Jumat, 14 September 2018

Bara Terpadam Paksa



Ahhh... Kau bersabda bisu
Cuman mimik dan isyaratMu
Bara berbinar - binar lesu
Di dalam katup-katup cakarMu

Di sana.. di bukit semarak
di sana gelora samudera
Ahhhh... bara ku punah...
Tanyakan pada lonceng gereja
Tuliskan empati di tebing-tebing
Bara tertutup dalam tempurung basah......

Sahabatku .......pemusik bisu..
Kerabatku......biduan tuli....
Cinta...asa.... bait-bait syair
Terkubur dalam lara...
Bara ku terpadam paksa..

Daun- daun berderai lupus
Pohon-pohon tegar....
Menebus Bara.........

Lumpuh betis terbakar hujanMu
Kaku sendi ku direkat badaiMu
Sabda sang camar bual..
Duka pungguk..menatap bulan
Semut-semut lenyap oleh badangMu

Bersoraklah hai Kutu-kutu loncat
Rengkuh...alam Mu...
Menari Kumbang-kumbang racun
Senandungku remuk...
Karena aku bukan pemain kecapi
Karena mereka bukan penggesek biola.....
Karena dia bukan pemijat ototMu
Karena Kami haram Sodomi

Namun kami bukan tetap komponis
Kami terlahir legendaris
Kami terbentuk dari mahakarya
Puisi tanpa syair
Lirik tanpa lagu..
HatiMu tanpa rasa
CintaMu hujan Bara....
Bara, bara, bara,....
Zaman ini bukan zaman Barbar...

(By, Emanuel Ubuq)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar