Catatan : Ceritera
ini hanyalah sebuah khayalan penulis. Bila ada nama, tempat dan kejadian yang
sama dengan yang ada dalam ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.
Di tuturkan, kalau satu waktu Anis, pria kharismatik asal kampung
pedalaman di minta menulis sebuah catatan yang isinya menggambarkan kondisi
umum Kadipaten Palsu untuk di kirim ke salah satu media massa terbitan ibu kota
negara Antaberanta. Bagi Anis yang serius menaruh perhatian pada pencerdasan
warga, melihat ini sebagai sebuah pintu masuk bagi upaya advokasi. Harapan pun
sederhana, minimal dibaca paling tidak oleh sebagian kecil warga kota pelanggan
media massa itu.
Tulisan yang kemudian di beri judul Palsu Itu Benar, Bukan Pembenaran ternyata di muat. Nah..agar tak penasaran berikut tulisan Anis yang terbit di media nasional negara Antaberanta itu.
Palsu Itu Benar,
Bukan Pembenaran
(oleh : Anis, Anak
Tanah Kadipaten Palsu)
Ribut-ribut soal palsu dan kepalsuan, di Kadipaten Palsu
bukan hal baru, atau benar-benar baru. Tidak! Soal palsu adalah benar bukan
pembenaran. Kalau tidak benar, bagaimana mungkin di ributkan, bahkan di
perebutkan.
Kondisi Kadipaten yang berjuluk Negeri Para Bandit itu
mengkhawatirkan, masyarakatnya dijadikan masyarakat tontonan dan sengaja di
bentuk untuk tidak berpikir benar, di buat untuk tidak mendalamai sesuatu
secara mendalam, karena sang pembentuknya berpikiran dangkal. Semuanya relatif
sifatnya sehingga membuat masyarakat menjadi labil dan bingung sendiri. Dalam
kondisi itu masyarakatnya dengan mudah di hasut untuk percaya pada kepalsuan
dengan cara pembenaran yang mengatasnamakan kebenaran.
Pemimpin di negeri ini bicara soal demokrasi dan keterbukaan
namun tidak paham, sehingga dalam penerapannya pun menjadi tidak benar. Palsu
kan? Yah..mau di bilang apalagi kalau bukan tidak asli. Kasusnya pun sudah
banyak. Bicara kontrol masyarakat melalui Dewan Pertimbangan Kadipaten DPK) atau
melalui media massa misalnya, dimasalahkan karena dianggap fitnah. Pokoknya, di
Kadipaten Bedebah itu semua harus terlibat dalam grup paduan suara agar nyanyian
harus sama, bahkan warga di doktrin supaya mimpi saat tidur pun harus sama.
Di Kadipaten Palsu Tidak boleh ada yang bersuara beda apalagi mencoba melawan kemauan sang pemimpin. Wartawan kritis di ancam, media labil di beli agar menjadi corong pembenaran dari kepalsuan sang pemimpin. Orang nomor satu dari kadipaten yang tidak asli tak hanya memilih media massa tapi para Abdi, bahkan mirisnya lagi ada oknum anggota DPK di bayar khusus untuk itu. orang pilihan di DPK pun tak berat kriterianya, paling tidak bisa diajak kompromi dengan kejahatan, sedikit punya keberanian untuk mempertahan ide, sedikit nyali untuk menggebrak meja jika argementasinya di bantah, dan yang paling utama adalah tak boleh lebih pintar dari sang Bos.
Memang demikian kondisi kadipaten yang menjadi bagian dari negeri Antaberanta. Ada lagi yang lucuh. Belum lama ini DPK dengan suara bulat memutuskan kalau Bupati terbukti memiliki identitas palsu, aneh..identitas palsu di Kadipaten Palsu, yah..ini benar bukan pembenaran. Dan yang paling santer terdengar hingga ke seantero negeri adalah soal sang pemimpin terbukti bersekolah di sekolah palsu, lha koq...Iya, sekolah palsu yang diajari oleh guru palsu, kalau guru palsu maka pelajaran adalah pelajaran palsu, dan soal nilai bagaimana? Em...kalau sekolah dan guru adalah palsu, maka nilainyan pun nilai palsu.
Aduh..kan ukuran kepintaran seseorang dilihat dari kemampuan akademisnya. Nah..jika semuanya palsu, bukankah itu di sebut tidak pintar? Lha..pantas saja dia-nya hanya mau memilih abdi yang tidak lebih pintar, mencari corong media massa yang missinya membuat warga/pembacanya berkurang kecerdasannya, pun termasuk menjaring corong oknum anggota DPK yang kecerdasanya seolah-olah.
Setelah semuanya terbukti palsu, masih ada juga orang yang mencoba mempengaruhi masyarakat untuk percaya kalau hasil temuan DPK itu adalah sebuah trik politik untuk menjatuhkan sang pemimpin. Caranya pun tetap cara lama, yakni, menebar ancaman untuk memenjarakan siapa saja yang percaya dengan keputusan DPK, tak cuma itu, anggota DPK (tentu yang bukan corong) pun terancam untuk di penjara.
Jika ancaman itu benar? Yah..tentu saja ini yang di tunggu-tunggu oleh isntitusi yang berwenang untuk memenjarakan orang. Ini peluang untuk menambah pundi kekayaan. Ini ruang untuk mendapat penghasilan tambahan. Mumpung pemimpin kadipaten palsu itu masih punya duit. Apalagi ini kesempatan, kesempatan dianya masih bupati.
Soal-soal yang dibicarakan dari awal, terutama soal kepalsuan itu benar-benar palsu, sungguh-sungguh tidak asli. Nyata-nyata palsu, terbukti palsu. Tapi yah..dari pada pemimpinnya malu (karena pemimpin tidak boleh malu, walau memiliki kemaluan) lebih baik di bilang benar dengan kata-kata benar yang baru. Pembenaran atas kesalahan yang telah dibuat agar tidak menjadi salah dan malah menjadi benar. Diputar-putar, dibolak-balik, pokoknya harus benar. Hayoo..yang begini siapa dong yang melakukan? Kalian tentu tau. Yah...para coronglah. Benar kan? Ini baru benar, bukan pembenaran. Hehehe, mulai lagi deh...
Kenapa, sih, pemimpin harus selalu benar? Kenapa tidak boleh salah? Kalau salah memangnya kenapa? Belum siap mempertanggungjawabkannya atau tidak berani mempertanggungjawabkannya? Atau takut dijadikan bahan untuk menutupi kesalahan yang lain agar kesalahan yang lain itu tidak mucul ke permukaan? Biasalah, kalau ada kesempatan dalam kesempitan, biarpun sempit tetap saja dipaksakan. Hehehe, kayak pengantin baru yah...? tuh, saya tau kalau ada yang berpikir ngeres..yah kan? Ngaku aja deh, cieeeeee
Tapi bingung juga khan? Bagaimana mungkin dengan indentitas yang palsu kog bisa memimpin, bisa menggaet warga asli untuk di jadikan corong, untuk di jadikan gundik, untuk di jadikan pengawal, dan mau pasang dada untuk berhadap-hadapan dengan saudaranya sendiri?
Jawabannya sederhana koq, begini.. Kekeluargaan dan kekerabatan yang memang merupakan ciri khas dari budaya dan tradisi masyarakat Kadipaten Palsu mampu dimanfaatkan untuk yang tidak benar. Mereka yang berhasil di jebak kedalam persekongkolan jahat di nrangkaul lewat persahabatan dan kekeluargaan, namun sesuguhnya hanya untuk menghasut, memanfaatkan, dan juga memudahkan segala proses atas tujuan dan kepentingan pribadi. Sungguh sangat memalukan sekali.
Karena memang semuanya semu alias palsu, maka cinta yang harusnya mendasari persahabatan-dan kekeluargaan itu adalah cinta semu, alias cinta palsu, maka tidak heran kalau ada anak negeri juga yang terjerembab kedalam perselingkuhan, pasang badan untuk di jadikan gundik. Iya khan?? Namanya juga cinta palsu...hehehe, apalagi datangnya dari orang berduit yang lagi haus sex karena jarang menikmati tubuh bini alsi. Huff..dasar palsu yang di benarkan menjadi asli.
Catatan ini sebenarnya sekedar iseng, yah..lucuh soalnya
melihat keadaan negeri nenek moyang warga asli kadipaten palsu yang di kuasai
oleh orang-orang palsu. Mau Bupatinya, Abdi Kadipatennya, penegak hukumnya,
okunum DPKnya semua sama saja, Palsu. Saat pemimpin di bilang salah, semua
corong berebut untuk melakukan pembenaran. Saat disebut palsu, lagi-lagi mereka
berebutan untuk mengatakan asli. Lalu apasih maunya? Duit? Hehehe...kayaknya
ini yang benar. Hei...kalau mau duit, jangan gadaikan kampung nenek moyangmu,
jagan kau jual harga diri istri dan anakmu dong. Kerja dan cukupkan hidupmu
pada gaji yang kau terima.
Kenapa? Masih tidak terima juga? Masih harus benar juga? Hehehe…. Harus mulai dengan pembenaran baru, dong? Kebenaran apa lagi yang mau dijadikan tameng?
Wangatoa, 30 April 2016
(Yogi Making)