Catatan : Ceritera
ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang
sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
Anis warga pedalaman Kadipaten Palsu yang fenomenal itu tak jenuh menyuarakan kebenaran. Caranya pun
berbeda-beda, selain lisan, Anis bahkan pernah mencoba menyampaikan pesan
kebenaranya melalui surat. Namun, bukan Kadipaten Palsu namanya bila sang
pemimpin mau “bertobat”
Kendati tau kritiknya tak mempan,
Anis terus bersuara. Nah...kali ini Anis kembali menyampaikan pesan kebenaran
itu melalui untaian puisi yang sengaja ia tulis untuk di bacakan pada sebuah
forum pertemuan antar kampung. Berikut petikan puisinya :
Kau Siapa, Siapa Kau
Kau Siapa?
Ibu ku? Bukan.
Ayah ku? Bukan.
Saudara ku? Bukan,
Anakku? Bukan.
Lalu kau siapa?
Dan Mengapa kau selalu membuat pusing kepalaku
karena di sana di
ujung kampung itu, aku mendengar banyak cerita.
Tentangmu.
Tentang kebohonganmu,Tentang kepalsuanmu, Tentang
keserakahanmu,
Tentang duka dan luka yang selalu kau torehkan kedalam batin
setiap saudara sekandungku
Tentang senjata yang terhunus dari setiap tangan
pelingdungmu
Tentang neraka penjara yang janjikan pada setiap mulut yang
kritis
Tentang otak anaku yang berhasil kau tumpulkan dengan
lembaran-lembaran mawar
Dan...tentang air mata para istri yang suaminya berhasil kau
bunuh
Hei...!
aku bertanya, Siapa Kau, Kau siapa?
Apakah aku mengenalmu? Tidak
Apakah pernah kita bertemu? Juga tidak
Jika kita memang sekandung, lalu kenapa tak sekalipun aku
melihat kau menangis
Saat saudaraku lapar.
Saat ayahku meninggal pada rumah sakit yang sengaja tak kau
sediakan obat
Yang para dokternya sudah kau jadikan gundik
Dan perawan perawatnya kau rengut
Kau siapa, siapa kau...?
Pemimpin ku? Oh....Bukan
Lalu siapa kau? Karena mestinya pada lorong kampung itu
sudah kau ku temukan
Dan harusnya kau aku temukan pada setiap lembaran-lembaran
lusuh buku administrasi desaku
Oh, kau..ternyata bukan kau orang yang mencatatkan nama pada
pesta rakyat lima tahun silam
Aku Yakin kau palsu
Karena aku tak mengelamu
Wangatoa, 28 April 2016
(Yogi Making)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar