Rabu, 19 Agustus 2020

AMANAT KETUA KPU KABUPATEN LEMBATA

 

Perempuan Pimpin KPU Kota dan Kabupaten Kediri

 

KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN LEMBATA

Sekertariat, Jln. Trans Lembata, Ake Lohe, Lewoleba Timur-Lembata NTT

 

AMANAT KETUA KPU KABUPATEN LEMBATA DALAM UPACARA APEL BENDERA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HUT RI YANG KE 75


Yang terhormat Komsiner KPU Kabupaten Lembata

Yang saya hormati, Aparat Pemerintahan Desa dan Perangkat BPD desa Balerebong

Yang saya hormati, Sekertaris, Pejabat dan Pelaksana serta seluruh staf KPU Kabupaten Lembata. Yang saya hormati, Ina, Ama Kakak, Arik, warga dusun Lepan Batan

 

Selamat pagi, salam damai sejahtera untuk semua kita....

Mengawali pidato ini, terlebih dahulu saya ajak semua kita memekikan yel-yel kebangsaan untuk membangkitkan semangat juang bersama : Merdeka...., Merdeka....Merdeka...., terimakasih.

 

Perserta upacara yang saya muliakan...

Jika sebelumnya, Agustus dimaknai sebagai bulan Suka Cita, bulan Kemerdekaan, yang dirayakan dengan gegap gempita, kini ditahun 2020, Agustus terasa kosong, sepih, seram menakutkan.  Kemeriahan Agustus yang dipenuhi dengan tari menari, vestifal dan karnaval tidak kita nikmati.

Situasi global sebagaimana yang disampaikan Presiden dalam Pidato Kenegaraan, Jumad 14 Agustus 2020, bahwa sebanyak 215 negara, tanpa terkecuali, sedang menghadapi masa sulit di tengah pandemi Covid-19. Dalam  catatan  WHO, sampai dengan tanggal 13 Agustus 2020, terdapat lebih dari 20,4 juta kasus di seluruh dunia, dengan jumlah kematian di dunia sebanyak 744.000 jiwa.

Semua negara, baik negara miskin, negara berkembang hingga negara maju, sedang mengalami kemunduran. Ekonomi negara maju bahkan minus hingga 17-20 persen.

Inak, Amak, Kaka, Arik, yang go hungen baat tonga belolo....

Tak cuma negara, kondisi nan sulit pun terasa hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Kita sadar, bahwa hidup ditengah gempuran wabah covid, serba rumit. Bahkan hanya untuk saling mengunjungi antar saudarapun kita dibatasi. Namun demikian, tidak berarti bahwa kita kehilangan rasa syukur pada Tuhan teti lera wulan dan Allah lali tana langun, karena telah melindungi perjalanan bangsa ini hingga mencapai usia 75 tahun kemerdekaan, dan menjaga Lewo dan semua kita dari serangan penyakit mematikan, serta diberi kesempatan untuk bersua, guna merayakan kemerdekaan bangsa di tempat nan indah ini.

Ina, ama, reuk, binek ata senaren wahan kae....

Dan mungkin juga ada pertanyaan, mengapa hari ini KPU Lembata, ada di Wade bersama warga Balerebong, dan warga Dusun Lepan Batan secara khusus? Jika berkaca pada Surat Edaran KPU RI,  nomor 26 Tahun 2020, tentang Peringatan HUT RI yang ke 75, maka mestinya saya dan kawan-kawan tidak hadir disini. Kami diarahkan untuk mengikuti Apel HUT RI dan peringatan Detik-Detik Proklamasi secara virtual, yang disiarkan langsung dari istana negara.

Perserta upacara yang go muliakan...

Indonesia bukan saja Jakarta dan Pulau Jawa. Begitu juga Lembata, bukan saja Lewoleba. Tetapi Lembata adalah satu kesatuan wilayah, yang terhitung dari Suba Wutun hingga ke Tanjung Leur. Dan jika yang lain berpikir untuk merayakan HUT RI secara terpusat ditengah kota, maka dalam konteks kebhinekaan berpikir, dan setelah mempertimbangkan situasi lokal, dimana Lembata sedang berada di zona hijau, dan dengan keyakinan bahwa Tuhan dan Lewotana, senantiasa melindungi semua kita, KPU Lembata memutuskan untuk hadir disini, ditengah warga Wade yang tak lain adalah warga pemilih.

Kehadiran kami, sekaligus memastikan bahwa KPU, sebagai lembaga penyelenggara Pemilu, tidak saja ada menjelang Pesta Demokrasi. Tetapi dalam semangat Motto, “KPU Melayani,” kami ingin ada dimana-mana bersama masyararakat, melayani dan menyampaikan informasi pemilu dan demokrasi. Dan tak kalah pentingnya, melalui kegiatan semacam ini, dari salah satu daerah terjauh di bumi Lepanbatan, ingin kita gaungkan keterpaduan KPU dan masyarakat, untuk menjemput momentum demokrasi dimasa yang akan datang.

Situasi sulit, bukan penghalang. Justru kondisi semacam ini, memacu kita untuk berpikir kreatif, menelurkan ide-ide baru, yang tidak saja untuk kemajuan ekonomi, tetapi sekaligus  mendorong kemajuan demokrasi secara meluas.

Yah... Situasi krisis, memaksa kita untuk menggeser pola pikir dan pola kerja, dari biasa-biasa menjadi luar biasa. Dalam konteks pendidikan pemilih, jika sebelumnya KPU mengajak warga untuk datang dan berdiskusi di kantor, kini berbeda pola. Penyadaran pemilih dilakukan dengan strategi “makan bubur panas”. Kami menyisir warga pemilih terluar, sambil merangkak pelan masuk ketengah-tengah jntung kota. Kami mendorong kesadaran berdemokrasi dari orang-orang kecil, sambil pelan-pelan mendesak perubahan pola berdemokrasi kaum terdidik, dan generasi calon pemimpin bangsa.

Jika sebelumnya, kerja sama hanya digalang pada kelompok-kelompok terbatas, kini dalam tema KPU Melayani, kami membuka diri, KPU siap berada dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.

Melalui kegiatan semacam inilah, warga disadarkan bahwa mengikuti Pemilu tidak sekedar didaftar sebagai pemilih, lalu mengakhiri tugas dengan menggunakan hak pilih di TPS, tetapi pemilu adalah satu rangkain utuh, yang dimulai dari mendorong kesadaran warga pemilih untuk mengerti, tentang pentingnya hak pilih, dan mengapa menggunakan hak pilih.

Inak, Amak, Kaka Arik, yang go hungen baat tonga belolo....

Indonesia Maju, tidak bisa kita raih, jika kita masih terseret dalam ketertinggalan pola pikir dan pola kerja, demokrasi hancur bila warganya hidup dalam situasi keterbatasan. Oleh karena itu, di momentum yang berbahagia ini, saya mengajak semua kita untuk menjadikan situasi sulit sebagai nutrisi untuk menambah enegeri, menggalang kekuatan bersama untuk bangkit dari kerbelakangan pola pikir, lalu merangsek maju mengejar ketertinggalan.

Dan kami percaya, bila gempuran perubahan terus digalakan, maka, bukan tidak mungkin lembata kedepan adalah lembata dengan sumberdaya manusia yang mumpuni dan sudah pasti akan lahir dari rahim pemilu, pemimpin baru, pemimpin cerdas dan merakyat, pemimpin yang senantiasa berpikir untuk kemajuan rakyat dan Lewotana.

Dan tak lupa, melalui kesempatan ini pun ingin kami kabarkan bahwa, Lembata sebentar lagi akan memasuki era baru, era dimana semua kita akan disibukan dengan kerja politik. Era dimana, kita warga disiapkan untuk memilih pemimpin yang akan memimpin tanah lepan batan ini, lima tahun kedepan. Kami pun telah mendengar bahwa, kerja-kerja politik untuk mensosialisasikan diri, dan menggalang dukungan, tengah dilakukan pihak-pihak tertentu. Tetapi untuk sekiankali, sebagai penyelanggara Pemilu, KPU ingin memastikan, bahwa Pilkada Lembata sebagaimana digaungkan akan terjadi pada 2022, belum berkepastian hukum. Undang-undang Pemilu sebagai pengganti Undang-Undang Pemilu nomor 7 tahun 2017 masih dalam pembahasan ditingkat DPR-RI. Itu berarti, Pilkada mungkin saja terjadi terjadi tahun 2024, tetapi mungkin juga terjadi 2022.

Kapanpun itu, tentu menjadi kerinduan bersama. Tetapi, hendaknya dimasa menjemput hadirnya pesta demokrasi 5 tahunan, kita wajib memperbaharui  semangat semangat berdemokrasi, serta melindungi lewo dari ancaman perpecahan.

Inak, Amak, Kaka Arik, perseta upacara yang berbahagia...

kami senang ada disini, ditengah warga dusun Lepanbatan dan warga Belerobong umumnya, kami bangga ina ama telah menerima kami dengan penuh keramahan dalam semangat persaudaraan. Karena itu, dalam rasa bangga, saya atas nama keluarga Bersar KPU menyampaikan terimakasih kepada Kepala desa Belerobong dan seluruh perangkat pemerintahan desanya, juga terimakasih buat pimpinan dan perangkat BPD, terimakasih tak terhingga juga buat Kepala Dusun Lepanbatan, dan terimakasih buat dukungan warga Wade dan ina ama sekalian. Kami berdoa, semoga Tuhan dan Lewotana melindungi kita sekalian.

Akhirnya, dari Wade, pantai nan indah ini, semua kita menyampaikan Selamat Hari Kemerdekaan Buat Bangsa Kita Tercinta. Kita berdoa, agar Indonesia semakin maju dan kokoh berdiri sebagai bangsa yang berdaulat dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.

Wade, 17 Agustus

Ketua

 

Elias Kaluli Making

Selasa, 11 Agustus 2020

Penyair 2

 

Menulis kata tak terucap

Membaca kalimat yang tak tertulis

Menyampaikan bunyi yang tak terdengar

Rima yang menggambarkan cinta, gundah, duka, luka juga sepih

Mereka yang terpisah dari yang terbuang

 

Penyair...

Simbol birahi rakyat jelata

Tetapi sendiri menyetubuhi rasa

Akibat dirangsang bualan penguasa

Dan terkulai lesuh bersamaan lenguh orgasme pembual

 

Penyair...

Suara sepih ditengah bising

Sendiri, dan terasing

 

Lelaki Kampung, Yogi Making 11/08/2020

Senin, 27 Juli 2020

Antaberanta, Karangmu Menjanda



 Negeri Antaberanta, surganya dunia
Tanah berbalut emas
Nusa ditopang berlian
Intan dan permata penghuni lautnya

Negeri kaya tapi rakyatnya miskin
Sebab dipimpin tuan pemimpi
Memimpin atas mimpi
Memerintah kala tidur
Dan igauannya dipuja abdi penjilat

Negeri Antaberanta, Tuanmu hebat berpidato
Karena dikawal kaum bertato

Negeri Antaberanta, Pemimpin bukan lahir dari menghitung kancing
Tetapi mulut yang terpilih menebar aroma kencing
Sebab dijamu pipis tuan pemimpi

Negeri Antaraberanta, gedung kaum terpilih dihuni kucing
Tetapi, tidur dengan mulut tersumpal puting
Sehingga tikus bebas berdansa
Melahap habis harta jelata

Negeri Antaraberanta, tuanmu tak goyah bila dibully
Tak peduli Sebab ia tuli

Negeri Antarberanta, dulunya taman
Namun kini hijau daun pepohonan hangus dibakar jeritan jelata,
Dan sungainya kering dilahap marah dahaga kaum kecil,
Dulu biru lautmu, dengan ikan yang mencumbu karang
Kini memerah terpapar tangis para papa,
Ikan pergi  dan karang menjanda

Antaberanta negeri yang ngerih

Wangatoa, Minggu 26/7/2020
Lelaki Kampung, Yogi Making





Kamis, 25 Juni 2020

Penyair 1




Ia tak lagi berpesta dengan puisinya
Balada dilafal sebagai dogeng penghantar tidur
Rima dan nada menggaung dalam ruang bawah tanah
Sepih ditengah riuh  

Bagai makhluk asrtal
Sendiri, menarikan rima dalam makna
Suara yang dulunya mampu mengetar jiwa
Dijambret elit
Gaung puisi ditukar dengan suara politisi
Hinggar binggar mendesak rasuk, memekakan telinga

Puisi suara fakir
Penyair menjadi asing ,tersingkir
Suara nurani yang lahir dari tetesan waktu yang murni
Mengecil dan sayup ditelan suara zaman

Lelaki Kampung, 
(Yogi Making)

Wangatoa, 25/06/2020

Rabu, 24 Juni 2020

Kembalikan Indonesiaku


Kaumku Di Paksa Lahir 
Hanya untuk Menjadi Rakyat Biasa
Tak Boleh Memerintah
Hanya Bisa Diperintah

Lalu Dimana Indonesiaku Yang Dulu?
Ah..Ingin Ku Temukan Dia Kembali

Wangatoa, 4/11/2016
Yogi Making

Rabu, 20 Mei 2020

Indonesia Terserah, Lembata Suka-Suka, Para Medis Pasrah

Gambar mungkin berisi: 1 orang




Indonsia Terserah, tagar yang viral diperbincangan pengguna dunia maya. Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Siti Zunariyah, dalam sebuah artikel berjudul “Indonesia Terserah” yang tayang di Kompas.com 20 Mei 2020, menilai topik ini, viral sebagai ekspresi kekecewaan dan protes para medis kepada pemerintah dan masyarakat ditengah kondisi perang melawan pandemi covid 19.

Senada dengan Siti Zunariyah, Direktur Lingkar Mandani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti yang saya kutip dari Sindonews.com tegas mengkritk pemerintah. Ray menilai, tagar Indonesia Terserah, merupakan respons negatif masyarakat Indonesia atas kinerja pemerintah dalam menanggulangi wabah corona.

"Bukan saja karena publiknya yang mungkin kurang patuh, tapi tak jarang malah pokok soalnya adalah elit politik yang seperti tidak satu pandangan dan suara dalam menjalankan aturan yang dibuat," ujarnya Ray.

Dua pendapat saling bertaut diatas, seakan menjelaskan kepada publik bahwa Pemerintah seolah ada untuk menghadirkan aturan, tetapi menghilang saat penerapan aturan dilapangan. Atau bisa dengan kata lain, aturan dibuat pemerintah hanya untuk rakyatnya, sementara aturan tidak mengikat mereka para elit pembuat aturan.

Tidak perlu jauh-jauh, intip saja ke laman face book anda, kegiatan mengumpulkan banyak orang seakan tidak bisa dihindari. Elit negeri ini rutin bertandang ke desa dengan berbagai tujuan. Ada monitoring sekaligus terlibat membagi BLT, ada yang katanya monitoring kegiatan belajar sekolah, ada pelantikan, ada kunjungan kerja, Kunjungan PKK dan lain-lain agenda, yang rata-rata semua kegiatan para elit itu melibatkan masyarakat.

Untuk menghidari pikiran negatif, saya sempat mengarah kepada pandangan positif. Kunjungan ke desa adalah sebuah aksi sosial. Mumpung PSBB berlaku, sehingga menutup ruang perjalanan ke luar Lembata. Tetapi, semakin kesini, pikiran pikiran awal saya mulai berubah. Saya seperti mencium aroma politis yang dibungkus dengan aksi kemanusiaan.

Aksi sosial para elit terjepit diantara lipatan celah aturan pembatasan sosial. Sebuah tindakan yang baku tabrak secara langsung. Disatu sisi, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial yang salah satunya, menghimbau agar sedapat mungkin menghidari kegiatan yang melibatkan banyak orang, tetapi pada sisi yang lain, hadirnya para elit ditengah kampung, membuat sibuk banyak orang didesa.

Oh... tentu ada (pasti ada) yang beralibi, kan dalam kunjungan itu, meski melibatkan banyak orang, tetapi selalu dianjurkan untuk mengenakan masker, ditempat kegiatan sudah disiapkan perlengkapan cuci tangan, ada penyemprotan desinfektan, sehingga boleh dijamin aman. Benarkah? Sebelum berpikir benar atau salah saya ajak untuk kita lihat yang ini dulu. Hehehe... lihat pertanyaan sederhana ini. Siapakah yang membuat aturan pembatasan sosial? Bukankah itu datang dari pemerintah dan rakyat wajib mematuhinya? Lantas kenapa sekarang berubah?

Ah, mungkin ini yang diawal saya sebut bahwa, aturan tidak dibuat untuk pembuat aturan, tetapi hanya semata-mata berlaku untuk rakyat.

Akibat pembatasan sosial, pesta-pesta sebagai sarana silahturahmi antar keluarga ditiadakan, bahkan arisan keluarga pun mungkin tak boleh dilakukan. Tetapi warga boleh berkumpul, atau lebih tepatnya dikumpulkan, karena elitnya berkunjung.

Lha...khan, BLT harus dibagi, dan warga mesti dikumpulkan. Benarkah? Yah... BLT adalah hak yang wajib diterimakan kepada warga terdampak covid. Tetapi, tidak harus dengan mengumpulkan mereka. Kegiatan bisa dibalik. Kades dan perangkatnya yang datangi warga dari rumah kerumah. Dan ini yang sedang dilakukan oleh daerah-daerah lain diluar Lembata. Aksi-aksi protokoler birokratis yang lazim berlaku sebelum pembatasan sosial, hendaknya kita hindari. Jika warga dihadirkan hanya untuk mendengar sambutan, maka sambutan bisa disampaikan melalui pengeras suara. Maksud saya, biarkan warga mendengar sambil bekerja dirumah. 

Haloo... Jika hanya untuk sebuah monitoring, maka baiknya memanfaatkan teknologi. Ada beragam aplikasi komunikasi yang mempermudah kehidupan dijaman canggih ini. Pembatasan sosial tidak berarti, semua kegiatan terhambat. Hanya media dan caranya berbeda. Rapat-rapat, monitoring pembagian BLT, pelantikan, ditengah situasi perang covid ini, bisa dilakukan secara virutal. Memang tidak semua desa di Lembata bisa menggaskes teknologi informasi ini, karena keterbatasan jaringan telekomunikasi.

Sentuhan fisik secara langsung mungkin tidak terjadi, tetapi covid bisa menyebar melalui media lain. Saya perhatikan pada foto-foto pembagian BLT dibeberapa akun pengguna FB. Penyerahan uang BLT disampaikan langsung oleh elit ke tangan warga. Kasus covid di beberapa belahan dunia, membuktikan kalau, amplop, dan uang adalah sarana terbaik untuk memindahkan covid dari satu orang ke orang lainnya.

Artinya, tanpa hadirnya elit, BLT, Pelantikan, dan lain kegiatan bisa dikoordinir oleh desa. Toh, otonomi sesungguhnya itu ada didesa, bukan adanya dikecamatan atau kabupaten.  Dan saya percaya, kalau Kades dan perangkatnya mampu melaksanakan semua harapan pemerintah Pusat, hingga pemerintah Kabupaten. 

Miris memang. Himbauan jaga jarak, pembatasan sosial baku tabrak dengan agenda kunjungan para elit. Padahal fakta terkini menyebutkan kalau virus kian ganas menyerang secara cepat, merangsek hingga ke pelosok. Penderita covid dari hari-ke hari meningkat. Di NTT, virus ini berkembang sangat pesat. Melompat dari deret hitung ke deret ukur. Jika sebelumnya hanya 1 orang dinyatakan positif corona, sekarang penederita covid di NTT mendekati angka 100. Situasi yang harusnya membuat kita semakin berhati-hati.

Para Medis, Ujung Tombak Yang Pasrah

Saya pernah ulas begini, anggapan bahwa “Para Medis Adalah Ujung Tombak Melawan Corona”, adalah anggapan yang “SALAH BESAR”. Terbukti, Pernyataan yang dimula dari bibir sexi elit ini, kemudian terbukti berpengaruh pada cara padang dan cara tindak setiap kita.

Iya, Para Medis, menurut saya, hanyalah BENTENG PERTAHANAN TERAKHIR dalam Perang melawan corona. Sesungguhnya yang berada digaris terdepan adalah kita. Kita sebagai warga dan pemerintah. Ibarat pasukan, kita adalah pasukan infantri. Orang pertama digaris depan perjuangan.

Prajurit perang beralih, kita hanya berdiri sambil bertepuk tangan menyaksikan satu demi satu nyawa saudara kita para medis gugur dimedan tempur. Disaat yang sama, banyak diantara kita termasuk elit negeri, hanya bisa bilang prihatin, sambil terus mengangkangi aturan pembatasan sosial.


Pandangan awal terhadap para medis itu seperti kita melepas tanggungjawab memberantas corona. Biar semua tahu, kita dianggap peduli terhadap perang covid maka cukuplah dengan menghimbau, yah...kita menggap cukup sebagai penyemangat dengan mengatakan, PARA MEDIS ADALAH UJUNG TOMBAK DALAM PERANG MELAWAN CORONA.

Akh...Perang covid yang sebelumnya adalah murni gerakan kemanusiaan, perlahan mulai tercium aroma politis.

Tak cuma tanggungjawab memberantas corona yang diserahkan kepada pada Medis, setelah berdarah-darah dimedan tempur, mereka juga terkena imbas pemotongan TUKIN dan biaya Jasa Pelayanan.

Tidak saja nyawa diserahkan, para medispun harus rela memberi sumbangan pada negara dari hasil keringat dan darah yang tercecer dimedan tempur. Dan mirisnya lagi, kendati tunjangan kinerja dan jasa pelayanan dipangkas, para medis tidak dibekali dengan Alat Pelindung Diri yang maksimal. Belum terlihat, kebijakan elit yang berpihak kepada perlindungan nyawa para medis.

Bagaimana mungkin, prajurit disuruh perang, tanpa dilengkapi dengan senjata yang memadai. Bila mereka adalah tombak, maka lengkapi juga dengan prisai, bila bedil ditangan mereka, maka baiklah mereka diperisai baju anti peluru.

Jangan biarkan mereka turun bertempur hanya dengan modal tepukan tangan dan pujian manis. Pujian dan tepukan tangan, ibarat menghantar nyawa pada kematian lalu pulang dengan julukan PAHLAWAN.
Wangatoa, 20/05/2020
Yogi Making

Rabu, 06 Mei 2020

Malam Tak Berujung (Sajak Corona)



Terang padam kala mentari masih membakar
Bulan menolak hadir, bintang memilih pergi
Malam tak berujung
Gelap pekat selimuti bumi
Alam sepih resah

Perkasa makhluk bumi luluh lantah
Senjata kapar, hanyut lepas dari tangan
Saat Maut menggertak hebat
Pasrah berserah, menanti waktu datang menjemput

Aroma kematian begitu dekat melekat
Maut mengintai
seperti elang menanti mangsa
Bumi sepih hening

Malam tak berujung
Pekat hitam menebar aroma kamboja
Bangunkan arwah yang terbaring
Seram menghambur ke seantero jagat

Tuhan...Bolehkan aku membisik doa
Mampukan kami untuk hidup dalam gelap
Hingga terang hadir menjemput
Tuhan....Bolehkan aku membisik doa
Satukan kami bila waktumu datang menjemput.


Lelaki Kampung, Yogi Making
Wangatoa, 06/05/2020

Senin, 20 April 2020


TRESI, CORONA MEMBATUKAN RINDU

Alam tersirat engan menjelaskan hariku yang hampa

Aku hanyut terperkur dalam bising musik tetangga
Sepih, hari terasa hampa.

Tresi...
Entah alam yang  berduka
Atau hariku yang pilu
Tetapi yang pasti cantik wajah dan manis senyum
Membeku dalam benak

Akh..., Rindu yang kemarin panas mencair
Kini dibekukan
Corona bagai bongkahan es di kutup utara
Alam luluh dalam dingin
Dan rindu ikut membatu

Entah kapan sibangsat itu pergi
Agar panas segera menghampir
Bangunkan alam yang tertidur
Mencairkan rindu yang membatu

Tresi...
Dan bila saat itu datang,
Pastilah rindu menghantarku pulang
Pulang dalam dekapmu,
Dan aku ingin tidur dimatamu

Baik-baiklah kau disana
Tetaplah merawat cinta
Jagalah jarak dengan sesama
Seperti menjaga cintamu padaku.

Wangatoa, 17/4/2020
By, Lelaki Kampung
Yogi Making

Jumat, 03 Januari 2020

RASA YANG MATI



Benar, sungguh kau benar
Benar-benar tak merasa
Apa yang kami rasa

Benar, kau benar
Mungkin karena kedudukanmu sebagai penguasa 
Sehingga menghadirkan ego kuasa yang ujung-ujungnya menyumbat nilai dasar kemanusiaanmu
Manusia harus pintar merasa apa yang dirasakan manusia lainnya
Bukan merasa pintar sendiri  
Hanya boleh menyalahkan tapi tak boleh disalahkan
Padahal kau dituntut untuk berpikir tentang saudaramu yang melarat

Kau mati rasa sehingga merasa tak punya tanggungjawab
Pada seorang ibu yang menangis akibat anaknya tak lagi sekolah, karena ayahnya di pecat pengusaha saat menuntut upah kerjanya di bayar
Dan rasa manusiamu hilang kala memutuskan untuk tidak meluluskan ratusan anak negeri ini menjadi PNS, padahal mereka sudah menunjukan kesetiaan mengabdi puluhan tahun,
Kau lari saat mereka menuntut tanggungjawabmu

Ego kuasamu telah melahirkan kehancuran alam indaku
Laut yang dulu mampu menghidupi ratusan anak nelayan kecil, kini berubah menjadi neraka
Terumbuh karang hancur, ikan-ikan kecil hingga ikan besar diangkut nelayan berkapal
Hutan-hutan keramat tempat bersemayam kewokot Lewo ini kau ubah menjadi tempat pelesir
Dan kau bangga karena berhasil mengubah negeri suci nenek moyangku itu menjadi arena mesum pemuda nakal

Kau benar…
Benar-benar mati rasa 
Hadirmu tak hanya mengubah alam, tetapi budayaku hilang
Ribu ratu yang dulunya hidup damai sekarang menjadi sensitive
Semangat taan tou hilang, dan keakuan tumbuh subur
Lihat di ujung tanah ini, rathun pulo harus turun bertarung saling membunuh demi sejengkal tanah

Lihatlah pula sekarang rakyatku hanya untuk berbudayapun mereka harus di bayar
Hedung, hamang, namang sole menjadi mahal
Dan kau menghancurkan segalanya
Kau benar. Benar-benar mati rasa, 

Kau..yah, kau…kau layak ku maki
Ingin ku kencingi mulutmu busukmu
Serta memukul tepat ke wajahmu
Agar kau tahu bagaimana rasanya sakit saat kau di permalukan
Itulah caraku untuk kembalikan rasamu yang mati

Kau..hei kau yang mati rasa, berhentilah melatih kami untuk bermimpi
Karena kami sudah punya mimpi sendiri
Tentu bukan mimpi tentangmu, tetapi tentang lewo di masa datang
Kami ingin lewo dan tanah ini ini kembali, dan kami rindu damai kami yang dulu

Yogi Making, 
Wangatoa, 3/1/2017

Kamis, 12 September 2019

MARAH ENAM SEMBILAN



Kata dendam merah garang
Tersulut diujung panah
Entah buat siapa atau kepada apa yang kau sasar, 
Tapi panah melesak, laju tanpa arah


Marah mesti dibidik pada sasar
Biar kata tak dibaca kesasar
Marah boleh kasar tapi jika tanpa arah
Pesan mengapung bak perahu patah kemudi


Marahmu merah 
Tapi terbang menggelembung bagai buih sabun terayun bayu 
Pecah, lalu jatuh tanpa bekas


Kawan... marahmu merah
Tapi dendang lagu kita mesti telanjang
Tak lagi merdu didengung
Sebab kaki masih kau pijak ditengah panggung sandiwara


Bila marah tanpa sasar
Maka kata melaju pada bohong
Lalu kemana panah dituju?
Bukankah musuh harus dipilah
Mana musuh yang layak untuk dimusuhi?


Marahmu enam sembilan
Seperti kaki menendang kepala


Yogi Making
06/09/2019


Jumat, 30 Agustus 2019

SAMBUTAN KETUA KPU KABUPATEN LEMBATA DALAM UPACARA APEL BENDERA HUT RI SABTU 17 AGUSTUS 2019



KOMISI PEMILIHAN UMUM
KABUPATEN LEMBATA


Selamat Pagi, dan Salam Sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati,
  1. Rekan-Rekan Komisioner KPU Lembata
  2. Sekertaris KPU Kabupaten Lembata
  3.  Para Kasubag
  4.  Dan yang saya banggakan saudara/i Staf KPU Kabupaten Lembata

Selamat Pagi, Salam Damai Sejahtera buat semua kita...

Marilah senantiasa kita bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha kuasa, karena pada hari ini kita diberi kesempatan untuk memperingati 74 tahun Kemerdekaan Negara kita tercinta, Republik Indonesia, dalam keadaan sehat wal’afiat.

Rasa syukur ini tentu akan lebih bermakna apabila disaat yang berakhmat dan penuh sukacita ini tidak diperingati sebatas tanggal dan hari, juga tidak semata untuk  mengenang jasa para Pahlawan, tetapi lebih dari itu hendaknya moment HUT RI, kita manfaatkan untuk meningkatkan patriotisme dan jiwa nasionalisme, serta  rasa cinta pada Bangsa untuk pengabdian tanpa batas pada Lewotana tercinta.

Peserta upacara yang saya hormati,

Tidak terasa, 74 tahun kita merdeka. Dalam hitungan umur, 74 tahun rasanya baru seumur jagung. Tua dalam hitungan umur manusia, namun belia dalam hitungan bernegara. Kendati demikian, di mata dunia, dalam banyak sisi Indonesia menjadi salah satu negara yang diperhitungkan. Tentu, lompatan kemajuan bangsa sebagaimana sama kita ikuti, tidak lepas dari peran seluruh anak bangsa.
Lompatan kemajuan yang telah dicapai bangsa ini, tidak lalu membuat kita berpuas diri, tetapi justru menjadi pemicu untuk terus merangsek maju berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Peserta upacara yang saya hormati,

Puji Tuhan, belum lama ini kita sukses menyelenggarakan Pemilu Serentak yang aman, damai dan demokratis. Tetapi kerja belum tuntas,  di depan masih banyak agenda kepemiluan yang akan kita hadapi. Berkaca pada rumitnya kerja kepemiluan yang sudah kita lalui itu, boleh jadi kerumitan penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 menjadi bahan evaluasi para pengambil kebijakan di tingkat nasional.

Dan bukan tidak mungkin, agenda Pilkada pun mengalami perubahan. Itu berarti, Pilkada Lembata yang mestinya berlangsung di tahun 2024 bisa di geser ke 2022. Dan jika perubahan terjadi, maka tidak lama lagi agenda super penting itu akan kita hadapi bersama.

Kita harus siap untuk menghadapi perubahan-perubahan yang mungkin saja terjadi, kalau berkaca pada pelaksanaan pemilu sebelumnya, maka kitapun mesti jujur mengakui bahwa masih banyak yang kurang. Terlalu banyak yang bolong, dan butuh perhatian serta tanggungjawab yang lebih serius untuk menanganinya.

Dan sudah pasti, Sumber Daya Manusia menjadi kuncinnya. Kesiapan kita dalam menghadapi kerja kepemiluan di masa depan, sudah harus kita lakukan dari sekarang. Salah satunya adalah dengan mendorong peningkatan pengetahuan sumberdaya manusia, melalui Bimtek-bimtek, pelatihan juga rakor yang rutin diselenggarakan, baik di tingkat KPU RI, maupun provinsi.

Kerja kepemiluan untuk melahirkan pemimpin baru kedepan tentu semakin rumit dengan tuntutan provesionalitas penyelenggara yang mumpuni. Karena itu, tepat di HUT RI yang ke 74 yang mengusung tema SDM Unggul Indonesia Maju, maka masing-masing kita mulai memperbaiki diri, baharui motivasi kerja, mendorong semangat juang dan jiwa rela berkorban.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan demokrasi, maka manusia KPU kedepan adalah manusia tidak cukup dengan mengatakan siap, tetapi manusia KPU yang mampu membalikan kelemahan menjadi kekuatan, manusia yang dibutuhkan KPU kedepan adalah manusia yang cakap mengubah kesulitan menjadi kemampuan, manusia yang selalu merasa tak cukup dengan melayani dari belakang meja, tetapi manusia yang siap bekerja dilapangan, manusia yang taat asas, yang setia pada sumpah, janji dan kode etik. Dan dalam melaksanakan kerja kepemiluan KPU butuh manusia dengan kerja yang terukur dan bertanggungjawab.

Manusia penyelenggara pemilu kedepan adalah manusia yang menolak kompromi dengan hal yang menghancurkan demokrasi, manusia yang jujur, yang provesional dan berdidikasi.


Akhirnya, dari tempat ini, saya ajak semua kita untuk menaikan puji serta syukur kita pada Tuhan, atas pernyertaannya pada perjalanan bangsa dari waktu ke waktu. Kita berdoa, semoga para pejuang yang mengabdikan diri demi meperjuangkan kemerdekaan, senantiasa mendapat tempat yang layak di sisiNYA.

Dirgahayu Bangsaku, Dirgahayu negeriku
SDM Unggul Indonesia Maju

Lewoleba, 17 Agustus 2019
KPU Kabupaten Lembata
Ketua


Elias Kaluli Making




SAMBUTAN KETUA KPU LEMBATA DALAM RAPAT PLENO PENETAPAN KURSI DAN CALON TERPILIH DPRD TINGKAT KPU LEMBATA





KOMISI PEMILIHAN UMUM
KABUPATEN LEMBATA


  1.  Teman-Teman Komsioner KPU Lembata yang saya kasihi,
  2.  Ketua dan Anggota Bawaslu Kabupaten Lembata yang saya banggakan,
  3. Yang saya hormati, Bupati dan Wakil Bupati Lembata,
  4. Pimpinan DPRD Kabupaten Lembata yang saya hormati,
  5. Yang saya hormati, Kapolres dan Koramil Lembata Barat,
  6. Jajaran pimpinan Dinas instansi pemerintahan Kabupaten Lembata yang sempat hadir yang saya hormati,
  7. Yang saya hormati, Para tokoh masyarakat, tokoh agama yang sempat hadir,
  8. Yang saya hormati, Saudara-Saudara Para Pimpinan Partai Politik,
  9.  Sekertaris KPU, Kasubag dan seluruh staf KPU Lembata yang saya hormati,
  10. Para Insan Pers dan pemerhati demokrasi kabupaten Lembata yang saya hormati.


Selamat soreh, dan salam demokrasi buat semua kita....

Sebagai insan Tuhan, diawal acara ini saya ajak semua kita untuk menundukan kepala, menaikan puji dan syukur kepada Tuhan dan rasa terimakasih kepada Leluhur Lembata, karena atas restu dan perkenaannyalah, kita dipertemukan dalam keadaan sehat walafiat, dan Rapat Pleno Penetapan Kursi dan Calon Terpilih DPRD tingkat KPU Kabupaten Lembata, sebagai bagin akhir dari tanggungjawab KPU, dapat kita langsungkan pada hari ini, tanpa hambatan apapun.

Di kesempatan yang berrahmat ini, mewakil kawan-kawan komsioner KPU Lembata, Sekertaris dan Seluruh Keluarga Besar KPU Kabupaten Lembata, menyampaikan Selamat Merayakan Idul Adha 2019 bagi saudaraku kaum muslim Lembata. Mari, Jadikan Momentum Idul Adha sebagai jalan memperbesar pengorban dan pengabdian diri bagi Bangsa dan terutama bagi Lewotana Lembata tercinta.

Hadirin sekalian yang saya banggakan...

Pemilu 2019 patutlah dicatat dalam bagian sejarah tersendiri, banyak kalangan menilai, Indonesia sebagai salah satu Negara demokrasi terbesar di dunia, mampu menunjukan kwalitasnya dengan melaksanakan pemilu serentak yang rumit, unik namun sukses. Sebagai  anak bangsa patut kita berbangga.

Kita berbangga bukan semata-mata karena menjadi bagian dari sukses Pemilu semata, namun lebih dari itu, karena kita mampu menjaga bangsa dan terutama Lewotana  ini dari kehancuran akibat perpecahan politik.

Panas pertarungan politik dalam pemilu 2019 di daerah lain bisa kita lihat. Tak cuma pada akar rumput, pada tataran elitpun ikut menyumbang lahirnya Politik indentitas, menghadirkan berita hoax, dan eksplotasi ujaran kebencian. Pembelahan terjadi dengan sangat tajam.

Panas pertarungan politik para elit, menjalar bebas ke akar rumput. Namun tidak untuk Lembata. Meski kompetisi politik berjalan demikian ketat, tetapi panasnya situasi politik nasional itu, tidak banyak membawa pengaruh negatif kedalam kehidupan bermasyarakat di Lewotana ini. Patut pula dicatat, Lembata yang sebelumnya disebut sebagai salah satu daerah terawan dalam Pemilu 2019 di Indonesia, mampu dibalikan. Faktanya, kesan rawan yang sebelumnya tersemat tidak terbukti. Justru masyarakat bersuka cita menyambut dengan gegap gempita hadirnya pesta demokrasi lima tahunan dalam nada persaudaraan. Pemilu serentak 2019 di Lembata berlangsung aman, lancar dan demokratis.

Hadirin yang saya banggakan...

Kendati demikian, Pemilu 2019 tidak sekedar meninggalkan cerita sukses. Sejarah mencatat, dibalik semua apresiasi kesukseskan penyelenggaraan Pemilu, lahir juga kisah pilu. Ratusan nyawa Penyelenggara Pemilu dan prajurit TNI/Polri melayang setelah menjalan tugas di TPS.

Disaat yang hampir bersamaan, dibalik pengorbanan tanpa batas para petugas pemilu dan aparat TNI/Polri, rasa tidak percaya dan tudingan keras terhadap institusi Penyelenggara Pemilu gaung membahana di seantero egeri. Tamparan demi tamparan menghujam tanpa bisa di  elakan.

Ketidakpercayaan kelompok tertentu kepada institusi penyelenggara pemilu, berujung di Pengadilan Mahkama Konstitusi. tak Cuma gugatan berskala nasional, pada tataran lokal, terhadap Keputusan KPU Lembata nomor 21/HK.03.1/Kpt/KPU-KAB.53.5313/V/2019 tentang Penetapan Hasil Penghitungan Perolehan Suara Peserta Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lembata, khusus untuk Daerah Pemilihan Lembata 3, digugat ke MK oleh Partai Amanat Nasional.

Rasa tidak percaya yang kemudian melahirkan hujatan serta gugatan ke MK, bagi kami selaku penyelanggara pemilu adalah hal positif. Hujan hujatan akibat ketidakepercayaan yang mengguyur tubuh penyelenggara, adalah bentuk kontrol warga bangsa sekaligus awasan bagi kami setiap insan penyelenggara Pemilu untuk berdiri kokoh, teguh memegang sumpah, janji dan kode etik penyelenggara.

Pemilu sudah berlangsung, pilihan pun sudah kita jatuhkan. Namun niatan untuk mengakhiri seluruh agenda penyelenggaraan Pemilu melalui tahapan penetapan sebagaima perintah Peraturan Komisi Pemilihan Umum RI Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum harus di geser hingga ke hari ini.

Dan Puji berilmpah serta berjuta terimakasih, patutlah kita daraskan kehadirad Tuhan dan Leluhur Lewotana, sebab  melalui putusan MK Nomor 120-12-19/PHPU.DPR-DPRD/XVII/2019 perihal Amar Putusan, yang dibacakan dalam sidang Pengucapan Putusan Selasa, 6 Agustus 2019. Hakim Mahkama Konstitusi menyatakan menolak seluruh permohonan pemohon.

Dengan ditolaknya gugatan Pemohon, maka berakhir pula sengketa PHPU. Bagi kami dikalangan penyelenggara Pemilu, baik KPU maupun Bawaslu Kabupaten Lembata,  mempertanggungjawabkan kerja penyelenggaraan Pemilu dihadapan warga bangsa dan dihadapan sidang MK, adalah hal positif.
Dengan gugatan itu, pihak Pemohon telah benar membuktikan kalau penyelenggara Pemilu, bekerja sebagaimana sumpah dan janji untuk menjalankan tugas secara transparan, provesional dan adil serta berkepastian hukum, demi mewujudkan Pemilu yang berkwalitas dan berintegritas.

Melalui gugatan, partai politik dan penyelenggara pemilu memberikan pelajaran hukum yang baik kepada warga bangsa. Bahwa Kritik, rasa curiga bila terus dipelihara dapat merusak hubungan antar personal bahkan mungkin akan memunculkan fitnah dan pembunuhan karakter pelaku penyelenggara pemilu.

Rasa curiga terhadap instutusi dan kerja oknum penyelenggara pemilu mungkin saja memantik dendam, dan menyalakan api kebencian. Melalui gugatan dan pembuktian hukum dihadapan pengadilan adalah cara yang paling elegan untuk mengakhiri rasa curiga dan tudingan negatif terhadap institusi penyelenggara pemilu. Apapun hasil yang kemudian diputuskan pengadilan, semua pihak wajib hukumnya berbesar hati untuk menerima. Disinilah letak kenegawaran seseorang.
Karena itu, melalui kesempatan yang berharga ini, untuk kesekian kalinya, kami atas nama seluruh penyelenggara pemilu menyampaikan terimakasih secara khusus kepada Partai Amanat Nasional, yang telah mengambil langkah hukum dengan mengajukan gugatan sengketa PHPU ke pangadilan MK.

Dengan pembuktian dan putusan MK yang menolak seluruh gugatan pemohon, kami berharap seluruh pikiran negatif terhadap institusi KPU dan Bawaslu selaku institusi penyelenggara pemilu yang mungkin saja pernah singgah dalam benak, hendaknya dilupakan. Mari kita bersinergi demi membangun demokrasi di tanah Lembata yang sama kita cintai ini. 
Hadirin sekalian yang saya banggakan....

Untuk itulah hari ini, sesuai perintah Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum. KPU Kabupaten Lembata menggelar Rapat Pleno Penetapan Kursi dan Calon Terpilih.

Siapapun yang kemudian ditetapkan dalam pleno ini, adalah sesungguhnya lahir dari rahim rakyat Lembata, mereka putra-putra terbaik yang dipercayakan untuk memanggku jabatan wakil rakyat selama masa lima tahun ke depan.

Bagi saudaraku yang dalam pemilu kemarin belum meraih kepercayaan, hendaknya menjadikan momentum Pemilu sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ini bukan kekalahan, tetapi ini  soal kesempatan menang belum datang. Begitu juga bagi yang meraih suara terbanyak, jangan pula berbangga dan menepuk dada,  karena kerja dan tanggungawab membangun Lewotana sesungguhnya baru dimulai. Rawatlah selalu kepercayaan masyarakat yang diberikan kepadamu, berjuanglah dengan tulus demi perubahan dan perbaikan demokrasi untuk masa lima tahun mendatang.

Dan kepadamu para calon terpilih, saya dan kawan-kawan komsioner KPU Kabupaten Lembata, sekertaris dan semua keluarga besar KPU Kabupaten Lembata menyampaikan proviciat atas kepercayaan besar yang ditampuk rakyat keatas pundakmu. Ingatlah... Kerja dan tanggungungjawab besar terhadap kemajuan Lembata sedang menanti anda, semoga Tuhan dan Leluhur Lewotan Menyertai Perjalan Karirmu.

Hadirin yang saya muliakan...

Sebagaimana yang telah saya sampaikan pada bagian terdahulu, bahwa Sukses Pemilu tak semata karena kerja Penyelenggara Pemilu, namun berkat kerja sama semua kita.
Untuk itu, perkenankan saya mewakili seluruh jajaran KPU selaku penyelenggara teknis Pemilu se Kabupaten Lembata, menyampaikan terimakasih sebesar-bersanya kepada :

  1. Kawan-kawan Komsioner Bawaslu dan seluruh jajaran Bawaslu Kabupaten Lembata.
  2. Kapolres Lembata, Koramil dan seluruh jajaran TNI/Polri di Kabupaten Lembata
  3. Kepada Pemerintah Kabupaten Lembata
  4. Kepada Kepala Kejaksaan dan Kepala Pengadilan Negeri Kabupaten Lembata
  5.  Para tokoh masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan dan seluruh pemerhati demokrasi di Kabupaten Lembata
  6. Terimakasih juga kami daraskan kepada Pimpinan Partai Politik, para calon perseorangan, tim pemenangan dan tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden.
  7.  Sekertaris KPU, Para Kasubag, dan Semua Staf KPU Kabupaten Lembata
  8. Rekan-rekan panitia Adhoc, PPK, PPS dan KKPP se Kabupaten Lembata
  9. Rekan-rekan Jurnalis Lembata
  10. Serta terimakasih mendalam juga untuk seluruh lapisan masyarakat Lembata

Bahwa dengan kerja keras, kerja tepat juga kerja cerdas, dengan cara kita masing-masing, akhirnya perjalanan pemilu serentak 2019 yang memakan waktu, biaya dan energi,  berlangsung aman, dan sukses.

Dan dari tempat ini pula, bersama kawan-kawan komisioner KPU Lembata, Sekertaris dan seluruh keluarga besar KPU Lembata, menyampaikan permohonan maaf, bila kemarin dalam urusan kepemiluan, baik dalam bentuk pelayanan, tutur kata, maupun sikap yang kami lakukan kurang berkenan dihati saudaraku sekalian.

Hadiran yang saya muliakan...

Dan akhirnya, dengan memohon kehadiran Tuhan dan Restu Leluhur Lewotana Lembata, saya nyatakan, Rapat Pleno Terbuka Penetapan Kursi dan Calon Terpilih Tingkat KPU Lembata pada hari ini, Minggu 11 Agustus 2019 saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Lewoleba, 11 Agustus 2019
KPU Kabupaten Lembata
Ketua KPU Lembata

Elias Kaluli Making