Senin, 04 April 2016

Dewan Pertimbangan Banyak Yang Sudah Jinak



Wangatoa, Minggu 3 April 2016

Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Soal ketidak hadiran Bupati di Forum Rapat Dewan Pertimbangan Kadipaten Palsu, menimbulkan polemik. Tentu saja akibat tindakan itu membuat Bupati Kadipaten Palsu menuai kritik. Sang penguasa Kadipaten Palsu itu memang terkenal pongah. Kepongahan Bupati itu terlihat ketika menjawab wartawan. 

Gbr. Ilustrasi Google
Berikut petikan percakapan antara Wartawan dan Penguasa Kadipaten Palsu :

Wartawan : “Ketidakhadiran bapak dalam forum yang di tunggu-tunggu DPK itu membuat bapak menuai penilaian miring. Menurut para kritikus, tindakan itu tak lazim dan bapak seakan tak beretika. Bagaimana pembelaan bapak,” tanya wartawan. 

Bupati : (pura-pura serius mendengar sambil kedua tanggannya merapikan krak baju) “Rapat itu memang sengaja di agendakan agar saya datang menyampaikan laporan pertanggungan jawaban. Tapi, saya pikir tak penting, toh mereka sudah tau apa yang saya lakukan, kenapa harus saya laporkan lagi, iya khan?” jawabnya.

Wartawan : “tapi menolak hadir di forum itu membuat bapak di nilai takut ketahuan kalau banyak dana yang bapak salah gunakan,” bantah wartawan.

Bupati : “hehehe....itu yang saya katakan tadi, bahwa mereka sudah tau, kenapa saya harus datang menghadap dan membacakan laporan? Kan banyak diantara anggota Dewan Pertimbangan Kadipaten itu yang selalu datang menyembah dan meminta uang dari saya. dan jatah itu selalu ada untuk mereka. Anda bisa lihat koq, lebih banyak dari mereka yang membela saya. ada yang berstatus sebagai pimpinan dan ada juga yang anggota. Lebih banyak dari jumlah mereka itu sudah saya jinakan, jadi sejauh ini saya selalu merasa aman-aman saja,” jawab bupati sambil sesekali mengedipkan mata pada sang wartawan.

Watawan : Loh..koq bisa? Wartawan heran, dan memelototin Bupati.  

Bupati : “Bagi saya tidak ada yang tidak bisa. Nih...saya kasih tau yah, mereka para anggota DPK sebagiannya sudah saya jinakan, tiap malam kalau saya lagi di rumah, selalu datang. Mereka masuk diam-diam dari gerbang belakang, ada juga yang saya ajak makan malam di restoran, pokoknya banyak deh yang bertekuk lutut. Bukan itu saja, anda juga harus tau, kalau rekan anda yang wartawan di koran harian itu, adalah salah satu juru warta yang paling setia. Wartawan yang itu, adalah budak saya. dia sudah saya beli koq. Saya beli dengan sangat murah. Oh iya, sebelum saya lupa. Tolong sampaikan pesan saya kepada DPK. Bilang sama mereka untuk tidak perlu repot dengan urusan saya. Urus saja diri mereka, kalau perlu setiap hari ke salon biar selalu di lulur, di pijat biar tetap sehat dan kuat. Uang hasil rampasan juga yang ambil dari dana pembangunan selalu saya jatahkan untuk mereka. Kalau mereka terus mengganggu, saya bisa saja batalin perjalanan istri mereka untuk belajar...hehehe, belajar ehem..hemm...kunjungan ke negeri tetangga. kalau mau istri pintar yah...jangan ributlah,” jelas bupati dengan senyum sumringah.

Kepongahan Bupati dalam menjawab pertanyaan itu membuat geram sang juru warta. Emosi yang di redam itu tiba-tiba memuncak, wajah sang jurnalis itu memerah, badan terlihat gemetar hingga asap tersembul dari ubun-ubun. Dan tiba-tiba....Praaaaaaaaaaak, sebuah kursi plastik di lempar wartawan dan hancur berantakan saat menghantam tembok.

“wah, kau memang bangsat perusak kampung ini,” teriak wartawan sambil berlalu pergi. (Yogi Making)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar