Selasa, 17 Mei 2016

Surat Buat Kepala Penerangan Masyarakat



Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Gbr. By Google.com
Soal dugaan identitas palsu yang dialamatkan kepada Bupati Kadipaten Palsu, terus saja menjadi tranding topik di berbagai media massa. Tentu saja, Bupati tak rela di sebut berindentitas palsu. Melalui berbagai kesempatan Bupati berupaya untuk menyakinkan warganya bahwa dia adalah asli. Klarifikasi juga di sampaikan kepala Penerangan Kadipaten Palsu. 

Soal klarifikasi Tuan Bupati adalah wajar dan memang undang-undang Negara Antaberan memberi ruang kepada yang di sangkakan untuk menipu eh...maksudnya membela diri. Tapi sayangnya, klarifikasi juga di sampaikan pihak lain, yang memang tidak punya kaitan apapun dengan kbahar buruk itu. 

Pihak lain itu salah satunya adalah klarifikasi dari kepala Penerangan Kadipaten Palsu. Oleh Anis klarifikasi Kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu itu di nilai salah kaprah. Untuk itu, sebagai tokoh dia merasa perlu memberi pengertian kepada kepala Abdi Penerangan Masyarakat bahwa yang dia lakukan adalah salah. Peringatan itu Anis lakukan melalui sebuah warkat yang dia tulis tangan. Berikut petikan suratnya : 

Saudara Kepala Penerangan Kadipaten Palsu, salam sua. Saya yakin Anda sehat-sehat saja dan berada dalam lindungan Yang Maha Esa.

Belum lama ini saya baca klarifikasi saudara tentang masalah indentitas palsu Bupati Kadipaten Palsu di media massa. Menurut saya, dalam menjalan tugas dan fungsi saudara sangat loyal. Tugas saudara memang begitu, menjeleskan kepada kami tentang semua hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan.

Namun sayangnya, klarifikasi yang saudara sampaikan melalui media massa itu berlebihan. Sepertinya saudara mulai lupa, atau mungkin pura-pura pikun sehingga saudara mulai linglung, mana bagian yang menjadi bidang tugas saudara dan mana yang  bukan.

Soal identitas bupati yang di duga palsu, menurut saya itu urusan peribadi. Biarkan yang bersngkutan yang mengklarifikasi. Sementara tugas saudara hanya sebatas menjelaskan soal akibat dari masalah yang menimpa Bupati. Jika di tanya wartawan soal benar atau tidaknya dugaan itu, tak perlu saudara jelaskan. Prinsipnya saudara hanya cukup mengklarifikasi pengaruhnya terhadap agenda penyelenggaraan pemerintah.

Saya yakin saudara tau itu, namun saudara tak kuasa melawan perintah. Iya...khan? Saya dan kami semua rakyat percaya kalau yang saudara jelaskan adalah perintah tuanmu bupati. Dan saudara hanya mengatakan, “saya adalah bawahan dan hanya menjalankan tugas,” kalau alasan itu yang ada dalam benakmu, maka saya mulai yakin kalau loyalitas saudara adalah loyalitas buta.

Agar saudara paham, perlu saya jelaskan begini. Soal sangkaan sekolah atau tidaknya tuan saudara, adalah masalah peribadi. Bupati adalah jabatan yang di dalamnya melekat tanggungjawab peribadi seseorng yang di bebankan kepadanya karena di pilih melalui sebuah proses demokrasi. Jabatan tidak sekolah. Yang sekolah adalah pribadi yang kemudian di pilih menjadi Bupati. Jabatan, berkait erat dengan fungsi tuanmu untuk memerintah. Maka urusanmu adalah urusan pemerintah. Saudara adalah kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu, bukan Juru Bicara dari tuanmu itu. apakah saudara paham?

Hahaha... pasti belum pahamkan? Mari saya ajak saudara untuk berpikir soal sex. Nah...mungkin saudara pikir itu jorok. Ya khan..? soal yang ini, tugas saudara adalah menjelaskan kepada warga bahwa sex itu indah, menyenangkan, menenangkan, dan sex adalah suci. Sifat sucinya itulah maka sex hanya boleh dilakukan dengan pasangan (suami/istri) yang di materaikan oleh Tuhan melalui tangan-tangan terurapi.

Tetapi dalam klarifikasi saudara mengenai sekolah tuanmu itu, sepertinya saudara sedang menjelaskan kalau sex itu indah dan menyenangkan dan boleh dilakukan siapa saja, kapan saja, bahkan dengan cara apapun. Sepertinya saudara melegalkan pemerkosaan, pelecehan sexual, sex bebas, atau lainnya yang di larang hukum negara dan hukum agama.

Saya juga yakin kalau saudara tahu bahwa matahari itu terbit setiap hari di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat, yah...karena saudara benar-benar sekolah. Dan asli saudara sekolah. Sayangnya, karena tugas, dan merasa sebagai bawahan, saudara pun siap, eh..bukan. Salah saya ganti dengan kata pasrah, yah...saudara pasrah untuk menjelaskan kepada kami warga bahwa kata Bupati, matahari itu terbitnya di sebelah barat dan terbenam di ufuk timur. Lalu saudara memaksa kami untuk percaya semua pembenaran itu. (saya harap saudara belum gila)

Saya yakin saudara ingin melawan perintah tetapi seperti seorang impoten berpikir sex. Niat untuk merasakan kenikmatan berhubungan sex hanya berputar-putar dalam otak. Hehehe...sedih saya.

Saudaraku Kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu. Saudara adalah anak yang lahir dari tanah ini, berdamailah dengan tanahmu, berdamailah dengan ibumu, ayahmu, dan kami saudaramu. Lakukan apa yang baik untuk kami, untuk sesamamu anak tanah ini, katakan yang benar itu adalah sebuah kebenaran, dan jangan lagi membuat pembenaran atas kesalahan.

Jangan takut hilng jabatan, jangan mau menyandang gelar penjilat pantat, karena tanah ini, juga kami saudaramu tak pernah ajari anda untuk menjilat. Jangan takut hilang jabatan, karena kembali menjadi petani pun kau bisa. Jika di paksakan, relakan jabatan itu kepada orang lain yang pasrah menjadi penjilat, dan kau kembali menjadi petani. Kau dibesarkan oleh petani, sekolahmu di bayar dengan jambu mete, kemiri, nenas, alpokat.

Demikian surat saya ini, dan saya doakan untuk saudara segera di pulihkan kesadaranmu oleh Tuhan agar kembali menjadi anak dari tanah kadipaten palsu ini, kembali berpijak pada bumi tempat plasentamu di kuburkan. Amin, Salam Demokrasi.  (Anis, Warga Pedalaman)

Wangatoa, Selasa 17 Mei 2016
Yogi Making

Senin, 16 Mei 2016

Eksploitasi Alam Berlebihan Sama Dengan Sex Instan



Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Ratusan nelayan kecil asal Kadipaten Palsu kecewa, pasalnya laut mereka tak lagi kaya ikan. Menurut nelayan, laut yang dulunya menjadi sandaran hidup rusak akibat masuknya kapal penangkap ikan yang mengunakan jaring harimau. Penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan itu merusak terumbuh karang. 

Gbr by, Google.com
Anehnya, ketika keluhan disampaikan ke pemerintah Kadipaten melalui Kantor Urusan Dasar Laut dan Perikanan (KUDa LuPek), kepala Abdinya malah apatis. Dalam diskusi dengan nelayan, Kepala Abdi yang di kenal juga sebagai orang dekat Bupati Kadipaten Palsu membenarkan keluhan nelayan.  Namun, walau tau alam dasar lautnya rusak, namun dia menolak jika pemerintah menghentikan aktifitas nelayan kapal. 

“Pajak dari kapal-kapal itu besar. Dalam setahun mencapai 70-an juta. Kalau mereka di usir, pendapatan pajak menurun. Kalau pajak menurun saya yang dinilai tidak berhasil. Dan sudah pasti saya kehilangan jabatan,” kata Kepala KU DaLuPek.  

Ceritera tentang keluhan nelayan dan tanggapan Kepala Abdi KUDa LuPek, sampai juga ke telinga Anis. Terang saja, Anis, tokoh dari negeri berjuluk Kadipaten Bedebah itu marah besar.
“Dalam pandangan saya dia (kepala KUDa LuPek),) itu adalah salah satu orang cerdas, ternyata saya salah. Sebagai orang yang memimpin instansi teknis, apalagi yang berkaitan langsung dengan lingkungan hidup, tugasnya tidak sekedar meningkatkan pendapatan, namun yang utama adalah menjaga dan melestarikan alam. Ekpolitasi sumberdaya alam harusnya tetap memperhatikan faktor keberlanjutan,” kesal Anis. 

“Iya...idealnya memang seperti yang kau sampaikan kawan, tetapi daerah kita ini miskin. Sumber pendapatan daerah kita minim, sehingga pajak pun penting karena demi pembangunan,” sambung Anus yang duduk tak jauh dari Anis. 

“Hei..Anus kau ini bagaimana? Alam yang kita huni ini adalah  pinjaman dari generasi setelah kita. Kalau kita rusakan, bagaimana dengan hidup generasi yang akan datang. Cara berpikir pejabat  seperti yang disampaikan kepala KUDa LuPek,  adalah cara instan, kalau cara pikir instan, tindakan juga instan, hasilnya juga instan,” sambung Anis seruh.
“Instan bagaimana sobat? Niat dia khan baik, yah...untuk daerah dan untuk pembangunan,” bela Anus yang juga tak mau kalah.  

“Atas nama pembangunan, atas nama daerah, atas nama rakyat. Omong kosong, itu sama dengan atas nama menyalurkan hasrat seksual, tapi hanya mau bersetubuh dengan Pes-Es-Ka. Yang penting orgasme, bayar lalu pulang. Atau karena sudah kebelet, anak orang atau istri orang  yang cantik diajak selingkuh. Begitu kan? Tidak peduli lagi dengan budaya, tidak penting lagi dengan urusan dosa. Yang penting bisa puas, selesai. Soal nanti tertular HIV bukan urusan. Begitu kan?” kecam Anis. 

“Ah..Anis, maafkan kalau saya ikut membuat kau marah kawan, tapi kenapa kau bicara sampai ke urusan sex begitu,” Jawab Anus, yang kelihatan baru sadar kalau pembelaannya kepada Kepala KuDa Lupek, membuat Anis kesal. 

“Bagaimana tidak kesal kawan. Keputusan untuk terus membiarkan kapal penangkap ikan dengan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan beroperasi hanya karena pajak sebesar tuju puluh juta, tidak sebanding dengan kerusakan alam. Belum lagi kita bicara soal kerugian ekonomi masyarakat kecil. Nelayan kapal, mestinya dilarang  melaut di laut dangkal, harusnya mereka melaut di laut dalam. Beri ruang kepada nelayan kecil,dan  nelayan tradisional untuk mencari nafkah. Kalau kau belum paham saya logiskan lagi. Maksudnya biar kau lebih paham. Cara berpikir Kelapa KUDa LuPek,  itu sama sama dengan saya ingin punya ijazah sarjana, tetapi tidak mau kuliah lalu saya beli saja ijazah di pasar yah...yang penting saya bisa sama dengan orang lain yang kuliah. Kau paham khan? Jadi, Pemerintah harusnya berpikir jauh kedepan,” jelas Anis lagi. 

Penjelasan singkat sahabatnya membuat Anus sang politisi kampung itu terlihat manggut-manggut. mungkin saja dalam hatinya dia membenarkan semua pendapat Anis sahabat karibnya itu. 

“Jadi apa yang harus kita lakukan kawan,” tanya Anus yang mulai paham dengan alur pikir Anis. 

“Sebagai ketua Partai, sekarang juga kau buat surat, kecam keputusan pemerintah dan jangan lupa sampaikan juga dengan solusinya. Surat harus jelas, karena saya yakin pemerintah tidak mengerti. Keputusan mereka itu adalah keputusan yang hanya mau cari kepuasan pribadi. Yah...kepentingan pajak adalah kepentingan jangka pendek. sekali lagi buat surat yang isinya harus tegas. Mengejar pajak sepertinya hanya merangsang otak pejabat untuk onani, tapi kita berpikir untuk seluruh rakyat orgasme secara masal agar bisa melahirkan generasi penerus kampung ini,” tegas Anis. 

“Terimaksih, usulmu bagus, dan sekarang saya buat suratnya. Besok kita dua antar ke pemerintah, dan tembusannya ke Dewan Pertimbangan Kadipaten,” sambung Anus.
Yogi Making
Wangatoa, Selasa 16 Mei 2016

Minggu, 15 Mei 2016

Angka Delapan Itu Pelcur Politik?

Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Anis, menyebut nama yang satu ini tentu tidak asing bagi warga di Kadipaten Palsu. Tokoh utama dalam fiksi tentang kadipaten palsu itu, di kenal sebagai orang yang cendrung berpikir tentang hal-hal besar dari hal sepele.

Gbr.By Google.com
Dari hal sepele? Yah...lagian untuk apa juga Anis yang hanyalah seorang warga petani dengan tingkat pendidikan yang di golongkan jauh dari kata tinggi itu harus ribet berpikir soal ekonomi, budaya, politik atau hukum. Sebagai petani Anis tak memiliki kapasitas untuk itu, apalagi di kadipaten tempat tinggalnya sudah banyak orang yang mengaku hebat, punya posisi penting di pemerintahan dan politik. Dari sisi pendidikan, manusia-manusia hebat itu rata-rata berpendidikan sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari menara evel di Prancis.

“Mending mikirin sex. Sex itu nikmat, mau bolak balik seperti apapun selalu enak. Apalagi dipraktekkan langsung, Iya khan? jadi kalo sampai ada yang bilang tidak nikmat, wah...hehehe, harus periksakan diri ke psikiater tuh, barangkali saja punya kelainan,” demikian Anis menjawab Anus sahabatnya yang kebetulan bertanya soal kecendrungan Anis menggunakan filosofi sex untuk urusan politik dan hukum.

“Mungkin kau benar kawan, tapi cara berpikirmu itu membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Saat mendengar ucapanmu soal sex, kadang membawa orang kedalam pikiran jorok, bahkan ada yang berpendapat ucapanmu sangat kasar,” bantah Anus.

“Anus, semua orang hebat di kadipeten ini sekolah tinggi, termasuk kau kawan. Tapi kenapa cara pandang kalian hanya sejauh jangkauan tangan? Orang seperti kalian suka memikirkan hal besar, dengan strategi besar, dan rumit tak mampu kalian capai. Semua orang menemukan jalannya masing-masing. Dan saya menemukan jalan saya lewat sex, tidak suka omong politik, tetapi saya lebih senang membayangkan tentang masalah hubungan sex orang-orang yang mengaku pintar, orang-orang yang katanya pejabat, yang katanya elit politik. Sex itu berpengaruh kepada keadaan psikologis seseorang, pejabat sekalipun itu. coba kau pikirkan baik-baik kawan, apa yang terjadi jika orang-orang besar yang katanya sekolah tinggi-tinggi itu tidak mendapatkan kepuasan saat berhubungan sex? Apakah mereka mempunyai ketenangan saat membuat keputusan? Dan jangan-jangan karena itu juga yang menyebabkan terjadinya kasus korupsi? Hehehe...saya juga berpikir, jangan-jangan karena kesibukan yang sengaja mereka buat-buat itu menyebabkan hubungan sex dengan pasangan mereka menjadi terganggu. Mereka kesepian, dan akibat banyaknya pejabat kita yang kesepian, maka lahirkan pelacur politik?”
“Ah..masa iya sampe sebegitunya? Masa orang elit mau jadi pelacur. Kau ini ada-ada saja Anis,” bantah Anus lagi.
“Iyalah...istilah pelcuran itu tidak saja ada di dunia prostitusi, tapi juga di politik. Kau tau, munculnya masalah pelacuran di negeri ini, salah satunya juga karena alasan ekonomi. Para pelacur itu “menjual dirinya” untuk uang. Begitu juga dengan pelacur politik. Mereka itu bisa saja sedang menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Kadipaten (DPK), atau juga elit partai. Pelacur politik itu tau betul, kalau pejabat sedang bermasalah dengan orgasmenya. Kondisi inilah, membuat sang pelacur politik menceburkan diri kedalam kekuasaan dengan imbalan uang. Tugas mereka pun tidak berat. Hanya membela, melogiskan apa yang menurut pandangan umum tidak logis. Kau lihat saja, sahabat kita yang dulu pintar omong itu, yang itu loh....yang di DPK itu, berani pukul meja, bahkan ancam walk out dari ruang sidang, gara-gara argumentasi untuk membela penguasa di tolak rapat DPK,” jelas Anis.

“hahaha...hus, kau itu omong teman sendiri. Ah...tapi, jadi manusia dengan kelakuan seperti angka delapan itu, di golongkan sebagai pelacur politik. Yah...kau benar juga. Dia memang pelacur, maksud saya dia memang pelacur politik. Hahahaha...” sambung Anis di selingi tawa ringan menjadikan diskusi dua sahabat itu semakin seruh.

“Eh..kenapa kau sebut dia dengan angka delapan? “ Anis balik bertanya kepada Anus yang menyebut pelacur politik ibarat angka delapan.

“Begini kawan...kau ini cerdas, tapi kadang buat diri bodok e?. Angka delapan itu, terbelit dan kita tidak tau dimana ujungnya. Angka delapan itu lebih buruk dari benang kusut,” jelas Anus, sekaligus mengkritik Anis.   

“hahahaha...yah..ya, saya mengerti. Hahaha...tapi jangan begitulah, kau ini kan pemimpin partai. Kalian bedua itu hidup dalam satu dunia, dan kami mengenal kalian sebagai politisi. Hahahah..Jadi kalau kau susah uang, maka kau tinggal lamar jadi pelacur politik. Dapat duit banyak, bangun rumah dan bisa kawin lagi. hahahahahahaha” Sambung Anis yang balik mengkritik Anus.

Jawaban Anis yang tak kalah seruh itu, bukan membuat Anus tersinggung, sahabat Anis itu malah menyambut ejekan dengan tawa.yah..Dua sahabat itu memang sudah saling kenal, karena itu walau saling mengkritik tak pernah sekalipun salah dari mereka tersinggung. Soal ejekan, keduanya berpendapat kalau itu adalah bumbu dalam menjalin pertemanan diantara mereka.
Lewoleba, 15 Mei 2016
Yogi Making



Rabu, 11 Mei 2016

Pemimpin Harus Belajar dari Alat Vital Laki-Laki



Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.



Soal gagasan, Anis, pria sederhana dari kampung pedalaman di Kadipaten Palsu selalu punya ide cemerlang. Pria petani ini di tokohkan bukan karena kemampuan ekonominya, juga bukan karena jabatan politik, tapi karena kemampuan berpikir dan kuatnya komitmen perjuangan dalam membela hak rakyat.

Ceritera kali ini soal Anis di datangi wartawan salah satu media massa nasional. Andri, demikian wartawan itu memperkenalkan diri. Kepada Anis, Andri menuturkan kalau dirinya di tugaskan redaksi untuk mengamati secara langsung perkembangan politik menuju perebutan kursi orang nomor 1 di Kadipaten Palsu. 

Gbr. by Google.com
Andri juga tau, kalau di kadipaten itu sudah banyak orang yang menyatakan sikap untuk maju, bahkan sudah pula mendaftarkan diri ke partai-partai pengusung. Latar belakang setiap bakal calon bupati maupun wakil bupati pun beda-beda, ada dari kalangan birokrasi, ada politisi, ada pengusaha, akademisi, juga dari kalangan aktivis. Dan tentu, dari sisi kriteria semua calon pemimpin yakin sudah memenuhi syarat, baik itu syarat berdasarkan undang-undang, juga syarat-syarat lain yang di tetapkan Partai. 

Namun apakah sudah cukup dengan syarat legal formal, atau rakyat justru punya syarat lain? Pertanyaan inilah yang membawa Andri menemui Anis, tokoh netral yang sangat di kenal sebagai pejuang keadilan di Kadipaten Palsu.

Andri : Pak Anis... saya ingin mendengar pendapat anda mengenai perhelatan politik menuju perebutan kursi nomor 1 di kadipaten ini. 

Anis : Aroma Politik lima tahunan ini sudah tercium sampai ke desa-desa. Sebagai orang independen saya melihat bahwa pemilihan calon pemimpin kali ini, jauh berbeda dari periode sebelumnya. Beda bukan soal figur calon, tapi soal harapan, soal mimpi rakyat dan semua komponen yang terlibat dalam proses politik ini. Yah...lebih hati-hati untuk memutuskan pilihan, karena kami tidak ingin kembali tertipu oleh kepalsuan sang calon. Kesalahan politik masa lalu itu sudah di bayar mahal, dan harus di perbaiki pada periode ini. Politik ibarat berdagang, karena itu saya berharap Partai tidak menjual barang palsu untuk di beli rakyat. 

Andri : Ok..terimakasih, menurut saya pendapat anda ini adalah sebuah warning bagi semua pihak, termasuk para kandidat calon. Saya tidak ingin membahas kriteria calon sesuai syarat formal, dan saya yakin anda punya kriteria sendiri, bisa jadi kriteria anda menjadi rujukan bagi rakyat pemilih umumnya. 

Anis : (tertawa kecil sebelum menjawab wartawan) hhh....yah, tentu saya punya kriteria sendiri. Tapi kriteria saya pun tidak sulit, sederhana tapi butuh komitmen dari pribadi para kandidat calon. (kembali tertawa). Hhhhhh..

Jawaban yang di dahului dengan sedikit tawa, menimbulkan rasa penasaran. Dan...
Andri : Apa saja syarat yang anda sebut sebagai syarat yang sederhana itu? kejar wartawan lagi.  
Anis : Yah...sederhana. Tidak ada yang muluk-muluk, banyak teori soal pemimpin yang baik . tapi menurut saya, sulit untuk dilakukan. Bagi saya seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau belajar dari alat vital laki-laki. 

Andri sang jurnalis itu kaget, tidak pernah terbayang sebelumnya kalau tokoh sekaliber Anis,  mengarahkan orang, apalagi para calon pemimpin yang adalah kaum terpelajar untuk berpikir tentang cara memimpin dari cara pandang sex. Namun di sisi lain, naluri sang jurnalis ini selalu ingin tahu ada apa di balik Mr. P itu sehingga pemimpin harus belajar padanya.
Andri : lho, kog belajar ke Mr. P pak Anis. 

Anis : hehehe...saya tau anda akan kaget dengan jawaban saya. mungin anda tidak menduga, kalau saya sampai mengajak anda ke arah itu, dan saya harap anda tidak berpikir ke hal porno, lalu kenapa Mr. P? Ini penjelesan lengkapnya. Ujar Anis.
  1. Mr. P tidak pernah menonjolkan diri, tapi dia akan tampil paling depan saat dibutuhkan. Dalam hal korupsi misalnya, sang pemimpin harus berdiri terdepan menghunus pedang melawan korupsi. Jangan seperti pemimpin sekarang, kampanye bilang lawan korupsi tapi saat terpilih, minta fee dari kontraktor, hanya mampu menghabiskan uang daerah untuk jalan dan tidak tahu apa hasilnya untuk rakyat.
  2. Mr. P mengerti kapan saatnya keras, kapan saatnya menahan diri, coba anda perhatikan pemimpin saat ini, terlalu tamak akan kekuasaan, tidak dapat menahan diri dari godaan-godaan kekuasaan. Memperlakukan para Abdinya semena-mena. Yang benar di buat salah dan salah di buat benar
  3. Ada lagi, Mr. P menciptakan pergesekan namun hasil akhirnya membahagiakan semua pihak yang terkena gesekan. Artinya pemimpin harus mampu menghadirkan kebahagian bagi rakyatnya, bukan memanfaatkan posisinya untuk meraih kebahagiaan pribadi, keluarga juga kroni-kroninya. Istilah saya sih...hanya ingin bermastrubasi, padahal rakyat ingin bersetubuh dan mencapai orgasme secara bersama.
  4.  Mr. P menyerang pihak lawan (melakukan penetrasi dan infiltrasi) namun tetap memberikan kenyamanan. Beda dengan pemimpin disini yang jika menyerang lawan, belum berhenti kalo lawan belum susah, dipenjara, bahkan mati. Naluri membunuh sang pemimpin disini sangat tinggi, segala cara di lakukan termasuk membayar penegak hukum. Itu salah, idealnya dalam politik adalah, lawan harus bisa di bawa menjadi kawan, tentu untuk sebuah capaian perubahan postif secara bersama-sama.
  5.   Mr. P tidak sombong dan besar kepala, tetapi justru merendah dengan mengecilkan diri apabila sukses menyelesaikan misi dan mencapai target. Hehehe..., secara peribadi pemimpin juga harus punya alat ukur sendiri, dan tau diri. Memang klaim keberhasilan dalam politik adalah hal biasa, tetapi jangan asal klaim.
  6. Dan yang penting juga adalah, Mr. P mampu menciptakan generasi baru sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan di daerah. Setidak-tidaknya mampu memberi contoh yang baik, agar generasi penerus calon pemimpin menjadikan sang pemimpin itu sebagai tempat belajar. Cara memimpin yang baik itulah yang paling bisa di tularkan kepada generasi yang baru.
Jawaban Anis membuat Andri mengangguk-angguk kepala tanda sepakat. Dalam hati, wartawan itu mengakui kecerdasan pria kampung itu.
Wangatoa, 10 April 2016
Yogi Making

Minggu, 01 Mei 2016

ANIS : Kadang Politik Ibarat Manusia Kecanduan Alat Bantu Sex





Catatan : Ceritera ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.

Dituturkan kalau satu hari, saat Anis lagi duduk santai sambil ngopi di bawah sebatang pohon di
samping rumah, tiba-tiba Anus teman karibnya muncul dengan muka lusuh. Tentu saja Anis kaget, karena biasanya keseharian sahabat sejatinya itu adalah orang periang. Eh..belum sempat di suruh duduk, Anus sudah ngomel-ngomel

Anus : Ah...Kawan, saya sudah jenuh dengan kondisi di kadipaten ini. Masa, tadi istri saya di telepon seseorang yang tidak di kenal, dan ancam-ancam saya. bikin kami punya rumah tangga jadi berantakan. Bangsat sekali orang itu..

Anis : Kenapa lagi kau ini. Sini duduk baru ceritera. Santai saja bro...kata Anis. 

Setelah sahabatnya duduk, Anis lalu memanggil Inalila sang istri tercintanya untuk di minta menyediakan kopi buat sahabatnya.

Anis : Lila, sayang e...Panggil Anis pada istrinya yang lagi di dapur

Inalila : Ada apa bapa, pake teriak-teriak segala. Jawab Inalila yang terlihat berjalan mendekat ke pohon tempat suaminya duduk .

Anis : Ini si Anus datang, bikinin kopi buat dia ya sayang..Kata Anis yang berlagak mesra pada istrinya. Mendengar permintaan suaminya Lila sang istri langsung berbalik menuju dapur. Tak berapa lama muncul kembali Inalila dengan segelas kopi lalu disajikan buat Anus tamu suaminya itu. Silahkan di minum om Anus..kata Ina Lila. Ya..terimakasih. jawab Anus.

Setelah sang istri berlalu pergi, Anis kembali meminta Anus sahabatnya itu untuk berceritera.

Anis : Teman, kau Kenapa? Orang itu telepon soal apa?

Anus : Begini kawan...Saya ini kan ketua Partai, kau tau kan? Karena masa kepemimpinan bupati ini hampir berakhir, saya di calonkan untuk menjadi Bupati.

Anis : Lha..itu bagus, lalu kenapa kau marah-marah.

Anus : Bagaimana tidak marah-marah. Seseorang yang saya ceriterakan tadi, mengancam untuk membongkar aib saya. Katanya, saya punya istri simpanan. Buruknya, itu orang yang kami tidak kenal itu menelpon ke nomor istri saya. dia bilang begini. “tolong sampaikan pada suamimu untuk jangan coba-coba mencalonkan dirinya jadi Bupati. Pintu partainya itu hanya untuk saya. Kalau dia ngotot maju, saya akan bongkar aibnya, suamimu itu punya selir di luar kadipaten,” Ah...berita dari si bangsat itu, buat istri saya naik pitam. Dia percaya dengan ceritera bohong itu, Kami bertengkar. Ribut besar di rumah saya. Manusia keparat betul, saya mau cek, itu siapa dia? Saya mau ribut dengan dia.

Anis : E..kawan, kau jangan emosional begitulah. Tenang saja dulu. Mestinya kau bangga kalau sekarang saat kau di wacanakan untuk maju merebut kursi kekuasaan di kadipaten ini, ada yang mulai ketar-ketir ketakutan. Takut hilang kuasa, takut hilang pamor, takut kalau nanti kau bongkar seluruh perbuatan jahatnya yang di buat saat dia berkuasa. Itu juga tanda kalau kau menjadi pesaing besarnya. Tidak perlu cemas dengan itu, kau ini anak asli, saya kenal kau, saya tau komitmen perjuangan mu. Soal isu itu, ah...kecil, tidak perlu di tanggapi.

Anis : bagaimana tidak marah, saya tidak suka kalau di ancam-ancam. Apalagi dengan ceritera palsu. Teman...Anis, saya ini sebenarnya tidak mau jadi calon Bupati, tapi karena saya lihat kita yang mengaku anak asli, dengan pendidikan asli, gelar asli, Kog, semacam pasrah dan tunduk dibawah orang dengan indentitas palsu begitu. Harga diri kampung ini, harga diri tanah ini, harga diri nenek moyang kita, mau dia simpan dimana? Apakah karena kekuasaan lalu, semuanya yang berharga yang kita jaga sejak nenek moyang itu harus digadaikan? Apa memang dia tak lagi punya malu, karena kemaluannya tidak berfungsi? Mohon kau temui orang kita yang asli itu, sampaikan padanya bahwa, kalau dia mau rebut kursi kekuasaan, tolong jangan dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya.  Tidak jelas sekolahnya, dan tidak jelas-tidak jelas yang lainnya. Apa dia tidak malu kalau kemudian dia yang sekolah asli dengan gelar yang membanggakan kampung itu, ikut di bilang tidak asli? Bukan apa-apa, saya takut kalau orang di luar sana, menilai moral warga tanah ini dengan ukuran anak kita yang satu itu. ah...malu saya, begitu rendahkah kita sehingga mau bersekongkol dengan orang yang selama ini sudah menyebabkan kehancuran?

Mendengar ocehan sabahat karibnya itu, Anis senyum-senyum. Dia tau, siapa yang disebut dengan putra kadipaten asli dengan gelar akademis yang asli dan mau menjadi kadidat pemimpin lembata mendapingi Bupati Kadipaten Palsu yang di cap memiliki sejumlah identitas palsu itu. terhadap ocehan Anus, Anis menjawab

Anis : Kawan e...Anus. Kau ini macam tidak tau saja. Teknologi sudah merusak moral manusia dewasa ini, tekonologi itu baik, tapi kadang teknologi kadang membawa kita untuk berpikir sesat, tidak lagi mengakui kuasa dan keagungan sang khalik. Kasus yang kau sampaikan itu membuat saya bisa berkesimpulan kalau politik ibarat manusia kecanduan alat bantu sex.
Kau tau khan? Sekarang ini ada boneka sex yang di buat mirip perempuan, bisa mendesah meniru suara perempuan, manusia juga berhasil menciptakan alat bantu seks bagi perempuan yang di sebut dildo, bahkan di klaim dildo lebih memberi kepuasan ketimbang kita yang laki-laki ini.
Itu artinya, kalau manusia dewasa ini yah..memang hanya sebagian kecil saja, tetapi paling tidak memberi gambaran kalau teknologi sudah menyebabkan ketergantungan yang amat tinggi, bahkan hingga merusak moral pun tak lagi kita peduli. Kepuasan yang didapat dari semua yang palsu itu adalah kepuasan semu, karena semu nafsunya meledak-ledak dan terus mencari dan mencari. Isi otaknya hanya soal kenikmatan, maka ketika ada peluang selalu dia manfaatkan untuk mastrubasi dengan alat palsu, dan sudah pasti orgasme palsu. Nikmat sendiri, puas sendiri.
Kalau memang anak kita itu suka dengan yang palsu, barangkali saja dia memiliki kelainan moral, jika dia berhasil merebut kekuasaan, mungkin saja dia memanfaatkan yang palsu itu untuk meraih kenikmatan peribadi. Tapi, bisa juga yang paslu akan membuat dia semakin tergantung dan terus berada di bawah kekuasaannya. Hehehe...heran saya. Ternyata ukuran moral manusia dewasa ini bukan dilihat dari gelar, bukan juga dari sekolah. Maka lebih baik, kita yang tidak sekolah, tinggal di kampung, tapi cinta untuk tanah nenek moyang kita ini adalah cinta yang asli, abdi yang tulus. Dan mereka yang mengaku pintar dengan gelar bagus, hanya bisa bilang cinta kampung, tapi sesungguhnya cintanya adalah cinta semu, kata-kata manis di ucap untuk menipu kita agar dia terpilih. Setelah itu, hehehe...orgasme sendiri.

Anus, terperanggah saat mendengar sedikit penjelasan dari sahabatnya Anis, dalam hatinya dia sepakat dengan Anis. Gelar dan sekolah ternyata bukan jaminan bagi baik atau buruknya nurani seseorang, apalagi menjadi pemimpin. Tipe orang seperti itu, adalah tipe orang yang egois. Sukanya hanya mencari kesenangan sendiri lalu melupakan orang lain. Nasihat Anis, membawa Anus akan sebuah kesadaran baru dan,

Anus : oh...jadi orang yang suka main dengan yang palsu-palsu itu adalah orang hanya mau orgasme sendiri, begitu? Kalau memang itu, maka manusia tipe itu juga tidak tau malu. Ah...kasihan, nasib negeri ini semakin terpuruk.

Anis : Yah teman...jadi kenapa kau harus pusing dengan telepon gelap, pusing dengan urusan yang palsu dan asli? Tugas kau sebagai ketua partai adalah memberikan pencerdasan politik kepada masyarakat, dengan cara benar. Soal istrimu yang termakan isu itu, nanti saya yang menjelaskan. Yang penting kau tenang. Dan kau ingat, Politik di kadipaten ini ibarat manusia kecanduan boneka sex, kau setuju?

Anus : Terimakasi Anis. Syukur Tuhan mempertemukan saya dengan kau. Kau orang baik, kau bijak, kau juga cerdas, kita masih punya nurani untuk kampung ini, jadi mari kita gandeng tangan untuk buat pencerdasan politik kepada kita punya warga.
Wangatoa, 30 April 2016
Yogi Making