Catatan : Ceritera
ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang
sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
![]() |
Gbr. By Google.com |
Soal dugaan identitas palsu yang dialamatkan kepada Bupati
Kadipaten Palsu, terus saja menjadi tranding topik di berbagai media massa.
Tentu saja, Bupati tak rela di sebut berindentitas palsu. Melalui berbagai
kesempatan Bupati berupaya untuk menyakinkan warganya bahwa dia adalah asli.
Klarifikasi juga di sampaikan kepala Penerangan Kadipaten Palsu.
Soal klarifikasi Tuan Bupati adalah wajar dan memang
undang-undang Negara Antaberan memberi ruang kepada yang di sangkakan untuk
menipu eh...maksudnya membela diri. Tapi sayangnya, klarifikasi juga di
sampaikan pihak lain, yang memang tidak punya kaitan apapun dengan kbahar buruk
itu.
Pihak lain itu salah satunya adalah klarifikasi dari kepala
Penerangan Kadipaten Palsu. Oleh Anis klarifikasi Kepala Penerangan Masyarakat
Kadipaten Palsu itu di nilai salah kaprah. Untuk itu, sebagai tokoh dia merasa
perlu memberi pengertian kepada kepala Abdi Penerangan Masyarakat bahwa yang
dia lakukan adalah salah. Peringatan itu Anis lakukan melalui sebuah warkat
yang dia tulis tangan. Berikut petikan suratnya :
Saudara Kepala Penerangan Kadipaten Palsu, salam sua. Saya yakin Anda
sehat-sehat saja dan berada dalam lindungan Yang Maha Esa.
Belum lama ini saya baca klarifikasi saudara tentang masalah indentitas
palsu Bupati Kadipaten Palsu di media massa. Menurut saya, dalam menjalan tugas
dan fungsi saudara sangat loyal. Tugas saudara memang begitu, menjeleskan
kepada kami tentang semua hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pemerintahan.
Namun sayangnya, klarifikasi yang saudara sampaikan melalui media massa
itu berlebihan. Sepertinya saudara mulai lupa, atau mungkin pura-pura pikun
sehingga saudara mulai linglung, mana bagian yang menjadi bidang tugas saudara
dan mana yang bukan.
Soal identitas bupati yang di duga palsu, menurut saya itu urusan
peribadi. Biarkan yang bersngkutan yang mengklarifikasi. Sementara tugas
saudara hanya sebatas menjelaskan soal akibat dari masalah yang menimpa Bupati.
Jika di tanya wartawan soal benar atau tidaknya dugaan itu, tak perlu saudara
jelaskan. Prinsipnya saudara hanya cukup mengklarifikasi pengaruhnya terhadap
agenda penyelenggaraan pemerintah.
Saya yakin saudara tau itu, namun saudara tak kuasa melawan perintah.
Iya...khan? Saya dan kami semua rakyat percaya kalau yang saudara jelaskan
adalah perintah tuanmu bupati. Dan saudara hanya mengatakan, “saya adalah
bawahan dan hanya menjalankan tugas,” kalau alasan itu yang ada dalam benakmu,
maka saya mulai yakin kalau loyalitas saudara adalah loyalitas buta.
Agar saudara paham, perlu saya jelaskan begini. Soal sangkaan sekolah
atau tidaknya tuan saudara, adalah masalah peribadi. Bupati adalah jabatan yang
di dalamnya melekat tanggungjawab peribadi seseorng yang di bebankan kepadanya
karena di pilih melalui sebuah proses demokrasi. Jabatan tidak sekolah. Yang
sekolah adalah pribadi yang kemudian di pilih menjadi Bupati. Jabatan, berkait
erat dengan fungsi tuanmu untuk memerintah. Maka urusanmu adalah urusan
pemerintah. Saudara adalah kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu, bukan
Juru Bicara dari tuanmu itu. apakah saudara paham?
Hahaha... pasti belum pahamkan? Mari saya ajak saudara untuk berpikir
soal sex. Nah...mungkin saudara pikir itu jorok. Ya khan..? soal yang ini,
tugas saudara adalah menjelaskan kepada warga bahwa sex itu indah,
menyenangkan, menenangkan, dan sex adalah suci. Sifat sucinya itulah maka sex
hanya boleh dilakukan dengan pasangan (suami/istri) yang di materaikan oleh
Tuhan melalui tangan-tangan terurapi.
Tetapi dalam klarifikasi saudara mengenai sekolah tuanmu itu,
sepertinya saudara sedang menjelaskan kalau sex itu indah dan menyenangkan dan
boleh dilakukan siapa saja, kapan saja, bahkan dengan cara apapun. Sepertinya
saudara melegalkan pemerkosaan, pelecehan sexual, sex bebas, atau lainnya yang
di larang hukum negara dan hukum agama.
Saya juga yakin kalau saudara tahu bahwa matahari itu terbit setiap
hari di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat, yah...karena saudara benar-benar
sekolah. Dan asli saudara sekolah. Sayangnya, karena tugas, dan merasa sebagai
bawahan, saudara pun siap, eh..bukan. Salah saya ganti dengan kata pasrah,
yah...saudara pasrah untuk menjelaskan kepada kami warga bahwa kata Bupati,
matahari itu terbitnya di sebelah barat dan terbenam di ufuk timur. Lalu
saudara memaksa kami untuk percaya semua pembenaran itu. (saya harap saudara
belum gila)
Saya yakin saudara ingin melawan perintah tetapi seperti seorang
impoten berpikir sex. Niat untuk merasakan kenikmatan berhubungan sex hanya
berputar-putar dalam otak. Hehehe...sedih saya.
Saudaraku Kepala Penerangan Masyarakat Kadipaten Palsu. Saudara adalah
anak yang lahir dari tanah ini, berdamailah dengan tanahmu, berdamailah dengan
ibumu, ayahmu, dan kami saudaramu. Lakukan apa yang baik untuk kami, untuk
sesamamu anak tanah ini, katakan yang benar itu adalah sebuah kebenaran, dan
jangan lagi membuat pembenaran atas kesalahan.
Jangan takut hilng jabatan, jangan mau menyandang gelar penjilat
pantat, karena tanah ini, juga kami saudaramu tak pernah ajari anda untuk
menjilat. Jangan takut hilang jabatan, karena kembali menjadi petani pun kau
bisa. Jika di paksakan, relakan jabatan itu kepada orang lain yang pasrah
menjadi penjilat, dan kau kembali menjadi petani. Kau dibesarkan oleh petani,
sekolahmu di bayar dengan jambu mete, kemiri, nenas, alpokat.
Demikian surat saya ini, dan saya doakan untuk saudara segera di
pulihkan kesadaranmu oleh Tuhan agar kembali menjadi anak dari tanah kadipaten
palsu ini, kembali berpijak pada bumi tempat plasentamu di kuburkan. Amin,
Salam Demokrasi. (Anis, Warga Pedalaman)
Wangatoa, Selasa 17 Mei 2016
Yogi Making