Gunung Lewotolok atau akrab
dikenal dengan Ile Ape merupakan gunung berapi yang menjadi salah satu ikon
pariwisata di Kabupaten Lembata. Gunung dengan ketinggian 1.450 meter di atas
permukaan laut (dpl) ini mampu membius wisatawan yang gemar trekking.
Bila dalam kondisi prima,
wisatawan dapat mencapati titik puncaknya dalam waktu 3 jam. Menaklukkan puncak
Ile Lewotolok adalah sebuah kesempatan langka, apalagi menyaksikan matahari
terbit dari atas puncak adalah sebuah pengalaman yang sulit terlupakan.
Puncak Ile Lewotolok, Foto Yogi Making |
Pukul 2 dinihari kami pun mulai pendakian, sahabat saya ini menolak untuk memulai pendakian dari titik Kampung Adat Lewohala, padahal kami sedikit dipermudah dengan menggunakan sepeda motor menuju kampung adat. Sahabat Jerman ini, ternyata ingin mencoba treking dengan jalur yang lebih menantang. Karena itu dia mendesak kami untuk memulai titik nol pendakian dari Desa Jontona. Singkat cerita, kami menuruti kemauan Kris, pendakian pun dimulai.
Perjalanan pagi ini memang sangat memicu adrenalin. Betapa tidak? Saya memang orang Ile Ape atau tepatnya berasal dari Desa Jontona, namun kegiatan pendakian seperti ini adalah pengalaman pertama. Apalagi kebiasaan saya yang tidak pernah berolah raga, membuat saya sedikit kepayahan dalam perjalanan awal.
Kendati demikian, tekad untuk menaklukkan puncak Ile Lewotolok terus mendorong saya untuk tetap bersemangat. 1,5 jam jam perjalanan kami pun tiba di Kampung Adat Lewohala. Sejenak kami beristirahat. Sambil meneguk air mineral yang saya bawa, terdengar Elias, sang pemandu sedikit memberi penjelasan tentang kampung adat. Kris yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini terlihat serius mendengarkan sambil sesekali mengajukan pertanyaan.
Setelah kurang lebih 10 menit berlalu, perjalanan dilanjutkan. Treking selanjutnya terasa lebih menantang. Jalan lurus dan lebih menanjak, inilah yang membuat saya dan Kris sedikit kepayahan. Suasana masih gelap, jalan setapak hanya diterangi lampu senter kecil yang memang sudah kami persiapkan masing-masing. Sang pemandu meminta kami untuk mempercepat langkah, agar kami bisa dengan leluasa menyaksikan panorama mentari pagi dari atas tempat peristirahatan yang kedua.
Suasana di ketinggian pagi ini lumayan dingin, keringat membasahi baju. Masing-masing kami cukup serius menapaki jalan yang memang terasa makin sulit.
Kendati kepayahan, tapak-tapak pendakian terus kami lanjutkan. Perlahan namun pasti, kami meninggalkan perkebunan kelapa, dan memasuki hutan kayu. Saat itu waktu sudah menunjuk sekitar pukul 4.30 pagi, kicauan burung mulai terdengar. Hawa terasa kian dingin. Bau sulfur dari puncak gunung pun mulai tercium. Energiku sedikit demi sedikit mulai terkuras, namun Kris dan Elias terlihat masih sangat bersemangat. Melihat kondisi saya yang mulai tampak kelelahan, Kris mengusulkan agar kami beristirahat sejenak untuk menikmati air dan makanan ringan yang kami bawa.
“Yah…kita istirahat sejenak, tapi kita tidak boleh lama. Takutnya kita terlambat menyaksikan matahari terbit,” kata Elias Lesu. Pemandu yang fasih berbahasa Inggris ini menjelaskan, lama perjalanan menuju puncak dari hutan kayu atau dalam bahasa setempat disebut dengan “ru one” ini, masih kurang lebih 1,5 jam lagi.
Usai melepas dahaga dan menikmati makanan ringan, energi saya terasa mulai pulih. Semangat untuk menaklukkan puncak gunung api yang masih aktif ini kembali bangkit. Perjalanan kami di pagi ini terasa kian cepat, belum sampai 20 menit, kami sudah melawati hutan kayu. Di depan kami mulai terlihat samar puncak yang berdiri megah dengan asap yang mengepul.
Selanjutnya memasuki padang
savana, dengan tanah yang lembut dan mudah runtuh membuat kami sedikit
berhati-hati.
Kris dan Elias berada kurang lebih 10 meter di depan saya. Sesekali mereka menoleh untuk memantau sambil memberi semangat kepada saya yang memang mulai kelelahan. “Sudah dekat, harus semangat brother,” kata Kris menyemangati saya. “Ok Kris, saya baik saja, teruslah kita melangkah,” sambut saya.
Tak terasa, kendati kelelahan kami akhirnya tiba disebuah tempat yang menurut sang penunjuk jalan adalah tempat favorit bagi setiap pendaki untuk menikmati mentari pagi. Panorama alam Lembata dari atas ketinggian sungguh menakjubkan.
Semua lelah hilang, seketika menyaksikan surganya Lembata dari puncak Ile Lewotolok. Sebuah keindahan yang sulit saya lukiskan dalam kata-kata dan sungguh menggambarkan keangungan Sang Pencipta. Memang tak salah jika orang sering memberi julukan, Lembata adalah surga.
Setelah puas mengambil gambar, kami lalu melanjutkan perjalanan menuju kawah yang terletak persis di bawah puncak berapi Ile Lewotolok. Perjalanan jauh dan melelahkan, tidak membuat nyali saya ciut. Semangat untuk segera menaklukan puncak gunung yang nampak sombong dari kejauahan itu terus menggelora. Cuaca dingin dan bau sulfur yang menyengat hidung, serta rasa lapar semua terabaikan kala kaki kami berhasil menggapai kawah mati di bawah puncak berapi.
Kawah dengan hamparan pasir putih seluas lapangan sepak bola membentang di hadapan kami. Sungguh menakjubkan. “Kita hanya bisa sampai di sini, selebihnya keatas puncak tidak bisa,” kata Elias Lesu. Kurang lebih satu jam kami berada di dalam kawah. Setelah puas menikmati pemandangan pasir putih kawah, kami pun bergegas turun. Dengan sisa tenaga dan kebanggaan karena berhasil menaklukan sang puncak yang sombong, perjalanan pulang kami terasa lebih cepat. Pukul 7.30, kami kembali menginjakan kaki di Kamung Baopukang, Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur.
Tentang Gunung Ile Ape
Ile Ape secara harafiah diartikan sebagai Gunung Api (Ile: gunung, Ape: api). Menurut catatan, gunung dengan tinggi 1.450 meter di atas permukaan laut ini pernah meletus sebanyak enam kali, terhitung sejak tahun 1660, tahun 1819, 1921 kembali meletus. Tahun 1864, 1889 dan terakhir pada tahun 1920. Awal tahun 2012 dan 2017 sempat sempat bergejolak, namun tak sampai meletus.
![]() |
Kawah Mati, Ile Lewotolok. Foto : Yogi Making |
Untuk mencapai puncak, bisa
ditempuh dari beberapa titik. Di antaranya dari Desa Jontona, dari Desa
Bungamuda, dari Desa Lamatokan dan dari Desa Kolontobo. Pilihan termudah,
adalah treking dari Jontona juga dari Desa Kolontobo, karena para pendaki bisa
menempuh setengah perjalanan dengan menggunakan sepeda motor.
Jika pilihannya dari Desa
Jontona, maka kendaraan yang kita tumpangi akan berhenti di Kampung Adat
Lewohala, untuk selanjutkan di teruskan dengan berjalan kaki. Infomasi dari
pemandu lokal, jika titik nol pendakian dimulai dari Kampung Adat Lewohala,
maka jarak tempuh bisa mencapai 2 jam perjalanan.
Di Desa Jontona sendiri ada beberapa orang yang bekerja sambilan sebagai pemandu. Sekali mengantar wisatawan menuju puncak Ile Lewotolok, seorang pemandu di hargai dengan Rp 500 ribu hingga Rp. 700 ribu atau tergantung kepandaian menawar harga. (Yogi Making)
Artikel ini terbit di www.floresbangkit.com