ada kunjungan kerja, Kunjungan PKK dan lain-lain agenda, yang rata-rata semua kegiatan para elit itu melibatkan masyarakat.

Untuk menghidari pikiran negatif, saya sempat mengarah kepada pandangan positif. Kunjungan ke desa adalah sebuah aksi sosial. Mumpung PSBB berlaku, sehingga menutup ruang perjalanan ke luar Lembata. Tetapi, semakin kesini, pikiran pikiran awal saya mulai berubah. Saya seperti mencium aroma politis yang dibungkus dengan aksi kemanusiaan.

Aksi sosial para elit terjepit diantara lipatan celah aturan pembatasan sosial. Sebuah tindakan yang baku tabrak secara langsung. Disatu sisi, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial yang salah satunya, menghimbau agar sedapat mungkin menghidari kegiatan yang melibatkan banyak orang, tetapi pada sisi yang lain, hadirnya para elit ditengah kampung, membuat sibuk banyak orang didesa.

Oh... tentu ada (pasti ada) yang beralibi, kan dalam kunjungan itu, meski melibatkan banyak orang, tetapi selalu dianjurkan untuk mengenakan masker, ditempat kegiatan sudah disiapkan perlengkapan cuci tangan, ada penyemprotan desinfektan, sehingga boleh dijamin aman. Benarkah? Sebelum berpikir benar atau salah saya ajak untuk kita lihat yang ini dulu. Hehehe... lihat pertanyaan sederhana ini. Siapakah yang membuat aturan pembatasan sosial? Bukankah itu datang dari pemerintah dan rakyat wajib mematuhinya? Lantas kenapa sekarang berubah?

Ah, mungkin ini yang diawal saya sebut bahwa, aturan tidak dibuat untuk pembuat aturan, tetapi hanya semata-mata berlaku untuk rakyat.

Akibat pembatasan sosial, pesta-pesta sebagai sarana silahturahmi antar keluarga ditiadakan, bahkan arisan keluarga pun mungkin tak boleh dilakukan. Tetapi warga boleh berkumpul, atau lebih tepatnya dikumpulkan, karena elitnya berkunjung.

Lha...khan, BLT harus dibagi, dan warga mesti dikumpulkan. Benarkah? Yah... BLT adalah hak yang wajib diterimakan kepada warga terdampak covid. Tetapi, tidak harus dengan mengumpulkan mereka. Kegiatan bisa dibalik. Kades dan perangkatnya yang datangi warga dari rumah kerumah. Dan ini yang sedang dilakukan oleh daerah-daerah lain diluar Lembata. Aksi-aksi protokoler birokratis yang lazim berlaku sebelum pembatasan sosial, hendaknya kita hindari. Jika warga dihadirkan hanya untuk mendengar sambutan, maka sambutan bisa disampaikan melalui pengeras suara. Maksud saya, biarkan warga mendengar sambil bekerja dirumah. 

Haloo... Jika hanya untuk sebuah monitoring, maka baiknya memanfaatkan teknologi. Ada beragam aplikasi komunikasi yang mempermudah kehidupan dijaman canggih ini. Pembatasan sosial tidak berarti, semua kegiatan terhambat. Hanya media dan caranya berbeda. Rapat-rapat, monitoring pembagian BLT, pelantikan, ditengah situasi perang covid ini, bisa dilakukan secara virutal. Memang tidak semua desa di Lembata bisa menggaskes teknologi informasi ini, karena keterbatasan jaringan telekomunikasi.

Sentuhan fisik secara langsung mungkin tidak terjadi, tetapi covid bisa menyebar melalui media lain. Saya perhatikan pada foto-foto pembagian BLT dibeberapa akun pengguna FB. Penyerahan uang BLT disampaikan langsung oleh elit ke tangan warga. Kasus covid di beberapa belahan dunia, membuktikan kalau, amplop, dan uang adalah sarana terbaik untuk memindahkan covid dari satu orang ke orang lainnya.

Artinya, tanpa hadirnya elit, BLT, Pelantikan, dan lain kegiatan bisa dikoordinir oleh desa. Toh, otonomi sesungguhnya itu ada didesa, bukan adanya dikecamatan atau kabupaten.  Dan saya percaya, kalau Kades dan perangkatnya mampu melaksanakan semua harapan pemerintah Pusat, hingga pemerintah Kabupaten. 

Miris memang. Himbauan jaga jarak, pembatasan sosial baku tabrak dengan agenda kunjungan para elit. Padahal fakta terkini menyebutkan kalau virus kian ganas menyerang secara cepat, merangsek hingga ke pelosok. Penderita covid dari hari-ke hari meningkat. Di NTT, virus ini berkembang sangat pesat. Melompat dari deret hitung ke deret ukur. Jika sebelumnya hanya 1 orang dinyatakan positif corona, sekarang penederita covid di NTT mendekati angka 100. Situasi yang harusnya membuat kita semakin berhati-hati.

Para Medis, Ujung Tombak Yang Pasrah

Saya pernah ulas begini, anggapan bahwa “Para Medis Adalah Ujung Tombak Melawan Corona”, adalah anggapan yang “SALAH BESAR”. Terbukti, Pernyataan yang dimula dari bibir sexi elit ini, kemudian terbukti berpengaruh pada cara padang dan cara tindak setiap kita.

Iya, Para Medis, menurut saya, hanyalah BENTENG PERTAHANAN TERAKHIR dalam Perang melawan corona. Sesungguhnya yang berada digaris terdepan adalah kita. Kita sebagai warga dan pemerintah. Ibarat pasukan, kita adalah pasukan infantri. Orang pertama digaris depan perjuangan.

Prajurit perang beralih, kita hanya berdiri sambil bertepuk tangan menyaksikan satu demi satu nyawa saudara kita para medis gugur dimedan tempur. Disaat yang sama, banyak diantara kita termasuk elit negeri, hanya bisa bilang prihatin, sambil terus mengangkangi aturan pembatasan sosial.


Pandangan awal terhadap para medis itu seperti kita melepas tanggungjawab memberantas corona. Biar semua tahu, kita dianggap peduli terhadap perang covid maka cukuplah dengan menghimbau, yah...kita menggap cukup sebagai penyemangat dengan mengatakan, PARA MEDIS ADALAH UJUNG TOMBAK DALAM PERANG MELAWAN CORONA.

Akh...Perang covid yang sebelumnya adalah murni gerakan kemanusiaan, perlahan mulai tercium aroma politis.

Tak cuma tanggungjawab memberantas corona yang diserahkan kepada pada Medis, setelah berdarah-darah dimedan tempur, mereka juga terkena imbas pemotongan TUKIN dan biaya Jasa Pelayanan.

Tidak saja nyawa diserahkan, para medispun harus rela memberi sumbangan pada negara dari hasil keringat dan darah yang tercecer dimedan tempur. Dan mirisnya lagi, kendati tunjangan kinerja dan jasa pelayanan dipangkas, para medis tidak dibekali dengan Alat Pelindung Diri yang maksimal. Belum terlihat, kebijakan elit yang berpihak kepada perlindungan nyawa para medis.

Bagaimana mungkin, prajurit disuruh perang, tanpa dilengkapi dengan senjata yang memadai. Bila mereka adalah tombak, maka lengkapi juga dengan prisai, bila bedil ditangan mereka, maka baiklah mereka diperisai baju anti peluru.

Jangan biarkan mereka turun bertempur hanya dengan modal tepukan tangan dan pujian manis. Pujian dan tepukan tangan, ibarat menghantar nyawa pada kematian lalu pulang dengan julukan PAHLAWAN.
Wangatoa, 20/05/2020
Yogi Making

Rabu, 06 Mei 2020

Malam Tak Berujung (Sajak Corona)



Terang padam kala mentari masih membakar
Bulan menolak hadir, bintang memilih pergi
Malam tak berujung
Gelap pekat selimuti bumi
Alam sepih resah

Perkasa makhluk bumi luluh lantah
Senjata kapar, hanyut lepas dari tangan
Saat Maut menggertak hebat
Pasrah berserah, menanti waktu datang menjemput

Aroma kematian begitu dekat melekat
Maut mengintai
seperti elang menanti mangsa
Bumi sepih hening

Malam tak berujung
Pekat hitam menebar aroma kamboja
Bangunkan arwah yang terbaring
Seram menghambur ke seantero jagat

Tuhan...Bolehkan aku membisik doa
Mampukan kami untuk hidup dalam gelap
Hingga terang hadir menjemput
Tuhan....Bolehkan aku membisik doa
Satukan kami bila waktumu datang menjemput.


Lelaki Kampung, Yogi Making
Wangatoa, 06/05/2020