Kamis, 01 September 2016

Dari Pasir, Grosir Ke Bupati


Kisah pedagang Pasir
Yang dulu menjadi Kusir
Jatuh cinta pada Kasir
Tapi Wajahnya mirip Vampire

Sang pedagang mulanya Kafir
Karena itu dia Diusir
Saat belanja ke toko Grosir
Yang beralamat di jalan Basir

Uang hasil jual pasir
Ajak kasir pergi pelesir
Naik delman ke padang pasir
Biar bisa jadi musafir

Memang dasar pedagang kafir
Pulang pelesir berubah status jadi musafir
Setelah nikah dengan kasir
Dia buka toko grosir

Kini Musafir dapat simpati
Maka di usul jadi Bupati
biar bisa punya arti
Pada negeri yang hampir mati

Untuk jadi calon bupati
Musafir punya jurus sakti
Supaya lobi tak setengah mati
Pulang pergi naik merpati

Kursi Bupati memikat hati
Walau harum bagai melati
Tapi jangan berkata nanti
Jika tak mampu membuat bukti, bupati bisa jadi belati

Yogi Making, 27/8/2016



Lewotana Memanggil

(Sajak Anak Lembata)

Bangunlah wahai jiwa yang tertidur
Buka matamu
Lihat, negerimu menangis
Karena di telanjangi iblis bermuka Tuhan

Saudaraku,
penghianat sedang mengantri
berbaris dengan wajah beringas dan Pedang di tangan siap menghunus membunuh anak negeri
Dan kau masih lelap tertidur?

Kini Lewotanamu lelah
Karena tak mampuh menampung tubuh dan darah anak negeri
Yang terbunuh tanpa dosa
Tapi kau Belum terjaga dari mimpi indahmu

Maka bangkit wahai jiwa yang lesuh
Pasang dadamu
Sumbang darahmu
Jaga Lewo dari perampok

Wahai Kopong Lewo Tana Tilun
Wahai Mamung Riang Wetan Matan
Takut adalah kekalahanmu
Mundur adalah penghiatan

Yogi Making, 25/8/2016



Politisi Bertopeng, Lawan



Muka alim
Otak setan
Mulut Tuhan
Hati iblis

Kata bijak
Perbuatan bejat
mulut peduli
Tindakan pencuri

Seolah jujur
Tapi pembohong
Rupa penghianat
Keturunan setan

Topeng
Muka bopeng
Harus di buka paksa
Tarik parang tebas lehernya


Yogi Making, 25/8/2016

Stop Jadi KUTU



Hidup seperti kau
Macam tak punya malu
Makan dari cara tabu
Hingga tubuh seberat kerbau

Apa yang kau mau
Itu yang masuk saku
Tak peduli milik babu
Terpanting kau nomor satu

Kau hampir mirip benalu
Tapi kau bukan kerbau
Kerbau Masih pakai malu
Tapi kau berak malas tahu

Kok mau jadi kutu?
Kerbau saja tak mau
Sebab kerbau masih punya malu
Tapi kau?

Kutu macam kau
Tak ada beda dengan benalu
Dikasih setetes madu

Maunya semua masuk saku
Kau memang kutu
Semua kau mau
Semua Kau sapu

Semua kau tak pakai malu
Benalu masih punya malu
Begitu juga kutu
Apalagi kerbau Lalu kau?

Memang susah kutu macam kau
Walau sudah ada rambu-rambu
Walau sudah diberitahu
Tetap saja kau malas tahu

Semua kau mau
Semua masuk saku
Semua pada tahu
Kalau kau tak malu-malu

Kutu macam kau
Melebihi dari benalu
Tak sebanding dengan kerbau
Sebab kau tak punya malu

Semoga kau tinggal menunggu waktu
Begitu kau kena palu
Tak peduli siapa kau
Tetap jadi kaku Mati kau!!


Di tulis Kamis, 25/8/2016

Perginya Lelaki Tanpa Malu

Aku lelaki tanpa malu
Kerana kemaluanku sudah ku cabut
Dan ku kalungkan pada leher budak-budaku, kaummu
Dan lihatlah tetes demi tetes mani ku di jilad

Aku lelaki tanpa malu
Setelah seluruh hartamu ku rebut
Setelah perawan para gadismu ke renggut
Aku pergi meninggalmu

Aku pergi dengan bangga saat darah sepuhmu berhasil kutumpahkan
Mengalir membasahi bumi, tanah leluhurmu, warisan moyangmu
Aku pergi dengan sisa daging kaummu masih terselip diantara taringku
Dan kau terperenggah? Aku bangga, karena aku lelaki tanpa malu
Aku tak berutang
Karena sudah ku bayar dengan kutang istriku
Yang terlanjur di rengut kewokot negerimu
Aku tak malu, karena aku lelaki tanpa malu

Kutinggalkan tanahmu, dan kau? Tinggalah dengan ampas yang ku sisahkan
Buatmu, buat kaummu, dan buat generasimu
Tuntas tugasku, tuntas utangku karena sudah ku bayar dengan nyawa perempuan pendampingku
Dan aku bahagia, karena aku lelaki tanpa malu

Ampasku warisanmu
Budakku, pelayanmu kelak
Tangismu, sandiwaraku
Amarahmu, tawaku

Karena aku Lelaki Tanpa Malu


Yogi Making, 25/8/2016

Tentang Mautmu


Mautmu adalah tidur panjangmu
Maka pergilah dengan cintamu
Bawa juga cintaku
Dan ku kubur juga seluruh kenangan bersamamu

Pergilah
Jauh ke alam barumu
Dan aku masih berkelana
Maka hidupku bukan hidupmu lagi

Pergilah agar ku tuntaskan nafsuku yang terpendam
Ku buktikan pada dunia kalau priamu masih mampu meraih orgasme
Walau hanya dengan beronani
Karena kepuasanku hanya miliku

Kekuasaan adalah nafsu terbesarku
Jabatan adalah cinta sejatiku
Uang istriku
Kerhormatan adalah anakku

Yogi Making,

Rabu, 24/8/2016

Saat Kewokot Menanggapi Koda

(Untuk sebuah nama)

Ini Lewotana,
Setidaknya kau tau itu
Tak sekedar untuk kau ucapkan
Namun harus di buktikan dengan tindakan;
Menyebut Lewotana harus teramalkan dalam tindakan untuk diri, keluarga, dan masyarakat
Paken Lewotana berarti make-nen harus Lerawulan Tana Ekan
Lewotana bukan sekedar sebutan pemanis bibir;
Ketika Lewotana yang kami yakini sebagai sesuatu yang sakral dan berkekuatan magis, kau sakiti maka Ama Opo Koda Kewokot
Para pendahulu yang selalu kami sapa ketika Tubi Iting Bau Lolon; pasti murka
Agar kau paham, kalau Lewotana kami yang di jaga oleh wujud tertinggi Lerewulan tak mungkin meninggalkan kami, dia mendengar setiap koda yang sampaikan dan melaksanakan setiap kirin yang kami ucapkan.
Ketika Koda sudah di dengar, Kirin sudah disampaikan
Amarah membuncah...
Mereka hadir seperti angin yang memberontak menampar laut
Mereka menjelma menjadi air yang mengalir deras merobohkan Istana. Mereka bahkan hadir dalam maut untuk merenggut jiwa
Dan Mereka hanya berkata INI BARU AWAL
Kawan... Ini Lewotana
Dan kami adalah Putra-Putrinya
Ingat itu!!

Yogi Making, 17/8/2016

Kamis, 30 Juni 2016

Seribuh Wajah Bapak

(Pada Perempuan Mulia)

Surat Anis buat sang ibu..

Ibu,
Ibu, ini suratku yang kelima buat mu, Dan untuk kesekian kali itu pula tak pernah sekalipun kau membalasnya.Tapi aku belum resah, sebab sudah sering pak pos pulangn surat yang ku kirim buatmu. Meletakan di pagar bambu rumah kita, hingga angin meniupnya terbang, demikian pula rinduhku akan belaianmu melayang di tengah siang yang gersang. Tapi aku tak peduli. sebab sekalipun kau tak menerima suratku, aku tak lelah buat mengirimu keluh resahku.

Zombi by Google
Ibu,
Dalam suratku kali ini, 
Aku berceritera tentang mimpi burukku. Mimpi yang sangat mengerikan hingga aku harus memeluk erat tubuhku sendiri di malam menjelang subuh itu.
Dalam mimpiku, aku melihat orang-orang berubah wajahnya menyerupai wajah bapak. Bahkan sangat mirip hingga aku hampir tak sanggup membedakan satu dengan yang lainnya. Mereka berlarian keluar dari gua-gua persembunyian, ada yang berhamburan dari hutan belantara, dari bukit-bukit yang tandus. Mereka menyebut dirinya malaikat pencabut nyawa. Di tangan mereka tergenggam tombak bermata dua. Sebagian mengacungkan bedil. Sebagian lain membawa tongkat dengan sangkur di tangan satunya, dan cambuk di sebelahnya.

Ibu.
Mereka mengencingi gubuk tua samping kebun sayur tempat kakek beristirahat menabur benih buat sekeping uang logam di hari tuanya.
Ada juga dari mereka yang membuang tinjanya di lubang bekas galian, lalu menjadikannya buat tempat kita menabur dupa dan lilin untuk sembayang setiap memasuki musim arwah.Sungguh mengerikan ibu.

Dimimpiku, aku menyaksikan wajah bapak ada dimana-mana. Menempel di setiap kepala orang-orang yang selama ini menjilat bekas tapak kakiknya, sebelum kembali ke kampung-kampung mereka. Wajah orang-orang itu. tak ubah wajah serigala di tengah purnama seperti yang pernah kakek dongengkan ketika mengantarku tidur saat usia belia dulu.

Kini mereka memasuki tengah kota. Mereka tidak lagi malu-malu. Tubuhnya telanjang tak berkasut. Kuku kaki dan jari-jari tangan mereka tajam-tajam. Pun demikian gigi dan mulut mereka, menyebarkan aroma bau busuk yang menyengat. Menambah ketakutanku usai tersadar dari mimpi buruk itu. ada yang masih berlumuran darah. Ada juga yang masih menempel serpih daging yang bergelantung seperti saat nenek menjemur kulit ikan di tiris dapur belakang rumah kita.

Ibu, kini mereka berhamburan memasuki gedung-gedung sekolah, merampas pensil dan kertas dari tangan anak-anakmu, untuk kemudian melukiskan wajah bapak dengan bibir merah jambu. Sebagian dari mereka bahkan menerobos menara lonceng, menarik tali-tali dengan begitu keras hingga mendentumkan suara-suara kebisingan. Telingaku pekak, mengalirkan darah, tumpah membasahi satu-satunya potret wajahmu yang ku simpan sebagai kenangan akanmu, ibu. Sedang, sebagian yang lain dari mereka, berteriak dengan lantang membilang nama bapak seperti sorak sorai bala pasukan usai merebut gerbang kota dari para jelata dalam kisah kepahlawanan tempo dulu.

Mereka meneror kota. Menyanyikan kidung kemuliaan diiring ratap tangis dan jerit perempuan-perempuan serupamu. Anak-anak dibiarkan mengusap pipi dari bercak air mata dan darah, sebab mereka belum bisa apa-apa. Tumbuh tanpa belaianmu di paksa menyembah bapak sambil terus memuja-mujanya.

Ibu.......
Terorr.......
Ibuuu...
Teror-teror itu terus terngiang-ngiang dalam mimpi-mimpiku.
Teror-teror itu....
Memaksaku menyaksikan mimpi burukku....
Ibuuu....

Dua belas orang dari mereka, kemudia menjarah rumah ibadah. Merampas mikropon dari tempat kami merasakan keteduhan jiwa yang resah.
Kau lihat ibu, kota kini di penuhi orang-orang dengan wajah serupa bapak. Ada yang menyerupai topeng menyembunyikan wajah asli mereka. Ada yang menempelkan poster tepat di batok kepala mereka. Ada yang memakunya tepat di dada dekat jantung, bahkan ada yang menggantungnya di perut dekat selangkangan. Sungguh mengerikan. Orang-orang itu seperti kehilangan jiwa. Berjalan tak beraturan, menopang tubuh palsu.
Ibu.


Aku harus bangun dari mimpiku. Agar teror itu segera berakhir. Sebab membiarkan jiwaku terus menjauh dari tubuhku adalah memaksakan kekosongan yang hampa tanpa makna.        

Selasa, 17 Mei 2016

Surat Buat Kepala Penerangan Masyarakat



Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Gbr. By Google.com
Soal dugaan identitas palsu yang dialamatkan kepada Bupati Kadipaten Palsu, terus saja menjadi tranding topik di berbagai media massa. Tentu saja, Bupati tak rela di sebut berindentitas palsu. Melalui berbagai kesempatan Bupati berupaya untuk menyakinkan warganya bahwa dia adalah asli. Klarifikasi juga di sampaikan kepala Penerangan Kadipaten Palsu. 

Soal klarifikasi Tuan Bupati adalah wajar dan memang undang-undang Negara Antaberan memberi ruang kepada yang di sangkakan untuk menipu eh...maksudnya membela diri. Tapi sayangnya, klarifikasi juga di sampaikan pihak lain, yang memang tidak punya kaitan apapun dengan kbahar buruk itu. 

Pihak lain itu salah satunya adalah klarifikasi dari kepala Penerangan Kadipaten Palsu. Oleh Anis klarifikasi Kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu itu di nilai salah kaprah. Untuk itu, sebagai tokoh dia merasa perlu memberi pengertian kepada kepala Abdi Penerangan Masyarakat bahwa yang dia lakukan adalah salah. Peringatan itu Anis lakukan melalui sebuah warkat yang dia tulis tangan. Berikut petikan suratnya : 

Saudara Kepala Penerangan Kadipaten Palsu, salam sua. Saya yakin Anda sehat-sehat saja dan berada dalam lindungan Yang Maha Esa.

Belum lama ini saya baca klarifikasi saudara tentang masalah indentitas palsu Bupati Kadipaten Palsu di media massa. Menurut saya, dalam menjalan tugas dan fungsi saudara sangat loyal. Tugas saudara memang begitu, menjeleskan kepada kami tentang semua hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan.

Namun sayangnya, klarifikasi yang saudara sampaikan melalui media massa itu berlebihan. Sepertinya saudara mulai lupa, atau mungkin pura-pura pikun sehingga saudara mulai linglung, mana bagian yang menjadi bidang tugas saudara dan mana yang  bukan.

Soal identitas bupati yang di duga palsu, menurut saya itu urusan peribadi. Biarkan yang bersngkutan yang mengklarifikasi. Sementara tugas saudara hanya sebatas menjelaskan soal akibat dari masalah yang menimpa Bupati. Jika di tanya wartawan soal benar atau tidaknya dugaan itu, tak perlu saudara jelaskan. Prinsipnya saudara hanya cukup mengklarifikasi pengaruhnya terhadap agenda penyelenggaraan pemerintah.

Saya yakin saudara tau itu, namun saudara tak kuasa melawan perintah. Iya...khan? Saya dan kami semua rakyat percaya kalau yang saudara jelaskan adalah perintah tuanmu bupati. Dan saudara hanya mengatakan, “saya adalah bawahan dan hanya menjalankan tugas,” kalau alasan itu yang ada dalam benakmu, maka saya mulai yakin kalau loyalitas saudara adalah loyalitas buta.

Agar saudara paham, perlu saya jelaskan begini. Soal sangkaan sekolah atau tidaknya tuan saudara, adalah masalah peribadi. Bupati adalah jabatan yang di dalamnya melekat tanggungjawab peribadi seseorng yang di bebankan kepadanya karena di pilih melalui sebuah proses demokrasi. Jabatan tidak sekolah. Yang sekolah adalah pribadi yang kemudian di pilih menjadi Bupati. Jabatan, berkait erat dengan fungsi tuanmu untuk memerintah. Maka urusanmu adalah urusan pemerintah. Saudara adalah kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu, bukan Juru Bicara dari tuanmu itu. apakah saudara paham?

Hahaha... pasti belum pahamkan? Mari saya ajak saudara untuk berpikir soal sex. Nah...mungkin saudara pikir itu jorok. Ya khan..? soal yang ini, tugas saudara adalah menjelaskan kepada warga bahwa sex itu indah, menyenangkan, menenangkan, dan sex adalah suci. Sifat sucinya itulah maka sex hanya boleh dilakukan dengan pasangan (suami/istri) yang di materaikan oleh Tuhan melalui tangan-tangan terurapi.

Tetapi dalam klarifikasi saudara mengenai sekolah tuanmu itu, sepertinya saudara sedang menjelaskan kalau sex itu indah dan menyenangkan dan boleh dilakukan siapa saja, kapan saja, bahkan dengan cara apapun. Sepertinya saudara melegalkan pemerkosaan, pelecehan sexual, sex bebas, atau lainnya yang di larang hukum negara dan hukum agama.

Saya juga yakin kalau saudara tahu bahwa matahari itu terbit setiap hari di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat, yah...karena saudara benar-benar sekolah. Dan asli saudara sekolah. Sayangnya, karena tugas, dan merasa sebagai bawahan, saudara pun siap, eh..bukan. Salah saya ganti dengan kata pasrah, yah...saudara pasrah untuk menjelaskan kepada kami warga bahwa kata Bupati, matahari itu terbitnya di sebelah barat dan terbenam di ufuk timur. Lalu saudara memaksa kami untuk percaya semua pembenaran itu. (saya harap saudara belum gila)

Saya yakin saudara ingin melawan perintah tetapi seperti seorang impoten berpikir sex. Niat untuk merasakan kenikmatan berhubungan sex hanya berputar-putar dalam otak. Hehehe...sedih saya.

Saudaraku Kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu. Saudara adalah anak yang lahir dari tanah ini, berdamailah dengan tanahmu, berdamailah dengan ibumu, ayahmu, dan kami saudaramu. Lakukan apa yang baik untuk kami, untuk sesamamu anak tanah ini, katakan yang benar itu adalah sebuah kebenaran, dan jangan lagi membuat pembenaran atas kesalahan.

Jangan takut hilng jabatan, jangan mau menyandang gelar penjilat pantat, karena tanah ini, juga kami saudaramu tak pernah ajari anda untuk menjilat. Jangan takut hilang jabatan, karena kembali menjadi petani pun kau bisa. Jika di paksakan, relakan jabatan itu kepada orang lain yang pasrah menjadi penjilat, dan kau kembali menjadi petani. Kau dibesarkan oleh petani, sekolahmu di bayar dengan jambu mete, kemiri, nenas, alpokat.

Demikian surat saya ini, dan saya doakan untuk saudara segera di pulihkan kesadaranmu oleh Tuhan agar kembali menjadi anak dari tanah kadipaten palsu ini, kembali berpijak pada bumi tempat plasentamu di kuburkan. Amin, Salam Demokrasi.  (Anis, Warga Pedalaman)

Wangatoa, Selasa 17 Mei 2016
Yogi Making

Senin, 16 Mei 2016

Eksploitasi Alam Berlebihan Sama Dengan Sex Instan



Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Ratusan nelayan kecil asal Kadipaten Palsu kecewa, pasalnya laut mereka tak lagi kaya ikan. Menurut nelayan, laut yang dulunya menjadi sandaran hidup rusak akibat masuknya kapal penangkap ikan yang mengunakan jaring harimau. Penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan itu merusak terumbuh karang. 

Gbr by, Google.com
Anehnya, ketika keluhan disampaikan ke pemerintah Kadipaten melalui Kantor Urusan Dasar Laut dan Perikanan (KUDa LuPek), kepala Abdinya malah apatis. Dalam diskusi dengan nelayan, Kepala Abdi yang di kenal juga sebagai orang dekat Bupati Kadipaten Palsu membenarkan keluhan nelayan.  Namun, walau tau alam dasar lautnya rusak, namun dia menolak jika pemerintah menghentikan aktifitas nelayan kapal. 

“Pajak dari kapal-kapal itu besar. Dalam setahun mencapai 70-an juta. Kalau mereka di usir, pendapatan pajak menurun. Kalau pajak menurun saya yang dinilai tidak berhasil. Dan sudah pasti saya kehilangan jabatan,” kata Kepala KU DaLuPek.  

Ceritera tentang keluhan nelayan dan tanggapan Kepala Abdi KUDa LuPek, sampai juga ke telinga Anis. Terang saja, Anis, tokoh dari negeri berjuluk Kadipaten Bedebah itu marah besar.
“Dalam pandangan saya dia (kepala KUDa LuPek),) itu adalah salah satu orang cerdas, ternyata saya salah. Sebagai orang yang memimpin instansi teknis, apalagi yang berkaitan langsung dengan lingkungan hidup, tugasnya tidak sekedar meningkatkan pendapatan, namun yang utama adalah menjaga dan melestarikan alam. Ekpolitasi sumberdaya alam harusnya tetap memperhatikan faktor keberlanjutan,” kesal Anis. 

“Iya...idealnya memang seperti yang kau sampaikan kawan, tetapi daerah kita ini miskin. Sumber pendapatan daerah kita minim, sehingga pajak pun penting karena demi pembangunan,” sambung Anus yang duduk tak jauh dari Anis. 

“Hei..Anus kau ini bagaimana? Alam yang kita huni ini adalah  pinjaman dari generasi setelah kita. Kalau kita rusakan, bagaimana dengan hidup generasi yang akan datang. Cara berpikir pejabat  seperti yang disampaikan kepala KUDa LuPek,  adalah cara instan, kalau cara pikir instan, tindakan juga instan, hasilnya juga instan,” sambung Anis seruh.
“Instan bagaimana sobat? Niat dia khan baik, yah...untuk daerah dan untuk pembangunan,” bela Anus yang juga tak mau kalah.  

“Atas nama pembangunan, atas nama daerah, atas nama rakyat. Omong kosong, itu sama dengan atas nama menyalurkan hasrat seksual, tapi hanya mau bersetubuh dengan Pes-Es-Ka. Yang penting orgasme, bayar lalu pulang. Atau karena sudah kebelet, anak orang atau istri orang  yang cantik diajak selingkuh. Begitu kan? Tidak peduli lagi dengan budaya, tidak penting lagi dengan urusan dosa. Yang penting bisa puas, selesai. Soal nanti tertular HIV bukan urusan. Begitu kan?” kecam Anis. 

“Ah..Anis, maafkan kalau saya ikut membuat kau marah kawan, tapi kenapa kau bicara sampai ke urusan sex begitu,” Jawab Anus, yang kelihatan baru sadar kalau pembelaannya kepada Kepala KuDa Lupek, membuat Anis kesal. 

“Bagaimana tidak kesal kawan. Keputusan untuk terus membiarkan kapal penangkap ikan dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan beroperasi hanya karena pajak sebesar tuju puluh juta, tidak sebanding dengan kerusakan alam. Belum lagi kita bicara soal kerugian ekonomi masyarakat kecil. Nelayan kapal, mestinya dilarang  melaut di laut dangkal, harusnya mereka melaut di laut dalam. Beri ruang kepada nelayan kecil,dan  nelayan tradisional untuk mencari nafkah. Kalau kau belum paham saya logiskan lagi. Maksudnya biar kau lebih paham. Cara berpikir Kelapa KUDa LuPek,  itu sama sama dengan saya ingin punya ijazah sarjana, tetapi tidak mau kuliah lalu saya beli saja ijazah di pasar yah...yang penting saya bisa sama dengan orang lain yang kuliah. Kau paham khan? Jadi, Pemerintah harusnya berpikir jauh kedepan,” jelas Anis lagi. 

Penjelasan singkat sahabatnya membuat Anus sang politisi kampung itu terlihat manggut-manggut. mungkin saja dalam hatinya dia membenarkan semua pendapat Anis sahabat karibnya itu. 

“Jadi apa yang harus kita lakukan kawan,” tanya Anus yang mulai paham dengan alur pikir Anis. 

“Sebagai ketua Partai, sekarang juga kau buat surat, kecam keputusan pemerintah dan jangan lupa sampaikan juga dengan solusinya. Surat harus jelas, karena saya yakin pemerintah tidak mengerti. Keputusan mereka itu adalah keputusan yang hanya mau cari kepuasan pribadi. Yah...kepentingan pajak adalah kepentingan jangka pendek. sekali lagi buat surat yang isinya harus tegas. Mengejar pajak sepertinya hanya merangsang otak pejabat untuk onani, tapi kita berpikir untuk seluruh rakyat orgasme secara masal agar bisa melahirkan generasi penerus kampung ini,” tegas Anis. 

“Terimaksih, usulmu bagus, dan sekarang saya buat suratnya. Besok kita dua antar ke pemerintah, dan tembusannya ke Dewan Pertimbangan Kadipaten,” sambung Anus.
Yogi Making
Wangatoa, Selasa 16 Mei 2016

Minggu, 15 Mei 2016

Angka Delapan Itu Pelcur Politik?

Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Anis, menyebut nama yang satu ini tentu tidak asing bagi warga di Kadipaten Palsu. Tokoh utama dalam fiksi tentang kadipaten palsu itu, di kenal sebagai orang yang cendrung berpikir tentang hal-hal besar dari hal sepele.

Gbr.By Google.com
Dari hal sepele? Yah...lagian untuk apa juga Anis yang hanyalah seorang warga petani dengan tingkat pendidikan yang di golongkan jauh dari kata tinggi itu harus ribet berpikir soal ekonomi, budaya, politik atau hukum. Sebagai petani Anis tak memiliki kapasitas untuk itu, apalagi di kadipaten tempat tinggalnya sudah banyak orang yang mengaku hebat, punya posisi penting di pemerintahan dan politik. Dari sisi pendidikan, manusia-manusia hebat itu rata-rata berpendidikan sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari menara evel di Prancis.

“Mending mikirin sex. Sex itu nikmat, mau bolak balik seperti apapun selalu enak. Apalagi dipraktekkan langsung, Iya khan? jadi kalo sampai ada yang bilang tidak nikmat, wah...hehehe, harus periksakan diri ke psikiater tuh, barangkali saja punya kelainan,” demikian Anis menjawab Anus sahabatnya yang kebetulan bertanya soal kecendrungan Anis menggunakan filosofi sex untuk urusan politik dan hukum.

“Mungkin kau benar kawan, tapi cara berpikirmu itu membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Saat mendengar ucapanmu soal sex, kadang membawa orang kedalam pikiran jorok, bahkan ada yang berpendapat ucapanmu sangat kasar,” bantah Anus.

“Anus, semua orang hebat di kadipeten ini sekolah tinggi, termasuk kau kawan. Tapi kenapa cara pandang kalian hanya sejauh jangkauan tangan? Orang seperti kalian suka memikirkan hal besar, dengan strategi besar, dan rumit tak mampu kalian capai. Semua orang menemukan jalannya masing-masing. Dan saya menemukan jalan saya lewat sex, tidak suka omong politik, tetapi saya lebih senang membayangkan tentang masalah hubungan sex orang-orang yang mengaku pintar, orang-orang yang katanya pejabat, yang katanya elit politik. Sex itu berpengaruh kepada keadaan psikologis seseorang, pejabat sekalipun itu. coba kau pikirkan baik-baik kawan, apa yang terjadi jika orang-orang besar yang katanya sekolah tinggi-tinggi itu tidak mendapatkan kepuasan saat berhubungan sex? Apakah mereka mempunyai ketenangan saat membuat keputusan? Dan jangan-jangan karena itu juga yang menyebabkan terjadinya kasus korupsi? Hehehe...saya juga berpikir, jangan-jangan karena kesibukan yang sengaja mereka buat-buat itu menyebabkan hubungan sex dengan pasangan mereka menjadi terganggu. Mereka kesepian, dan akibat banyaknya pejabat kita yang kesepian, maka lahirkan pelacur politik?”
“Ah..masa iya sampe sebegitunya? Masa orang elit mau jadi pelacur. Kau ini ada-ada saja Anis,” bantah Anus lagi.
“Iyalah...istilah pelcuran itu tidak saja ada di dunia prostitusi, tapi juga di politik. Kau tau, munculnya masalah pelacuran di negeri ini, salah satunya juga karena alasan ekonomi. Para pelacur itu “menjual dirinya” untuk uang. Begitu juga dengan pelacur politik. Mereka itu bisa saja sedang menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Kadipaten (DPK), atau juga elit partai. Pelacur politik itu tau betul, kalau pejabat sedang bermasalah dengan orgasmenya. Kondisi inilah, membuat sang pelacur politik menceburkan diri kedalam kekuasaan dengan imbalan uang. Tugas mereka pun tidak berat. Hanya membela, melogiskan apa yang menurut pandangan umum tidak logis. Kau lihat saja, sahabat kita yang dulu pintar omong itu, yang itu loh....yang di DPK itu, berani pukul meja, bahkan ancam walk out dari ruang sidang, gara-gara argumentasi untuk membela penguasa di tolak rapat DPK,” jelas Anis.

“hahaha...hus, kau itu omong teman sendiri. Ah...tapi, jadi manusia dengan kelakuan seperti angka delapan itu, di golongkan sebagai pelacur politik. Yah...kau benar juga. Dia memang pelacur, maksud saya dia memang pelacur politik. Hahahaha...” sambung Anis di selingi tawa ringan menjadikan diskusi dua sahabat itu semakin seruh.

“Eh..kenapa kau sebut dia dengan angka delapan? “ Anis balik bertanya kepada Anus yang menyebut pelacur politik ibarat angka delapan.

“Begini kawan...kau ini cerdas, tapi kadang buat diri bodok e?. Angka delapan itu, terbelit dan kita tidak tau dimana ujungnya. Angka delapan itu lebih buruk dari benang kusut,” jelas Anus, sekaligus mengkritik Anis.   

“hahahaha...yah..ya, saya mengerti. Hahaha...tapi jangan begitulah, kau ini kan pemimpin partai. Kalian bedua itu hidup dalam satu dunia, dan kami mengenal kalian sebagai politisi. Hahahah..Jadi kalau kau susah uang, maka kau tinggal lamar jadi pelacur politik. Dapat duit banyak, bangun rumah dan bisa kawin lagi. hahahahahahaha” Sambung Anis yang balik mengkritik Anus.

Jawaban Anis yang tak kalah seruh itu, bukan membuat Anus tersinggung, sahabat Anis itu malah menyambut ejekan dengan tawa.yah..Dua sahabat itu memang sudah saling kenal, karena itu walau saling mengkritik tak pernah sekalipun salah dari mereka tersinggung. Soal ejekan, keduanya berpendapat kalau itu adalah bumbu dalam menjalin pertemanan diantara mereka.
Lewoleba, 15 Mei 2016
Yogi Making



Rabu, 11 Mei 2016

Pemimpin Harus Belajar dari Alat Vital Laki-Laki



Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.



Soal gagasan, Anis, pria sederhana dari kampung pedalaman di Kadipaten Palsu selalu punya ide cemerlang. Pria petani ini di tokohkan bukan karena kemampuan ekonominya, juga bukan karena jabatan politik, tapi karena kemampuan berpikir dan kuatnya komitmen perjuangan dalam membela hak rakyat.

Ceritera kali ini soal Anis di datangi wartawan salah satu media massa nasional. Andri, demikian wartawan itu memperkenalkan diri. Kepada Anis, Andri menuturkan kalau dirinya di tugaskan redaksi untuk mengamati secara langsung perkembangan politik menuju perebutan kursi orang nomor 1 di Kadipaten Palsu. 

Gbr. by Google.com
Andri juga tau, kalau di kadipaten itu sudah banyak orang yang menyatakan sikap untuk maju, bahkan sudah pula mendaftarkan diri ke partai-partai pengusung. Latar belakang setiap bakal calon bupati maupun wakil bupati pun beda-beda, ada dari kalangan birokrasi, ada politisi, ada pengusaha, akademisi, juga dari kalangan aktivis. Dan tentu, dari sisi kriteria semua calon pemimpin yakin sudah memenuhi syarat, baik itu syarat berdasarkan undang-undang, juga syarat-syarat lain yang di tetapkan Partai. 

Namun apakah sudah cukup dengan syarat legal formal, atau rakyat justru punya syarat lain? Pertanyaan inilah yang membawa Andri menemui Anis, tokoh netral yang sangat di kenal sebagai pejuang keadilan di Kadipaten Palsu.

Andri : Pak Anis... saya ingin mendengar pendapat anda mengenai perhelatan politik menuju perebutan kursi nomor 1 di kadipaten ini. 

Anis : Aroma Politik lima tahunan ini sudah tercium sampai ke desa-desa. Sebagai orang independen saya melihat bahwa pemilihan calon pemimpin kali ini, jauh berbeda dari periode sebelumnya. Beda bukan soal figur calon, tapi soal harapan, soal mimpi rakyat dan semua komponen yang terlibat dalam proses politik ini. Yah...lebih hati-hati untuk memutuskan pilihan, karena kami tidak ingin kembali tertipu oleh kepalsuan sang calon. Kesalahan politik masa lalu itu sudah di bayar mahal, dan harus di perbaiki pada periode ini. Politik ibarat berdagang, karena itu saya berharap Partai tidak menjual barang palsu untuk di beli rakyat. 

Andri : Ok..terimakasih, menurut saya pendapat anda ini adalah sebuah warning bagi semua pihak, termasuk para kandidat calon. Saya tidak ingin membahas kriteria calon sesuai syarat formal, dan saya yakin anda punya kriteria sendiri, bisa jadi kriteria anda menjadi rujukan bagi rakyat pemilih umumnya. 

Anis : (tertawa kecil sebelum menjawab wartawan) hhh....yah, tentu saya punya kriteria sendiri. Tapi kriteria saya pun tidak sulit, sederhana tapi butuh komitmen dari pribadi para kandidat calon. (kembali tertawa). Hhhhhh..

Jawaban yang di dahului dengan sedikit tawa, menimbulkan rasa penasaran. Dan...
Andri : Apa saja syarat yang anda sebut sebagai syarat yang sederhana itu? kejar wartawan lagi.  
Anis : Yah...sederhana. Tidak ada yang muluk-muluk, banyak teori soal pemimpin yang baik . tapi menurut saya, sulit untuk dilakukan. Bagi saya seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau belajar dari alat vital laki-laki. 

Andri sang jurnalis itu kaget, tidak pernah terbayang sebelumnya kalau tokoh sekaliber Anis,  mengarahkan orang, apalagi para calon pemimpin yang adalah kaum terpelajar untuk berpikir tentang cara memimpin dari cara pandang sex. Namun di sisi lain, naluri sang jurnalis ini selalu ingin tahu ada apa di balik Mr. P itu sehingga pemimpin harus belajar padanya.
Andri : lho, kog belajar ke Mr. P pak Anis. 

Anis : hehehe...saya tau anda akan kaget dengan jawaban saya. mungin anda tidak menduga, kalau saya sampai mengajak anda ke arah itu, dan saya harap anda tidak berpikir ke hal porno, lalu kenapa Mr. P? Ini penjelesan lengkapnya. Ujar Anis.
  1. Mr. P tidak pernah menonjolkan diri, tapi dia akan tampil paling depan saat dibutuhkan. Dalam hal korupsi misalnya, sang pemimpin harus berdiri terdepan menghunus pedang melawan korupsi. Jangan seperti pemimpin sekarang, kampanye bilang lawan korupsi tapi saat terpilih, minta fee dari kontraktor, hanya mampu menghabiskan uang daerah untuk jalan dan tidak tahu apa hasilnya untuk rakyat.
  2. Mr. P mengerti kapan saatnya keras, kapan saatnya menahan diri, coba anda perhatikan pemimpin saat ini, terlalu tamak akan kekuasaan, tidak dapat menahan diri dari godaan-godaan kekuasaan. Memperlakukan para Abdinya semena-mena. Yang benar di buat salah dan salah di buat benar
  3. Ada lagi, Mr. P menciptakan pergesekan namun hasil akhirnya membahagiakan semua pihak yang terkena gesekan. Artinya pemimpin harus mampu menghadirkan kebahagian bagi rakyatnya, bukan memanfaatkan posisinya untuk meraih kebahagiaan pribadi, keluarga juga kroni-kroninya. Istilah saya sih...hanya ingin bermastrubasi, padahal rakyat ingin bersetubuh dan mencapai orgasme secara bersama.
  4.  Mr. P menyerang pihak lawan (melakukan penetrasi dan infiltrasi) namun tetap memberikan kenyamanan. Beda dengan pemimpin disini yang jika menyerang lawan, belum berhenti kalo lawan belum susah, dipenjara, bahkan mati. Naluri membunuh sang pemimpin disini sangat tinggi, segala cara di lakukan termasuk membayar penegak hukum. Itu salah, idealnya dalam politik adalah, lawan harus bisa di bawa menjadi kawan, tentu untuk sebuah capaian perubahan postif secara bersama-sama.
  5.   Mr. P tidak sombong dan besar kepala, tetapi justru merendah dengan mengecilkan diri apabila sukses menyelesaikan misi dan mencapai target. Hehehe..., secara peribadi pemimpin juga harus punya alat ukur sendiri, dan tau diri. Memang klaim keberhasilan dalam politik adalah hal biasa, tetapi jangan asal klaim.
  6. Dan yang penting juga adalah, Mr. P mampu menciptakan generasi baru sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan di daerah. Setidak-tidaknya mampu memberi contoh yang baik, agar generasi penerus calon pemimpin menjadikan sang pemimpin itu sebagai tempat belajar. Cara memimpin yang baik itulah yang paling bisa di tularkan kepada generasi yang baru.
Jawaban Anis membuat Andri mengangguk-angguk kepala tanda sepakat. Dalam hati, wartawan itu mengakui kecerdasan pria kampung itu.
Wangatoa, 10 April 2016
Yogi Making