Rabu, 31 Oktober 2018

Tresi, Sedon Goenek


Puisi dalam Balutan Sastra Lamaholot dan Diealeq Lewoleba-Lembata




Rasa itu datang
jo terus ganggu pikiran
Bermain dan berputar di kepala
Bawa hadir engko pu bayang
Begitu dekat

Melekat seperti bayangan diri

Tresi
Arik kelemure

Reuk ata melane
Sejak cinta tegae
Dan rindu kita tesangkut di hati
Rasa kita seperti teikat
Te bisa lepas

Tresi Goenek
Barek senaren
Sedon kelemure
Pai, ruat taan onek tou
Dai taan koda ehak
Ti pana tala lango gere
Gawe taan uma yonem

Wangatoa, 21/10/2018
Yogi Making-Lelaki Kampung


Senin, 29 Oktober 2018

Kronologi Jatuhnya Pesawat Lion Air JT-610 Versi Basarnas



Pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan dekat Tanjung, Karawang, Jawa Barat saat ini masih dilakukan pencarian oleh Tim Basarnas.

tirto.id - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Muhammad Syaugi menjelaskan kronologi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di perairan dekat Tanjung, Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10/2018) yang sempat hilang kontak pada pukul 06.33 WIB.

"Kronologi kejadian Lion Air JT 610 kami dapat informasi dari air traffic control jam 6.50 pagi bahwa JT 610 lost contact. Lost contact ada di atas sini, ini jaraknya dari kantor Jakarta 34 NM...ketinggiannya kurang lebih masih 2.500-an," jelas M Syaugi, dalam konferensi pers di Kantor Basarnas Pusat, Kemayoran, Jakarta, Senin (29/10/2018).

"Setelah info pada 6.50 WIB dan kami kroscek dan itu konfirm sehingga kami berangkatkan armada kita. Baik itu kapal, tim BSG dan helikopter kita menuju lokasi," jelas Syaugi.

Menurut Syaugi, lokasi jatuhnya pesawat Lion Air dari data yang diberikan oleh Air Traffic Controller (ATC) koordinatnya itu 05 derajat 46 menit 15 detik S. 107 derajat.

"Begitu kita sampai ternyata kita temukan di situ ada puing pesawat, pelampung, handphone, dan ada beberapa potongan. Itu lokasinya hanya berjarak 20 km dari lokasi yang diberikan ATC. Kedalaman laut di situ antara 30-35 meter. Kami masih berusaha menyelam ke sana untuk temukan pesawat tersebut. Kalau di permukaan sudah firm kita," jelas Syaugi.

"Informasi awal pesawat ini penumpang dan krunya 189 orang," tambahnya.

Menurut Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto, pesawat Lion ini mulai digunakan Agustus 2018 dan jam terbangnya masih kurang lebih 800flight hours.

"[Pesawat] masih bagus dan baru. Pesawat take off jam 06.20 WIB setelah itu jam 06.22 dengan ketinggian 2,5-3,5 ribu pesawat lost contact. Penumpang 178 dewasa 1 anak 2 bayi infant. Kru 2 dan 6 awak kabin," jelasnya.

"Kami sudah persiapkan [tim] berangkat ke lokasi dan untuk deteksi underwater..ELT (emergency located transmitter)-nya memang tidak aktif karena masuk air sehingga tidak terdeteksi," ujar Soerjanto.

Sumber :

https://tirto.id/kronologi-jatuhnya-pesawat-lion-air-jt-610-versi-basarnas-c8L7?utm_source=PushNotif&utm_campaign=1113&utm_medium=Notification

Rabu, 24 Oktober 2018

Kau, Mari Bersetubuh



Nyonya Tua yang setia menemani hariku, By : Yogi Making


Hari ini kau nampak cantik,
Secantik TRESI, pacar baruku itu
Dan aku senang,

Karena kita akan selalu bersama
Kembali pada jalanan
Dan membiarkan tubuh
Untuk dijilad sang debu

Ah.. iya, kita.
Kau dan saya
 Segera kembali menggumuli molek tubuh
Bentangan jalan
Merayapi inci demi inci
Dan mencicip
Nikmat lubang yang menganga

Terbentang dan terlentang
Memancing birahi
Merangsang libido untuk bercinta
Ah.. kadang kita mendesah
Seperti menahan orgasme
Dalam tubuh basah berkeringat
Terpacu birahi mencapai puncak yang paling nikmat

Hem…
Meski kau bukan Tresi kekaksihku itu
Tetapi kau adalah sahabat,
Mari siap kita berangkat
Karena di sana
Pada bentangan jalan itu
Para lubang sudah menanti untuk disebutuhi

Kau..
Aku mengajakmu untuk bersetubuh
Agar bersama tenggelam dalam nikmat orgasme
Karena puas beronani hanya milik para elit

Penulis : Yogi Making-Lelaki Kampung
Wangatoa, 23/10/2018

Sabtu, 20 Oktober 2018

Dasar Laut Teluk Jontona, Surganya Wisatawan



Memiliki panorama bawah laut yang menakjubkan, Teluk Jontona merupakan surga  tersembunyi di ujung Timur daratan Flores

JONTONA, dari namanya, kampung ini bag kembang indah yang memikat wisatawan. Bukan apa-apa, selain memiliki potensi wisata budaya, Jontona yang terletak di Kecamatan Ile Ape Timur-Lembata ini menyimpan potensi wisata alam bawah laut yang memesona.
Teluk Jontona, Ile Ape Timur. Foto : Yogi Making
Pesona alam bawah laut teluk Jontona itu, terungkap dalam survey bawah laut kerja sama Pemerintah Kabupaten Lembata dengan sebuah stasiun televisi swasta. Karang meja yang diperkirakan berusia ratusan tahun, tumbuh menjamur di dasar laut Teluk Jontona.

Data hasil survey juga menunjukan, karang jenis meja itu menyebar dari teluk Jontona hingga Tanjung Nuhanera Kecamatan Lebatukan. Cerita keindahan laut teluk Jontona itu pernah diungkap Longginus Lega, beberapa tahun silam ketika menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata.

Sayangnya menurut Longginus, hamparan karang meja di sekitar Tanjung Nuhanera banyak yang mati akibat ulah nelayan nakal.

"Kalau di Nuhanera, tim bilang banyak yang sudah rusak karena bom ikan. Semua hasil survei itu terekam dengan kamera dan kita punya filmnya," kata Longginus. Cerita Mantan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata itu disampaikannya tahun 2014 silam.

Tentang keindahan teluk dan eksotisme alam bawah laut Teluk Jontona, terkuak juga dalam penuturan Aren, wisatawan berkebangsaan Jerman. September 2014 Aren berkemsempatan menjejal keindahan alam bawah laut Teluk Jontona. Baginya, Jontona adalah surga bagi wisatawan.

“Indah sekali, banyak karang berbentuk meja dan saya tidak pernah lihat dalam penyeleman sebelumnya di daratan flores. Ini surga buat wisatawan” ungkap Aren.

Pria 26 tahun lulusan Universitas West England ini mengatakan, pesona wisata alam Lembata sangat menjanjikan. Potensi yang demikian bersar itu harus didukung dengan promosi dan investasi pariwisata. Dan menurutnya, dunia pariwisata akan hidup dan berkembang seiring tumbuhnya industry pariwisata.

“Alam Lembata indah sekali. Dan saya takjub dengan keindahan teluk jontona. Tetapi saya tidak bisa datang dua kali kesini, karena terlalu mahal. Tidak mungkin saya datang dari Jerman dan bawa semua alat snorkeling, semua itu harus disiapkan di Lembata. Alam yang bagus, masih natural, dan harus di dukung dengan promosi dan investasi pariwisata,” ujarnya.
Sebelum meninggalkan Jontona, Aren juga berpesan agar alam Jontona yang indah itu, harus dijaga dengan baik. “kalau bisa buat aturan untuk lindungi terumbu karang. Supaya orang tidak boleh rusakan” katanya.

Alasan Ke Jontona

Tetapi ke Jontona bukan sekedar menikmati keindahan dasar lautnya. Panorama pantai Jontona pun tak kalah indah, belum lagi tawaran wisata budaya werung lolon (pesta kacang) yang merupakan ritual tahunan masyatakat adat Lewohala yang digelar rutin setiap tahun antara bulan Septemper hingga Oktober. Selain itu, wisata sejarah batu perahu Jong Todanara di Lamariang, menjadi destinasti yang wajib dikunjungi setiap wisawatan.

Yah… Kendati Jontona bukan satu-satunya destinasi pariwisata di Kabupaten Lembata, namun patut diakui kalau Jontona, adalah salah satu tawaran wisata terlengkap di kabupaten Lembata. Dari jontona, wisatawan bisa mengunjungi pantai Nuhanera. Dari Jontona juga, para wisatawan bisa menaklukan congkaknya Ile Lewotolok. Ingin berwisata Ke Lembata? Belum lengkap rasanya jika belum menjejali keindahan Jontona.

Jontona yang berjarak sekitar 20-an kilometer ke arah Timur dari pusat kotaLewoleba. Dapat ditempuh menggunakan sepeda motor atau mobil. Jika pilihannya menggunakan jasa ojek, untuk sekali jalan wisatawan cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp. 20 ribu sampai Rp. 30 ribu tergantung kepiawaian menawar harga.

Bagi pengunjung yang ingin mengisi waktu liburan dan ingin berlama-lama, tak perlu khawatir dengan tempat tinggal. Setidaknya ada beberapa rumah penduduk yang biasa dijadikan homestay. Tentu dengan harga yang bisa dinegosiasi. Sebuah pilihan yang menarik untuk berlibur di akhir tahun. (*)
Di edit dan ditulis kembali oleh : Yogi Making

Kamis, 18 Oktober 2018

TRESI, ANDAI KO PU BAPA PEJABAT


*Sastra dalam balutan dialeg Lewoleba*




Tresi sayang ….
Andai ko pu bapa pejabat
Pasti sa su dapat kerja
Andai juga ko pu om De Pe Er
Pasti kita su jadi pegawe

Karena disini, di kampung ini
Ijazah bukan segalanya
Pintar bukan ukuran
Cerdas tak mungkin diperhitungkan

Tapi ko anak siapa
Ko ponakan siapa
Pernah selingkuh dengan siapa
Dan pernah bobo sama siapa
itu modal bua kerja

dan ina tresi…
di tanah ini hidup tak semata andalan cinta
Apalagi sekedar tonjolkan kasih
Soal cinta kita su punya
Soal sayang apalagi
Tapi kerja, sabar dulu…

Ina…
Sa sayang engko kuat-kuat
Tapi sa pu sayang ini te bisa untuk beli bedak
Su pasti sa cinta engko
Tapi cinta te bisa pake bua beli beras

Tapi hidup butuh doi
Dan doi datang dari kerja
Tapi kerja sekarang bukan gampang
Karena yang dibutuh anak pejabat
Anak petani di larang kerja
Dan kantor seoalah milik ponakan politisi

Jo Ina…
Kita dua yang anak petani ini bisa apa?
Apakah kita harus tunggu sa pu bapa jadi De Pe Er
Baru kita nikah..?

(Yogi Making-Lelaki Kampung, Wangatoa 10/18/2018



Rabu, 17 Oktober 2018

TRESI ENGKO ADALAH AKSARA


(Sasta dalam balutan dialeg orang Lewoleba-Lembata)


Ade Tresi...................
Entah kenapa, sa tidak tau
Tapi setiap sa mengelamun,
Ketika sa ingat engko
Yang keluar dari sa pu kepala adalah kata

Sa ju te tau kenapa
Tapi, Setiap sa liat engko pu senyum
Yang datang ke otak adalah kalimat
Engko tu macam kata yang te tau matinya
Engko saja le Tresi..

Waktu makan sa ingat engko
Satu baris puisi habis bersama nasi di piring
Engko buat napsu makan bertambah
Mungkin engko tuh tambo
Ato engko adalah tolakan, istilah anak sekarang
Yang bikin enak, walau makan hanya nasi

Yang bisa buat sa begini ni,
Cuma engko saja le Tresi…
Te ada yang lain…
Kenapa e..?

Tatapan teduh penuh misteri itu
Buat sa ingin berlindung
Berlindung di engko pu mata yang indah itu
Dan entah juga kenapa
Saat-saat itu, hanya aksara yang masuk ke dalam sa pu otak

Ah.. Tresi mungkinkah engko barisan abjad
Yang harus saya bentuk menjadi sebait puisi?
Tresi…Engko saja le….

 (Yogi Making-Lelaki Kampung)
Wangatoa, 15/10/2018

Selasa, 16 Oktober 2018

TRESI, INGA ENGKO BUA SA PU HATI GATAL


*Sebuah Puisi Dalam Dialeg Lewoleba, Lembata"



Ade Tresi

Rindu ternyata datang lebe cepat
Bikin kaka pu hati gatal
Mitaaa… hati gatal niiiii
Jo, mo garuk bagimana ni ade

Padahal tadi malam kaka baru tidur di engko pu mata
Padahal juga tadi malam enko pikul bawa bulan datang ketemu saya

Tapi pagi ini,
Kenapa sa pu hati te tenang begini
Mo makan, eh.. sa inga engko
Mo mandi, aii.. takut engko pu bau badan yang tadi malam tu hilang

Iya.. bau badan engko tu
Lebe mahal dari parfumnya Presiden
Lebe harum dari bau cendana
Engko pooo, Tresiiiii
Segelanya, buat saya…

Tapi sa bisa apa ina..?
Saat rindu mengganggu bathin
Ketika hati terasa gatal untuk ketemu engko
Saat yang sama juga kaka harus tunduk pasrah

Hai… Tresi e..eh..
Tau lagi, sa mo jalan kaki pi ketemu engko saja
Persetan dengan panas situ,
Abis mo naik ojek?
Doi ju te ada ni

Mo naik motor?
Bensin su-sah inaaa..
Itu, engko liat di pom bensin sana
Ribuan motor antri
Dong pasrah di tengah terik

Ai.. biar ka e ina..
Hari ini sa jalan kaki saja pi ketemu engko
Nanti kaka pake payung supaya te panas
Kaka mo lindung diri, supa kaka te keringat tu ka ina
Soalnya kalo keringat,
Nanti engko pu bau badan yang tadi malam saat engko pelo sa tu,
 hilang ka. Luntur deng keringat.

Ah.. Tresi e…
Sa su te tahan lagi
Mo jalan kaki ju sekarang ju kaka jalan
Epen situ, hati so gatal Leee

Jo taroooo…..
Mo buat apa saja te bisa niiii…
Dar pada sa gila, mending sa jalan kaki pi ketemu engko e ka?.

(Yogi Making-Lelaki Kampung)
Wangatoa, 16/10/2018

TRESI SA KUAT DI ENGKO



 
Elias K Making


Ade Tresi
Langkah kita su jao sekali
Jejak kaki kita angin su hapus
Kita su jao di depan

Tapi semakin lama kita jalan
Sa rasa sa pu kaki ini makin berat
Lutut gemetar
Betis dong kram
Sa goyah ditengah jalan

Tapi Ade Tresi
Engko masih disini
Di dekat kaka
Meski keringat
Bua luntur engko pu bedak
Tapi engko tetap senyum

Lipstip merah
Yang tadi pagi baru saja engko coret
Su pudar, sedikit lagi su hilang
Tapi engko tetap disini, dikaka pu samping

Jo dengan lembut
Engko bisik di kaka pu telinga
Kaka e, kita sama-sama cape
Tapi kita te boleh berhenti disini

Mari pegang sap pu tangan
Genggam yang kuat kaka
Karena jalan ini
Hanya bisa kita jalani
Berdua,

Ah…Tresi
Sa pu semangat yang tadi pudar
Seiring pudar warga lipstick dan bedakmu
Sekarang bangkit lagi


Kepala yang tadinya tunduk,
Sekarang kembali tengadah
Mata yang sebelumnya sayu
Tetiba saja segar
Sa angkat muka, liat jauh ke depan
Ah.. Ade engko benar.
Kita pu jalan masih panjang

Dan dengan bebisiik juga
Saya jawab,
Ina… ade sayang e
Terimakasih, engko masih ada dengan saya
Ade Tresi e…
Sa kuat di engko le…

(Yogi Making-Lelaki Kampung)
Wangatoa, 15/10/2018

TRESI ENGKO BUAT BULAN TAKUT

Sang Pemilik Hati, Etha Keraf


Malam bae ade Thresi….
Malam ini, sebenarnya masih seduh
Belum ke tengah malam
Baru saja sa dengar
Jengkrik pu bunyi dari lubang tembok

Itu burung hantu juga baru saja mandi
Mungkin sekarang sedang sisir rambut
Buat cantik dia pu muka yang kusam itu
Karena malam ini kekasihnya akan datang
Jo sa pu mata ju belum mengantuk le..

Tapi te tau kenapa
Malam ini sa rasa macam ada yang aneh
Macam ada yang ganggu begitu, ada yang laen dari biasanya
Sa coba cari tau apa sebenarnya yang su buat aneh begini ni?

Nah.. ini ni
Kan tadi waktu matahari pamit
Bulan ju datang
Dan mestinya bulan akan pamit, nanti kalo su tengah malam
Tapi kenapa sekarang su te ada lagi?

Aduh tuhere eee…
Ternyata sa baru tau kalo bulan tuh takut deng engko
Engko tu ka ina
Gara-gara kau Thresi
Engko ka yang buat bulan cepat-cepat pergi
Bukan pamit bae-bae
Tapi pake bulan lari kas tinggal malam

Makanya kalo cantik tuh jang terlalu ka ina
Bulan saja malu karena dia kala cantik dar engko
Engko pu cantik ni
Buat alam ikut jengkel le

Ina Tresi ee…
Malam ini engko buat semua isi dunia
Tunduk sembah deng engko pu cantik

Dan sa yakin….
Esok malam, bulan akan jatuh ke engko pangkuan
Hei… bulan pasti jatuh
Jo engko mo bilang kasihan, karena yang laen gelap?

Tidak Tresi!!
Tidak memang…
Persetan situ
Dunia mo gelap, gelap sudah situ
Yang penting engko datang bua terang sa pu hati




(Yogi Making-Lelaki Kampung)
Wangatoa, 15/10/2018


Senin, 15 Oktober 2018

TRESI


(Puisi Dengan Dialeg Lembata)
foto by Google



Tresi...
Mungkin engko te sadar
Kalu cahaya bulan
Te mau datang temani malam


Ina Tresi e..
Engko tau ka tida ina?
Engko pasti kira ini bulan gelap to? 
Tapi tida le ina...


Itu semua gara-gara enko ka
Redup renyah cahaya bulan
Enko tarek ba masuk ke engko pu mata


Mitaaaaa... tresi...?
Kekuatan alam saja enko ambe kas habis
Apalagi saya?
Sa lema memang o...
Engko pu mata tu betul
Buat sa lema memang oooo..


Hemmmm....ina
Ini bukan sa akal engko e,
Sa bilang ni benar-benar ni ka
Abis mo bagimana? 
tiap kali sa dekat engko
Engko pu sinar mata tu 
Sa rasa teduh
Buat sa betah berlama-lama


Teduhhhhh... sekali le 
Itu yang buat sa lupa 
Ina tresi... serius, ini benar
Benar...
Engko bua sa lupa untuk pulang tidur


Tresi sayang e...
Sa ingin tidur di enko pu mata
Bukan untuk malam ini saja
Tapi untuk seterusnya ina


Tresi e...
Engko memang sa pu bulan purnama 
Yang selalu panggil sa pu rindu 
Iya.. Rindu yang bawa sa datang
Dekat engko
Di sekitar engko pu bola mata
Biar sa menjadi orang pertama
Yang terkena bias cahaya engko pu bola mata

Tresi...

 Engko kenapa e..?
Jo Engko tu Tuhan buat pake apa e?
Maka setiap hari sa ingat engko terus?
Jo sa rasa macam bagimana ka...?


Tresi..
Jadi Ina e.. engko dengar bae-bae e..
Sa mo kas tau engko bilang
Sa suka engko. 
Jo, engko jangan tanya sa pu alasan e
Karena sa suka engko tu te ada alasan


Iya.. Tresi
Sa pu nenek bilang
Cinta tanpa alasan
Biar tiap hari sa cari-cari alasan
Maksudnya, alasan untuk cinta engko
Alasan untuk suka enko
Begitu tu, supaya selalu dekat engko ka ina..


Tresi... 
Jadi sa ulang lagi e
Sa suka enko
Sa sayang enko
Sudah..itu saja...


YOGI MAKING-LELAKI KAMPUNG
Wangatoa, 15/10/2018



Jumat, 12 Oktober 2018

Pantai Bean Antara Eksotisme dan Tantangan



Yogi.com-Pantai Bean, dari namanya, sudah banyak yang tahu kalau pantai yang terletak di pesisir selatan kecamatan Buyasuri, Kabupaten Lembata itu ternyata menyimpan banyak keindahan dan menawarkan eksotisme alam yang menakjubkan.  

Exotisme Pantai Bean, Buyasuri-Lembata. Foto : Yogi Making
Ada banyak pantai di kabupaten lembata yang pernah saya singgahi, diantaranya pantai Minggar di Kecamatan Nagawutung, pantai teluk Jontona di Ile Ape Timur, pantai Lewolein di Lebatukan, Pantai Bour di Nubatukan, dan banyak pantai lainnya. Namun, dari sekian banyak pantai pernah saya jamah itu, pantai Bean sungguh membuat saya terpana.

Betapa tidak, pantainya berkontur landai dengan bentangan pasir putih yang mengular mengikuti lekukan pulau, dan di hiasai hempasan ganas gelombang laut selatan itu seakan terus memancing gelora nafsu sang pengunjung untuk sekedar berenang menikmati beningnya laut, atau berbaring pasrah di tepian pantai untuk merasakan hangat sengatan mentari. Bagi pengunjung yang mencitai ketenangan, Bean pun menjadi pilihan favorit untuk berwisata.

Jembatan Tititan (Jeti( Bean, Foto : Yogi Making
Sebagaimana di saksikan FBC saat berkunjung ke Bean beberapa waktu lalu, di pantai nan indah ini sudah di bangun beberapa infrastruktur pendukung pariwisata, seperi dermaga jety, gasebo, juga beberapa lopo, namun sayang infrastruktur pendukung program pariwisata yang tentunya di bangun dengan dana yang tidak kecil itu tampak tak di rawat, dan beberapa diantaranya terlihat mulai rusak karena di makan rayap.

Begitu juga dengan dermaga jety. Sebagaimana fungsingya, dermaga ini nantinya diharapkan sebagai tambatan perahu/kapal wisata, namun pantauan media ini dermaga kayu itu nantinya tak bisa di fungsikan kerena ujung dermaga yang mestinya nanti menjadi tempat sandar kapal/perahu berada persis di ujung hempasan gelombang.

Akses Ke Bean dan Alternatif Wisata  

Perjalanan menuju Bean hanya bisa di tempuh dengan jalan darat melalui jalur Lewoleba Kedang, jaraknya berkisar 80-an kilometer dengan waktu tempuh, sekitar 3 sampai 4 jam, tergantung kendaraan yang digunakan. Sebenarn
Senjah di Bujit Baja, Foto : Yogi Making
ya dari jarak, Bean terbilang dekat, namun perjalanan menuju pantai nan indah di bumi ikan paus ini membutuhkan ketahan fisik dan nyali yang kuat, pasalnya sejak berangkat dari titik star di Lewoleba, pengendara sudah di hadapkan dengan jalan berlubang. Sebuah pemandangan khas pulau lembata.  

Namun, bagi penyuka tantangan tentu ini merupakan perjalanan yang seru dan menantang. Bagi penguna kendaraan angkutan umum,  tentu waktu tempuh yang terbilang lama dengan kondisi jalan yang parah itu sudah cukup menggoncang perut dan bisa membuat mual jika tidak terbiasa.

Namun jangan khawatir, rasa penat itu segera terbayar lunas, karena lembata ternyata tidak saja menawarkan pantai bean sebagai wisata utama. Sepajang perjalanan menuju pantai pasir putih di selatan Buyasuri itu, pengunjung di suguhi sejuta pesona alam yang menakjubkan. Sebut saja pantai Lewolein, yang selalu menjadi tempat singgah pertama setiap pengguna jalan baik yang menuju maupun pulang dari kedang, Lewolein tidak saja menawarkan panorama alamnya, namun wisata kuliner dengan panganan lokal yang menggugah selera. Ikan bakar, ketupat, jangung titi, tuak dan berbagai jenis masakan khas orang lembata di hidangkan di sini.

Setelah puas menikmati pantai dan makanan khas orang lembata di Lewolein, perjalanan di lanjutkan, baru beberapa meter keluar dari kampung yang merupakan perbatasan kecamatan Lebatukan dan Kecamatan Omesuri itu, tubuh molek lembata kembali anda nikmati. Dari atas bukit Baja, lembata menawarkan lagi sebuah keindahan yang memanjakan mata setiap pengunjung, terlebih perjalanan itu dilakukan pada pagi atau soreh hari.

Dari atas bukit baja, kita bebas menikmati pemandangan pantai lebatukan yang di pagari oleh anggunnya gunung (Ile) Lewotolok di ufuk barat. Kala senja tiba, siraman cahaya keemasan mentari dari balik kaki Ile Lewotolok, seakan tersembul keluar dari beningnya laut. Sebuah keindahan yang menggambarkan keagungan sang pencipta.
G. Ile Lewotolok, dari Bukit Baja, Foto : Yogi Making

Bukit baja memang menawarkan pesona alam yang luar biasa, jika beruntung pengunjung bisa melihat rusa liar yang bebas merumput diantara semak belukar. Yah...kata orang kampung, rusa banyak berkeliaran di bukit baja, bahkan sering dianggap hama karena merusak tanaman petani.
Kendati menawarkan keindahan, pengunjung harus tetap berhati-hati, karena  dihadapkan dengan perjalanan berkelok, menikung pada setiap sisi bukit. Melintasi bukit baja, sungguh membuat sport jantung, tentu gocangan mobil karena jalan yang berlubang terus menjadi warna.

Alternatif wisaata yang ditawarkan lembata tidak berhenti di situ. Keindahan lain yang juga tak kala menarik adalah keindahan desa balauring dari yang dilihat dari atas bukit di ujung desa Lebewala, Kecamatan Omesuri. Sekedar gambaran, balauring adalah sebuah desa pelabuhan yang banyak di singgahi kapal-kapal layar dari sulawesi juga perahu-perahu nelayan setempat. Rumah-rumah penduduk tersusun apik mengikuti alur teluk membuat desa ini menjadi unik.

Wisata Rohani Gua Maria Bean

Gua Maria di desa Bean sebelumnya merupakan gua alam yang kemudian diubah menjadi tempat ziarah rohani yang banyak diminati oleh Umat Katolik di seputaran wilayah Kedang. Mengunjungi gua gua maria bean, benar terasa bahwa tempat ini layak untuk dijadikan sebagai tempat wisata rohani terutama bermeditasi dan mencari ketentraman batin.

Gua Maria Desa Bean, Foto : Yogi Making
Tempa ziarah umat katolik ini berada jauh dari keramaian dan hingar bingar kehidupan penduduk. Sebuah tempat yang sunyi dan tenang, diapiti oleh beberapa bukit dan di bagian lembahnya terdapat perkebunan kelapa milik warga setempat.  Hal yang juga membuat gua maria di tanah kedang ini adalah, aliran air irigasi di kaki gua.

Batu-batu alam tersusun rapi dari dasar gua membentuk jalan masuk menuju pintu gua, beberapa tumbuhan liar sengaja dibiarkan menggelantung di tambah alunan lembum suara gemericik air di gua memberi kesan asri, dan tentu membuat pengunjung menjadi betah. Mengunjungi Gua Maria desa Bean sungguh memberi pengalaman iman yang amat berkesan.

Gambaran Umum Desa Bean
Seperti di jelaskan pada beberapa tulisan sebelumnya, Bean merupakan sebuah desa terpencil yang terletak di pesisir selatan kecamatan Buyasuri. Kampung Bean awalnya merupakan areal pertanian milik warga dari beberapa desa dalam kecamatan Buyasuri.

Bean sendiri baru resmi berdiri menjadi sebuah desa definitif sekitar tahun 2000 dan kini dihuni oleh 103 Kepala Keluarga. Rata-rata warga Bean merupakan petani ladang. Walau desanya terletak langsung di pesisir laut dengan potensi ikan yang menjanjikan, namun warga di kapung terpencil ini lebih menganganggap nelayan hanyalah sebuah pekerjaan sampingan dan sekedar untuk memenuhi kebutuhan lauk bagi rumah tangga mereka.
Rumah Penduduk Desa Bean, Foto Yogi Making

Selain potensi alam yang terbilang unik, kampung bean sendiri sudah terbilang unik, betapa tidak memasuki bean tidak seperti memasuki perkampung lain dimana layaknya didereti dengan rumah-rumah megah dengan lorong-lorong yang tertata rapi. Kampung bean tampil dengan sangat alami, dimana letak rumah penduduk saling berjauhan, rumah-rumah yang bisa dibilang sangat trdisional itu di batasi dengan hamparan ladang yang luas. Beberapa warga yang sempat di temui mengaku, rumah-rumah warga sengaja di bangun lanngsung didalam areal pertanian untuk mempermudah mereka bekerja.

Dan uniknya lagi, setiap penduduk di desa ini sebenarnya sudah memiliki rumah yang dibilang layak huni di desa asal mereka.

Infrastuktur Jalan

Waga memanfaatkan irigasi untuk mencuci pakaian,  Foto : Yogi Makig
Membahas jalan di Kabupaten Lembata seakan tak ada habisnya, dimana tempat kita berada jalan selalu saja di keluhkan masyarakat. Pada bagian terdahulu, sedikit sudah di bahas bagaimana akses jalan dari Lewoleba menuju kedang. Bisa di bayangkan, jika jalan utama saja rusak parah, bagaimana dengan sarana jalan lain yang hanya sebagai penghubung dari satu desa ke desa yang lain. Demikian juga dengan jalan menuju desa yang berada jauh di pesisir selatan kecamatan Buyasuri itu.
Menuju Pantai Bean, setidaknya ada beberapa alternatif jalan yang bisa di lewati, salah satunya melalui desa Panama. Secara umum, jalan masuk ke pantai indah berpasir putih itu dapat di akses dengan menggunakan kendaraan roda dua hingga roda enam, namun ada beberapa titik kritis yang membutuhkan kehati-hatian, karena pada titik-titik ini merupakan jalanan menurun degan batu-batu lepas, sedikit hilang keseimbangan di jamin pasti terperosok. (Yogi Making)

Artikel ini Pernah terbit di : WWW. Floresbangkit.Com



Senin, 08 Oktober 2018

Ada Fosil Manusia Purba Di Pantai Lapa

Fosil Purba Tengkorak Manusia di Pantai Lapa, Foto Yogi Making


Yogimaking.com- Sebelum membahas fosil, baiknya juga kita bahas lebih dahulu tentang pantai LAPA. Menyebut pantai Lapa, saya yakin sebagian besar warga Lembata merasa asing. “dimanakan itu?” kira-kira begitu pertanyaan yang melintas dalam benak. Misteri? Ah.. walau pantai ini menyimpan misteri, namun keberadaan pantai lapa dipastikan bukan HOAX. 

Lantas dimana LAPA yang menyimpan misteri itu? Jika saya menyebut, pantai belakang Markas Polres (Mapolres) Lembata, semua kita pasti kenal. Yah..Pantai sekitar pasar ikan sampai ke pesisir Mapolres Lembata itulah yang disebut “Pantai Lapa”.   

Lapa, demikian nama yang disemat para pendahulu. Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di Wangatoa, Kelurahan Selandoro Saya ingat betul nama itu. Dijaman tahun 1970-an, sebelum berubah nama menjadi pantai Polres, warga sekitar mengenalnya dengan “Pantai Lapa”. Ada sebagian warga juga yang menyebutnya dengan “Pantai Tangsi Polisi”. Pantai Polres atau Pantai Tangsi Polisi adalah sebutan baru, oleh manusia-menusia modern.   

Nah..Dengan sedikit penjelasan tentang keberadaan pantai Lapa diatas, saya mulai yakin kalau, semua kita, setelah membaca artikel ini, tau dan mulai kenal dimana itu keberadaan Pantai LAPA. Awas, jangan sampai lupa lagi lhoo…hhh,

Tentang Fosil

Ok, kita lanjut tentang keberadaan fosil. Sebelumnya saya sudah menyebut, kalau Pantai Lapa, adalah pantai yang masih menyimpan misteri. Betapa tidak, penelurusan saya di sebelah barat Jembatan Titian (Jeti) TPI, hingga wilayah depan mess perwira Polres Lembata, ditemukan beberapa tengkorak manusia.

Sebagaimana dalam pengamatan, Fosil tengkorak belakang kepala manusia yang tak lagi utuh, terlihat menempel pada wadas pantai. Tak Cuma di Lapa, keberadaan tengkorak manusia yang diperkiran berumur lebih dari 100 tahun, juga tersebar dari pantai “Wewa Matan” (Pantai Wangatoa) hingga ke pantai Lapa.

Khusus fosil manusia di sekitaran wadas pantai Wangatoa, keberadaannya diketahui sejak dulu, Seingat saya, ketika masih duduk dibangku Sekolah Dasar, belulang manusia yang menempel pada wadas pantai ini sudah terlihat. Sementara fosil di seputaran pantai lapa baru terlihat, ketika abrasi menggerus pantai.  

Selain fosil, akhir tahun 2017 silam, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah gerabah tanah liat. Tentang gerabah itu, dari bentuk dan motifnya, berbeda dengan gerabah  buatan warga Alor.

Di Duga Fosil Purba
Fosil purba tulang paha dan tulang kaki di Pantai Lapa. Foto Yogi Making

Tentang keberadaan fosil yang tersebar dari pantai Wangatoa hingga pantai Lapa itu, saya pun sempat melakukan penelusuran. Beberapa sepuh yang saya temui menuturkan, pantai Lapa dan wangatoa di tahun 1940-an hingga tahun 1950-an merupakan wilayah tak berpenghuni.

Pantai lapa, oleh warga wangatoa dan sekitarnya, dikenal sebagai daerah angker. Daerah Lapa di sekitar tahun 1940-an, adalah habitat pohon asam, lontar dan gewang. Olehh warga sekitar Lapa dijadikan tempat berburuh.

“Lapa itu dulunya hutan. tempat orang berburu babi. Jaman itu (tahun 1940-1950 an), Lapa tidak berpenghuni. Disitu hutan dan dikenal angker” ujar Nikodemus Uran, salah satu sepuh Lewoleba.
Hal senada juga disampaikan Lukman Lili. Dalam sebuah kesempatan di Wangatoa, Lukman putra Baba Asun ini menuturkan, daerah Lapa pertama dibuka ketika area itu diserahkan tuan tana untuk dibangun Polsek Lembata. Lukman memperkirakan, Polsek Lembata hadir diantara tahun 1950-an sampai 1960-an.

Menurutnya, warga sipil yang kemudian membangun rumah di sekitar Lapa adalah nelayan Lamahala yang datang melaut di Lembata.

“Dulu sekali daerah itu kosong. Lalu sekitar tahun 1950-an, dibangun kantor polisi yang waktu itu kami sebut dengan tangsi polisi. Setelah itu, sekitar tahun 1980-an, nelayan Lamahala datang dan bangun rumah untuk tinggal sementara” ujar Lukman.
Gerabah Tanah Liat, di Pantai Lapa. Foto : Yogi Making. 

Ceritera yang sama pun sempat saya dengar dari Muhamat Luther Lodan, dan Hendrikus Tiwang. Dua tokoh Wangatoa yang telah mangkat ini  menuturkan, jaman dulu, daerah yang berpenghuni adalah daerah sekitar asrama Susteran CiJ dan wilayah Rayuan Kelapa. Sementara kearah timur, wilayah berpenghuni adalah Wangatoa yakni rumah milik Alm. Dema Rogomaking, Rumah Baba Asun dan Rumah Alm. Laga Tiwang. Lapa adalah wilayah tak berpenghuni.

Lantas dari mana asal fosil-fosil itu? “Mungkin ada hubungan dengan bencana Awalolong,” ujar Alm, Hendrikus Tiwang.

Sementara itu Sepuh Lewoleba, Nikodemus Uran dalam sebuah diskusi dikediamannya, mengatakan, perlu ada sebuah penelitian untuk mengungkap keberadaan fosil-fosil di area pantai Wangatoa dan pantai Lapa.
Gerabah Tanah Liat, di Pantai Lapa. Foto : Yogi Making. 

“Penelitian penting. Karena dari penelitian ilmiah, dapat diketahui penyebab kematian dan mengungkap tahun kehidupanya. Tetapi saya menduga, fosil di pantai punya hubungan dengan manusia masa lalu pulau Lembata.

Nah… jika para sepuh menghubungkan keberadaan fosil itu dengan peristiwa tsunami yang menenggelamkan pulau pasir Awalolong, maka bagaimana dengan pendapat anda? (Yogi Making)

Sabtu, 06 Oktober 2018

Jefri Soromaking, Si Cilik Penakluk Puncak Ile Lewotolok

Jefry Soromaking di Puncak Ile Lewotolok. Foto : Yogi Making

Yogimaking. blogspot.com- Tak sepopuler Khansa Syahlaa, anak perempuan berusia 11 tahun penakluk  Puncak Carstensz, namun semangat juang putra Soromaking yang satu ini patut diacungi jempol. Jefry demikian pendaki cilik asal Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata ini disapa, Rabu 3/10/2018 mampu mengalahkan ketakutannya. Jefry bergabung dengan 15 anggota rombongan pendaki Soromaking, dan berhasil menaklukan puncak gunung api Lewotolok.

Jefry tak seperti pendaki umumnya yang melakukan pendakian dengan berbagai perlengkapan. Anak kampung yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Waiwaru, Kecamatan Ile Ape Timur itu melakukan pendakian hanya dengan modal keberanian. Tubuh mungil dibalut jaket pinjaman dari sang kakak, kaki beralaskan sandal jepit, serta segelas air mineral, sudah cukup baginya untuk menundukan kecongkakan si Anggun Ile Lewotolok.
Panorama Sunrise di Puncak Ile Lewotolok. Foto : Yogi Making

Sepanjang pendakian, Jefry terlihat kuat. Tak sedikitpun menunjukan wajah kelelahan. Semangat pantang menyerah sebelum menggapai puncak dia tunjukan. dan benar terbukti, Jefry Soromaking, lelaki cilik berusia 11 tahun itu berhasil melewati berbagai rintangan, mengalahkan ketakutannya, untuk mencapai puncak Ile Lewotolok. Puncak yang terkenal dengan keindahan kawah mati di ketinggian 1.423 mdpl dengan mudah Ia tundukan.

Semangat pantang menyerah yang ditunjukan Jefry, memotifvasi kami pendaki dewasa. Jika Jefry bisa maka seharusnya kami lebih bisa. Iya, dengan sedikit kepayahan, 16 anggota tim pendaki Soromaking akhirnya tiba dipuncak pukul 5.30 pagi.
Suka Cita Tim Di Puncak Lewotolok. Foto : Yogi Making

Sebagai informasi, titik awal keberangkatan dari Kampung Adat Lewohala, Desa Jontona. Informasi yang berhasil di himpun menyebutkan, puncak Ile Lewotolok bisa dicapai melalui beberapa jalur, namun jalur temudah dan paling sering di lalui pendaki adalah jalur Kampung Lama Lewohala. Jika salah satu target pendakian adalah menyaksikan panorama Sunrise maka pendakian dimulai pukul 3.30 pagi. (Yogi Making)

Jumat, 05 Oktober 2018

Cantigi, Si Kerdil Di Ile Lewotolok Yang Terlupakan



Cantigi di Puncak Ile Lewotolok. Foto Yogi Making
CANTIGI, tumbuhan ini mungkin tidak asing di telinga. Kebanyakan mengenalnya sebagai tumbuhan pantai. Padahal tidak demikian. Cantigi banyak ditemui pada ketinggian 2000 mdpl ke atas pada zona sub-alpin atau didaerah puncak gunung, daunnya berukuran kecil dengan warna hijau dan merah. Perpaduan daun berwarna merah muda dan batangnya yang merah kecoklatan memberikan keindahan tersendiri.

Berbeda dengan saudaranya yang di pantai, cantigi gunung disebut juga dengan cantigi ungu atau dalam nama latinnya di sebut “Vaccinium varingifolium” sebagai tanaman gunung, “Nubi” demikian nama yang disematkan masyarakat Ile Ape pada tanaman perdu, yang diburu karena dipercaya banyak khasiat itu, memiliki akar yang mencengkram kuat tanah dan tebing.

Tanaman yang juga banyak tumbuh diwilayah pesisir Lembata ini, ternyata meruang rimbun pada hamparan mendekati puncak Ile Lewotolok. Sejauh ini, Cantigi di puncak gunung api Lewotolok, nyaris tak diperhatikan. Para penakluk gunung Lewotolok, biasanya larut dalam keindahan kawah mati.

Manfaat Cantigi

Cantigi termasuk tanaman pioneer kelas 1 karena memiliki ketahanan yang tinggi terhadap segala kondisi dan lahan kritis dengan kondisi ekstrim (tahan dengan asap belerang dan tanah kawah beracun). Umumnya berukuran kecil. Beberapa literature yang sempat saya baca menyebutkan cantigi gunung hanya setinggi 1 – 2 meter. Kondisi ini berbeda dengan yang saya temui di puncak Ile
Lewotolok, pada Rabu 3 Oktober 2018.

Pemandangan Kawah Mati Ile Lewotolok. Foto Yogi Making
Sebagai tanaman gunung, si kerdil di puncak Ile Lewotolok yang menjadi tumpuan bagi pendaki dan diyakini sebagai pelindung dikala badai itu hanya tumbuh kurang dari satu meter.  

Pohon ini juga menghasilkan buah dan pucuk daun yang bisa dimakan bagi pendaki yang tersesat. Sehebat apapun badai cantigi tidak akan tumbang. Pohon ini kuat menghadapi cuaca yang ekstrim dingin dan menepis panas yang menyengat dan lekang.

“Nubi” diakui kala popular dengan edelweiss. Namun jangan salah, selain beberapa manfaat yang disebut pada bagian terdahulu, beberapa sumber menyebutkan cantigi memiliki banyak manfaat, terutama bagi kesehatan. Apa saja kegunaan bagi kehidupan manusia? Berikut urainya :
  1.  Membuat awet muda : Cantigi  memiliki kandungan berupa  antosianin yang merupakan antioksidan sehingga bisa membuat awet muda, terutama pada buahnya yang berwarna gelap. Karena sistem kerja daun cantigi adalah mengeluarkan racun-racun atau toksin sehingga jika tubuh bebas racun membuat aura seseorang terpancar.
    Cara penggunaannya dengan merebus daun cantigi, lalu diminum secara rutin maka akan membuat wajah menjadi awet muda dan kencang.
  2. Mengatasi  keriput halus.
    Cara penggunaannya : Dengan mengambil beberapa daun cantigi, kemudian dicuci hingga bersih dan direbus dengan air sebanyak tiga gelas, hingga mendidih. Setelah mendidih, lalu didiamkan hingga airnya menjadi hangat, kemudian disaring.
    Mengatasi kulit keriput juga bisa dilakukan dengan mengoleskan cairan yang bersifat pengelupasan kulit, membuat kulit mati dan menggantinya dengan kulit baru. Sesudah itu, cairan tersebut akan merangsang bantalan kulit untuk tumbuh menjadi lapisan kolagen, sehingga kulit terisi dan terlihat awet muda.
  3. Untuk menyembuhkan luka, bengkak, terbakar, nyeri dan bisul. Cara penggunaannya dengan menyediakan daun cantigi yang segar, kemudian dikeringkan dan dijadikan bubuk yang dipakai sebagai astringent, lalu tempelkan pada luka.
  4. Sebagai obat  analgesik, antiradang, spasmolitik, antivirus dan agen hipotensif, serta gangguan lambung. 
    Cara penggunaannya dengan merebus daun cantigi hingga matang,  air cantigi akan berbuah menjadi warna kemerahan seperti air teh. Rebusan air daun cantigi ini diminum dua kali sehari, pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur, sebaiknya dilakukan sesudah makan, agar tidak menimbulkan masalah pada perut. Jangan khawatir akan rasa pahit, karena air rebusan ini tidak berbau dan terasa hambar di lidah.
  5.  Buahnya yang berasa manis sepat dapat dikonsumsi sebagai penambah nutrisi bagi pendaki.
  6. Tanaman Cantigi adalah penanda sudah mendekati kawasan puncak.
  7.  Pegangan untuk mendaki di daerah yang terjal.
  8. Tempat perlindungan dari badai (akar yang kuat ini juga membuat cantigi tahan dari terjangan badai).
  9. Pada beberapa kalangan Cantigi diyakini memiliki kekuatan magis, dan sering dijadikan jimad untuk menangkal aura negative.
    Tim Ekspedisi Soromaking pose Bersama di Puncak Ile Lewotolok. Foto Yogi Making

    Hamparan Cantigi di Puncak Ile Lewotolok. Foto Yogi Making




    Nah.. ternyata “sikerdil” yang terlupakan itu banyak manfaat bukan? Karena itu, mari jaga, biarkan ia tumbuh pada habitatnya. (Yogi Making)