Minggu, 28 Februari 2016

Fiksi : Gila, Suka Mastrubasi Adalah Tipe Pemimpin Otoriter

Wangatoa, 28-02-2016

Tentang gila yang terus menggila di kadipaten palsu seakan tak ada habisnya, lebih-lebih yang dilakukan elit pemerintahan dan para kroninya, hingga rakyatpun harus bergumam “gila, ini memang benar-benar gila, memang dasar gila, atau memang dia sudah gila,” dan gila-gila lain yang menjurus kepada sakit jiwa.

Fakta kekinian memang di butuhkan pemimpin yang gila, namun tidak berarti gila yang menggila, atau menjadi gila, karena kegilaanya pada harta dan kekayaan. Pemimpin yang gila, harusnya menggilai ide-ide gila demi pembangunan dan kemaslahatan masyarakatnya.

Yah...menggila tidak berarti edan atau sakit jiwa, definisi gila bisa di artikan sebagai melakukan hal positif dan membuat orang lain berdecak kagum. Namun, gila atau kegilaan yang positif tidak di temukan pada diri seorang Bupati di Kadipeten Palsu itu, gila bukan?.    


Kenapa tidak gila? Bupati kadipaten Palsu ternyata di lindungi oleh klenteng berwajah garang. Kadang para klenteng bertindak seolah Bupati, membentak, bahkan mengancam para Abdi. Entah di bayar atau sekedar mendapat jatah sepiring nasi, namun para klenteng setia melindungi sang tuan dengan nyawa mereka.

Mereka terlatih untuk memeras dan bahkan siap menghabisi nyawa setiap orang yang mencoba menentang perintah sang tuan Bupati, pemimpin Kadipaten Palsu itu. Pengusaha di peras, rakyat diancam, jurnalis di sumpal mulutnya dan di kebiri agar tak lagi bergairah. Gila kan ini?

Kalau bukan gila, yah.... apa lagi?. Bupatinya hanya senang bersenang-senang, berfoya-foya menghabiskan anggaran dengan berpesta di luar Kadipaten, meninggalkan kadipaten semaunya di tengah rakyat sedang berkelahi, kala rakyat lapar dan dikala para ibu harus melahirkan di perjalanan akibatnya kendaraan yang di tumpangi rusak.

Dia pergi untuk membuahi rahim wanitanya yang sudah menopause, sementara rakyatnya di tekan agar berpikir tentang seks pun tak boleh, apalagi mencapai orgasme?. Dia mengancam hingga generasi baru pun hanya bisa tumbuh dengan mimpi menjadi seorang petani, menjadi nelayan, bahkan nekad berjuang untuk nganggur di tengah tumpukan pekerjaan. Yah..ini lebih gila.

Rakyat yang sakit di titipkan pada abdi yang ahli di bidang hewan, Abdi yang pintar di kerangkeng agar mereka tak boleh ketahuan lebih pintar dari tuannya, sementara monster berlidah panjang di lepas bebas agar bisa di suruh menjilat kala sang tuan habis beol. Ah... ini gila,

Dasar gila...kadipaten ini layak di sebut kadipaten gila, negeri para bedebah, dan rumahnya para pecundang.

Sedikit dari banyak hal gila yang terjadi di kadipaten palsu itu ternyata punya hubungan dengan masalah kepuasan seksual seseorang. Walau bagi banyak orang di Kadipaten itu, seks adalah tabu, sesuatu yang porno, dan aneh jika di perbincangkan karena bisa menjerumuskan dalam kesesatan. Namun Anis, pria kampung pelosok nan kharismatik punya pandangan berbeda.

Dia mampu menghubungkan masalah kepuasan seksual seorang pemimpin terhadap cara berpikir dan beritindak. Menurutnya, teriakan penuh amarah dari rakyat terus saja terjadi, bahkan kata-kata kotor sering kali terucap dari orang yang katanya berpendidikan dan layak menjadi pemilik surga tak akan berakhir bila sang pemimpin di kadipaten dengan julukan negeri bedebah itu masih sering melakukan mastrubasi. Yah...namanya juga mastrubasi, maka yang mendapatkan kepuasan hanyalah satu orang, padahal di luar sana ada banyak sekali rakyat yang ingin berhubungan seks secara iklas saling memberi penuh cinta kepada pasangannya masing-masing.

Tipe pemimpin yang senang melakukan mastrubasi adalah pemimpin yang otoriter, hanya menginginkan kepuasan sendiri. Dia tak pernah mau, mendapatkan kepuasan, memberi kenyamanan dan ketentraman bathin.

Bag seorang pakar seksologi, Anis pria yang berlagak pintar itu mengatakan, para pemimpin perlu balajar tentang seks yang sesungguhnya. Di katakannya,  Saat tubuh kelelahan, seks akan membuat kita tidur lebih cepat dan lebih lelap, Saat cemas dengan berbagai masalah, seks akan menenangkan Anda.Seks membantu meningkatkan kekebalan tubuh pada penyakit tertentu, mengurangi stress dan terpenting, membuat pasangan suami istri menjadi lebih dekat.

Tak cuma kepada pemimpin, Anis pun menghimbau seluruh rakyat di Kadipaten Palsu itu untuk meletakan seks sebagai subjek dengan objeknya adalah belajar, Seks tidak akan benar-benar bekerja jika kita menempatkannya sebagai aktivitas yang kotor, memalukan, dipenuhi rasa bersalah atau hanya menjadikannya sebagai kewajiban dalam hubungan rumah tangga.

Mencermati tesis Anis tentang pengaruh seks terhadap kebijakan sang pemimpin, Anus sang sahabat sejati geram. Belum selesai si Anis berteori, Anus menyela.

“Teman...apakah pagi tadi kau salah minum obat, sehingga arah pembicaraanmu hari ini lain? Saya amati, sedari tadi otakmu diarahkan pada setumpuk daging diantara selangkangan. Kau, menurut saya, omonganmu melenceng dari budaya yang di ajarkan nenek moyang, tidak baik kalau kata-katamu itu di dengar oleh anak-anak,” protes Anus.

Mendapat protes dari sohibnya, bukannya semangat Anis untuk mengkritik sang pemimpin surut, malahan Anis semakin menjadi-jadi, lalu balik menyerang Anus sabahatnya itu dengan beberapa pertanyaan mengusik.

“Ya..ya..ya...Anus, Anus. Kata-katamu bagus, tetapi kau hanya menempatkan seks sebagai objek, sehingga kau tidak tahu apa hakikat seks sebenarnya. Coba kau dengar baik-baik, John F. Kennedy
Presiden AS ke 35. Dalam sebuah pertemuan tinggkat tinggi pernah mengatakan kepada Perdana Menteri Inggris, Harold Macmillan bahwa, "Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda Harold? Tetapi jika selama tiga hari saya tidak (tidur) dengan perempuan, saya akan mengalami sakit kepala yang hebat." Jawab Anis.

Sepintas Anus, terlihat begong. Belum sempat dia berucap, si Anis pria cerdas yang suka bertingkah bak pakar itu sudah menyambung pembicaraan. 

“Kau juga mungkin tidak membaca kalau pemimpin lain di negara tetangga kita, Soekarno pernah berucap, “Perempuan adalah inspirasi bagu perjuangan laki-laki, karena itu dia menyeruhkan, Wahai kaum pria, berdamailah dengan wanita agar inspirasi perjuganmu tak pernah kering,” lanjutnya lagi.
Tak perlu menanti jawaban dari rekannya Anus, Anis tiba-tiba mengajukan pertanyaan balik yang sesungguhnya membuat sahabat karibnya itu terperangah.

“Anus temanku yang terkasih, kau suami kan?” (Anus kaget, dengan malu-malu dia menjawab) “Iya, kau kan tau kalau saya punya Istri,” jawab Anus. “nah...kalau begitu, tolong kau jawab ini, bagaimana kalau kau tidak di beri jatah “ranjang” oleh istri selama satu bulan. Maksud saya saat istrimu lagi sehat-sehat,” tanya Anis.

Dialog dua sahabat itu semakin seruh. Terlihat Anus sejenak berpikir. Dalam hatinya Anus mulai mengakui kepintaran sabahatnya, dia pun paham kemana arah kawannya bicara. Karena itu Anus lalu menjawab rekannya.

“Tentu saja pusing. Kadang saya harus mencari pelarian lain seperti menegak minuman beralkohol, atau berusaha keras untuk menekan keinginan itu dengan cara lain. Jika tidak, di rumah saya bisa marah-marah pada hal-hal sepelah dan buruknya, semua apa yang saya kerjakan berantakan. Dulu saya pernah alami begitu, dan sempat berpikir untuk selingkuh,” jawab Anus tulus.

“Nah...itu kan? Karena itu hal gila yang terjadi di kadipaten ini dilakukan sang pemimpin sebagai sarana pelarian untuk mendapat kepuasan yang lain. Dia bahkan siap berselingkuh dengan para pengusaha dan Abdinya untuk mepadapatkan harta. Dia tumbuh menjadi seorang pribadi yang ego, karena selalu memastrubasi otaknya, syarfnya tegang dan suka menginginkan sesuatu yang tidak di pikirkan orang lain, dia tidak suka di kritik, dia juga tidak suka bersaing dengan orang lain untuk mendapatkan cinta yang tulus dari rakyatnya, dia hanya mau di perhatikan bukan memperhatikan, dia ingin dilayani tetapi menolak untuk melayani. Dia mengkrangkeng setiap pikiran kritis dan memenjara orang yang dianggap lawan, karena dengan memenjara dia merasa berhasil membunuh keinginan lawan untuk bercinta dan melemaskan syaraf bersama istri tercinta,” ulas Anis lagi.

Kata-kata Anis yang cerdas nan kritis itu mampu membuat sahabatnya Anus terkesima. Kekaguman pada sosok sahabat karibnya itu membuat Anus tak sadar bergumam, “Apakah mungkin para dewan pertimbangan yang di pilih rakyat tetapi senang berpikir tentang diri sendiri itu karena suka bermastrubasi? Oh kampung ini ternyata sudah di kuasai oleh banyak orang yang benar-benar gila. Ah... Anis, layak jadi pemimpin, ide juga teorinya sungguh gila membuat saya mengilainya,” gumamnya menutup perbincangan. (Yogi Making)

Catatan : kisah ini hanyalah sebuah hayalan penulis, jika ada kejadian yang sama dalam dunia nyata itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Selamat membaca, semoga memberi hikmah.






Lidah Panjang dan Mampu Setor Upeti, Adalah Kriteria Abdi Di Kadipaten Palsu

Wangatoa, Minggu, 21-02-2016

Cerita soal Kadipaten Palsu, memang selalu menarik untuk di simak. Kadipaten yang di pimpin oleh sang pemimpin yang pemimpi itu selalu saja terjadi kehebohan, dan menarik perhatian penghuninya. Walau terus mendapat sorotan masyarkat, namun sang pemimpin malah cuek, dan berbuat semaunya. 

Coba lihat kejadian kejadian yang satu ini, satu waktu sang Bupati membuat keputusan untuk menggeser posisi abdi kadipeten. Bukannya senang, Keputusan itu menciptakan kemarahan rakyat.

Bukan apa-apa, abdi yang dalam benak masyarakat adalah orang yang paling tidak memiliki 
kemampuan khusus atau memiliki kecerdasan intektual dan kecerdasan nurani diatas rata-rata agar bisa di tiru, dan mampu menjadi contoh, ternyata berbeda dengan dengan cara berpikir sang Bupati di kadipaten Palsu itu.

Baginya bukan soal kemampuan, yang penting adalah abdi yang dia angkat adalah orang bisa suruh-suru, memiliki lidah panjang, dan yang paling penting adalah bisa nyetor upeti.

Koq lidahnya panjang? Bingung kan? Yah...Karena memang, sang Bupati di ketahui tidak suka mandi dengan air. Seperti gak nyambung yah...hehehehe, biasa. Namanya juga kadipaten palsu, yang gak nyambung bisa di buat nyambung...

Menurut kabar yang tersiar di kadipaten itu, agar bersih Bupati selalu memanfaatkan lidah piaraannya, atau jika piaraan lagi kehilangan mood, yah..para abdilah yang menggatikan tugas piaraan, cara mandi sang bupati pun terbilang unik. Kata orang...hanya dengan di jilad.

Ih.....jadi jijik bukan? Tapi mau gimana, khusus Abdi tertentu yang  menurut kebanyak orang tidak layak, namun bisa di pakai untuk menjilad itu yang di pilih...hehehe....jadi gimana gitu, saat ngebayangin kalo org no 1 itu habis beol lalu manggil abdi setianya untuk....ehehehe....saya harap kalian yang sambung dalam hati yah......hehehehe

Kembali soal pergeseran tugas para abdi, yang membuat heboh adalah, ketika Bupati mengangkat seoarang Abdi yang di ketahui sukanya tidur di kebun orang bersama istri. Sepatutnya sang Abdi ini memang tak layak di sebut petani, pasalnya dia (sang abdi) hobinya minjam kebun berikut ubi, sekaligus minjam karung milik orang. Bahkan, belakangan di ketahui juga kalau sang petani seolah-olah itu hobi utamanya adalah tidur bersama istri beralaskan karung goni di lantai pondok milik orang.

Kehebohan baru itu, sampai juga ke telinga Anis. Sang petani yang bermukim di pelosok kadipaten dan selalu tampil sok cerdas.

Ketika di tanyai pendapatnya oleh sahabat karibnya Anus. Si Anis bukannya langsung nanggapin, eh..malah cengar-cengir kayak kuda kelaperan. Sikapnya yang aneh bin ajaib itu memancing emosi Anus. “woi sirip, kau saya tanya malah bikin diri kaya kuda haus,” hardik Anus yang mulai mual menahan emosi.

“hehehehe...santai saja lagi,” sambut Anis menanggapi hardikan sahabatnya. “teman, kau itu macam tidak tau kelakuan itu orang (maksudnya Bupati), yah...dia kalau pilih abdi tidak pake pertimbangan macam-macam, yang kriterianya abdi itu minimal sama dengan dia,” sambung Anis santai.
“ah...sama apa? Sama-sama laki-laki, sama-sama palsu, sama-sama...” Anus berhenti sejenak. Nafasnya di tarik panjang, bibirnya terlihat gemetar tanda sedang menahan birahi..eh, salah memendam marah...hehehe

“Ya..sama-sama laki-laki, yang suka cari ubi ke kebun orang lah. Eh...ini yang kau tidak tahu, makan ubi dari kebun orang tuh, lebih enak menantang, sensasi bro...huhhhhhh,” canda Anis.
“ah...kau ini pasti pernah coba kerja kebun orang laen, makan ubi orang, dan tidur di pondok, makanya, kau begitu semangat dan matamu kelihatan sayup begitu...hhhhhh,” balas Anus tak kalah seruh.

Kasak-kusuk kedua sahabat itu akhirnya berhenti, ketika Ina Lila Istri Anis, tiba-tiba muncul di hadadapan keduanya.

“Kamu dua ini seperti orang pacaran yang lama tidak bertemu, kelihatan mesrah dan omong sambil senyam-senyum,” kata Lila menyelah diskusi dua sahabat kampung itu.

“hahaha...tidak mama, ini si Anus curhat, katanya semalam dia tidak dapat jatah. Hehehehe.....” sambung Anis seakan menjawab kebingungan sang istri, sementara Anus cengar-cengir, wajahnya terlihat merah, karena di ejek sahabatnya karibnya.

Belum sempat dia membalas ejekan, Si Anis sudah keburu menggandeng istrinya pulang. “Ayo ma...kita pulang tuntaskan niat kita yang tadi pagi tidak kesampaen,...bro, besok kita sambung yah,” pamit Anis membuat Anus kesal. (Yogi Making)


Catatan : Cerita ini hanyalah fiksi. Bila ada kejadian, nama dan tempat yang sama dengan dunia nyata, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka..... 

Fiksi : Berita Kriminal dari Kadipaten Palsu Polisi Gagal Tangkap Dalang Pembunuhan Politisi, Dua Warga Beda Pendapat Di Media

Wangatoa, 19-02-2016

Berita tentang tanggapan Kasat Serse Polres Kadipaten Palsu yang di rilis media massa segera tersiar kemana-mana. Tentu saja, khabar itu di respon serius oleh warga setempat. Demikian juga dengan dua warga pedalaman Kadipaten Palsu. Anis dan Anus, dua sahabat dekat itu ketika mengamati kinerja Polres Kadipaten Palsu, justru beda pendapat.

Anus ketika di wawancarai sebuah koran lokal, berani mendesak Pemimpin Besar Polisi di Negara Antaberanta untuk memecat Kasat Serse Polres Kadipaten Palsu, sementara rekan Anus, Anis, malah memberi penilaian yang beda.  

“Itu kerja tidak profesional, saya minta pimpinan besar Polisi Negera Antaberanta untuk segera pecat Kasat Serse kami, karena saya menduga otak Kasat yang katanya binta tujuh itu sudah pindah ke lutut,” kecam Anus.

Menurut Anus,  Polisi di Jaman kuda gigit besi ini pantas meniru kerja polisi-polisi jaman dahulu yang selalu tampil ksatria, berdiri dengan parang di dada, untuk menangkap pelaku kejahatan.

Berbeda sahabat kentalnya Anus, Anis justru melihat polisi sudah menunjukan kemajuan. Kepada salah satu media lokal, Anis meminta warga untuk tenang dan jangan membandingkan polisi sekarang dengan polisi jaman sebelumnya. Memang kata Anis, kendati hanya bersenjatakan parang, dan terlihat berjiwa ksatria, namun keberanian polisi yang dulu mengakibatkan banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Wartawan media lokal itu menulis, dengan suara berat dan penampilan berwibawa, Anis warga kampung pedalaman yang sehari-hari di kenal sebagai petani itu tampil bak pengamat kriminal yang sering tampil di televisi.

Pengamat kriminal dadakan yang tinggal di pelosok itu mengatakan, kerja polisi yang sekarang justru di batasi dengan Hak Asasi Manusia, mereka (polisi) di tuntut untuk lebih hati-hati, dan bertindak dengan mengedepankan rasa cinta kasih.

Sebab kelambanan Polisi Kadipaten Palsu untuk menangkap penjahat menurut Anus, adalah mata polisi tak bisa melihat akibat bola mata aparat hukum di kadipaten itu di cat warna hijau.  Mata polisi di jaman sekarang tak lagi seperti mata elang yang awas dan tajam menikam.

Akibat kaburnya penglihatan, maka dalam mengindentifikasi pelaku kriminal, polisi lebih mengutamakan indra penciuman, jelas Anis.

“Nah...batasan itu melemahkan polisi namun menjadi kekuatan bagi penjahat. Saat melakukan aksi, para penjahat cukup menyediakan kembang mawar. Dengan begitu ketika polisi mendekat penjahat cukup menyodorkan kembang mawar. Tebaran aroma mawar yang khas itu di yakini mampu membuat polisi jatuh cinta, mata menjadi sayu dan akhirnya berlalu pergi untuk tidur,” ujar Anis warga kampung yang sok pintar ini. (Yogi Making)


Catatan : Cerita ini hanyalah fiksi. Bila ada kejadian, nama dan tempat yang sama dengan dunia nyata, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.....
     

Berita Kriminal Dari Kadipaten Palsu Politisi Tewas, Polisi Sulit Tangkap Dalang Pembunuhan

Wangatoa, 18-02-2016


Kasat Serse Polres Kadipaten Palsu mengaku tak bisa menangkap otak pelaku pembunuhan yang menewaskan seorang politisi beberapa waktu lalu.

Kepada wartawan di ruang kerjanya, Kasat Serse mengatakan, Polisi kesulitan menangkap dan membongkar tuntas kasus pembuhan itu, karena para pelaku tak punya otak. kendati demikian, Polisi berbintang tujuh itu yakin bila dalang pembunuhan akan mati bila ketabrak mobil, atau saat tua nanti.


"jadi kenapa kita harus susah-susah cari? toh dalang pembunuhan itu bakal mati kalau ketabrak mobil, atau saat tua nanti," jelasnya. 

Wartawan : Emosi, sambi cungkil lantai ruangan Serse (Yogi Making)

KESAKSIAN SANG WARTAWAN DARI NEGERI PALSU

Wangatoa, Kamis 18-02-2016
(Sambungan Fiksi “Koin 2 Ribu Untuk Bupati di Negeri Palsu”)

Di kisahkan bahwa usai mewawancara Bupati Kadipaten Palsu, sang wartawan asal ibu kota di Negara Antaberanta lalu menulis sebuah artikel yang dia beri judul, ”Negeriku, Negeri Palsu”. Berita ini segera menjadi berita yang menghobohkan. Di hampir setiap sudut kota terlihat puluhan rakyat berkumpul dan mendiskusikan tanggapan tuan Bupati, pemimpin Kadipaten Palsu itu. 
Sang jurnalis ibu kota itu menulis, Kadipaten Palsu ibarat negeri sang pemimpi, banyak cerita baru yang muncul dan seakan tak berujung. Menurutnya lebih tepat kadipaten itu di sebut sebagai negeri bedebah.

“Entah dari mana dan oleh siapa kata palsu itu tercipta, namun terus di diskusikan banyak orang dan menjadi fenomena yang fenomenal hingga tak satupun rakyat dari negeri itu yang tidak mengenal kata palsu, ah...dasar negeri palsu. Dimana-mana terutama di kalangan pemipin dan kerabatnya serta para abdi, sibuk menciptakan kepalsuan. Ada sekolah palsu yang menerbitkan ijazah palsu, ada surat asli yang dibuat palsu, dan surat palsu di buat asli. Rakyat asli yang berbuat benar diadili lalu di kerangkeng, sementara pemimpin dan abdinya yang sibuk dengan kepalsuan di lepas bebas. Negeri ini memang lebih pantas di sebut sebagai negeri bedebah,” demikian sedikit penggalan berita sang wartawan ibu kota itu.

Tentu saja, koran yang menulis berita itu laris manis. Bahkan ada pula rakyat kadipaten itu berani memfotocopy dan menyebarkan artikel itu hingga ke desa-desa terpencil.
Di sebuah sudut kampung, dua warga petani asal kadipaten palsu Anis dan Anus terlihat serius berdiskusi.

Anis : “reu Anus e...enko su baca to berita ini ni. (sambil tunjuk copy-an surat kabar) masa, jalan rusak koq di perbaiki pake koin seribu? Ini pemimpin macam apa? Jangan-jangan dia salah minum obat ka apa?

Anus : “kau mulai sembarang sudah, masa perbaiki jalan pake uang koin?” sambung Anus

Anis : “iya k...engko baca ini, bupati kita punya itu, tidak mau dengar keluhan kita orang kecil ini, makanya kalau dia pulang jalan-jalan, langsung sumbat telinga pake koin seribu supaya tidak dengar orang omong to, itu kan sama dengan perbaiki jalan ka,” ketus Anis lagi.

Anus : “ei..kau ini mulai kumat sudah, kalo baca satu lembar berita saja mulai omong macam orang pengamat politk di tivi tu, kau tau ka tidak? Kita punya kadipaten ini namanya Kadipaten Palsu, jadi pemimpin juga pasti pemimpin palsu to, apalagi saya dengar dia itu tu sekolahnya juga di sekolah palsu reu, jadi begitu sudah, dia itu anggap kita ini sama dengan dia yang palsu itu ka,” kata Anus yang mulai sok pintar.

Anis : “Kau itu, tadi bilang saya macam pengamat politik, sekarang kau punya kata-kata itu macam profesor saja le, jangan sampe kau juga sekolah di sekolah palsu e?” sergap Anis tak kalah seruh.

Anus : “Reu e...kita dua ini dari kecil itu ka hidup sama-sama, jo sama-sama tidak sekolah, tapi kau harus akui, kalau saya ini lebih pintar dari engko. Harus banyak bergaul reu supaya engko bisa lebih pintar dari saya,” tangkis Anus.

Anis : “betul e reu...saya lihat ini ka, kalau reu sekolah, pasti reu ini lebih pintar dari kita punya dewan yang kita pilih kemarin pake biji jagung itu. Engko lihat mereka itu, sudah kita pilih cape-cape, bukanya sibuk urus kita, malah mereka ikut itu bupati ka apa itu tu, tadi tu saya punya anak baru dari kota, jo dia cerita, kita punya dewan yang kemarin reu suruh saya pilih dia itu ka, malam-malam pigi minum kopi di pante sana dengan itu, bupati ka, adik pati, pak pati ka apa itu, saya curiga le, jangan sampe dorang itu mulai sekongkol e” sambung Anis.

Anus : “hus...kau itu, tadi malam kau mimpi ka? Omong tuh, jaga mulut. Itu engko lihat, kita punya dinding rumah ini ada telinga, ada mata, ada mulut juga, jadi omong tuh hati-hati. Kemarin kita dua punya reu Puhe itu, engko kenal to Puhe tu, prajurit hukum dia gara-gara omong sembarang begitu tu, mulut macam ketuko saja le,” kata Anus menasihati.

Belum sempat Anis menyambung, tiba-tiba Ina Lila istri Anus datang memanggil suaminya karena ada tamu yang baru datang dari kota. Diskusi dua petani itu akhirnya berhenti, Anus lalu menggandeng istrinya pulang menemui sang tamu....(yogi making)


Catatan : Cerita ini hanyalah fiksi. Bila ada kejadian, nama dan tempat yang sama dengan dunia nyata, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka.....    

KOIN 2 RIBU UNTUK BUPATI DI KADIPATEN PALSU


Wangatoa, Senin 16-02-2016

Alkisah tentang sebuah kadipaten Palsu di Negara Antaberanta. di tuturkan bahwa, akibat seringnya Bupati Kadipaten Palsu melakukan perjalanan dinas ke luar daerah membuat sang Bupati lupa mengurus kebutuhan rakyatnya. dia (Bupati) tak tahu kalau di kadipaten yg dia pimpin sudah banyak rakyatnya yang terserang HIV/AIDS karena maraknya rumah hiburan malam di kotanya, dia juga tidak tahu kalau banyak jalan yang rusak parah hingga banyak ibu hamil yang keguguran karena goncangan mobil yang melintas di jalanan berlubang, Bupati pun tidak tahu, jika rakyatnya mengeluh lapar karena tak mampu membeli beras, dan setumpuk masalah lainnya.

kisah ini sampai juga ke telinga seorang wartawan ibu kota, sang wartawan pun mengatur rencana untuk menemui orang nomor 1 di Kadipaten palsu itu. Saat di tunggu datang, di depan ruang tunggu lapangan udara, wartawan menemui Bupati dan mengajukan sejumlah pertanyaan tentang keluhan rakyat.

Wartawan : "Pagi Pak Bupati, saya mohon klarifikasi anda terkait keluhan rakyat. anda di ketahui sebagai Bupati yang sering meninggalkan kadipaten. tingginya perjalanan dinas itu membuat rakyat anda mengeluh, kata mereka anda tak lagi memperhatikan kebutuhan mereka. banyak jalan dalam keadaan rusak parah, rumah sakit tak mampu layani pasien karena kehabisan obat, angka pederita 
HIV meningkat, pekerja seks berkeliaran di setiap sudut kota,"

Bupati : "oh ya, bukankah kau tau, kalau kadipaten yang saya pimpin ini adalah kadipaten palsu? bisa saja orang2 yang mengeluh itu adalah orang dengan indentitas palsu," jawab Bupati sekenanya.

Wartawan : "tapi ini fakta pak, selain informasi ini dari rakyat, saya juga mengamati langsung. banyak ibu hamil yang harus melahirkan di tengah jalan, bahkan banyak juga yang keguguran akibat goncangan mobil saat melintas di jalan yang berlubang. bagaimana anda menanggapi ini?"

Bupati : "hehehehe..., anda ini ada2 saja. tapi baiklah saya akan memberitahu strategi saya. Saya menjadi bupati bukan untuk memimpin dan mengabdi, posisi ini saya manfaatkan untuk menambah pundi2 kekayaan. untuk itu, saya tidak harus berhenti melakukan perjalanan dinas. tidak bisa. agar anda ketahui, saat saya tiba di kadipaten, selalu saya siapkan dua koin seribuan. anda tau untuk apa koin itu?"

Wartawan : (kaget..dan dengan wajah heran dia bertanya) untuk apa koin itu pak Bupati?

Bupati :...hhhhhh, (tertawa sekenanya) yah....untuk di sumbat pada dua lubang telinga saya. aman bukan? dengan begitu saya tidak perlu mendengar apa kata rakyat....

Wartawan :...marah sambil kunya bolpen hingga bibirnya belepotan tinta..lalu pergi tanpa pamit....(Yogi Making)


hhhhhhh....cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kejadian yang sama dalam dunia nyata itu hanya kebetulan.


Wangatoa, 5-02-2016
Payong Dan Bupati
payong...pria dengan keterbelakangan mental. soreh tadi datang mengunjungi saya.
setelah menghabiskan sepiring nasi dan sebatang rokok pemberian ku, dia bertanya, "abang org bilang saya ini Bupati Lembata, Bupati pe aku abang? (bupati itu apa abang) tanyanya.
"Hhhhhh...Bupati nepe heloka wata te pirim onen peken mo huro ti tako pe" (bupati itu macam nasi yg siap ko santap) kata saya.

"o..hama nepa i, hhhhh...peten mari bu pati pe kepala sekolah han?" (o..begitu ka, saya kira bupati itu istri kepala sekolah?" kata payong dengan senyum sumringah.

Tentang Rencana Pasien RSJ



satu hari 2 pasien RSJ menyusun rencana untuk kabur. begini rencana mereka : 

1. buka pintu kamar,
2. mukulin penjaga,
3. buka pintu pagar,
4. tertawa di luar. 

malam hari atau saat di nanti tiba. setelah berhasil membuka pintu kamar, dan mendekati pintu pagar, ternyata mereka tidak mendapati penjaga. kedua pasien RSJ akhirnya membatalkan rencana, dan berniat untuk kembali melakukan aksinya pada malam berikutnya.

Kamis, 25 Februari 2016

CERITERA DI NEGERI AYAM

Wangatoa, 14-01-2016

Suatu hari di negeri ayam terjadi keributan besar. Warga yang tak lain adalah ayam, marah besar lantaran si jago putih yang mereka daulat menjadi raja ternyata jago bohong, dan suka menghambur uang untuk kesenangan pribadinya.

janji untuk membangun sangkar permanen agar warganya tak lagi bertengger di dahan beringin dia abaikan, janji untuk menjamu warganya setiap hari sabtu dalam 1 minggu di lupakan.
sang raja ternyata sukanya menghamburkan uang untuk bersenang2 dengan permaisuri dan para gundik yang sengaja dia tempatkan di negeri tetangga

Warga yang kecewa itu lalu datang menuntut sang raja untuk turun tahta. merekapun menuntut kepada dewan kerajaan untuk segera menggelar sidang dan harus bersepakat untuk menurunkan si jago putih yang terkenal tukang bohong itu dari kursi empuk kerajaan. tentu, para dewan kerajaan sepakat dengan rakyat, dan rapat di gelar keputusan diambil dengan suar bulat. menurut dewan raja melanggar sumpah dan janjinya sendiri, dia di ketahui terlibat dalam banyak masalah, bahkan mereka menduga kalau dalam banyak proyek sang raja ikut mengatur dan mengambil jatah dari anggaran itu.
tentu saja keputusan itu segera mendapat restu dari rakyat. namun anehnya, raja justru berkelit. 

Dengan segala upaya dia berusaha untuk selamat dari tuduhan. kesepakatan dewan kerajaan bahkan di bilang palsu. oh...memang si putih memang jago berkelit. para hakim pun bahkan mampu dia bayar agar dirinya tetap menjadi raja. Menurutnya menjadi raja itu enak. perintahnya adalah sabda.apapun yang diinginkan pasti ia dapat. apalagi dirinya memang di dikelilingi oleh orang2 yang memang tak pintar, tapi terkenal setia. jangankan uang, wanita pun kalau dia mau pasti di dapat.


Raja tak lagi peduli dengan rakyatnya, hobinya adalah berkunjung ke negeri merpati menghabiskan anggaran. dia tak peduli dengan rakyatnya yang lapar, harga komoditi yang cenderung turun dan harga sembako terus melonjak. (Yogi Making)