Minggu, 30 September 2018

Menaklukan Keangkuhan Ile Lewotolok



Gunung Lewotolok atau akrab dikenal dengan Ile Ape merupakan gunung berapi yang menjadi salah satu ikon pariwisata di Kabupaten Lembata. Gunung dengan ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut (dpl) ini mampu membius wisatawan yang gemar trekking.

Bila dalam kondisi prima, wisatawan dapat mencapati titik puncaknya dalam waktu 3 jam. Menaklukkan puncak Ile Lewotolok adalah sebuah kesempatan langka, apalagi menyaksikan matahari terbit dari atas puncak adalah sebuah pengalaman yang sulit terlupakan.

Puncak Ile Lewotolok, Foto Yogi Making
Pengalaman menarik ini saya dapatkan ketika ikut tur pendakian bersama Kris, seorang teman berkebangsaan Jerman. Kami berangkat dari Lewoleba menuju Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape. Memang sebelumnya kami sudah membuat janji dengan seorang pemandu (guide) lokal yang sengaja kami ajak sebagai penunjuk jalan. Tiba di Jontona, pemandu warga Jontona yang akrab disapa Elias Lesu ternyata sudah siap. Sebelum berangkat Lesu tak lupa menyuguhkan minuman ringan dan jagung titi, makanan khas orang Ile Ape.

Pukul 2 dinihari kami pun mulai pendakian, sahabat saya ini menolak untuk memulai pendakian dari titik Kampung Adat Lewohala, padahal kami sedikit dipermudah dengan menggunakan sepeda motor menuju kampung adat. Sahabat Jerman ini, ternyata ingin mencoba treking dengan jalur yang lebih menantang. Karena itu dia mendesak kami untuk memulai titik nol pendakian dari Desa Jontona. Singkat cerita, kami menuruti kemauan Kris, pendakian pun dimulai.

Perjalanan pagi ini memang sangat memicu adrenalin. Betapa tidak? Saya memang orang Ile Ape atau tepatnya berasal dari Desa Jontona, namun kegiatan pendakian seperti ini adalah pengalaman pertama. Apalagi kebiasaan saya yang tidak pernah berolah raga, membuat saya sedikit kepayahan dalam perjalanan awal.

Kendati demikian, tekad untuk menaklukkan puncak Ile Lewotolok terus mendorong saya untuk tetap bersemangat. 1,5 jam jam perjalanan kami pun tiba di Kampung Adat Lewohala. Sejenak kami beristirahat. Sambil meneguk air mineral yang saya bawa, terdengar Elias, sang pemandu sedikit memberi penjelasan tentang kampung adat. Kris yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini terlihat serius mendengarkan sambil sesekali mengajukan pertanyaan.

Setelah kurang lebih 10 menit berlalu, perjalanan dilanjutkan. Treking selanjutnya terasa lebih menantang. Jalan lurus dan lebih menanjak, inilah yang membuat saya dan Kris sedikit kepayahan. Suasana masih gelap, jalan setapak hanya diterangi lampu senter kecil yang memang sudah kami persiapkan masing-masing. Sang pemandu meminta kami untuk mempercepat langkah, agar kami bisa dengan leluasa menyaksikan panorama mentari pagi dari atas tempat peristirahatan yang kedua.

Suasana di ketinggian pagi ini lumayan dingin, keringat membasahi baju. Masing-masing kami cukup serius menapaki jalan yang memang terasa makin sulit.

Kendati kepayahan, tapak-tapak pendakian terus kami lanjutkan. Perlahan namun pasti, kami meninggalkan perkebunan kelapa, dan memasuki hutan kayu. Saat itu waktu sudah menunjuk sekitar pukul 4.30 pagi, kicauan burung mulai terdengar. Hawa terasa kian dingin. Bau sulfur dari puncak gunung pun mulai tercium. Energiku sedikit demi sedikit mulai terkuras, namun Kris dan Elias terlihat masih sangat bersemangat. Melihat kondisi saya yang mulai tampak kelelahan, Kris mengusulkan agar kami beristirahat sejenak untuk menikmati air dan makanan ringan yang kami bawa.

“Yah…kita istirahat sejenak, tapi kita tidak boleh lama. Takutnya kita terlambat menyaksikan matahari terbit,” kata Elias Lesu. Pemandu yang fasih berbahasa Inggris ini menjelaskan, lama perjalanan menuju puncak dari hutan kayu atau dalam bahasa setempat disebut dengan “ru one” ini, masih kurang lebih 1,5 jam lagi.

Usai melepas dahaga dan menikmati makanan ringan, energi saya terasa mulai pulih. Semangat untuk menaklukkan puncak gunung api yang masih aktif ini kembali bangkit. Perjalanan kami di pagi ini terasa kian cepat, belum sampai 20 menit, kami sudah melawati hutan kayu. Di depan kami mulai terlihat samar puncak yang berdiri megah dengan asap yang mengepul.
Selanjutnya memasuki padang savana, dengan tanah yang lembut dan mudah runtuh membuat kami sedikit berhati-hati.

Kris dan Elias berada kurang lebih 10 meter di depan saya. Sesekali mereka menoleh untuk memantau sambil memberi semangat kepada saya yang memang mulai kelelahan. “Sudah dekat, harus semangat brother,” kata Kris menyemangati saya. “Ok Kris, saya baik saja, teruslah kita melangkah,” sambut saya.

Tak terasa, kendati kelelahan kami akhirnya tiba disebuah tempat yang menurut sang penunjuk jalan adalah tempat favorit bagi setiap pendaki untuk menikmati mentari pagi. Panorama alam Lembata dari atas ketinggian sungguh menakjubkan.

Semua lelah hilang, seketika menyaksikan surganya Lembata dari puncak Ile Lewotolok. Sebuah keindahan yang sulit saya lukiskan dalam kata-kata dan sungguh menggambarkan keangungan Sang Pencipta. Memang tak salah jika orang sering memberi julukan, Lembata adalah surga.

Setelah puas mengambil gambar, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju kawah yang terletak persis di bawah puncak berapi Ile Lewotolok. Perjalanan jauh dan melelahkan, tidak membuat nyali saya ciut. Semangat untuk segera menaklukan puncak gunung yang nampak sombong dari kejauahan itu terus menggelora. Cuaca dingin dan bau sulfur yang menyengat hidung, serta rasa lapar semua terabaikan kala kaki kami berhasil menggapai kawah mati di bawah puncak berapi.

Kawah dengan hamparan pasir putih seluas lapangan sepak bola membentang di hadapan kami. Sungguh menakjubkan. “Kita hanya bisa sampai di sini, selebihnya keatas puncak tidak bisa,” kata Elias Lesu. Kurang lebih satu jam kami berada di dalam kawah. Setelah puas menikmati pemandangan pasir putih kawah, kami pun bergegas turun. Dengan sisa tenaga dan kebanggaan karena berhasil menaklukan sang puncak yang sombong, perjalanan pulang kami terasa lebih cepat. Pukul 7.30, kami kembali menginjakan kaki di Kamung Baopukang, Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur.

Tentang Gunung Ile Ape

Ile Ape secara harafiah diartikan sebagai Gunung Api (Ile: gunung, Ape: api). Menurut catatan, gunung dengan tinggi 1.450 meter di atas permukaan laut ini pernah meletus sebanyak enam kali, terhitung sejak tahun 1660, tahun 1819, 1921 kembali meletus. Tahun 1864, 1889 dan terakhir pada tahun 1920. Awal tahun 2012 dan 2017 sempat sempat bergejolak, namun tak sampai meletus.
Kawah Mati, Ile Lewotolok. Foto : Yogi Making

Untuk mencapai puncak, bisa ditempuh dari beberapa titik. Di antaranya dari Desa Jontona, dari Desa Bungamuda, dari Desa Lamatokan dan dari Desa Kolontobo. Pilihan termudah, adalah treking dari Jontona juga dari Desa Kolontobo, karena para pendaki bisa menempuh setengah perjalanan dengan menggunakan sepeda motor.

Jika pilihannya dari Desa Jontona, maka kendaraan yang kita tumpangi akan berhenti di Kampung Adat Lewohala, untuk selanjutkan di teruskan dengan berjalan kaki. Infomasi dari pemandu lokal, jika titik nol pendakian dimulai dari Kampung Adat Lewohala, maka jarak tempuh bisa mencapai 2 jam perjalanan.

Di Desa Jontona sendiri ada beberapa orang yang bekerja sambilan sebagai pemandu. Sekali mengantar wisatawan menuju puncak Ile Lewotolok, seorang pemandu di hargai dengan Rp 500 ribu hingga Rp. 700 ribu atau tergantung kepandaian menawar harga. (Yogi Making)

Artikel ini  terbit di www.floresbangkit.com



Jumat, 28 September 2018

Tanpa Alat Ikan pun Menghampiri Manusia



Rebutan masuk ke laut, Foto : Yogi Making
Firdaus sudah lama menghilang dan rasanya kisah firdaus hanyalah sebuah keniscayaan untuk di temukan dalam kehidupan dunia modern. Namun budaya penangkapan ikan di Kampung Lewolein, desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, memberi gambaran kalau Firdaus itu benar-benar ada. Betapa tidak, rombongan ikan liar yang hidup bebas di laut lepas ternyata bisa akrab dengan kehidupan manusia.
Rombongan ikan di Lewolein, dalam waktu tertentu datang ke bibir pantai dan “memasrahkan” dirinya untuk ditangkap, bahkan ceritera yang berhasil dihimpun media ini menyebutkan, rombongan ikan itu, bisa di panggil sewaktu-waktu jika di butuhkan. Bagi orang Lewolein, ikan adalah sahabat, dan siap membantu ketika manusia dalam kesulitan.

Pengalaman menarik itu dialamai langsung kala media ini diajak untuk meliput prosesi “re’wa ik’e” (tangkap ikan-Lewolein, Red), di pantai teluk Lewolein, Sabtu (16/5/2015).  re’wa ik’eadalah budaya penangkapan ikan yang diwariskan secara turun-temurun. Ikan Jenis Lamuru atau tembang, dalam sebutan masyarakat Lembata merupakan ikan “piaraan” masyarakan Lewolein. Bila saatnya tiba, ratusan masyarakat Lewolein berbondong-bondong merendam diri kelaut dan menangkap ikan sepuasnya, semampunya untuk dibawah pulang untuk memenuhi kebutuhan eknomi rumah tangga.

Amir Raya Paliwala, tokoh adat Lewolein ini menuturkan, budaya penangkapan ikan yang diwariskan secara turun-temurun ini, baru kembali hidup. Tiga tahun sebelumnya, ikan Lamuru atau ikan piaraan orang Lewolein sempat menghilang dari sisi kehidupan masyarakat. Dia mengatakan, hal ini terjadi karena ada sedikit pertentangan dalam tubuh kelompok suku yang dianggap sebagai “pemilik” ikan.

“Suku pemilik ikan adalah Paliwala. Suku ini terbagi dalam tiga tingkatan dengan tugas dan tanggungjawab yang berbeda, yakni Paliwala Iku, Paliwala Koro, dan Paliwala Kote. Dalam urusan dengan laut, di pegagang oleh suku Paliwala Iku. Namun karena diantara kami ada sedikit perselisihan, jadi leluhur marah, akibatnya ikan menghilang selama tiga tahun. Sekarang ikan baru datang lagi, karena kami baru kembali baikan,” tutur Amir.

Dia mengatakan, dalam struktur adat masyarakat Lewolein, Paliwala merupakan suku yang tuan tanah, dan salah satu tugas dari suku ini adalah berkaitan dengan menjaga keselarasan hidup antara manusia dan alam, dengan cara melakukan upacara ceremonial adat, memberi sesajian kepada wujud tertinggi yang mereka sebut dengan “Lera wulan tana ekan, ama opo koda kewokot”. Menurutnya, alam akan baik dan bersahabat dengan manusia, jika manusia mampu menjaga dan memanfaatkan alam secara baik pula.
Berendam sambil menangkap ikan Foto : Yogi Making

Menjaga alam harus dimulai dalam diri, kata tokoh tuan tanah ini. hubungan antar sesama pun harus baik. Leluhur sang penjaga semesta marah jika hubungan antar manusia tak bersabahat, bersamaan dengan itu alam akan murka, dan menjauh dari kehidupan manusia.

“Bagaimana leluhur mau membagi rejeki untuk kita, kalau kita tidak jaga alam ini dengan baik, kalau hubungan antara kita juga tidak bersahabat, kita saling bermusuhan, atau ada dendam antar kita? Tuhan saja tidak mau kalau kita berserah diri kepada-NYA tetapi kita masih menyimpan dendam dengan dengan sesama,” ujarnya.

Semetara itu, tokoh Lewolein lainya, Lusius Loli Making yang di wawancara beberapa saat setelah mengikuti pesta penagkapan ikan menjelaskan, ada tanda khusus dimana suku penjaga ikan itu tau, kalau ikan sahabat mereka sudah datang berkumpul dan siap untuk di tangkap. Dia mengatakan, leluhur datang dan menjelma dalam bentuk ular laut, berwana hitam putih, berekor ceper. Ular jenis ini datang kerumah penjaga ikan, bahkan tidur diantara manusia.

“Kehadiran leluhur “Hari Lewa, boto bolo” (leluhur dari laut-red) ini bukan fiksi. Kita semua bisa lihat. Tetapi dia tidak berbahaya, dia sangat jinak dengan manusia. Kalau tanda itu sudah ada, biasanya nanti ada orang khusus yang tugasnya mengamati ikan akan datang lapor bahwa sekarang ikan sudah berkumpul. Setelah menerima laporan, merekan menghitung waktu, terutama saat musim surut. Penangkapan ikan, baru terjajdi saat pemilik ikan sudah menggelar ritual adat. Setelah itu, penjaga ikan datang ke pemerintah desa untuk sampaikan kalau ceremoni sudah dibuat, jadi tolong umumkan kepada masyarakat, bahwa besok turun tangkap ikan,” jelas Lusius, yang tak lain adalah guru PNS pada salah satu sekolah dasar di kecamatan Lebatukan itu.
Berburu ikan Foto : Yogi Making

Ceritera guru Loli itu dibenarkan juga oleh Eustakius Rafael Suban Ikun,tokoh yang pernah menjabat sebagai kepala desa Lewolein dua periode. Menurutnya, cara menyampaikan masyarakat untuk menangkap ikan menggunakan bahasa isyarat. Dalam pengumuman, pemerintah menyampaikan dalam bahasa isyarat.

“Masyarakat disini sudah tau. Kalau ada pengumuman bahwa, anak kecil, orang besar, tua, muda, laki dan perempuan, besok kita kerja bakti, berarti ada penangkapan ikan. Tetapi kalau pemerintah umumkan bahwa, besok orang besar turun kerja bakti, artinya benar kita kerja bakti di kampung,” ulasnya.

“Pesta” penangkapan ikan di kampung pesisir utara Lebatukan itu berbeda dengan cara penangkapan ikan umumnya. Warga dilarang mengunakan alat bantu seperti pukat, jala atauperalatan tangkap lain. Budaya penangkapan ikan lewolein ini unik, masyarakat hanya menangkap dengan menggunakan tangan. Saat turun kelaut, semua warga menggenakan sarung, yang sudah diikat pada tubuh dengan cara sedemikian rupa sehingga terdapat semacam kantong besar. Ikan yang berhasil ditangkap, dimasukan kedalam kain yang terlilit kuat pada tubuh setiap warga.

Pesta penangkapan ikan ini hanya berlangsung tak lebih dari satu jam. Warga boleh, menangkap sebanyak-banyaknya, semampunya.

Seperti disaksikan, penangkapan ikan yang berlangsung selama kurang dari 1 jam itu berlangsung meriah, teriakan warga tanda kebahagiaan, terdengar membahana memecah kesunyian pantai Lewolein.

Tak peduli, kecil atau besar, tua maupun muda, petani, pegawai, guru, bahkan pejabat sekalipun berlarian meceburkan diri kedalam laut, tempat romobongan ikan berkumpul, semua seakan berlombah untuk mendapatkan yang terbanyak. Saya merinding, ketika menyaksikan peristiwa langkah ini. Sungguh, alam benar-benar bersahabat dengan manusia.

Moting

Dalam budaya penangkapan ikan dikenal juga istilah moting. Moting dalam bahasa Lamaholot merupakan tempat berkumpul satu kelompok orang yang se faham. Kelompok ini, biasanya terdiri dari orang-orang yang berdekatan kebun, atau juga tetangga bahkan boleh berbeda suku.Dalam budaya penangkapan ikan di Lewolein terdapat lima moting.

Setiap moting, memiliki tugas untuk menjaga, dan mengamati ikan. Jika dalam pengamatan, ikan piaraan yakni, ikan jenis Lamuru sudah berkumpul, salah satu dari kelompok moting itu (biasanya orang yang ditugaskan untuk menjaga dan mengamati ikan dalam moting) lalu menyampaikan informasi kepada suku tuan tanah, atau orang pemilik ikan, untuk selanjutnya di gelar acara cermonial adat penangkapan ikan.
Ikan Hasil Buruan Foto : Yogi Making

Ceritera tentang moting ini disampaikan Sisko Making, orang muda Lewolein itu menjelaskan, terdapat lima moting di Lewolein, masing-masing moting Muda Langu, moting Obe, Woi, moting Gos Bele, Pao Langu. Dalam setahun, tempat penangkapan ikan dilakukan secara bergilir pada masing-masing moting.

“Kali ini, giliran moting Obe punya. Nanti di musim surut berikut, dia akan pindah lagi ke moting yang lain. Setiap orang yang turun menangkap ikan, wajib menyerahkan sedikit dari hasil tangkapan ke pemilik moting, nanti ada orang yang bertugas khusus untuk jalan ambil ke masing-masing orang.
Ikan yang dikumpul dari warga itu, akan di bagi merata ke setiap anggota moting.” Jelas Sisko.

Sebagaimana dalam ulasan terdahulu, ikan hasil tangkapan, selain dijadikan santapan, tetapi sebagian akan di jemur kering untuk dibarter dengan jagung ke warga-warga di pedalaman Lebatukan.
Untuk itu, informasi penangkapan ikan, wajib disebar ke warga pedalaman. “nanti hari selasa, saat pasar di Tapolangu, ada barter antara orang lewolein dengan orang dari pedalaman. Biasanya, ikan dihitung pertali, satu tali ada minimal dua puluh ekor, ditukar dengan jagung satu mongan (1 mongan = 5 batang jagung)” jelasnya lagi.

Sisko sang pengusaha muda ini juga menuturkan, budaya penangkapan ikan tidak sekedar tergantung tanda, namun bisa ada pengecualian, terutama untuk menghormati tamu. “Kalau ada tamu penting datang, biasanya kami buat upacara ini, selain untuk tamu kenal budaya kami, juga ikan hasil tangkapan, untuk dipakai menjamu sang tamu,” tambahnya.

“Firdaus Yang Kembali”

Firdaus atau dalam sebutan Yunani paradeisos, berarti kebun atau surga. Tempat kehidupan manusia pertama Adam dan Hawa. Dalam ceritera kitab perjanjian lama, kehidupan manusia pertama yang mulanya digambarkan sangat akrab dengan alam, hancur karena perbuatan dosa. Sejak itulah, taman kehidupan nan damai tak lagi ditemukan. 

Khayalan yang demikian indahnya itu menggugah pujangga Inggris, John Milton (1608-1974), dengan karya tulis yang mengagumkan “Paradise Lost” (16670) atau Firdaus yang hilang. Kemudian Paradise Regained (1671) kisah kepahlawanan untuk menemukan kembali Firdaus yang hilang. Andai saja, Milton adalah warga Lewolein, mungkin dia akan mengatakan kalau Firdaus yang hilang itu ditemukan di Lewolein. Dan pastinya, orang Lewolein adalah pahlawannya.

Keselasaran hidup antara manusia dan alam yang ditunjukan masyarakat adat Lewolein, sepatutnya menjadi pelajaran berharga untuk semua kita, terutama untuk kembali “bertobat” dan berjanji untuk berdamai dengan alam. Sudah saatnya masing-masing kita berusaha untuk kembali menciptakan “Firdaus” dalam setiap lingkungan tempat kita hidup.

Lewolein
Landscape Pantai Lewolein-Lembata Foto : Yogi Making

Kampung Lewolein, Desa Dikesare berjarak 27 kilo meter dari Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata. Pengunjung tak perlu bingung untuk datang ke sana, menggapai Lewolein tidak sulit, karena selain bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi, juga banyak tersedian kendaraan umum, dan kendaraan sewaan. Soal harga sewaan tergantung kepandaian untuk bernegosiasi. Prinsipnya, harga sewaan tak mungkin merobek kantong.

Lewolein sejak dulu dikenal sebagai sebuah destinasi pariwisata, pantainya terkenal indah dengan panorama alamnya yang eksotik, terdapat dua tanjung yang mengapit dari sisi kiri dan kanan. Jauh di depan terlihat megah gunung Ile lewotok.

Lewolein juga dikenal sebagai tempat persinggahan, karena itu, disisi kiri dan kanan jalan terdapat lapak jualan. Berbagai jenis makanan lokal, seperti ketupat, ikan bakar singkong rebus, pisang dan banyak lainnya tersaji dan silahkan dipesan sesuai selera. (Yogi Making)

Artikel ini pernah dimuat di Majalah On Line www.floresbangkit.com. Artikel ini meraih 
juara 2 dalam lomba Menulis Bahari Tingkat Nasional tahun 2015 kategory media on line yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata RI

"Werung Lolong" di Lewohala Ritual Pemersatu Anak Suku



Lewohala.com- Pesta Kacang merupakan ritual adat tahunan untuk mensyukuri rezeki dari Yang Maha Kuasa  yang diperoleh Masyarakat Adat Lewohala selama satu tahun. Pesta Kacang atau Werung Lolong (Lewohala-Red) melibatkan 77 suku yang tersebar di 7 kampung dalam wilayah Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, yakni Riang Bao, Ohe, Woipuke, Muruone, Kimakama, Woi Waru, Baopuke.  
Saat werung lolong tiba, semua anak keturunan lewohala dari 77 suku berkumpul di kampung adat lewohala, 3 kilo meter dari puncak gunung Ile Lewotolok. Masing-masing suku menempati satu rumah adat.

Puncak upacara Werung Lolong ditandai dengan acara U’te Taha Lango Bele atau
sora U’te Lango  Bele (Makan Kacang di Rumah Besar), dimana semua suku dari strata tertinggi (Wung Bele-Lamaholot, Red) berkumpung di Lango Bele (rumah besar) untuk makan bersama.

Menuju uta taha lango bele, sebelumnya pada setiap suku dirumah adat masing-masing wajib melewati dua porses ritual, yakni ritual yang digelar khusus untuk rumah adat atau Upacara Pau Lango (upacara memberi makan rumah adat suku, dan proses pembersihan diri setiap anak suku. Dua upacara ini dipimpin oleh Kwina (suami dari saudari dalam suku).

Ritual Pau Lango
Upacara memberi makan rumah adat adalah bentuk dari rasa syukur kepada rumah adat sebagai tumpangan para lelehur suku, yang dipercaya selalu melindungi dan memberi rezki kepada setiap anak suku. Upacara ini diawali dengan “Hodi Ama Opo” (jemput arwah leluhur), dalam upacara ini, pemimpin suku memanggil semua arwah anak suku yang sudah meninggal. Penjemputan arwah leluhur dilakukan di depan pintu rumah adat, lalu dibawah masuk rumah, kemudian disemayamkan di tiang kanan rumah adat.

Proses kemudian dilanjutkan dengan “Teke Lau” atau “Pau Lango” dalam upacara ini, kwina bersama salah satu anak suku memberi sesajian berupa Tuak dan tumbukan beras dicampur ekor ikan kerapu putih. Setiap sudut rumah dan pasak pada bagian utama rumah di beri sesajian dan diperciki tuak.
Pau lango dikahiri dengan, memerciki darah ayam jantan pada bagian rumah yang sudah di beri sesajian.

Ritual Pembersihan Diri
Werung Lolong, merupakan moment untuk memanggil pulang semua anak Lewohala baik yang ada di kampung halaman Ile Ape, juga yang sedang merantau di luar pulau Lembata. Werung lolong juga merupakan moment untuk mempertemukan putra Lewohala dengan para leluhurnya.

Oleh karenanya
, orang Lewohala yakin kalau pertemuan dengan Leluhur suku dan leluhur lewohala bisa terjadi bila semuanya datang dengan sebuah ketulasan. Bila ada silang sengketa diantara anak suku, proses ritual adat di lango suku (rumah suku) tidak bisa berjalan normal.

Pembuktian ketulusan hati setiap anak suku terhadap panggilan kampung halaman dan leluhur ini, dilakukan dengan proses “Ha’pe Manu” (gantung anak ayam). Ritual hape manu diawali dengan semua anak suku yang hadiri dipanggil satu persatu untuk memegang anak ayam sambil mengucap janji, dan menyampaikan niat.

A
pabila semua niat anak suku tulus, maka anak ayam yang akan digantung sampai mati ini, kedua kakinya terbuka lurus, sebagai tanda lapangnya jalan. Namun sebaliknya, bila kedua kaki anak ayam menyilang, berarti masih ada persoalan yang menyelimuti suku.

Upacara ha’pe manu ini dipimpin oleh seorang dukun kampung (molan lewu) didampingi ata kwina dan ketua suku.

Upacara selanjutnya adalah “Ge’he Kenehe” (membuat api mengesekan dua bila bambu). Upacara ini berkaitan dengan Ha’pe Manu. Ketulusan semua anak suku yang datang ke rumah suku mulai diukur. Ata Kwina (Suami dari saudari dalam suku) mengambil peran menggesek bila bambu.

Bila semua anak suku hadir dengan ketulusan maka proses pembuatan api berjalan lancar. Namun jika terdapat masalah, api tidak akan muncul, walau asap ngepul menyelimuti bila bambu.
Disini, peran sang Molan Lewu untuk mencari tahu persoalan. Satu persatu masalah didalam suku disebut, sambil kwina terus menggesek bilah bambu, hingga akar masalah ditemukan.

Api dari hasil gesekan bambu itu, kemudian dibawah Kwina untuk diserahkan kepada
Istrinya yang sedang menunggu di tungku utama rumah adat. Api ditungku utama yang dihidupkan oleh istri dari kwina (saudari dalam suku) akan dimanfaatkan untuk memasak minyak kelapa. Minyak kelapa dimaksud, dimanfaatkan untuk mengurapi semua anak suku.

Pengurapan (Haru Dula-Lewohala, Red) kepada anak suku ini dilakukan oleh kwina. Satu persatu anak suku diurapi kwina dan diasapi dengan dupa. Upacara ini dimaksud untuk mendoakan agar sang anak suku selalu mendapat berkat dan diberi rezki selama setahun,
selain membuat janji untuk tidak lagi mengulang kesalahan yang pernah di buat.

Pengurapan dan pengasapan ini, juga dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit tertentu.
Setelah dua rangkaian acara ini dilakukan, acara selanjutnya adalah makan bersama. Pisang dan ayam bawaan setiap anak suku dibakar, kemudian dibagikan kepada semua anak suku yang hadir. Tidak lupa, acara makan bersama ini pun menghadirkan juga semua suku kle (suku kaka adik) untuk hadir di acara ini. Upacara ini disebut dengan “Tunu Muku Manu” (Bakar psang dan ayam).
Sebagai gambaran, rangkaian ritual adat pada setiap suku ini dilakukan pada malam sebelum U’te Taha Lango Bele.

U’te Taha Lango Bele Atau Sora U’te Lango Bele
Upacara ini, merupakan acara yang sangat ditunggu semua akan Lewohala. Betapa tidak, semua anak suku Wungg Belen berkumpul pada sebuah rumah besar (Lango bele) untuk makan bersama. Kegembiraan tampak pada wajah semua anak lewohala yang hadir disini.

Semua pria masing-masing suku, hadir ke Lango Bele dan sang istri membawakan makan berupa nasi dari beras yang dimasak campur dengan kacang nasih, dengan lauk ikan kerapu putih. Acara makan bersama ini boleh dibilang sangat meriah, karena dihadiri oleh ribua
n anak Lewohala.

Sama seperti proses yang dilakukan semua rumah adat masing-masing suku. Sebelum makan bersama dimul
ai, suku yang tuan rumah (Laba Making) yang menempati Lango be’le terlebih dahulu menggelar ritual Haru Dula (pengurapan), khusus untuk suku yang menempati Lango be’le ini, ritual haru dula di saksikan oleh semua anak Lewohala.

Segera setelah upacara Haru Dula selesai, dan proses memberi makan leluhur ditiang kanan rumah adat, makan yang dibawah para perempuan suku, dibagikan kepada semua anak suku yang hadir. makan bersama pun di mulai.

Upacara ini, selain untuk mewujudnyatakan ucapan syukur bersama sebagai orang lewohala yang sudah menerima berkah selama satu tahun berjalan, pun merupakan moment untuk mengikat eratkan semua anak lewohala yang dalam kesehariannya saling berjauhan, untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup.

Ritual makan bersama di Lango Bele ditutup dengan diskusi umum semua anak Lewohala. Banyak hal yang dibicarakan dalam diskusi ini, termasuk mencari solusi bersama untuk mengatasi persoalan antar suku. Pada intinya, diskusi dimaksud bertujuan untuk membahas persoalan kampung, dan mecari jalan keluar terbaik.

Tahapan Menuju Werung Lolong
Ritual “Werung Lolong” merupakan ritual adat tahunan yang digelar secara rutin oleh anak keturununan kampung Lewohala. Upacara ini dilaksanakan pada minggu ketiga atau minggu keempat bulan September atau pada minggu Kedua dan ketiga bulan Oktober.

Pesta kacang ditetapkan berdasarkan kalender musim orang Lewohala, dan dihitung pada saat bulan kabisat, atau orang Lewohala menyebutnya dengan ‘Wulan Lei Tou’

Untuk menuju upacara Werung Lolong masyarakat adat lewohala terlebih dahulu melewati beberapa tahapan. Porsesi ini diawali dengan pemberitahuan dari Bele Raya (Penguasa adat Lewohala). Bele Raya Lewohala terdiri dari 4 suku, yakni Hali Making, Soro Making, Duli Making dan Do Making.
Prosesi diawali dengan upacara “Sewe Nuku” atau mengantung daun lontar pada sebua tongkat kayu di tengah “Namang Lewohala” (Pusat Kampung Lewohala), upacara ini dilakukan oleh Suku Purek Lolon. Sewe Nuku biasanya dilaksanakan Minggu Pertama bulan dalam bulan pesta kacang dilaksanakan.

Tahap kedua dalam upacara ini,
tuka kiwan lua watan, yakni perjalanan dari gunung menuju pantai, oleh suku Purek Lolon dan Lamawalang. Ketika dipantai, mereka melempar sebungkus kecil daun lontar yang didalamnya berisi wua malu dan bako (siri pinang dan tembakau). Lemparan dilakukan oleh warga suku Lamawalang harus melewati pohon bakau disertai pukulan gong dan gendang, menandai pesta kacang akan berlangsung.

“Dora Dope” adalah berburu ayam dan Klope (ikan kecil yang biasa menempel di batang pohon bakau) perburuan ayam dilakukan didalam kampung, ayam yang diburu adalah ayam milik warga. Hasil tangkapan berupa ayam dan klope, akan digunakan untuk makan bersama saat pesta kacang.
Tahap ke empat, “Pelu Belai (makan nasi tumpeng adat).Makanan ini terbuat dari kacang panjang dan nasi dari beras merah yang dilaksanakan serentak anak-anak gadis dari suku Wungu Belumer yang dilaksanakan menjelang fajar menyingsing.

Tahap kelima, hodi elu (kesepakatan atau janji pesta).Membuat kesepakatan melaksanakan puncak pesta kacang.

Sora U’te Lango Bele atau Ut’e Taha Lango Bele merupakan tahapan ke enam, sebagai tahapan inti, dimana semua suku Wung Bele menggelar upacara makan bersama di Lango Bele (Rumah Besar).
Puncak pesta kacang sendiri terjadi pada tahap ke tujuh yang dilaksanakan serempak oleh suku Wungu Belen. Rangkaian selanjutnya adalah penu “koke Lera Tena,” sebagai acara pamungkas dari semua acara werung lolong.

Penu koke lera tena, dilaksanakan di korke, secara bersamaan oleh suku-suku wung bele dan suku wung belumer. 

Disamping upacara cermonial adat, masyarakat adat lewohala juga menggelar acara tari-tarian sebagaian ungkapan kegembiraan semua anak suku atas keberhasilan dan kegagalan yang diperoleh selama satu tahun.

Acara tari-tarian ini, digelar selama dua hari. Yakni hari pertama dilakukan soreh hari setelah makan bersama di Lango Bele, atau disebut dengan “Neba Uel” dan hari kedua disebut dengan “Neba Bele”. acara ini terpusat di Namang (pusat kampung), dengan melibatkan semua anak suku. (Yogi Making)

Artikel ini pernah dimuat di www.floresbangkit.com

Kamis, 20 September 2018

G E L A P



Gelap itu
Merah yang padam
Terang yang sirna
Hitam dan Buta

Gelap itu
Sebelum pagi datang
Setelah senjah pergi
Saat ditemani bintang
Waktu dicumbui bulan dan
Suara jengkrik menggerutu
Gelap itu
Pamitnya mentari
Listrik padam dan 
Ditemani temaram cahaya Lilin

Oh...Gelap itu
Janji menuju terang
Jalan buntu
Emosi yang merah dan
Gelap itu kalap

Gelap itu
Gelisah dan resah
Gelap itu
Rindu dan Takut

Gelap itu
Ada Kemesraan
Ada tawa nikmat di balik rindang bunga taman
Ada pelukan erat di pembaringan
Yang dibumbui desah nikmat
Dan rintih mendesah
Berujung bau keringat yang menyatu

Gelap itu
Perempuan yang pasrah
Lelaki yang garang
Nafas yang memburu
Birahi membuncah 
Dan gelap itu
Gelap itu dua tubuh terkulai layu

Gelap itu
Malam
Dan ucapan mesra
Selamat tidur sayang
Semoga Mimpimu Indah
(Yogi Making-Lelaki Kampung, Rabu 19/9/2018)


Selasa, 18 September 2018

Ruman Desa Terpencil, Kampung Literasi Budaya

Selat Ruman, By. Yogi Making

(Dalam Sebuah Catatan Perjalanan) 

Desa Ruman, kampung yang mungkin dari namanya, banyak diantara kita orang Lembata merasa asing di telinga. Ia, Desa  kecil di Tanjung Leur, Kecamatan Omesuri ini menurut saya adalah sebuah kampung Literasi Budaya. Lah koq..? yah, kampung yang terletak di tanah kedang ini, sesungguhnya di kuasai (baca di huni) paling banyak oleh suku pendatang. Banyak diantara penduduknya adalah anak keturunan Ile Ape.
Prosesi Hantaran  Keluarga Pria, Pra Akad Nikah By : Yogi Making
Putra Lewohala Lolo Melu, juga anak keturunan Kepitan Boyang dari Tolok Lama  Dike, Dike Tena Lema, hidup disini, di Rumang. Mereka mengikat diri dengan adat dan budaya Kedang, tapi sedikitpun tak meninggalkan kebiasaan Ile Ape. Disini mereka bersatu, yang penduduk asli kedang maupun pendatang. Orang Ile Ape menyebut saudara-saudaranya yang anak asli kedang sebagai “kakang aring” mereka berbaur dalam dua budaya yang berbeda. Seluruh penduduknya beragama muslim.

Sebagai warga kampung yang hidup jauh (nyaris terisolir) dari keramaian dan hiruk pikuk kota, membuat tali persaudaraan seluruh penduduk kampung kuat terikat.

Rumang diakui, sebagai Kampungnya “Orang Ile Ape” di Kedang. Selain jumah penduduk yang lebih banyak anak keturunan Ile Ape, secara politikpun, Ruman di komandani oleh kepala desa yang juga orang Ile Ape. Begitu juga dengan perangkat desa dan BPD. Saya mencatat, setidaknya dalam dua periode kepemimpinan di desa ini atau sejak Ruman menjadi desa definitive, kepala desanya adalah anak keturunan Ile Ape. Tidak masalah, dan aman-aman saja.

Sebagai informasi, penduduk Ile Ape terbanyak di desa ini, tercatat dari tiga marga, yakni Soromaking (Kultur Lewohala-Ile Ape, Desa Jontona), Langobelen dan Ladopurap (Desa Lewolotolok). Ada juga Marga Paokuma (dari Lamahala-Adonara), dan beberapa marga lain dari Ile Ape, yang dari sisi jumah tidak banyak.
Pose Berssama Pengantin, By Yogi Making

Minggu 16/9/2018, untuk kesekian kalinya saya dan Istri berkesempatan mengeksplor Desa Ruman. Senang sekali, berada di tengah-tengah keluarga saya disana, seperti bernostalgia. berkumpul di tengah komunitas muslim. Tak dibedakan, tidak kaku karena kami memang bersaudara. Mungkin situasi seperti inilah yang disebut, Pancasila yang hidup.  

Sebetulnya kami tidak datang untuk sekedar melancong, menikmati keindahan Ruman yang memang Indah, dan tersimpan sejuta kekayaan budaya dan alamnya. Tetapi kami datang untuk menghadiri acara Akad Nikah Saudari Sepupu saya, Habiba Soromaking, Putri Bapak Boli Ledo Soromaking dengan Adinda Tuaq Bin Adul Rasyid. Pria kelahiran Desa Bareng yang berdarah Lamahala.
Huf… Lelah karena perjalanan jauh menuju Ruman, juga jalanan Lembata yang tingkat kerusakannya masuk tingkat dewa. Tapi, jangan salah. Semua lelah perjalanan itu terbayar lunas dengan sambutan mesra keluarga, dan pesona alam yang indah. Ah..Ruman, entah sudah berapa kali saya datang kesana, tapi memang kampung kecil itu selalu membawa rindu untuk lagi dan datang lagi kesana.
Situs Batu Belut di Ruman, By Yogi Making

Datang ke Ruman, kita belajar banyak hal, belajar budayannya, belajar perpaduan hidup masyarakat beda asal, melihat situs-situs budaya yang menyimpan cerita tentang hadirnya manusia pertama di Lembata, juga belajar tentang manusia bercengkrama dengan buaya. Hewan buas yang di percaya sebagai leluhurnya Suku Kedang.

Jadi tunggu apa lagi? ayo..siapkan waktu, kita ke Ruman….
 (Yogi Making)

Sabtu, 15 September 2018

BONSAI

(Sajak Buatmu Yang Terpasung Kuasa)


Aku ingin tumbuh menjulang, meruang rimbun
Bukan hidup pada sejumput tanah berpasir
Yang sengaja kau beri batu-batu kerikil
Kau patahkan sayapku, lengan tanganku kau pelintir

Dengan kaki terpasung, aku terpaku menanti asupan
Yang gizinya kau batasi

Kau rebut aku dari duniaku
Kau ambil aku dari Tuhan yang menjadikanku ada
Kau singkirkan aku dari saudara-saudaraku
Derita ragaku kau abaikan
Lalu dengan ganasnya kau bentuk aku sesukamu
Semau-maumu demi hasrat nafsumu

Aku ingin bebas
Tapi kau memaksa untuk tunduk padamu
Menyembahmu Tuhan baruku
Aku tau kau bukan Tuhan
Tapi kau memaksaku

Sering aku memaksa untuk berkembang
Dan sesering itu kau siksa ragaku
Aku sakit
Tapi dilarang mengeluh
Sebab membuka mulut pun aku ditampar
Apalagi sekedar menyebut nama ibuku

Aku ingin bebas
Meruang rimbun, tumbuh menjulang menggapai langit
Tapi ragaku terpasung
Gerak kakiku kau batasi

Kau Tuhan baruku
Tahukah kalau aku cemburu pada sahabat-sahabatku
Yang bebas mencumbu pipit?

Ah..Mestinya Aku Melati,
Bukan sepohon bonsai
Yang rela di bentuk sesukamu

(Yogi Making-Lelaki Kampung, Sabtu 15/9/2018)

Jumat, 14 September 2018

Bara Terpadam Paksa



Ahhh... Kau bersabda bisu
Cuman mimik dan isyaratMu
Bara berbinar - binar lesu
Di dalam katup-katup cakarMu

Di sana.. di bukit semarak
di sana gelora samudera
Ahhhh... bara ku punah...
Tanyakan pada lonceng gereja
Tuliskan empati di tebing-tebing
Bara tertutup dalam tempurung basah......

Sahabatku .......pemusik bisu..
Kerabatku......biduan tuli....
Cinta...asa.... bait-bait syair
Terkubur dalam lara...
Bara ku terpadam paksa..

Daun- daun berderai lupus
Pohon-pohon tegar....
Menebus Bara.........

Lumpuh betis terbakar hujanMu
Kaku sendi ku direkat badaiMu
Sabda sang camar bual..
Duka pungguk..menatap bulan
Semut-semut lenyap oleh badangMu

Bersoraklah hai Kutu-kutu loncat
Rengkuh...alam Mu...
Menari Kumbang-kumbang racun
Senandungku remuk...
Karena aku bukan pemain kecapi
Karena mereka bukan penggesek biola.....
Karena dia bukan pemijat ototMu
Karena Kami haram Sodomi

Namun kami bukan tetap komponis
Kami terlahir legendaris
Kami terbentuk dari mahakarya
Puisi tanpa syair
Lirik tanpa lagu..
HatiMu tanpa rasa
CintaMu hujan Bara....
Bara, bara, bara,....
Zaman ini bukan zaman Barbar...

(By, Emanuel Ubuq)

Memantik Bara


(Sebuah jawaban terhadap Puisi "Bara Dipadam Paksa" Karya Eman Ubuq) 


Bara, membarah 
Mati sebelum membakar
Padam sebelum menghanguskan

Hanya arang
Hitam keriput
Dingin tak bernyawa
Gosong dan kotor

Barah, 
Menanti Api
Mebakar..Terbakar
Agar tempurung menjadi arang
hangus dan menjadi debu

(Yogi Making, Lelaki Kampung, 28 Agustus 2018)


Kamis, 13 September 2018

Kopi






Aroma menggoda
Membawa lamun pada parfum birahi malam
Ampas mengambang
Meliuk tenang bak tari perawan lugu
Mengantar mimpi pada lidah dan manis liur perempuan binal

Kopi bumbu celoteh para sahabat
Tentang janji pujangga panggung
Yang melacurkan idealisme
Demi kursi yang tak bersandar

Atau tentang
Selera pesta tuan penjaga negeri
Yang sukanya menghabiskan uang untuk berfoya-foya
Dengan anjing piaraanya

Aku masih ada,
Bersama kalian
Dalam coloteh pagi ini
Karena kopi mempersatukan kita
Ditanah, tempat hidup pujangga tanpa hati

Aku masih ada
Menemani dan kita bercerita
Tentang tuan dan piaraannya

Yah…Kopi
Pekat nikmat
Menyatukan kita yang malang,
Mepersatukan mereka yang congkak,
Mengikat rasa yang senasib

Kopi
Celoteh tak boleh berakhir di dasar gelas
Sebab kita masih disini
Mari mendidihkan peluh dan air mata
Agar kata dan rasa tak boleh mati

(Yogi Making-Lelaki Kampung, Kamis 13/9/2018)