Wangatoa, Rabu
23/3/2016
Bukan rahasia kalau banyak pejabat atau Abdi asal
Kadipaten Palsu bertingkah bak ulat daun, apalagi, kalau bukan memakan daun
muda, bahkan bila kebelet daun tua atau setengah mateng terpaksa di embat. Makhlum, nafsu
memuncak hingga ke ubun-ubun.
Dan ternyata, perubahan perilaku para pejabat itu
menimbulkan kerusakan moral dan penghacuran nilai budaya yang luar biasa
besarnya.
Hasil penelitian sebuah lembaga ternama di negeri itu
menyebutkan, apabila daun muda tak berhasil di dapat, terpaksa daun
tuah/setengah mateng mereka embat. Diketahui juga kalau banyak istri/ibu
menyusui terpaksa menjual air susu (ASI) kepada para pria beduit yang tak lain
adalah kalangan pejabat. Suami mengganggur, tak
bisa membeli makanan karena panenan gagal total, tanaman pertanian mati dampak
dari kemarau panjang.
Kondisi keuangan keluarga yang sulit itu, memaksa
para wanita/ibu muda untuk turun jalan (cari kerja). Mencari kerja di Negeri Palsu sulit. Peluang kerja sangat susah, apalagi mencari kerja ke kantoran.
Di sana di negeri yang berjuluk negeri pejabat bangsat itu, orang yang bisa
mendapat kerja adalah yang punya hubungan dekat dengan pejabat. Misalnya,
hubungan kekeluargaan, sampai hubungan perselingkuhan.
Peluang kerja yang sempit ini, membuat banyak pencari kerja menghalalkan segala cara. pemberi kerjapun kadang melihat ini sebagai peluang untuk mendapatkan sesuatu yang nikmat dari para pencari kerja. Tak heran, banyak diantara pencari kerja terpaksa
memberi diri seutuhnya agar dicicipi sang Abdi bangsat itu.
Lembaga yang melakukan penelitian juga mengumumkan bahwa, perilaku ulat daun itu bak virus kolera yang terus menyebar dan menjangkit
hingga ke warga kebanyakan dan tak ketinggalan kaum generasi mudanya.
Di negeri itu, makan bersama dengan menu daun muda di campur
daun setengah matang adalah lumrah. Terungkap juga dalam penelitian itu, bila
para Abdi yang ingin program mereka tidak di pangkas oleh Dewan Pertimbangan
maka daun muda adalah hadiahnya.
Abdi pemerintahan di negeri itu sangat fasih dalam memainkan
jurus jinak menjinakan, termasuk jurus menjinakan Anggota Dewan Pertimbangan
yang di kenal kritis. Dan benar terbukti, virus ulat daun berhasil membuat
tumpul otak beberapa Dewan Pertimbangan.
Anggota Dewan Pertimbangan yang berhasil jinak di
ketahui sering bertandang ke rumah Bupati. Biasanya datang malam hari dan masuk
melalui pintu belakang. (soalnya kalau dari depan, takut ketahuan)...goblok
amat yah....wkwkwkwkw.
Aksi makan/memakan daun muda tak perlu
jauh-jauh. Cukup dengan menyewah kamar lokalisasi, atau bisa juga dengan menyewa kamar hotel (kalau yang ini biasanya untuk menjaga gengsi), tetapi lebih sering mereka, (para pejabat di
Kadipaten Palsu itu) merayakan pesta nikmat selangkangan kalau sedang bertugas ke
luar Kadipaten. Pokoknya negeri palsu, tempat hidup para pejabat bangsat itu
tidak hanya terkenal karena korupsinya, dalam hal kerusakan moral lainpun
dapat dilihat dengan kasat mata.
Waduh parah brooooo.....? bila ini terus di pertahankan,
lalu bagaimana dengan nasib generasi muda kedepan?? Komentar Ina Lila istri
Anis warga pedalaman Kadipaten Palsu. (Yogi Making)
Catatan : kisah ini hanyalah sebuah hayalan penulis, jika
ada kejadian yang sama dalam dunia nyata itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
Selamat membaca, semoga memberi hikmah.