Selasa, 29 Desember 2020

Begini Kondisi Terkini Puncak Ili Lewotolok, Pohon Ampupu, Cantigi dan Reremputan Padang Masih Segar

*Pengamatan Langsung Di Radius 500 Meter dari Puncak*


Foto Kondisi Puncak Ile Lewotolok, 29/12/2020 (Sc Yogi M)


Erupsi dasyat Ili Lewotolok sejak 29 Nopember hingga menjelang akhir desember 2020, tidak merusak hutan dan tanaman penyanggah disekitar puncak. Pohon ampupu, cantigi dan rerumputan padang terlihat merangas hijau.

Dua warga kampung Baopuke Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Bedi Halimaking dan Kopong melaporkan melaui Video Call dari puncak Ile Lewotolok, Selasa, 29/12/2020, pukul 14.48. Bedi dan Kopong melakukan tracking hinngga mencapai radius kurang lebih 500 meter dari puncak Ile Lewotolok.

Dalam pembicaraan melalui video call, beberapa kali saya mengingatkan dua warga ini akan adanya bahaya awan panas dan gas beracun, apalagi kondisi puncak Ili Lewotolok, sedang tertutup kabut. Kendati demikian, mereka mengaku aman dan sedang menanti kabut bergeser agar keduanya bisa mengamati puncak dari dekat. Sayangnya, akibat tutupan kabut tebal, dua pendaki ini pulang dan tidak berhasil mengamati puncak dari dekat.

Bedi dan Kopong mengatakan, selama kurang lebih satu jam di radius 500 meter dari puncak, dua kali terdengar suara gemuruh gunung yang disertai lontaran abu. Mereka menjelaskan,  suara gemuruh terdengar dari dekat, beda dengan ketika didengar dari kampung atau dari dataran rendah. Mereka juga mengaku tak merasakan adanya getaran tanah.

Tampak dalam video, puncak terlihat ditutup kabut. Beberapa kali terdengar gemuruh yang disertai lontaran asap hitam diantara kepungan awan putih.

 “Ini  pohon yang terbakar saat awal erupsi, disini aman saja, tidak panas. hawa gunung pun dingin menusuk hingga ke pori-pori. Kami juga tidak lihat ada lubang baru, seperti yang orang omong di FB itu,”kata Kopong melalui video call, sambil mengarahkan kamera hp-nya ke pohon yang mati karena terkena lemparan abu vulkanik.  

Dua warga ini menjelaskan, kondisi puncak barat gunung Ile Lewotolok, tidak terlihat adanya reruntuhan, dan bukaan kawah baru sebagaimana informasi yang sempat ramai diperbincangkan melalui akun face book, beberapa hari ini.

Sebagai informasi, Kopong dan Bedi adalah dua warga kampung Baopuke, Desa Jontona yang tidak ikut mengungsi. Dua warga Baopuke ini, sejak awal erupsi rutin memantau kondisi gunung dari dekat. Diakhir perbincangan, Bedi dan Kopong mengatakan, akan kembali ke puncak beberapa waktu mendatang dan bertekad untuk mencapai puncak Ili Lewotolok.

“Kita lihat kondisi beberapa hari mendatang, kalau tidak ada halangan, kami coba naik lagi dan berusaha untuk sampai ke puncak. Puncak tertutup awan, jadi saat ini kami belum bisa lihat kondisi puncak dan kawah dari dekat,” ujar Bedi, mengakhiri perbincangan kami.

Saat berita ini ditulis, keduanya sudah tiba dikampung Baopuke, desa Jontona. (Yogi Making, 29/12/2020).

 

Pohon Ampupu hangus terkena lemparan abu vulkanik (SC Yogi M)



 

 

Minggu, 27 Desember 2020

Masalah Psikososial Mengacam Pengungsi Korban Erupsi Ile Lewotolok

 

Ile Lewotolok, (Foto : Yogi Making)

Sebagaimana diketahui bahwa akibat erupsi, ada ribuan warga asal kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur menggungsi. Selain di rumah-rumah keluarga, pemerintah juga menyiapkan beberapa posko penanganan pengungsi.

Meski terdapat ragam kekurangan, namun dapat dikatakan bahwa penanganan pengungsi korban erupsi Ile Lewotolok secara umum terbilang baik. Selain pemerintah, bantuan juga datang dari berbagai pihak. Dari sisi kesehatan, pun dibutuhkan penanganan khusus. Tak cuma penanganan kesehatan fisik, kesehatan psikispun penting untuk diperhatikan.

Tidak kita pungkiri, bila selama masa mengungsi banyak warga yang sakit. Ada diantaranya menderita sakit bawaan, tetapi ada pula yang menderita sakit saat berada dipengungsian. Kita juga mencatat, sejak erupsi hingga sekarang beberapa warga meninggal dunia. Mengenai warga yang meninggal selama masa penggungsian saya tidak punya data lengkap, tetapi khusus untuk desa Jontona, hingga Minggu 27 Desember 2020 tercatat empat telah warga berpulang menghadap sang khalik.

Tentu bukan karena salah pemerintah, karena sepengetahuan saya, khusus di posko-posko utama, selalu disiagakan petugas medis. Pelayanan kesehatan bagi pengungsi dilakukan secara gratis, termasuk bila ada pengungsi yang sakit dan terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit dan menjalani rawat inap.

Ok, saya kira penanganan kesehatan fisik clear, tetapi bagaimana dengan penanganan gangguan psiskis akibat stres dan trauma bencana? Kegiatan perlindungan pengungsi pada keadaan darurat bencana sesuai Perintah pasal 14 huruf “d” Peraturan  Badan Penanganan Bencana Nasional Nomor 3 tahun 2018, meliputi, penyediaan layanan kesehatan dan psikososial. 

Psikososial adalah suatu kondisi yang terjadi pada manusia yang mencakup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya. Psikososial merujuk pada hubungan yang dinamis antar faktor psikis dan sosial yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. (Ahmad Baihaqy; dictio.id), masalah psikososial diantaranya: beduka, Ansietas atau kecemasan atas situasi yang dianggap berbahaya, ketidakbersayaan, resiko perilaku sehat, gangguan citra tubuh, koping tidak efektif, koping keluarga tidak efektif, sindrom pasca trauma, penampilan peran tidak efektif, dan HDR situasional.

Merujuk pada definisi dan penyebab gangguan psikososial diatas, maka bukan tidak mungkin gangguan psikosiosial dapat dialami oleh pengungsi. Beberapa fakta lapangan bisa kita lihat, banyak pengungsi yang walau telah berada di tempat aman, tetapi selalu merasa cemas, bahkan takut pulang kampung, karena membayang ancaman kematian akibat erupsi Ili Lewotolok.

Kondisi ketakutan seperti ini bisa menjadi akut, bahkan bagi warga yang mungkin mengidap penyakit bawaan tertentu, bisa berakibat fatal. Catatan ini sengaja saya sampaikan, sebagai saran bagi pemerintah dan pihak pemerhati bencana erupsi Ile Lewotolok, agar mulai berpikir dan melakukan pendampingan warga pengungsi untuk mencegah terjadinya gangguan psiskososial masif.

Trauma berat akan bencana sudah terjadi, apakah langkah penanganan dan pendampingan warga untuk mencegah dan rehabilitasi warga pengungsi dari gangguan psikososial, terlambat?

Penanganan Kesehatan Jiwa (halaman 130, Buku Pedoman Teknis Penaggulangan Krisis Kehatan Akibat Bencana terbitan Depkes RI Tahun 2007), meliputi meliputi 2 fase Penanganan Kesehatan Jiwa.

Fase pertama disebut Fase Kadaruratan akut, dalam fase ini intervensi masalah psikososial dilakukan setelah 48 jam setelah bencana, atau 2 hari setelah bencana. Dan fase kedua adalah fase rekonsolidasi, pada fase ini dilakukan intervensi psikososial yang relevan dan kegiatan psikoedukasi.

Gejala psikososial seperti, rasa cemas, gelisah dan panik, sedih, mengisolasi diri, gangguan tidur, juga berkurangnya napsu makan, serta beberapa gejalan lain, mulai tampak. Gejala-gejala seperti ini adalah, tanda-tanda ringan yang bisa diatasi dengan edukasi dan pemberian informasi yang benar, namun bukan tidak mungkin, gangguan psikososial ringgan ini menjadi menetap dan bisa saja menimbulkan akibat fatal bagi penderitanya.

Sebagaimana yang saya sampaikan pada bagian terdahulu, perhatian pemerintah dan kelompok organisasi relawan terhadap pengungsi korban erupsi Ili Lewotolok, terbilang baik, yang ditandai dengan ketersediaan tenaga relawan, pelayanan logistik dan perbekalan memadai, penyediaan petugas kesehatan dan sarana kesehatan.

Namun disisi lain belum tampak penanganan masalah gejala psikososial. Saya tidak bermaksud untuk mengatakan belum dilakukan upaya pencegahan gejala psikososial, karena setahu saya, sudah mulai muncul relawan yang khusus mengajak anak untuk bermain, tetapi bagaimana dengan penanganan terhadap orang dewasa?

Situasi warga penggungsi dengan gejala gangguan psikososial, bahkan bisa diperparah dengan informasi-informasi kebencanaan yang tersebar bebas tanpa bisa di filter dengan baik yang dengan mudah diakses melalui akun-akun media sosial.

Tak kalah seruhnya dengan dengan informasi digital, Informasi lisan tentang erupsi, banjir lahar dingin yang mengancam pemukiman, peta zonasisi wilayah berbahaya, juga info terkait kondisi hewan ternak yang tidak diurus terus terus saja mendera warga pengungsi. Penyebaran informasi kebencanaan yang tidak terfilter ikut mempengaruhi keadaan psikologi penggungsi.

Dengan demikian, melalui catatan ini, ingin saya himbau kepada semua yang peduli dengan bencana erupsi Ile Lewotolok, untuk mulailah berhati-hati dan cobalah memilah pilih, informasi yang patut dan tak patut untuk disampaikan. Ada informasi yang baik untuk disampaikan secara umum, tetapi ada pula yang hanya cukup didiskusikan dalam kalangan tertentu. Bukankah dalam situasi tanggap darurat yang tanpa bisa diprediksi kapan berakhirnya ini, dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi-informasi yang menguatkan dan memberi keyakinan pada warga korban erupsi agar menimbulkan keyakinan dan menggembalikan rasa percaya diri.

Tentu himbauan yang sama pun saya sampaikan buat Pemerintah, bahwa situasi tanggap darurat dengan ribuan penggungsi memang rumit dan butuh pikiran ekstra untuk memage, namun perlu juga diingat, bahwa penanganan pengungsi harus dilakukan secara menyeluruh, awal sampai akhir sampai pada tahap rehabilitasi. Terhadap penanganan kesehatan psikis, sebagaimana petunjuk buku pedoman teknis penanganan kesehatan akibat bencana, haruslah melibatkan banyak pihak. Mulai tokoh masyarakat, tim relawan, tenaga medis, sampai pada guru agama.

Selain itu, saya pun berharap agar pemerintah perlu memfilter informasi secara baik, serta melakukan edukasi penanganan bencana secara benar dan rutin kepada warga pengungsi, Tentu dengan harapan, warga korban bencana harus tetap sehat jiwa, untuk menghadapi hidup pasca bencana. SEMOGA (Yogi Making-27 Desember 2020)

 

 

 

Selasa, 22 Desember 2020

Di Desa Jontona, Lahar Dingin Takhluk dengan Kekuatan Koda dan Menunjuk

 *Mitigasi Bencana Banjir Lahar Dingin Ala Orang Jontona*


Materian Batu yang diangkut Lahar dingin, 15/12/2020
(foto : Yogi Making)


Sejak erupsi Ile Lewotolok pada Minggu 29 Nopember 2020, masyarakat adat Lewuhala, warga desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur terus melakukan ritual penyembahan. Ritual ini dimaksudkan untuk meredakan amukan  gunung.

Dalam ulasan sebelumnya yang bertajuk, “Gunung Meletus, Bilamana Orang Jontona Mengungsi,” telah saya sampaikan bawah, ribuan warga penghuni kaki gunung Ili Anakoda atau yang dikenal luas dengan nama Ili Lewotolok mengungsi. Tak ketinggalan juga warga desa Jontona. Kendati demikian, khusus warga desa Jontona, tidak semua memilih menggungsi, tetapi ada belasan warga juga yang masih tinggal menjaga kampung.

Tinggal menjaga kampung, bukan berarti mereka tidak takut mati. Dalam diskusi bersama warga Jontona yang belum keluar kampung untuk mengungsi, disampaikan bahwa, bencana dipercaya sebagai teguran alam kepada manusia. Karena itu, tidak boleh semua warga pergi mencari tempat aman untuk mengungsi, tetapi harus ada yang tinggal. Warga yang tinggal, atau belum keluar kampung, merupakan wakil dari beberapa marga/suku yang secara adat memiliki kewenangan untuk membuat ritual penyembahan.

Mitigasi lokal yang dianut masyarakat adat Lewuhala, kampung Baopuke, desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, tidak melibatkan semua warga. Hanya butuh beberapa orang yang merupakan anak keturunan marga/suku tertentu. Jika dalam situasi darurat bencana, anak keturunan dari suku pemimpin (Bele Raya) seperti Halimaking dan Soromaking, juga suku-suku pelaksana tugas ritual seperti, Purlolon, Labamaking, Balawanga, juga orang tertentu yang berkamampuan khusus atau disebut dengan Molan, serta beberapa marga lain yang berkaitan dengan tugas menanggulangi bencana, wajib tinggal untuk melakukan ritual adat dengan tujuan mengamankan kampung, dan melindungi warga dari gempuran bencana alam.

Dalam ulasan bertajuk, “Gunung Meletus, Bilamana Orang Jontona Mengungsi,” telah saya ulas secara khusus tentang membaca tanda alam pra bencana erupsi gunung berapi, dan bilamana atau waktu yang tepat bagi warga untuk mengungsi, saya juga berjanji untuk kembali mengulas khusus soal, mitigasi bencana lahar dingin ala masyarakat adat Lewuhala khusus yang bermukim di Desa Jontona. Dan ulasan ini, adalah pemenuhan janji saya.

Mengenal Lahar Dingin

Lahar Dingin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online adalah, endapan bahan lepas (pasir, kerikil, lapili, batu, bongkahan batu, dan sebagainya) disekitar lubang kepundan gunung berapi yang bercampur air hujan dan meluncur memasuki lembah dan sungai (ketika hujan turun).

Beberapa literatur on line yang saya baca menyebutkan, lahar dingin biasanya terjadi saat hujan lebat. Tesis ini berbeda dengan yang biasanya dialami oleh warga desa jontona. Sebagai infomasi, desa Jotona, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, tertelak persis di kaki gunung Ili Lewotolok, terdapat kali yang menganga lurus dari puncak gunung Lewotolok, menuju pemukiman warga Jontona.

Lahar dingin, kata warga Jontona, tidak terjadi bersamaan dengan hujan lebat. Tetapi lahar biasanya ditandai dengan hujan gerimis. Selain gerimis, Lahar atau Mae dalam sebutan lokal, juga ditandai dengan bunyi gemuruh dari puncak. Kadang terjadi bersamaan dengan gempa, dan bila malam hari terlihat jelas cahaya seperti nyala lampu senter.

Warga Jontona mengenal lahar dingin dalam dua jenis. Mae Lakki (jantan), dan Mae Bo’i (betina). Lahar Lakki, biasanya garang dan paling berbahanya,  munculnya mae lakki, ditandai dengan gempa dan gemuruh yang membahana. Sementara yang betina, meski tetap berbahaya tetapi sedikit pemalu.

Di jontona, terdapat beberapa kali aliran lahar. Warga setempat menuturkan, jalan lahar, atau kali tempat meluapnya lahar di desa mulanya berada di tengah pemukiman warga. Namun, seiring perkembangan penduduk dan meluasnya pemukiman warga, jalan lahar di tengah pemukiman dipindahkan ke tepi timur desa. Pemindahan jalan lahar dilakukan melalui seremonial adat.

“kali kecil ditimur gedung sekolah, atau persis di tepi barat lapangan bola kaki desa jontona, pada jaman dulu, adalah kali tempat meluapnya lahar dingin,” ungkap Matheus Kiwan Halimaking.

Di jelaskannya, sejak ritual pemindahan, lahar dinggin dari puncak tidak lagi mengalir ditengah pemukiman, tetapi dengan sendirinya pindah ke tepi timur. Kali yang terletak di sisi timur kampung tempat meluapnya lahar dingin, oleh warga lokal menyebutnya dengan “Mae Larang”.

Pembagian Jalan Lahar

Desa Jontona, kampung Baopuke, adalah sebuah desa tua di Ile Ape Timur. Warga kampung Baopuke, desa Jontona dari generasi ke generasi telah mentap di Jontona. Rata-rata warga jontona, adalah petani dan mengelola lahan pertanian di areal kaki gunung Lewotolok.

Mengenai lahar, dalam tutur para tokoh adat desa Jontona menyebutkan, mulanya jalan lahar dari puncak mengarah ke Jontona. Mengamati bahaya bencana banjir lahar, pendahulu soromaking, Kia Soro membagi jalan lahar menjadi dua bagian. Kali besar yang menganga dari puncak gunung itu, di perintah terbelah dua. Satu jalur dibagi mengarah ke Kampung Lamariang dan Lamawolo, sementara yang lainnya diarahkan ke Jontona. Cerita kehebatan pendahulu itu, di tutur dari generasi pendahulu ke generasi berikutnya. Dan sejak saat itu, lahar dapat diatasi dengan bahkan hanya dengan menunjuk.

Hali Making, Marga Penghalau Lahar

Tumpukan batu bercampur masir,bukti beringasnya Lahar dingin
di desa Jontona, 15/12/2020 (Foto : Yogi Making)

Bila marga Soromaking bertugas membagi jalan lahar, maka tugas menjaga kampung dari gempuran lahar dimandatkan kepada Halimaking. Marga halimaking memiliki 12 rumah adat, dalam pemerintahan lokal, masing-masing marga mendapat mandat/tugas sendiri. Dan untuk urusan mengatasi lahar, dimandatkan ke Hali Making Sili Keko. Kendati demikian, dalam situasi tertentu, peran mengahalu lahar dapat dilakukan oleh anak keturunaHalimaking dari rumah adat lainnya.

Cerita menghalau lahar dingin bagi warga kampung Baopuke, desa Jontona, bukan isapan jempol. Lahar dingin akibat erupsi Ili Lewotolok akhir bulan Nopember 2020 adalah fakta kedigdayaan anak keturunan Halimaking dalam menghalau lahar.

Bedi Halimaking, adalah salah satu dari belasan warga jontona yang tidak ikut mengungsi. Bedi, memilih tinggal dan menjaga Jontona, untuk merawat petuah sang ayah, laran Kopong Halimaking. Selain itu, di desa Jontona, Bedi adalah salah satu aparat desa Jontona. Dan cerita menghalau lahar, dibuktikan sendiri oleh Bedi halimaking.

Saat ditemui beberapa waktu lalu, bersama warga yang tidak ikut mengungsi di aula desa Jontona, Bedi, Yakobus Asan, Marsel Tuan, Dorothea Soromaking, Matheus Kiwan, Lorens Lema dan beberapa warga lainnya menuturkan, lahar dingin sempat terjadi beberapa kali.

Suatu malam, tepatnya Selasa 15 Desember 2020, sekitar pukul 12 malam, terdengar gemuruh yang diawali dengan munculnya cahaya terang seperti sorot lampu senter, dari tengah gunung di sekitar hutan kayu. Belasan warga jontona yang saat itu masih berjaga-jaga di aula desa, keluar menyaksikan cahaya dan mendengar suara gemuruh.

Mulanya, Bedi anak kandung laran Kopong itu tak sadar kalau, dirinya yang adalah anak keturunan Halimaking, tak boleh menunjuk, pun dia pantang menghardik lahar. Menunjuk, atau menghardik lahar, kendati dilakukan dengan cara tak sengaja, lahar dipastikan meredah. Secara alami, muatan materialnya ditinggal pada sebuah tempat dibelakang kampung, banjir meredah, dan pelan-pelan air lahar dingin mengalir menuju pantai.

Malam kejadian dimana Bedi membuktikan kekuatan adat yang diwarisi sukunya itu, pada 15 Desember 2020, saat mendengar gemuruh yang diawali dengan munculnya cahaya, bedi tak sengaja menunjuk ke arah datangnya lahar. Tidak lama berselang, gemuruh dan kilauan cahaya berhenti.

“Malam itu, kalau bedi tidak angkat tangan dan tunjuk ke arah cahaya, pasti lahar besar turun. Dan mungkin saja menerjang kampung,” ujar Yakobus Assan, diamini Bedi dan Dorothea Soromaking. Warga lainnya yang ikut berjaga di aula desa, ikut membenarkan cerita tentang Bedi menunjuk ke arah datangnya lahar.  

Warga kampung baopuke punya cara sendiri untuk menghalau lahar. Cara yang terkesan mistik itu, adalahl warisan leluhur dari generasi ke generasi. Matheus Kiwan, sepuh Halimaking yang didapuk sebagai pemimpin adat masyarakat Lewuhala, menuturkan, lahar dapat diatasi dengan bentakan, atau hanya cukup dengan menujuk ke arah lahar, dan cara lainnya adalah “tuba” (tikam).

Tikam lahar, atau Tuba Mae menggunakan sepotong bambu bulu dan satu butir telur ayam kampung. “jadi kalau kita sudah dengar bunyi besar seperti irama gong gendang dari puncak gunung, itu berarti ada mae, jadi kami lari ke wanga larang (jalan lahar) lalu, telur dilempar, diikuti dengan menikam bambu bulu di tengah kali. Kalau itu sudah kita lakukan, berarti mae dengan sendirinya redah,” katanya. Lebih jauh Matheus Kiwan menjelaskan, mengahalau lahar hanya bisa dilakukan anak keturunan Hali Making. Lahar tak semata dilahalau dengan tuba,  untuk Mae Bo’i cukup dengan menunjuk atau dengan dengan bentakan.

“ada koda (mantra adat) yang kita sampaikan sebelum tuba mae,  jadi bukan hanya buang telur dan tikam bambu bulu. Kalau mae bo’i, cukup dengan bentak atau dengan tunjuk,” sambung molan (dukun adat) adat Yakobus Assan Balawanga.

Tutur warga ini membangkitkan rasa penasaran dan keingintahuan saya. Paling tidak, saya ingin membuktikan, kalau, ancaman lahar dingin itu nyata. Tetapi bisa dihalau. Saya pun kemudian meminta Yakobus Assan dan Ponaan saya Kopong, menghantar saya ke kali tempat jalan lahar, dan menyaksikan dari dekat, bekas material berupa batu besar, pasir dan kerikil yang tumpuk lahar dingin pada sebuah tempat sekitar kurang lebih 1 KM  ke arah utara desa Jontona, tepat di lokasi ladang warga. Benar seperti yang dituturkan, sepanjang melintas pada kali tempat meluapnya lahar, tercium bau belerang menyengat hidung. Jejak lumpur lahar masih membekas pada bebatuan dan dasar kali.

Pada bagian lain, saya menyaksikan tumpukan material berupa batu-batu besar seukuran meja makan, juga pasir dan kerikil. Batang-batang pohon besar tampak ditumpuk pada lokasi yang berbeda. Ajaibnya, jauh dibawa kaki bukit itu, material yang diangkut banjir lahar ditumpuk rapi, seperti dibuat oleh kedandaraan berat. Saya terkesima menyaksikan keajaiban alam, ada rasa bangga pada generasi moderen orang baopuke, meski hidup di tengah jaman modern, kearifan lokal masih dirawat awet.

Kebersatuan mereka dengan alam sangat kuat, hingga meski terkesan mistis namun fakta membuktikan bila alam masih mau mendengar maunya manusia. Bencana memang sulit untuk diprediksi kapan datangnya, namun bencana sepatutnya dapat dihindari, apalagi bila manusia tak tamak mengeksploitasi alam sesukanya, bila ingin alam tak mencelakai manusia, maka mestinya alam harus dijaga dan dirawat.

Dan, mitigasi bencana ala orang Jotona, tak semata untuk mengatasi lahar. Tsunami pun bisa dihalau, tentu peran ini diambil oleh anak keturunan dari marga lainnya. (tentang menghalau tsunami, akan saya ulas di topik berbeda)

Mitigasi ala kearifan lokal orang Baopuke, desa Jontona adalah mitigasi murah dan mudah dilakukan, upaya yang jauh dari sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dan saya percaya, keyakinan adat bahwa, anak keturunan Lewuhala bisa memerintah alam, yang oleh logika ilmu pengetahuan pun akan sulit dipecahkan.

Semoga, kepercayaan orang Lewuhala ini terus dirawat, untuk kemudian menjadi harta yang ditinggalkan pada generasi-generasi berikutnya. (Yogi Making, Senin, 21/12/ 2020)

Jumat, 18 Desember 2020

Gunung Meletus, Bilamana Orang Jontona Mengungsi?


 (Menulis Ulang Petuah Leluhur)


Ili Lewolok, (Foto : Yogi Making)


Erupsi Ile Lewotolok 29 Nopember 2020, memaksa ribuan warga Ile Ape harus keluar mencari tempat pengungsian. Entah sampai kapan, tetapi Bupati Lembata melalui  SK No: 621 Tahun 2020, tentang Perpanjangan Penetapan Status Tanggap Darurat, Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Ile Lewotolok, di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur tahun 2020, memperpanjang masa tanggap darurat hingga 26 Desember 2020. Dengan sedih hati, ribuan pengungsi korban erupsi Ile Lewotolok terpaksa melawati natal di tempat penggungsian.

Sejarah Letusan

Sebelum membahas petuah leluhur tentang waktu yang tepat untuk mengungsi, baiklah sedikit saya ajak kita untuk menengok sejarah letusan ili Lewotolok.

Mengutip wikipedia.org, Gunung Lewotolok tercatat meletus pertama tahun 1660 kemudian tahun 1819, dan 1849. Letusan terdasyat terjadi pada tanggal 5 dan 6 Oktober 1852, tak cuma merusak daerah sekitar dan menimbulkan korban jiwa, tetapi akibat letusan, pun memunculkan kawah baru dan ladang solfatara di sisi timur-tenggara.

Letusan Ili Lewotolok juga terjadi pada tahun 1864, 1889, dan terakhir pada 1920 dikabarkan oleh penduduk terjadi letusan kecil. Selanjutnya pada tahun 1939 dan 1951 terjadi kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Lewotolo, berupa lontaran lava pijar, abu, awan panas, dan hembusan gas beracun.

Gunung api ini sempat mengalami masa krisis gempa pada Januari 2012. Pada saat itu, PVMBG meningkatkan status gunung dari normal ke waspada hingga siaga, hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Namun, pada 25 Januari 2012 pukul 16.00 WITA, PVMBG menurunkan status dari Siaga ke Waspada dan turun lagi menjadi berstatus Aktif Normal pada 17 Oktober 2013 pukul 10.00 WITA.

Status aktivitas vulkanik gunung ini ditingkatkan dari Aktif Normal ke Waspada sejak terhitung 7 Oktober 2017, pukul 20.00 WITA.

Minggu, 29 November 2020 pukul 09.45 WITA terjadi erupsi eksplosif yang memaksa warga yang menghuni kaki gunung ini menyelamatkan diri dan mengungsi. Letusan yang berlangsung sekitar 500 detik ini (lebih dari 8 menit) menimbulkan kolom asap setinggi 4000 m. Peristiwa ini diawali oleh letusan kecil pada hari Jumat, 27 November 2020 pukul 05,57 WITA, yang menimbulkan kepulan asap dan abu setinggi 500 m.

Letusan-letusan lanjutan dengan kekuatan lebih lemah terjadi beberapa kali hingga hari berikutnya tanggal 30 November 2020. Status kebencanaan Ili Lewotolok dinaikkan PVMBG menjadi level III atau Siaga sejak tanggal 29 November 2020 pukul 13.00 karena tercatat adanya lontaran material padat berukuran besar.

Mengungsi Menurut Petuah Leluhur

Bunyi letusan disertai gempa dan semburan awan panas dari puncak Ili Lewotolok, pada 29 Nopember 2020 menimbulkan ketakutan. Ribuan warga lereng Ile Lewotok hinggar bingar lari menyelamatkan diri. Saya ingat betul situasi saat itu, karena saya terlibat mengevakuasi warga. Dengan mobil milik KPU Lembata, saya terlibat mengevakuasi warga di desa Jontona dan Desa Lamatokan, Kecamatan Ile Ape Timur. Akibat pengungsian, hari-hari belakangan ini, kampung terlihat lenggang. Beberapa desa tampak seperti desa mati. Hewan berkeliaran, dan bila malam tiba, terdengar lolongan anjing raungan kucing.

Ribuan warga menggungsi, tetapi tak sedikit pula yang menolak pergi. Di desa Jontona misalnya, saya mencatat masih terdapat puluhan warga yang memilih tinggal. Tinggal bukan karena tolak pergi mengunggsi, tetapi tinggal karena menjaga petuah leluhur.

Ili  Anakoda, atau dikenal luas dengan sebutan Ili Lewotolok, adalah tempat berdiamnya Leluhur Kayo Wuan Boli Ama dan Dai Bali Nire Ina/Tuto Baulolong. Amukan gunung adalah murkanya leluhur, dan tentu sebuah warning buat ribu ratu (warga-Lamaholot, Red), untuk mengintrospeksi, mencari letak kesalahan dan merekonsiliasi hubungan dengan leluhur. Untuk itu, perlu dilakukan ritual penyembahan kepada leluhur.

Ritual adat sebagai usaha rekonsiliasi dengan leluhur, oleh tokoh adat desa Jontona sudah dilakukan sejak Minggu 29 Nopember 2020, atau beberapa saat setelah amukan Ili Anakoda. Upaya rekonsilisasi itu masih terus berlangsung, dan saya beberapa kali ikut dalam ritual adat di beberapa ritus adat ppada radius kurang lebih 1 KM dari puncak Ile Lewotolok.  

Memilih belum mengungsi, selain karena alasan ritual adat sebagai upaya rekonsiliasi dengan Leluhur, tetapi juga menurut warga, mereka secara turun-temurun selalu ditinggal pesan tentang waktu yang tepat untuk mengungsi. Petuah leluhur yang juga dititipkan opa saya, Yohanes Laga Soromaking masih segar dalam ingatan. Cerita yang sama dari Opa saya itu, pun saya dengar langsung dari beberapa warga Jontona, yang hingga catatan ini saya buat belum mau keluar kampung untuk mengungsi.

“Bencana gunung diawali dengan tanda. Sesuai adat, pemimpin (Bele Raya) dikampung tidak boleh lari duluan. Bele raya harus pastikan semua warga sudah keluar dari kampung, setelah itu dia harus melakukan beberapa ritual adat baru dia pergi,” kata Yakobus Assan Balawangak.

Mengungsi akibat Bencana letusan gunung, menurut petuah leluhur sebagaimana yang ditutur ulang oleh Yakobus Assan, baru boleh terjadi ketika pohon-pohon disekitar gunung layu dan mati, binatang-binatang hutan turun gunung, dan hewan ternak telihat gelisah.

“Kalau, tanaman di gunung juga hewan sudah beri tanda begitu, berarti, tidak lama lagi akan ada bencana besar. Karena itu semua orang harus mengunggsi,” sambung Marsel Tuan Soromaking.  

Yakobus Assan, Marsen Tuan, dan beberapa warga lainnya saat saya temui di aula desa jontona, menuturkan, kendati tidak mengungsi, setiap malam mereka selalu berkumpul dan tidur di Aula Desa.

Tak berhenti pada letusan gunung. Masyarakat adat Lewuhala yang tak lain adalah warga desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur juga punya cara untuk mengatasi banjir lahar dingin. Lahar atau dalam bahasa lokal disebut Mae. Muntahan lahar dari dasar gunung  yang mengandung lumpur, air, pasir dan batu. Bila lahar menerjang perkampungan, dapat dipastikan bencana besar tak mungkin di elak.

Di berbagai daerah lain seperti di lereng merapi dan beberapa tempat lain, pemerintah biasanya membangun tanggul penahan, tetapi beda dengan di kampung Baopukang, Desa Jontona. Warga punya cara sendiri. Kendati terkesan mistis, namun fakta membuktikan, upaya mengatasi bencana lahar mampu diatasi dalam sekejap. (Tentang mengatasi lahar dingin akan saya ulas dikesempatan berikut)

Pengamatan Tanda Alam

Minggu 13 Desember 2020, bersama beberapa tokoh adat dan orang muda asal desa Jontona, kami terlibat dalam ritual adat beberapa ritus adat yang terletak di radius kurang lebih 1 KM dari puncak Ili Lewotolok. Tanda alam sebagaimana petuah leluhur tentang, hewan liar dan tetumbuhan hutan disekitar lereng Ile Lewotolok, tampak biasa saja. Pohon-pohon besar terlihat hijau segar, pada radius kurang lebih dari 100 meter dari puncak terlibat hijau rumput. Kokok ayam hutan terdengar saling sahut.

Tak cuma tanaman dan hewan liar di hutan sekitar desa Jontona, Hewan ternak diperkampungan bahkan tidak menunjukan tanda-tanda gelisah.

Ah, alam selalu sulit diprediksi, dan catatan ini pun tidak saya maksud untuk mengatakan kalau Ili Anakoda, dalam kondisi aman. Bencana, mungkin saja terjadi kapan saja. Bencana, bahkan oleh teknologi secanggih apapun akan sulit memprediksi. Ini hanya catatan kecil sekedar mengingatkan kita bahwa, bencana dari sisi keyakinan budaya adalah sebuah tanda peringatan alam kepada manusia modern yang tak lagi menghargai alam sebagai yang memberi hidup. Mengeksploitasi alam sesuka hati demi kepentingan ekonomi dan ata nama kemajuan. Dan semoga, Ili Anakoda, terus membaik, agar warganya boleh kembali bercengrama dengan kampung dan alamnya. (Yogi Making, Jumad 18/12/2020)