Jumat, 08 April 2016

Virus Anis dan Kecemasan Politisi



 Wangatoa, Jumad 8 April 2016

Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.


Ilustrasi by, Google
Kemunculan Anis dengan pendapat kritis yang di sampaikannya secara cerdas, ternyata mengejutkan politisi. Betapa tidak? Pengaruh Anis yang kian meluas itu membuat ruang gerak politisi termasuk Bupatinya, menyempit. Di banyak kesempatan, Sang Bupati maupun para Anggota Dewan Pertimbangan Kadipaten (DPK), Kadipaten Palsu, mendapat sorotan negatif dan tidak jarang di usir warga. 

Sikap oposisi juga pandangan cerdasnya, menjadi rujukan warga membuat Anis dianggap sebagai virus baru. Paling tidak soal “Virus Anis” dalam pikiran para politisi asal kadipaten yang berjulukan “negeri bedebah” secepatnya di cegah sebelum mengendemi. Jika tidak, virus mematikan itu  mengancam posisi dan popularitas politisi dan kroni-korninya. Beberapa oknum anggota DPK yang di kenal terang benderang membela kerja “kotor” sang penguasa gelisah, mereka takut jika tak terpilih kembali, apalagi Bupatinya.

Pesan ketakutan penguasa dan gerombolan pengikutnya itu di tangkap Anis. Pesan ketakutan itu dikirim lawan melalui pesan SMS, juga via delegasi. Ponselnya, sering menerima pesan yang berisi ancaman, bahkan satu ketika Anis di datangi seseorang. Kepada Anis, seseorang yang mengaku sebagai utusan Tuan Penguasa Kadipaten Palsu itu meminta Anis untuk tidak lagi mengkritik, dan tidak mencoba untuk mempengarhui pikiran warga. Anis bahkan di tawarkan segepok uang, juga sejumlah proyek bernilai miliyaran rupiah.

Tak hanya Anis, pesan ketakutan pun di terima sahabatnya Anus. Mulanya pesan itu dianggap biasa-biasa, namun lama kelamaan, Anus cemas akan keselamatan sahabat karibnya dan berniat untuk mengingatkan, agar Anis lebih berhati-hati. Makhlum, di negeri bedebah, negerinya kaum politisi bangsat itu, pembunuhan adalah biasa, dan juga biasa kalau motif juga dalang peristiwa tragis berdarah dan menelan korban nyawa tak terungkap.

Di negeri yang penuh dengan permainan kotor itu, kerja Prajurit pengawal kebenaran hanyalah untuk mengintimidasi warga yang kritis. Yah...untuk apalagi kalau bukan demi kembang mawar dan hehehe....lagi-lagi tawaran selangkangan wanita muda.

“Di mata penguasa, kau adalah penyakit. Karena itu, oknum yang merasa terganggu dengan cara pandangmu itu akan berusaha mati-matian untuk membasmi, dengan cara apapun. Saya jadi teringat dengan peristiwa yang baru-baru ini terjadi, hanya dengan kopi orang bisa mati sekejap, di kebun kita bisa di habisi, ke hutan orang dengan gampang membunuh kita. Keamanan bagi kita apalagi orang seperti kau sangat tipis. Kau tau kan? Beberapa kasus kematian di kampung ini tidak bisa di ungkap, kita tau siapa yang ada di belakang itu, tapi kalau bingkisan kembang mawar sudah di terima penegak hukum, keadilan tak ada gunanya. Undang-undang hanyalah novel untuk di baca se saat menjelang tidur. Teman...hidup itu mahal, karena itu waspadalah. Dan jika ada sesuatu yang di rasa mengancam, segeralah informasikan saya,” Demikian sepenggal nasihat Anus, sahabat karib Anis.

Nasihat bijak sahabatnya itu sejenak membuat Anis tercenung. Entah apa yang di pikirkan, namun hati Anis menolak untuk berkompromi dengan kehajatan. Nyawa tak lebih penting bagi keselamatan negerinya. Baginya, kebenara haruslah di wartakan walau hidup dan masa depan keluarga menjadi taruhan.

Dalam hal berjuang menegakan kebenaran, Anis pantas kesal, karena dia merasa sendiri. Benar-benar sendiri untuk berjuang menegakan kebenaran. Padahal dulu, komitmen itu terbangun bersama banyak sahabatnya, dan lambat-laun dia di tinggal, beberapa teman seperjuangannya kini di beri mandat menjadi DPK. Di DPK, oknum sahabat Anis itu, cendrung diam. Dan entah kenapa, namun belakangan tersiar kabar kalau oknum DPK sahabat Anis itu, di diagnosa hilang pendengaran, juga buta warna. Semua benda di lihat berwarna hijau.

Oh...., tarikan nafas Anis kian berat. Seberat beban mewartakan kebenaran di negerinya sendiri. Negeri tempat darah pertamanya tumpah. Dia tertunduk, sedikit lemas, dan sempat terlintas dalam benaknya untuk mundur, namun bisikan hatinya berkata lain.

“Anis, kendati hanya semua orang di negeri ini mengatakan matahari terbit dari barat, tapi kau harus tetap berteriak dan katakan matahari itu terbitnya dari timur. Jangan takut, walau kau di tinggal semua orang. Benar haruslah benar, dan salah adalah salah, dan lawanlah walau nyawa taruhannya,” Entah kenapa, bisakan itu bagai energi baru, menggelorakan semangat juangnya. Dan...

” Hal yang saya sampaikan adalah fakta. Bukan sekedar ceritera belaka. Yang menyedihkan adalah ketika fakta yang saya uraikan di putarbalikan. Tidak dipandang sebagai sebuah fakta namun dianggap sebagai dusta dan fiktif. Tak jarang juga malah dianggap sebagai sesuatu yang menjerumuskan. Kenapa kita tidak boleh bicara tentang fakta kalau memang itu kenyataan? Kenapa mereka yang berkuasa itu selalu takut menghadapi kenyataan?” ujar Anis yang mulai menguasai emosi peribadinya.

Anis tak butuh jawaban. Dia tau kalau Anus teman setianya itu, selalu mendukungnya. “Teman, hanya kita yang di beri kesempatan Tuhan untuk bicara tentang sebuah kejujuran, karena nampaknya ketidak jujuran itu di kerjakan secara kolektif, berkelompok, dan akhirnya ketidakjujuran itu di bela menjadi sebuah kebenaran. Memang ini adalah virus, namun apakah virus kebaikan ini harus kita hancurkan? Anus...ingatlah, bahwa terkuburnya kebenaran hanya di rasakan oleh manusia-manusia yang masih menyimpan kejujuran dalam nuraninya. Dan itu mungkin kau, mungkin saya, atau mungkin yang lainnya, jangan takut kalau tulus karena Tuhan ada beserta kita,” kata Anis Memotivasi Anus.

“Saya tau kau tidak akan berubah. Dan saya juga tidak berubah untuk selalu berada bersamamu. Tapi kau ingat, lidah tidak bertulang, jadai jadi katakan apa yang bisa kau katakan. Kau sendiri pernah bilang kepada saya bahwa, banyak hal yang patut di katakan, tapi banyak hal pula yang tidak layak untuk di ungkapkan?” jawab Anus sekenanya.

“hehehe, tidak sia-sia kebersamaan kita. Kau makin cerdas, itu yang di sebut sebagai Virus Anis, kau mulai sambung dengan lidah...kau mulai sudah e...hhhhh....Anus, Anus...,kau juga pernah bilang ke saya bahwa lidah memang tak bertulang, tapi mampu mampu mengangkat panggul....hhhhhhhh”
Jawaban nyeleneh Anis itu membuat keduanya terbahak, suasanya yang mulanya beku, akhirnya cair. Kedua sahabat setia itu lalu pamit menuju kebun masing-masing.  (Yogi Making)

  

Senin, 04 April 2016

Dewan Pertimbangan Banyak Yang Sudah Jinak



Wangatoa, Minggu 3 April 2016

Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Soal ketidak hadiran Bupati di Forum Rapat Dewan Pertimbangan Kadipaten Palsu, menimbulkan polemik. Tentu saja akibat tindakan itu membuat Bupati Kadipaten Palsu menuai kritik. Sang penguasa Kadipaten Palsu itu memang terkenal pongah. Kepongahan Bupati itu terlihat ketika menjawab wartawan. 

Gbr. Ilustrasi Google
Berikut petikan percakapan antara Wartawan dan Penguasa Kadipaten Palsu :

Wartawan : “Ketidakhadiran bapak dalam forum yang di tunggu-tunggu DPK itu membuat bapak menuai penilaian miring. Menurut para kritikus, tindakan itu tak lazim dan bapak seakan tak beretika. Bagaimana pembelaan bapak,” tanya wartawan. 

Bupati : (pura-pura serius mendengar sambil kedua tanggannya merapikan krak baju) “Rapat itu memang sengaja di agendakan agar saya datang menyampaikan laporan pertanggungan jawaban. Tapi, saya pikir tak penting, toh mereka sudah tau apa yang saya lakukan, kenapa harus saya laporkan lagi, iya khan?” jawabnya.

Wartawan : “tapi menolak hadir di forum itu membuat bapak di nilai takut ketahuan kalau banyak dana yang bapak salah gunakan,” bantah wartawan.

Bupati : “hehehe....itu yang saya katakan tadi, bahwa mereka sudah tau, kenapa saya harus datang menghadap dan membacakan laporan? Kan banyak diantara anggota Dewan Pertimbangan Kadipaten itu yang selalu datang menyembah dan meminta uang dari saya. dan jatah itu selalu ada untuk mereka. Anda bisa lihat koq, lebih banyak dari mereka yang membela saya. ada yang berstatus sebagai pimpinan dan ada juga yang anggota. Lebih banyak dari jumlah mereka itu sudah saya jinakan, jadi sejauh ini saya selalu merasa aman-aman saja,” jawab bupati sambil sesekali mengedipkan mata pada sang wartawan.

Watawan : Loh..koq bisa? Wartawan heran, dan memelototin Bupati.  

Bupati : “Bagi saya tidak ada yang tidak bisa. Nih...saya kasih tau yah, mereka para anggota DPK sebagiannya sudah saya jinakan, tiap malam kalau saya lagi di rumah, selalu datang. Mereka masuk diam-diam dari gerbang belakang, ada juga yang saya ajak makan malam di restoran, pokoknya banyak deh yang bertekuk lutut. Bukan itu saja, anda juga harus tau, kalau rekan anda yang wartawan di koran harian itu, adalah salah satu juru warta yang paling setia. Wartawan yang itu, adalah budak saya. dia sudah saya beli koq. Saya beli dengan sangat murah. Oh iya, sebelum saya lupa. Tolong sampaikan pesan saya kepada DPK. Bilang sama mereka untuk tidak perlu repot dengan urusan saya. Urus saja diri mereka, kalau perlu setiap hari ke salon biar selalu di lulur, di pijat biar tetap sehat dan kuat. Uang hasil rampasan juga yang ambil dari dana pembangunan selalu saya jatahkan untuk mereka. Kalau mereka terus mengganggu, saya bisa saja batalin perjalanan istri mereka untuk belajar...hehehe, belajar ehem..hemm...kunjungan ke negeri tetangga. kalau mau istri pintar yah...jangan ributlah,” jelas bupati dengan senyum sumringah.

Kepongahan Bupati dalam menjawab pertanyaan itu membuat geram sang juru warta. Emosi yang di redam itu tiba-tiba memuncak, wajah sang jurnalis itu memerah, badan terlihat gemetar hingga asap tersembul dari ubun-ubun. Dan tiba-tiba....Praaaaaaaaaaak, sebuah kursi plastik di lempar wartawan dan hancur berantakan saat menghantam tembok.

“wah, kau memang bangsat perusak kampung ini,” teriak wartawan sambil berlalu pergi. (Yogi Making)

Jumat, 01 April 2016

Surat Untuk Tuan Bupati



Wangatoa, Jumad 1/4/2016

Catatan : Ceritera berikut hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
(By, Yogi Making)

Yang Mulia Tuan Bupati....
Saya adalah Anis, warga Kadipaten Palsu yang tinggal di pedalaman. Saya yakin tuan tidak mengenal saya, tapi saya mengenal tuan. Tuan, dengar-dengar masa jabatan Tuan akan segera berakhir yah...? kapan itu...? saya harap tuan akan kembali mendatangi kami. Yah...maksudnya untuk pamit.
Lima tahun tuan memimpin Kadipaten, tentu bukan waktu yang pendek. dan saya yakin kalau lima tahun itu sebuah masa yang cukup melelahkan.

Tuan, saya banyak mendengar kalau orang-orang mengatakan bahwa tuan adalah pemimpin yang otoriter, gaya memimpin tuan sangat buruk dan tuan sangat sensitif dengan sesuatu yang berbau kritik, katanya tuan alergi dengan hal-hal itu. Saya juga dengar kalau orang-orang itu mengatakan kalau tuan tidak berhasil.

Gbr, Ilustrasi, By Google
Wah..., kenapa mereka menilai tuan demikian buruknya? dan untuk itulah surat ini saya tulis, maksudnya agar tuan tahu kalau saya Anis warga kampung pedalaman ini punya cara pandang berbeda dengan warga lainnya. Saya justru melihat tuan SANGAT BERHASIL. Dan saya yakin kalau orang-orang dengan padangan negatif itu adalah orang-orang buta.

Agar tuan yakin, saya akan mengatakan beberapa bukti keberhasilan tuan, (maksud saya biar tuan senang) keberhasilan yang saya maksud itu antara lain :

  •  Keberhasil yang paling pertama adalah Tuan ternyata sudah berhasil memperdaya kami, dengan cara menyampaikan program-program yang sangat bagus. Saya ingat, dulu tuan pernah berjanji untuk menyiapkan satu hari dalam seminggu untuk kami berkeluh kesah langsung kepada tuan, namun setelah tuan memimpin, tuan meminta para penjaga untuk menutup pintu agar kami tak datang bertandang.

  • Yah..tuan juga berhasil meningkatkan ekonomi. Maksudnya meningkatkan ekonomi keluarga tuan. Saudara dan saudari tuan, menguasai sejumlah proyek berskala besar dengan dana milyaran rupiah, dan kami?? Kami harus datang mengemis pada mereka. 
  • Dulu tuan pernah bilang akan membanggun banyak rumah ibadah, nyatanya kami rumah ibadah itu kami bangun sendiri, dari uang kami kumpul, bukan dari uang yang kau janjikan. lalu kemana uang-uang yang kau siapkan untuk bangun rumah ibadah kami itu?? 
  • Kau juga pernah bilang akan bangun jaringan air bersih. hehehe, kami berhasil kau tipu. Karena kami masih membeli air, ada banyak saudara saya terpaksa minum air hujan. 

  •  Tuan juga ternyata berhasil merusak moral anak-anak kami. Anak-anak kami yang sekarang tuan ambil jadi abdi adalah anak-anak yang kami besarkan dan kami didik untuk menjadi manusia-manusia bermoral. Namun saat tuan memimpin, tuan berhasil merubah mereka menjadi manusia yang tak lagi menghargai budaya. Mereka berhasil tuan bimbing menjadi mesin pembunuh yang hebat, dan sebagian yang lain tuan berhasil menciptakan mereka menjadi manusia yang haus akan sex, ada juga yang tuan bimbing untuk menjadi budak, dan tak lupa banyak diantara mereka yang tuan ajari untuk menjadi pencuri yang profesional. Coba tuan perhatikan, program yang mereka ciptakan adalah program berbasis proyek, banyak uang kami habis untuk foto kopy dan perjalanan dinas, dan sedikit saja yang kami pakai untuk membangun jalan, ruang kelas rumah sakit juga untuk air minum.  

  • Selidik punya selidik, tuan memang benar lahir dari tanah ini, tanah Kadipaten Palsu, namun tuan ternyata berasal dari bangsa pembohong, karena itu tuan tak menghargai budaya kami. Kami dulu sangat beradab, kami menghargai budaya, kami saling mencintai namun kini kami berubah bagai harimau. Kami saling bermusuhan, kami bahkan saling membunuh. Lalu tanah kami?? Oh...tanah kami kau ambil untuk membangun istana megahmu, hutan terlarang yang sangat kami jaga, karena kami percaya di hutan itu hidup nenek moyang kami, kau berhasil hancurkan menjadi tempat hiburan, katanya...tempat sakral itu akan kau jadikan sebagai tempat pacaran anak remaja?? Ah..tindakan mu sangat naif. Kau layak kami sebut sebagai manusia berhati iblis. Mengapa kau bangun ruang-ruang terbuka bagi anak-anak dan kau ajari mereka untuk bersinah?? Kenapa tidak kau perkosa saja mereka??  Mungkin kau akan datang menghamili istri kami, dan kami akan diam, karena diancam para para pengawalmu yang terkenal kejam itu.

  • Tuan juga saya nilai berhasil membuat beberapa anak kami yang sengaja kami pilih menjadi Anggota Dewan Pertimbangan itu menjadi manusia pendiam, padahal mereka dulunya sangat cerewet, mereka cerdas dan kritis. Sekarang otak mereka menjadi tumpul. Kenapa begitu tuan?? Apakah karena tuan sudah memberi mereka obat penenang? Atau karena tuan sering mengajak mereka makan malam dengan menu selangkangan perempuan muda??
  • Oh iya..., tuan juga ternyata berhasil membuat beberapa saudara kami bermasalah dengan hukum, ada yang sudah tuan penjarakan dan dengar-dengar tuan juga akan memenjarakan beberapa yang lain. Wah..tuan, hebat yah..

  • Khabarnya juga tuan banyak membangun jalan. Yah...luar biasa, tuan ternyata berhasil membangun jalan ke banyak daerah, termasuk bangun jalan dari kadipaten ini ke rumah istri tua dan istri muda tuan.
  • Saya dengar tuan sangat murah hati. Tuan akan mengajak banyak perempuan dari negeri ini untuk plesir ke negara tetangga kita yah?? Tuan..tuan sungguh-sungguh sukses, mudah-mudahan perempuan-perempuan kami yang tuan akan ajak jalan-jalan itu tidak terpedaya yang akhirnya mereka menjadi lupa dengan kampung, suami dan anak-anak mereka. 
  •  Kami dengar ada banyak dokter muda yah?? Itu sebanarnya bagus, tapi kenapa banyak rakyat yang mengeluh sakit dan tidak bisa mereka obati?? Benarkan mereka dokter, atau mereka hanya berlaku seolah dokter karena sesungguhnya mereka bersekolah di sekolah palsu?? Oh..tuan pasti sangat tau itu. Iya khan?? 
  •  Khabar ada anak-anak kami yang juga Abdi mu itu ada yang kau kandangkan, padahal mereka anak baik, mereka jujur, kritis, dan mereka juga pintar. Mereka sarjana loh...dan sudah pasti mereka yang uang sekolahnya kami bayar dengan harga kemiri itu kuliahnya di universitas asli, dan pasti, ijazah mereka juga asli. Apakah karena tuan kurang cerdas sehingga tuan tak mau ada yang lebih cerdas dari tuan?? Ah...tuan sekolah kan?? Tuan kuliah kan?? Tuan sarjana kan?? Atau jangan-jangan...hehehe, tuan pasti tau. 
  •  Sebelum saya lupa tuan, itu penegak hukum kog menjadi jinak sama tuan yah...?? apakah karena tuan sering menggelar pesta onani dan orgasme masal bersama mereka??  Berapa banyak sperma tuan yang mereka telan??
Yang mulian Tuan Bupati Kadipaten Palsu...
Saya hanya sanggup menulis sembilan poin keberhasil tuan, tentu masih banyak keberhasilan yang tuan torehkan selama masa tuan memimpin kami, namun rasanya saya tak punya banyak waktu lagi untuk menuliskan semua itu.

Dengan keberhasilan itu, saya ingin tuan akan datang lagi mengemis suara kami, agar kami sudih memilih tuan menjadi bupati di kadipaten ini. Ah...tuan, kami akan memilih tuan tetapi bukan untuk menjadi bupati, melainkan tuan akan kami pilih menjadi pemimpin pertama yang menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara.

Dan yang mulia...saya yakin kalau tuan senang membaca surat saya ini, karena saya juga tahu kalau tuan tak punya otak. Dan untuk itu, saya akhiri dulu surat ini dan saya berjanji akan menjadi orang pertama yang menjenguk tuan dalam penjara.

Hormat saya

Anis


Minggu, 27 Maret 2016

Abdi Ulat Daun



Wangatoa, Rabu 23/3/2016

Bukan rahasia kalau banyak pejabat atau Abdi asal Kadipaten Palsu bertingkah bak ulat daun, apalagi, kalau bukan memakan daun muda, bahkan bila kebelet daun tua atau setengah mateng terpaksa di embat. Makhlum, nafsu memuncak hingga ke ubun-ubun. 

Dan ternyata, perubahan perilaku para pejabat itu menimbulkan kerusakan moral dan penghacuran nilai budaya yang luar biasa besarnya.

Hasil penelitian sebuah lembaga ternama di negeri itu menyebutkan, apabila daun muda tak berhasil di dapat, terpaksa daun tuah/setengah mateng mereka embat. Diketahui juga kalau banyak istri/ibu menyusui terpaksa menjual air susu (ASI) kepada para pria beduit yang tak lain adalah kalangan pejabat. Suami mengganggur, tak bisa membeli makanan karena panenan gagal total, tanaman pertanian mati dampak dari kemarau panjang.

Kondisi keuangan keluarga yang sulit itu, memaksa para wanita/ibu muda untuk turun jalan (cari kerja). Mencari kerja di Negeri Palsu sulit. Peluang kerja sangat susah, apalagi mencari kerja ke kantoran. Di sana di negeri yang berjuluk negeri pejabat bangsat itu, orang yang bisa mendapat kerja adalah yang punya hubungan dekat dengan pejabat. Misalnya, hubungan kekeluargaan, sampai hubungan perselingkuhan.

Peluang kerja yang sempit ini, membuat banyak pencari kerja menghalalkan segala cara. pemberi kerjapun kadang melihat ini sebagai peluang untuk mendapatkan sesuatu yang nikmat dari para pencari kerja. Tak heran, banyak diantara pencari kerja terpaksa memberi diri seutuhnya agar dicicipi sang Abdi bangsat itu.
  
Lembaga yang melakukan penelitian juga mengumumkan bahwa, perilaku ulat daun itu bak virus kolera yang terus menyebar dan menjangkit hingga ke warga kebanyakan dan tak ketinggalan kaum generasi mudanya.

Di negeri itu, makan bersama dengan menu daun muda di campur daun setengah matang adalah lumrah. Terungkap juga dalam penelitian itu, bila para Abdi yang ingin program mereka tidak di pangkas oleh Dewan Pertimbangan maka daun muda adalah hadiahnya.

Abdi pemerintahan di negeri itu sangat fasih dalam memainkan jurus jinak menjinakan, termasuk jurus menjinakan Anggota Dewan Pertimbangan yang di kenal kritis. Dan benar terbukti, virus ulat daun berhasil membuat tumpul otak beberapa Dewan Pertimbangan.

Anggota Dewan Pertimbangan yang berhasil jinak di ketahui sering bertandang ke rumah Bupati. Biasanya datang malam hari dan masuk melalui pintu belakang. (soalnya kalau dari depan, takut ketahuan)...goblok amat yah....wkwkwkwkw.

Aksi makan/memakan daun muda tak perlu jauh-jauh. Cukup dengan menyewah kamar lokalisasi, atau bisa juga dengan menyewa kamar hotel (kalau yang ini biasanya untuk menjaga gengsi), tetapi lebih sering mereka, (para pejabat di Kadipaten Palsu itu) merayakan pesta nikmat selangkangan kalau sedang bertugas ke luar Kadipaten. Pokoknya negeri palsu, tempat hidup para pejabat bangsat itu tidak hanya terkenal karena korupsinya, dalam hal kerusakan moral lainpun dapat dilihat dengan kasat mata.

Waduh parah brooooo.....? bila ini terus di pertahankan, lalu bagaimana dengan nasib generasi muda kedepan?? Komentar Ina Lila istri Anis warga pedalaman Kadipaten Palsu. (Yogi Making)

Catatan : kisah ini hanyalah sebuah hayalan penulis, jika ada kejadian yang sama dalam dunia nyata itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Selamat membaca, semoga memberi hikmah.