Kamis, 06 Oktober 2016

Marah Pada Senja (Untuk Pagiku Yang Pergi)


Teluk Lewoleba dari sebuah bukit. Foto By, Yogi Making
Aku marah pada senja yang pergi
Sebab malam adalah resah
Dan rindu yang tak bertuan

Aku marah pada senja yang pergi
Sebab malam adalah kebahagiaan yang tenggelam
Dan mimpi tak terwujud

Aku Marah pada senja yang pergi

Sebab malam adalah letih yang merintih diujung sepih

Dan aku marah pada senja yang pergi
Sebab tak kuasa ku kembalikan pagi yang hilang

Wangatoa, 05/10/2016

Yogi Making

Minggu, 02 Oktober 2016

Perang Atau Mati? Surat Untuk Anak Negeri Anta Beranta


“Kisah ini hanyalah sebuah fiksi. Bila ada nama, dan tempat kejadian sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka,”

Hancurkan Kelompok Penghianat Negeri, gbr, By Google
Saudaraku, sekampung dan se Kadipaten. Lama sudah tidak bersua, itulah yang memanggil saya untuk kembali menyapa ruang diskusi saudara-saudara. Kerinduan mengantar saya kembali, tetapi Tak sekedar untuk menyapa atau bertemu rupa, namun lebih dari itu saya ingin
mengajak semua kita untuk berpikir kritis dan bersama menemukan cara untuk membalikan stigma negatif terhadap tanah kelahiran kita.

Yah.. berpikir dan berjuang untuk merubah stigma “Palsu” yang terlanjur melekat pada tanah kelahiran sekaligus termateraikan pada setiap pribadi di tanah ini, karena benar kata orang bijak, “Setiap nama adalah tanda (Nomen est Omen)”. Atas stigma negatif itu, kita pun terpaksa terima berbagai julukan yang di sematkan kepada kampung kita, tanah terjanji yang mestinya kaya raya ini.  “Negeri Salah Urus”, Kadipaten Bedebah,” hingga “Negeri Para Bandit,” terlanjur di semat pada nama kadipaten ini.

Saudaraku...sebelum lebih dalam mengulas lisanku ini, saya terlebih dahulunya ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada berbagai pihak, terutama pihak yang berhasil memprovokasi dan memunculkan kesadaran saya untuk berang pada penghancur negeri ini. Dan mudah-mudahan anda, atau siapa saja yang membaca warkatku ini, pun ikut tersadar kalau memang benar negeri ini bukan saja sedang bergegas menuju ambang kehancuran tetapi tetapi sedang berada dalam kehancuran itu sendiri.

Lihat saja, sampai detik ini, kita relahkan tanah kita untuk di kuasi oleh si penghancur. Dia yang di pilih secara demokratis namun memerintah dengan otoriter. Dia yang di percaya mengelola sejumlah uang untuk kepentingan rakyat namun akhirnya lari tanpa sedikitpun mengucapkan kata  terimakasih  dan mempertanggunjawabkan semua uang yang dia kelola.
Padahal jelas kita mengamati dan mengetahui kalau sebenarnya dalam kekuasaan si pengahancur itulah kita terjebak dalam sistem ekonomi kapitalis yang membagi-bagi masyarakat menjadi berkelas-kelas. Janji kebebasan, persamaan dan persaudaraan terwujud hanya bagi golongan minoritas saja, yakni kelas kaya, sementara kaum kita yang mayoritas kelas tak kaya, lagi-lagi mendapati diri dalam keadaan tetap tergantung, tak sama derajat, dan tercampakan.

Saudaraku, amarah harus di munculkan dan perang harus di gelorakan. Yah..perang, walau saya tau kalau perang itu itu kejam dan menakutkan, namun perang adalah pilihan karena perang merupakan cara tercepat untuk mempertahan seluruh tanah tumpah darah dan menyelamatkan generasi dari kehancuran moral.

Menganjurkan perang, meski saya tahu kalau lawan mungkin melakukan hal yang sama. Demi tanah dan rakyat kecil kita wajib menyingsingkan lengan baju dan menjadikan ari-ari sebagai ikat kepala. Karena saya yakin hanya dengan perang kita merebut kemenangan.

Saudaraku, tetapi perang yang saya anjurkan bukan perang yang mengorban darah. Tetapi perang kita adalah perang strategi, ini adalah perang dingin dan paling mematikan. Karena itu, wahai kaum pintar jangan lagi duduk di bukit tertinggi sambil menikmati kopi dan menyaksikan rakyatmu bertempur sendiri melawan ketidak adilan.

Ini saatnya anda turun gunung, menggalakan persatuan serta membangun kekuatan yang bersatu.  Karena hanya dengan kekuatan yang bersatulah kekuatan akan semakin kuat. ”Virtus, Unita, Fortior”

Kalian kaum pintar yang mengaku lahir dengan misi perubahan harus bisa menjelaskan kepada rakyat secara jujur, apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Kalian kaum cerdas, tinggalkan segala ego dan bersatu untuk rakyat. Jangan saling mengklaim, apalagi saling membunuh.
Camkan ini wahai para pembaharu, api amarah harus di kobarkan di mana-mana di seantero negeri ini. rakyat harus di beritahu kalau sang pencundang sedang menggunakan cara licik, dia mencuri lebih banyak dan memberi sedikit. Sedikit yang dia beri hanya dengan maksud mencuri perhatian kita, lalu dieluhkannya bak seorang pahlawan.

Dia membayar miliyaran rupiah kepada para pentinggi organisasi politik agar di dukung menjadi calon pemimpin. Rakyat harus di beritahu kalau uang untuk membayar petinggi organisasi politik itu adalah uang curian, harta rampasan dari tanah ini.
Rakyat juga harus di beritahu kalau mereka yang bersekongkol dengan manusia bangsat berhati busuk, adalah mereka di bayar dengan pujian dan sedikit uang. Dan kelompok merekalah yang kemudian lahir sebagai penjilat.

Saudaraku sekadipaten, tanah kita adalah terjanji tanah yang kaya dengan nilai luhur dan terwariskan dari generasi ke generasi. Tanah kita adalah kolam susu, sumber kehidupan generasi sekarang dan generasi masa depan, dan karena itulah berhati-hatilah. Para pecundang sedang mengintai, merayu dengan cara pintar agar mereka di pilih sebagai pemimpin di negeri ini.

Saudaraku...kita tentu bertanya-tanya, kepada siapakah tongkat kepemimpinan negeri ini di berikan? Kepada siapakah amanat ini disampaikan? Terhadap tanya ini, saya percaya bila masing-masing kita telah memiliki jawabannya, namun perlu saya ingatkan, kalau perang sudah di kobarkan dan lawan kita adalah dia si pencundang penghancur tatanan budaya dan demokrasi di negeri yang terlanjur berjuluk “Negeri Salah Urus” ini, dia yang si pencuri ulung, dan tentu saja mereka yang punya hubungan dengan kekuasaan masa lalu.

Yah..dia sang penghancur negeri palsu dan mereka yang punya hubungan dengan masa lalu adalah yang paling bertanggungjawab terhadap negeri ini. Apa gunanya meneriakan perubahan sekarang namun dulu sangat menikmati kekuasaan bahkan ikut bersekongkol mencuri harta negeri ini.

Lawan kita yang lain adalah mereka berasal dari kaum kaya, suka menyubang kemana-mana namun faktanya uang sumbangan itu di kumpul dari dari gaji tenaga kerja yang tidak dibayarkan.

Saudaraku, perang sekarang atau mati berkalang tanah? Sembarai mengutip kalimat Sonny Corleone “Pasang Bom Itu Dengan Benar, Jangan Sampai Bajingan Itu Keluar Dari Toilet Dalam Keadaan Hidup,” saya seruhkan mari berjuang untuk negeri.
Salam hangat, Anis
Lelaki Kampung Yang Tinggal di Kadipaten Palsu

Wangatoa, 02/10/2016

Oleh : Yogi Making

Sabtu, 01 Oktober 2016

Tentang Pilkada Dan Perang Buta


(Diskusi Dua Pria Kampung)

“Kisah ini hanyalah sebuah fiksi. Bila ada nama, dan tempat kejadian sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka,”

Iklim politik terasa memanas, para kandidat calon dan seluruh tim sukses mulai mencari celah untuk saling menjatuhkan, menyerang pada pribadi bukan mendebatkan program. Mirisnya, kampanye hitam itu seakan menebar racun pada tubuh sendiri.
Ibarat seekor sapi buta yang berlari di tengah keramaian dan menabrak apa saja yang menghadang.

Perang buta yang terutama di mainkan para tim sukses yang selalu sukses meski jagoannya tak sukses itu, mendapat sorotan dari dua pria kampung pedalaman di kadipaten palsu. Siapa lagi kalau bukan Anis dan Anus.

Dalam sebuah diskusi di senja hari di temani secangkir kopi, Anus bertanya pada Anis tentang pendapatnya terhadap Pilkada di kadipaten mereka. Menurut Anus, kondisi politik yang memanas itu akibat para calon tidak memiliki strategi yang baik. Ingin menaikan elektabilitas mereka dengan cara instan. Anus juga menilai, para calon dalam perang politik merebut kursi panas bupati menggunakan strategi membangun rumah, ala rakyat kecil.

“Seperti kita mau bangun rumah dengan biaya yang pas-pasan. Jadi pertama cicil bangun pondasi, lalu setahun atau dua tahun berikut sambung naikan tembok, dan terakhir di atap. Nanti finishingnya setelah pilkada. Itu menurut pendapat saya, tetapi bagaimana dengan kau punya pendapat Anis?” tanya Anus.

“Benar...saya juga lihat begitu. Menurut saya, sebenarnya cita-cita Pilkada kali ini adalah menggeser kekuasaan. Jadi mestinya semua paket yang ada terutama paket non inkamben harusnya bisa mengevaluasi kekuatan, tim harus bisa diarahkan untuk berdiskusi dengan paket lain untuk menentukan siapa lawan sesungguhnya dalam Pilkada ini. Jangan karena semua kandidat, sehingga merasa yang lain adalah lawan. Ini yang menurut saya, mereka tidak cerdas dalam berpolitik,” sambung Anis, sambil meneguk kopi.

Sejenak terlihat kedua pria kampung itu menarik nafas dalam, dan menyandarkan bahu pada sandaran kursi masing-masing. Anus terlihat gelisah, dia cemas kalau perang buta ini akhirnya membawa kembali manusia bejat sang pemimpin sebelumnya. Setidaknya dalam pikiran pria petani itu,  jika si bejat kembali berkuasa, maka apa jadinya kampung tempat darah pertamanya menyentuh bumi? Sudah hancur akan semakin lebur.

Segala macam hal negatif berkecamuk dalam pikiran dua lelaki kampung itu. “ Ah..Anus kawanku. Sekarang kita mesti mengingatkan para tim yang mengaku bisa membuat kandidat calon bupati menjadi sukses itu, bahwa jika Pilkada adalah perang strategi, Pilkada adalah perang program, dan pilkada adalah perang untuk merebut kekuasaan. Karena itu mereka harus cerdas berpolitik. Gugah hati rakyat dengan cara santun dan Hentikan kampanye hitam. Mereka yang mengaku kaum perubahan harus bisa menentukan siapa yang akan menjadi lawan bersama. Para kandidat harus bisa mengingatkan tim untuk tidak ego, jika dukungan melemah sebaiknya berhenti kerja untuk diri sendiri, lalu beralih memberi dukungan pada calon yang lebih punya peluang untuk menang. Ini tugas kita teman. Tugas kita orang kampung yang bodok ini untuk ingatkan mereka yang mengaku pintar, para tim yang mengaku paling punya pengaruh itu,” ujar Anis memberi usul pada Anus sahabatnya.

“Anis, kau benar. Saya setuju. Kita biar orang kampung tetapi jangan menyerah. Kesulitan hidup kita yang alami, maka tugas kita untuk ingatkan mereka para kandidat calon bupati dan wakil bupati, juga para tim pendukungnya,” sambung Anus

Diskusi kedua sahabat kampung itu semakin seruh, rupanya dua lelaki kampung itu telah menemukan jalan, dan akhirnya bersepakat untuk segera mengambil langkah. Bagi mereka, pemimpin yang lahir kelak, adalah pemimpin yang benar-benar memiliki misi perubahan dan sudah pasti pro rakyat.

“Okei kawan...paling tidak dengan kondisi ini saya mau sampaikan begini, bahwa para kandidat ini sudah bersetubuh saat mereka melamar ke Partai Pengusung, dan mereka orgasme saat muncul sebagai calon. Hehehe, ini salah kawan. Persetubuhan baru terjadi pada saat Pilkada, dan orgasme sesungguhnya adalah kemenangan yang membawa dampak perubahan. Situasai sekarang, adalah situasi untuk memberi rangsangan...,”

Dua sahabat yang asyik menikmati kopi senjah itu tiba-tiba tergelak.  Anis pria kampung nan bijak itu selalu menggoda Anus sahabatnya dengan kalimat-kalimat seks, membuat diskusi mereka semakin menarik untuk disimak.

Wangatoa, 1/10/2016
Oleh : Yogi Making







Bangkit

Petrus Bala Wukak
Anggota DPRD Lembata
dari Partai Golkar
(Sajak Buat Sahabat Pieter Bala Wukak)

Berapa banyak lagi aksara yang harus keluar dari isi kepalamu?
Sedang lembaran kertas telah habis kau coret untuk menulis luka

Sahabat...
Waktu terus bergerak mengikuti angin
Namun kulihat kau masih di situ,
Memandangi pena dan kertas putih yang tak lagi bermakna
Tak inginkah kau membongkar awan
Yang terus menutup gunung kecemasan?

Sahabat...
Ini saatnya untuk bertindak
Penjarah sedang mengantri merebut singgasana moyangmu
Dan berkuasa untuk merampok

Maka BANGKIT!!, hancurkan awan
Agar hujan tak datang membawah resah
Hentikan angin agar pohon tak lagi menggigil
Terobos malam agar pagi hadir membawa damai

Salam,
Wangatoa, 29/09/2016

Yogi Making