Jumat, 08 April 2016

Virus Anis dan Kecemasan Politisi



 Wangatoa, Jumad 8 April 2016

Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.


Ilustrasi by, Google
Kemunculan Anis dengan pendapat kritis yang di sampaikannya secara cerdas, ternyata mengejutkan politisi. Betapa tidak? Pengaruh Anis yang kian meluas itu membuat ruang gerak politisi termasuk Bupatinya, menyempit. Di banyak kesempatan, Sang Bupati maupun para Anggota Dewan Pertimbangan Kadipaten (DPK), Kadipaten Palsu, mendapat sorotan negatif dan tidak jarang di usir warga. 

Sikap oposisi juga pandangan cerdasnya, menjadi rujukan warga membuat Anis dianggap sebagai virus baru. Paling tidak soal “Virus Anis” dalam pikiran para politisi asal kadipaten yang berjulukan “negeri bedebah” secepatnya di cegah sebelum mengendemi. Jika tidak, virus mematikan itu  mengancam posisi dan popularitas politisi dan kroni-korninya. Beberapa oknum anggota DPK yang di kenal terang benderang membela kerja “kotor” sang penguasa gelisah, mereka takut jika tak terpilih kembali, apalagi Bupatinya.

Pesan ketakutan penguasa dan gerombolan pengikutnya itu di tangkap Anis. Pesan ketakutan itu dikirim lawan melalui pesan SMS, juga via delegasi. Ponselnya, sering menerima pesan yang berisi ancaman, bahkan satu ketika Anis di datangi seseorang. Kepada Anis, seseorang yang mengaku sebagai utusan Tuan Penguasa Kadipaten Palsu itu meminta Anis untuk tidak lagi mengkritik, dan tidak mencoba untuk mempengarhui pikiran warga. Anis bahkan di tawarkan segepok uang, juga sejumlah proyek bernilai miliyaran rupiah.

Tak hanya Anis, pesan ketakutan pun di terima sahabatnya Anus. Mulanya pesan itu dianggap biasa-biasa, namun lama kelamaan, Anus cemas akan keselamatan sahabat karibnya dan berniat untuk mengingatkan, agar Anis lebih berhati-hati. Makhlum, di negeri bedebah, negerinya kaum politisi bangsat itu, pembunuhan adalah biasa, dan juga biasa kalau motif juga dalang peristiwa tragis berdarah dan menelan korban nyawa tak terungkap.

Di negeri yang penuh dengan permainan kotor itu, kerja Prajurit pengawal kebenaran hanyalah untuk mengintimidasi warga yang kritis. Yah...untuk apalagi kalau bukan demi kembang mawar dan hehehe....lagi-lagi tawaran selangkangan wanita muda.

“Di mata penguasa, kau adalah penyakit. Karena itu, oknum yang merasa terganggu dengan cara pandangmu itu akan berusaha mati-matian untuk membasmi, dengan cara apapun. Saya jadi teringat dengan peristiwa yang baru-baru ini terjadi, hanya dengan kopi orang bisa mati sekejap, di kebun kita bisa di habisi, ke hutan orang dengan gampang membunuh kita. Keamanan bagi kita apalagi orang seperti kau sangat tipis. Kau tau kan? Beberapa kasus kematian di kampung ini tidak bisa di ungkap, kita tau siapa yang ada di belakang itu, tapi kalau bingkisan kembang mawar sudah di terima penegak hukum, keadilan tak ada gunanya. Undang-undang hanyalah novel untuk di baca se saat menjelang tidur. Teman...hidup itu mahal, karena itu waspadalah. Dan jika ada sesuatu yang di rasa mengancam, segeralah informasikan saya,” Demikian sepenggal nasihat Anus, sahabat karib Anis.

Nasihat bijak sahabatnya itu sejenak membuat Anis tercenung. Entah apa yang di pikirkan, namun hati Anis menolak untuk berkompromi dengan kehajatan. Nyawa tak lebih penting bagi keselamatan negerinya. Baginya, kebenara haruslah di wartakan walau hidup dan masa depan keluarga menjadi taruhan.

Dalam hal berjuang menegakan kebenaran, Anis pantas kesal, karena dia merasa sendiri. Benar-benar sendiri untuk berjuang menegakan kebenaran. Padahal dulu, komitmen itu terbangun bersama banyak sahabatnya, dan lambat-laun dia di tinggal, beberapa teman seperjuangannya kini di beri mandat menjadi DPK. Di DPK, oknum sahabat Anis itu, cendrung diam. Dan entah kenapa, namun belakangan tersiar kabar kalau oknum DPK sahabat Anis itu, di diagnosa hilang pendengaran, juga buta warna. Semua benda di lihat berwarna hijau.

Oh...., tarikan nafas Anis kian berat. Seberat beban mewartakan kebenaran di negerinya sendiri. Negeri tempat darah pertamanya tumpah. Dia tertunduk, sedikit lemas, dan sempat terlintas dalam benaknya untuk mundur, namun bisikan hatinya berkata lain.

“Anis, kendati hanya semua orang di negeri ini mengatakan matahari terbit dari barat, tapi kau harus tetap berteriak dan katakan matahari itu terbitnya dari timur. Jangan takut, walau kau di tinggal semua orang. Benar haruslah benar, dan salah adalah salah, dan lawanlah walau nyawa taruhannya,” Entah kenapa, bisakan itu bagai energi baru, menggelorakan semangat juangnya. Dan...

” Hal yang saya sampaikan adalah fakta. Bukan sekedar ceritera belaka. Yang menyedihkan adalah ketika fakta yang saya uraikan di putarbalikan. Tidak dipandang sebagai sebuah fakta namun dianggap sebagai dusta dan fiktif. Tak jarang juga malah dianggap sebagai sesuatu yang menjerumuskan. Kenapa kita tidak boleh bicara tentang fakta kalau memang itu kenyataan? Kenapa mereka yang berkuasa itu selalu takut menghadapi kenyataan?” ujar Anis yang mulai menguasai emosi peribadinya.

Anis tak butuh jawaban. Dia tau kalau Anus teman setianya itu, selalu mendukungnya. “Teman, hanya kita yang di beri kesempatan Tuhan untuk bicara tentang sebuah kejujuran, karena nampaknya ketidak jujuran itu di kerjakan secara kolektif, berkelompok, dan akhirnya ketidakjujuran itu di bela menjadi sebuah kebenaran. Memang ini adalah virus, namun apakah virus kebaikan ini harus kita hancurkan? Anus...ingatlah, bahwa terkuburnya kebenaran hanya di rasakan oleh manusia-manusia yang masih menyimpan kejujuran dalam nuraninya. Dan itu mungkin kau, mungkin saya, atau mungkin yang lainnya, jangan takut kalau tulus karena Tuhan ada beserta kita,” kata Anis Memotivasi Anus.

“Saya tau kau tidak akan berubah. Dan saya juga tidak berubah untuk selalu berada bersamamu. Tapi kau ingat, lidah tidak bertulang, jadai jadi katakan apa yang bisa kau katakan. Kau sendiri pernah bilang kepada saya bahwa, banyak hal yang patut di katakan, tapi banyak hal pula yang tidak layak untuk di ungkapkan?” jawab Anus sekenanya.

“hehehe, tidak sia-sia kebersamaan kita. Kau makin cerdas, itu yang di sebut sebagai Virus Anis, kau mulai sambung dengan lidah...kau mulai sudah e...hhhhh....Anus, Anus...,kau juga pernah bilang ke saya bahwa lidah memang tak bertulang, tapi mampu mampu mengangkat panggul....hhhhhhhh”
Jawaban nyeleneh Anis itu membuat keduanya terbahak, suasanya yang mulanya beku, akhirnya cair. Kedua sahabat setia itu lalu pamit menuju kebun masing-masing.  (Yogi Making)

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar