*Sebuah Refleksi atas Kasus Yang Menimpah Anggota DRD Lembata*
Berita tentang oknum ADPRD
Lembata tertangkap berbuat mesum dengan istri orang menarik perhatian dan
menjadi perbincangan hangat di jagad maya. Ada kritik membangun, tapi banyak
kritik negatif ada yang mengutuk, dan ada pula yang berusaha netral dan memberi
himbauan agar warga tak boleh menghakimi tindakan oknum ADPRD.
Tumpah ruah tanggapan terhadap periaku
amoral oknum anggota DPRD Lembata, menurut hemat saya lebih banyak kritik
negatif, dan hanya sedikit yang
menyampaikan kritik membangun. Kendati terkesan kasar dan tak beretika, tetapi setiap
tanggapan dalam bentuk apapun, adalah ekspresi warga yang tentunya masing-masing
memiliki tujuan tertentu, dan saya menangkap pesan bahwa tanggapan akan perilaku
menyimpang seorang oknum pejabat adalah protes yang kuat, karena masyarakat terlanjur
punya ekspektasi terhadap moral seorang pejabat publik dengan standar yang tinggi.
Bagi warga, standar moral seorang
pejabat publik dan publik figur tidak boleh sama dengan rakyat kebanyakan. Jadi
ada garis batas yang jelas, mana yang lumrah bagi masyarakat biasa dan apa yang
tidak berlaku bagi seorang pejabat publik dan publik figur. Pejabat publik dan
publik figur adalah orang-orang pilihan yang terdiri dari orang yang patuh
terhadap ajaran agama, norma adat dan budaya, Pejabat Publik adalah orang yang patuh
pada sumpah janji jabatan, Pejabat Publik/Publik Figur adalah orang yang patuh
terhadap aturan undang-undang, Pejabat Publik/Publik Figur adalah orang yang perilakunya
menjadi patron masyarakat, Pejabat Publik/Publik Figur adalah orang yang bersikap
dan berkata jujur, Pejabat Publik/Publik Figur adalah orang yang berwatak
pelayan masyarakat dan Pejabat Publik/Publik Figur adalah orang yang bersikap
menyatukan.
Dengan demikian tidak heran, bila
orang-orang pilihan melakukan perbuatan menyimpang, mendapat sorotan tajam dari
warga. Tanggapan keras yang saya anggap sebagai Kontrol publik yang super ketat
itu tidak saja berlaku di Lembata, kampung yang masih merias diri menjadi
sebuah kota, tetapi berlaku universal. Bukan pula karena pelaku tindakan amoral
itu oknum Anggota DPRD Lembata, tetapi masyarakat yang sama
juga melakukan kontrol terhadap semua orang pilihan di negeri besar yang
bernama indonsia.
Masih ingat tanggapan terhadap
kasus almahrum Vanesa Angel? Atau kasus yang menimpa ketua DPR RI periode 2014-2019
Setnov? Perhatikan bagaimana mereka dikritik dan dihakimi saat itu. Tetapi ulasan
ini tidak dimaksud untuk membenarkan penghakiman publik terhadap oknum pejabat
yang melakukan tindakan menyimpang, tetapi saya ingin memandang dari kacamata
yang lain, dan mungkin saja, dari kejadian itu bisa diambil hal positifnya
untuk bahan pembelajaran bersama.
Moral dan Orang Pilihan
Tentang moral pada prinsipnya mengenai
garis batas, sebagai pembeda yang baik dan buruk, pantas dan tidak pantas,
seperti berada pada daerah yang didalamnya berisi hal-hal baik, dan tidak boleh
dicemari dengan hal buruk, sampah dan kotor.
Dan publik telah menempatkan
orang-orang yang berada dalam ruang atau daerah itu dengan standar moral
tertentu, yang kemudian dijadikan patron. Karena itu, bila orang-orang pilihan
berlaku menyimpang dari harapan publik, maka sama saja dengan orang pilihan sedang
berjalan pada pada ruang tanpan batas. Saat itulah warga merasa kehilangan pegangan,
dan merasa tidak ada lagi tokoh yang bisa dijadikan panutan.
Padahal kejatuhan orang pilihan pada
kesalahan adalah manusiawi. Pejabat atau publik figur sekalipun adalah manusia,
yang pada satu waktu bertindak baik sesuai norma dan bentuk kepatuhannya terhadap
budaya dan agama, tetapi ada waktu lain dapat saja melakukan tindakan yang beraroma
kebinatangan.
Perbuatan menyimpang oknum
anggota DPRD Lembata yang terlanjur dianggap sebagai corong masyarakat itu, dianggap membuat kabur garis batas dari daerah
moral yang ditetapkan warga. Moral dan amoral dinilai telah dijungkir balikan. Tindakan
merusak kepercayaan warga itulah sebab dari warga tak lagi menggunakan kacamata
positif untuk melihatnya, tetapi ramai-ramai mengganti dengan kacamata berlensa
negatif.
Hemat saya, model kontrol baru
yang lebih terkesan kasar, adalah upaya warga untuk menutup gerbang bagi orang
pilihan yang terpeleset jatuh pada kesalahan agar tidak menemukan cara atau
taktik menyelamatkan diri, tetapi berdiri tegak, kendati dengan wajah tertunduk
untuk mempertanggungjawabkan dan menanggung resiko atas kesalahan yang
dilakukan. Pada saat bersamaan juga warga
memberi warning bagi orang-orang pilihan lainnya, agar tetap berada dalam daerah
moral.
Jalan Pulang dan Tangan Yang
Mengulur
Memasuki ruang tanpa batas
berpotensi kesesatan, karena itu sebelum jauh melangkah dan sebelum jejak-jejak
moral dihapus badai, maka pulang. Pulang adalah cara terbaik untuk menemukan
kembali simpati.
Untuk jalan pulang inilah seseorang
dipaksa untuk mengabaikan rasa malu. Dia dituntut untuk terbuka mengakui kesalahan,
dan yang paling penting adalah kerelaan diri untuk menghadapi resiko terburuk terutama
saat dintuntut pertanggungjawaban atas kesalahan yang dilakukannya. Mungkin ini
bukan jalan keluar terbaik, tetapi setidaknya bisa menjadi obat untuk meredam amukan
amarah warga.
Begitu pula dengan warga pemberi
tanggapan. Alam demokrasi menghargai kritik sebagai kontrol terhadap setiap
orang kepercayaan, tetapi kritik yang benar adalah kritik membangun. Kritik membangun
itu berbeda dengan kritik negatif. Kritik membangun adalah penyampaian yang bertujuan
untuk memberi dukungan. Sementara kritik negatif menurut Konsultan Human Resource,
Susan Ways, dalam facetofeet.com adalah
bertujuan untuk merendahkan, mempermalukan dan merusak reputasi seseorang.
Bahwa, perbuatan amoral dari orang
pilihan atau pejabat publik sama dengan mempermalukan diriinya sendiri, dan
tentu merusak reputasinya. Saat yang sama, dia hilang pegangan dan mungkin saja
dalam situasi terjepit seperti itu, bisa menambah kesesatan berpikir seseorang.
Pada titik inilah, kita mesti hadir sebagai tangan untuk menariknya keluar dari
kumbangan lumpur kesalahan, lalu menyiapkan bahu sebagai tempat untuk bersandar,
sembari kita mendorongnya untuk siap bertanggungjawab atas kesalahan yang
dilakukannya. Kita mungkin tidak menghendaki dia kembali pada posisinya sebagai
orang pilihan, tetapi setidaknya kita berkenan membawanya kembali pada jalan yang
layak untuk dilalui seorang manusia berbudaya.
![]() |
Penulis : Yogi Making (Elias Kaluli Making) |