“Kisah ini hanyalah sebuah fiksi. Bila ada nama, dan tempat
kejadian sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka,”
 |
Hancurkan Kelompok Penghianat Negeri, gbr, By Google |
Saudaraku, sekampung dan se
Kadipaten. Lama sudah tidak bersua, itulah yang memanggil saya untuk kembali
menyapa ruang diskusi saudara-saudara. Kerinduan mengantar saya kembali, tetapi
Tak sekedar untuk menyapa atau bertemu rupa, namun lebih dari itu saya ingin
mengajak semua kita untuk berpikir kritis dan bersama menemukan cara untuk
membalikan stigma negatif terhadap tanah kelahiran kita.
Yah.. berpikir dan berjuang untuk
merubah stigma “Palsu” yang terlanjur melekat pada tanah kelahiran sekaligus
termateraikan pada setiap pribadi di tanah ini, karena benar kata orang bijak, “Setiap nama adalah tanda (Nomen est Omen)”.
Atas stigma negatif itu, kita pun terpaksa terima berbagai julukan yang di
sematkan kepada kampung kita, tanah terjanji yang mestinya kaya raya ini. “Negeri Salah Urus”, Kadipaten Bedebah,” hingga
“Negeri Para Bandit,” terlanjur di semat pada nama kadipaten ini.
Saudaraku...sebelum lebih dalam
mengulas lisanku ini, saya terlebih dahulunya ingin menyampaikan rasa
terimakasih kepada berbagai pihak, terutama pihak yang berhasil memprovokasi
dan memunculkan kesadaran saya untuk berang pada penghancur negeri ini. Dan
mudah-mudahan anda, atau siapa saja yang membaca warkatku ini, pun ikut
tersadar kalau memang benar negeri ini bukan saja sedang bergegas menuju ambang
kehancuran tetapi tetapi sedang berada dalam kehancuran itu sendiri.
Lihat saja, sampai detik ini,
kita relahkan tanah kita untuk di kuasi oleh si penghancur. Dia yang di pilih
secara demokratis namun memerintah dengan otoriter. Dia yang di percaya
mengelola sejumlah uang untuk kepentingan rakyat namun akhirnya lari tanpa
sedikitpun mengucapkan kata terimakasih
dan mempertanggunjawabkan semua uang yang dia kelola.
Padahal jelas kita mengamati dan
mengetahui kalau sebenarnya dalam kekuasaan si pengahancur itulah kita terjebak
dalam sistem ekonomi kapitalis yang membagi-bagi masyarakat menjadi
berkelas-kelas. Janji kebebasan, persamaan dan persaudaraan terwujud hanya bagi
golongan minoritas saja, yakni kelas kaya, sementara kaum kita yang mayoritas kelas
tak kaya, lagi-lagi mendapati diri dalam keadaan tetap tergantung, tak sama
derajat, dan tercampakan.
Saudaraku, amarah harus di
munculkan dan perang harus di gelorakan. Yah..perang, walau saya tau kalau
perang itu itu kejam dan menakutkan, namun perang adalah pilihan karena perang
merupakan cara tercepat untuk mempertahan seluruh tanah tumpah darah dan
menyelamatkan generasi dari kehancuran moral.
Menganjurkan perang, meski saya
tahu kalau lawan mungkin melakukan hal yang sama. Demi tanah dan rakyat kecil
kita wajib menyingsingkan lengan baju dan menjadikan ari-ari sebagai ikat
kepala. Karena saya yakin hanya dengan perang kita merebut kemenangan.
Saudaraku, tetapi perang yang
saya anjurkan bukan perang yang mengorban darah. Tetapi perang kita adalah
perang strategi, ini adalah perang dingin dan paling mematikan. Karena itu,
wahai kaum pintar jangan lagi duduk di bukit tertinggi sambil menikmati kopi
dan menyaksikan rakyatmu bertempur sendiri melawan ketidak adilan.
Ini saatnya anda turun gunung,
menggalakan persatuan serta membangun kekuatan yang bersatu. Karena hanya dengan kekuatan yang bersatulah
kekuatan akan semakin kuat. ”Virtus,
Unita, Fortior”
Kalian kaum pintar yang mengaku
lahir dengan misi perubahan harus bisa menjelaskan kepada rakyat secara jujur,
apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Kalian kaum cerdas,
tinggalkan segala ego dan bersatu untuk rakyat. Jangan saling mengklaim,
apalagi saling membunuh.
Camkan ini wahai para pembaharu,
api amarah harus di kobarkan di mana-mana di seantero negeri ini. rakyat harus
di beritahu kalau sang pencundang sedang menggunakan cara licik, dia mencuri
lebih banyak dan memberi sedikit. Sedikit yang dia beri hanya dengan maksud
mencuri perhatian kita, lalu dieluhkannya bak seorang pahlawan.
Dia membayar miliyaran rupiah
kepada para pentinggi organisasi politik agar di dukung menjadi calon pemimpin.
Rakyat harus di beritahu kalau uang untuk membayar petinggi organisasi politik
itu adalah uang curian, harta rampasan dari tanah ini.
Rakyat juga harus di beritahu
kalau mereka yang bersekongkol dengan manusia bangsat berhati busuk, adalah mereka
di bayar dengan pujian dan sedikit uang. Dan kelompok merekalah yang kemudian
lahir sebagai penjilat.
Saudaraku sekadipaten, tanah kita
adalah terjanji tanah yang kaya dengan nilai luhur dan terwariskan dari
generasi ke generasi. Tanah kita adalah kolam susu, sumber kehidupan generasi
sekarang dan generasi masa depan, dan karena itulah berhati-hatilah. Para
pecundang sedang mengintai, merayu dengan cara pintar agar mereka di pilih
sebagai pemimpin di negeri ini.
Saudaraku...kita tentu
bertanya-tanya, kepada siapakah tongkat kepemimpinan negeri ini di berikan?
Kepada siapakah amanat ini disampaikan? Terhadap tanya ini, saya percaya bila
masing-masing kita telah memiliki jawabannya, namun perlu saya ingatkan, kalau
perang sudah di kobarkan dan lawan kita adalah dia si pencundang penghancur
tatanan budaya dan demokrasi di negeri yang terlanjur berjuluk “Negeri Salah Urus”
ini, dia yang si pencuri ulung, dan tentu saja mereka yang punya hubungan
dengan kekuasaan masa lalu.
Yah..dia sang penghancur negeri
palsu dan mereka yang punya hubungan dengan masa lalu adalah yang paling
bertanggungjawab terhadap negeri ini. Apa gunanya meneriakan perubahan sekarang
namun dulu sangat menikmati kekuasaan bahkan ikut bersekongkol mencuri harta
negeri ini.
Lawan kita yang lain adalah mereka
berasal dari kaum kaya, suka menyubang kemana-mana namun faktanya uang
sumbangan itu di kumpul dari dari gaji tenaga kerja yang tidak dibayarkan.
Saudaraku, perang sekarang atau
mati berkalang tanah? Sembarai mengutip kalimat Sonny Corleone “Pasang Bom Itu
Dengan Benar, Jangan Sampai Bajingan Itu Keluar Dari Toilet Dalam Keadaan
Hidup,” saya seruhkan mari berjuang untuk negeri.
Salam hangat, Anis
Lelaki Kampung Yang Tinggal di Kadipaten Palsu
Wangatoa, 02/10/2016
Oleh : Yogi Making