Kamis, 06 Oktober 2016

Marah Pada Senja (Untuk Pagiku Yang Pergi)


Teluk Lewoleba dari sebuah bukit. Foto By, Yogi Making
Aku marah pada senja yang pergi
Sebab malam adalah resah
Dan rindu yang tak bertuan

Aku marah pada senja yang pergi
Sebab malam adalah kebahagiaan yang tenggelam
Dan mimpi tak terwujud

Aku Marah pada senja yang pergi

Sebab malam adalah letih yang merintih diujung sepih

Dan aku marah pada senja yang pergi
Sebab tak kuasa ku kembalikan pagi yang hilang

Wangatoa, 05/10/2016

Yogi Making

Minggu, 02 Oktober 2016

Perang Atau Mati? Surat Untuk Anak Negeri Anta Beranta


“Kisah ini hanyalah sebuah fiksi. Bila ada nama, dan tempat kejadian sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka,”

Hancurkan Kelompok Penghianat Negeri, gbr, By Google
Saudaraku, sekampung dan se Kadipaten. Lama sudah tidak bersua, itulah yang memanggil saya untuk kembali menyapa ruang diskusi saudara-saudara. Kerinduan mengantar saya kembali, tetapi Tak sekedar untuk menyapa atau bertemu rupa, namun lebih dari itu saya ingin
mengajak semua kita untuk berpikir kritis dan bersama menemukan cara untuk membalikan stigma negatif terhadap tanah kelahiran kita.

Yah.. berpikir dan berjuang untuk merubah stigma “Palsu” yang terlanjur melekat pada tanah kelahiran sekaligus termateraikan pada setiap pribadi di tanah ini, karena benar kata orang bijak, “Setiap nama adalah tanda (Nomen est Omen)”. Atas stigma negatif itu, kita pun terpaksa terima berbagai julukan yang di sematkan kepada kampung kita, tanah terjanji yang mestinya kaya raya ini.  “Negeri Salah Urus”, Kadipaten Bedebah,” hingga “Negeri Para Bandit,” terlanjur di semat pada nama kadipaten ini.

Saudaraku...sebelum lebih dalam mengulas lisanku ini, saya terlebih dahulunya ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada berbagai pihak, terutama pihak yang berhasil memprovokasi dan memunculkan kesadaran saya untuk berang pada penghancur negeri ini. Dan mudah-mudahan anda, atau siapa saja yang membaca warkatku ini, pun ikut tersadar kalau memang benar negeri ini bukan saja sedang bergegas menuju ambang kehancuran tetapi tetapi sedang berada dalam kehancuran itu sendiri.

Lihat saja, sampai detik ini, kita relahkan tanah kita untuk di kuasi oleh si penghancur. Dia yang di pilih secara demokratis namun memerintah dengan otoriter. Dia yang di percaya mengelola sejumlah uang untuk kepentingan rakyat namun akhirnya lari tanpa sedikitpun mengucapkan kata  terimakasih  dan mempertanggunjawabkan semua uang yang dia kelola.
Padahal jelas kita mengamati dan mengetahui kalau sebenarnya dalam kekuasaan si pengahancur itulah kita terjebak dalam sistem ekonomi kapitalis yang membagi-bagi masyarakat menjadi berkelas-kelas. Janji kebebasan, persamaan dan persaudaraan terwujud hanya bagi golongan minoritas saja, yakni kelas kaya, sementara kaum kita yang mayoritas kelas tak kaya, lagi-lagi mendapati diri dalam keadaan tetap tergantung, tak sama derajat, dan tercampakan.

Saudaraku, amarah harus di munculkan dan perang harus di gelorakan. Yah..perang, walau saya tau kalau perang itu itu kejam dan menakutkan, namun perang adalah pilihan karena perang merupakan cara tercepat untuk mempertahan seluruh tanah tumpah darah dan menyelamatkan generasi dari kehancuran moral.

Menganjurkan perang, meski saya tahu kalau lawan mungkin melakukan hal yang sama. Demi tanah dan rakyat kecil kita wajib menyingsingkan lengan baju dan menjadikan ari-ari sebagai ikat kepala. Karena saya yakin hanya dengan perang kita merebut kemenangan.

Saudaraku, tetapi perang yang saya anjurkan bukan perang yang mengorban darah. Tetapi perang kita adalah perang strategi, ini adalah perang dingin dan paling mematikan. Karena itu, wahai kaum pintar jangan lagi duduk di bukit tertinggi sambil menikmati kopi dan menyaksikan rakyatmu bertempur sendiri melawan ketidak adilan.

Ini saatnya anda turun gunung, menggalakan persatuan serta membangun kekuatan yang bersatu.  Karena hanya dengan kekuatan yang bersatulah kekuatan akan semakin kuat. ”Virtus, Unita, Fortior”

Kalian kaum pintar yang mengaku lahir dengan misi perubahan harus bisa menjelaskan kepada rakyat secara jujur, apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Kalian kaum cerdas, tinggalkan segala ego dan bersatu untuk rakyat. Jangan saling mengklaim, apalagi saling membunuh.
Camkan ini wahai para pembaharu, api amarah harus di kobarkan di mana-mana di seantero negeri ini. rakyat harus di beritahu kalau sang pencundang sedang menggunakan cara licik, dia mencuri lebih banyak dan memberi sedikit. Sedikit yang dia beri hanya dengan maksud mencuri perhatian kita, lalu dieluhkannya bak seorang pahlawan.

Dia membayar miliyaran rupiah kepada para pentinggi organisasi politik agar di dukung menjadi calon pemimpin. Rakyat harus di beritahu kalau uang untuk membayar petinggi organisasi politik itu adalah uang curian, harta rampasan dari tanah ini.
Rakyat juga harus di beritahu kalau mereka yang bersekongkol dengan manusia bangsat berhati busuk, adalah mereka di bayar dengan pujian dan sedikit uang. Dan kelompok merekalah yang kemudian lahir sebagai penjilat.

Saudaraku sekadipaten, tanah kita adalah terjanji tanah yang kaya dengan nilai luhur dan terwariskan dari generasi ke generasi. Tanah kita adalah kolam susu, sumber kehidupan generasi sekarang dan generasi masa depan, dan karena itulah berhati-hatilah. Para pecundang sedang mengintai, merayu dengan cara pintar agar mereka di pilih sebagai pemimpin di negeri ini.

Saudaraku...kita tentu bertanya-tanya, kepada siapakah tongkat kepemimpinan negeri ini di berikan? Kepada siapakah amanat ini disampaikan? Terhadap tanya ini, saya percaya bila masing-masing kita telah memiliki jawabannya, namun perlu saya ingatkan, kalau perang sudah di kobarkan dan lawan kita adalah dia si pencundang penghancur tatanan budaya dan demokrasi di negeri yang terlanjur berjuluk “Negeri Salah Urus” ini, dia yang si pencuri ulung, dan tentu saja mereka yang punya hubungan dengan kekuasaan masa lalu.

Yah..dia sang penghancur negeri palsu dan mereka yang punya hubungan dengan masa lalu adalah yang paling bertanggungjawab terhadap negeri ini. Apa gunanya meneriakan perubahan sekarang namun dulu sangat menikmati kekuasaan bahkan ikut bersekongkol mencuri harta negeri ini.

Lawan kita yang lain adalah mereka berasal dari kaum kaya, suka menyubang kemana-mana namun faktanya uang sumbangan itu di kumpul dari dari gaji tenaga kerja yang tidak dibayarkan.

Saudaraku, perang sekarang atau mati berkalang tanah? Sembarai mengutip kalimat Sonny Corleone “Pasang Bom Itu Dengan Benar, Jangan Sampai Bajingan Itu Keluar Dari Toilet Dalam Keadaan Hidup,” saya seruhkan mari berjuang untuk negeri.
Salam hangat, Anis
Lelaki Kampung Yang Tinggal di Kadipaten Palsu

Wangatoa, 02/10/2016

Oleh : Yogi Making

Sabtu, 01 Oktober 2016

Tentang Pilkada Dan Perang Buta


(Diskusi Dua Pria Kampung)

“Kisah ini hanyalah sebuah fiksi. Bila ada nama, dan tempat kejadian sama dengan ceritera ini, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka,”

Iklim politik terasa memanas, para kandidat calon dan seluruh tim sukses mulai mencari celah untuk saling menjatuhkan, menyerang pada pribadi bukan mendebatkan program. Mirisnya, kampanye hitam itu seakan menebar racun pada tubuh sendiri.
Ibarat seekor sapi buta yang berlari di tengah keramaian dan menabrak apa saja yang menghadang.

Perang buta yang terutama di mainkan para tim sukses yang selalu sukses meski jagoannya tak sukses itu, mendapat sorotan dari dua pria kampung pedalaman di kadipaten palsu. Siapa lagi kalau bukan Anis dan Anus.

Dalam sebuah diskusi di senja hari di temani secangkir kopi, Anus bertanya pada Anis tentang pendapatnya terhadap Pilkada di kadipaten mereka. Menurut Anus, kondisi politik yang memanas itu akibat para calon tidak memiliki strategi yang baik. Ingin menaikan elektabilitas mereka dengan cara instan. Anus juga menilai, para calon dalam perang politik merebut kursi panas bupati menggunakan strategi membangun rumah, ala rakyat kecil.

“Seperti kita mau bangun rumah dengan biaya yang pas-pasan. Jadi pertama cicil bangun pondasi, lalu setahun atau dua tahun berikut sambung naikan tembok, dan terakhir di atap. Nanti finishingnya setelah pilkada. Itu menurut pendapat saya, tetapi bagaimana dengan kau punya pendapat Anis?” tanya Anus.

“Benar...saya juga lihat begitu. Menurut saya, sebenarnya cita-cita Pilkada kali ini adalah menggeser kekuasaan. Jadi mestinya semua paket yang ada terutama paket non inkamben harusnya bisa mengevaluasi kekuatan, tim harus bisa diarahkan untuk berdiskusi dengan paket lain untuk menentukan siapa lawan sesungguhnya dalam Pilkada ini. Jangan karena semua kandidat, sehingga merasa yang lain adalah lawan. Ini yang menurut saya, mereka tidak cerdas dalam berpolitik,” sambung Anis, sambil meneguk kopi.

Sejenak terlihat kedua pria kampung itu menarik nafas dalam, dan menyandarkan bahu pada sandaran kursi masing-masing. Anus terlihat gelisah, dia cemas kalau perang buta ini akhirnya membawa kembali manusia bejat sang pemimpin sebelumnya. Setidaknya dalam pikiran pria petani itu,  jika si bejat kembali berkuasa, maka apa jadinya kampung tempat darah pertamanya menyentuh bumi? Sudah hancur akan semakin lebur.

Segala macam hal negatif berkecamuk dalam pikiran dua lelaki kampung itu. “ Ah..Anus kawanku. Sekarang kita mesti mengingatkan para tim yang mengaku bisa membuat kandidat calon bupati menjadi sukses itu, bahwa jika Pilkada adalah perang strategi, Pilkada adalah perang program, dan pilkada adalah perang untuk merebut kekuasaan. Karena itu mereka harus cerdas berpolitik. Gugah hati rakyat dengan cara santun dan Hentikan kampanye hitam. Mereka yang mengaku kaum perubahan harus bisa menentukan siapa yang akan menjadi lawan bersama. Para kandidat harus bisa mengingatkan tim untuk tidak ego, jika dukungan melemah sebaiknya berhenti kerja untuk diri sendiri, lalu beralih memberi dukungan pada calon yang lebih punya peluang untuk menang. Ini tugas kita teman. Tugas kita orang kampung yang bodok ini untuk ingatkan mereka yang mengaku pintar, para tim yang mengaku paling punya pengaruh itu,” ujar Anis memberi usul pada Anus sahabatnya.

“Anis, kau benar. Saya setuju. Kita biar orang kampung tetapi jangan menyerah. Kesulitan hidup kita yang alami, maka tugas kita untuk ingatkan mereka para kandidat calon bupati dan wakil bupati, juga para tim pendukungnya,” sambung Anus

Diskusi kedua sahabat kampung itu semakin seruh, rupanya dua lelaki kampung itu telah menemukan jalan, dan akhirnya bersepakat untuk segera mengambil langkah. Bagi mereka, pemimpin yang lahir kelak, adalah pemimpin yang benar-benar memiliki misi perubahan dan sudah pasti pro rakyat.

“Okei kawan...paling tidak dengan kondisi ini saya mau sampaikan begini, bahwa para kandidat ini sudah bersetubuh saat mereka melamar ke Partai Pengusung, dan mereka orgasme saat muncul sebagai calon. Hehehe, ini salah kawan. Persetubuhan baru terjadi pada saat Pilkada, dan orgasme sesungguhnya adalah kemenangan yang membawa dampak perubahan. Situasai sekarang, adalah situasi untuk memberi rangsangan...,”

Dua sahabat yang asyik menikmati kopi senjah itu tiba-tiba tergelak.  Anis pria kampung nan bijak itu selalu menggoda Anus sahabatnya dengan kalimat-kalimat seks, membuat diskusi mereka semakin menarik untuk disimak.

Wangatoa, 1/10/2016
Oleh : Yogi Making







Bangkit

Petrus Bala Wukak
Anggota DPRD Lembata
dari Partai Golkar
(Sajak Buat Sahabat Pieter Bala Wukak)

Berapa banyak lagi aksara yang harus keluar dari isi kepalamu?
Sedang lembaran kertas telah habis kau coret untuk menulis luka

Sahabat...
Waktu terus bergerak mengikuti angin
Namun kulihat kau masih di situ,
Memandangi pena dan kertas putih yang tak lagi bermakna
Tak inginkah kau membongkar awan
Yang terus menutup gunung kecemasan?

Sahabat...
Ini saatnya untuk bertindak
Penjarah sedang mengantri merebut singgasana moyangmu
Dan berkuasa untuk merampok

Maka BANGKIT!!, hancurkan awan
Agar hujan tak datang membawah resah
Hentikan angin agar pohon tak lagi menggigil
Terobos malam agar pagi hadir membawa damai

Salam,
Wangatoa, 29/09/2016

Yogi Making 

Kamis, 22 September 2016

Gelisah


Malam datang sebentar lagi kawan
Kau lihat, sepasukan binatang
Sedang mengintip dari balik persembunyian
Bersama orang terkasihku
Gelisah menanti hadirnya sang gelap

Tetapi kita masih disini
Di persimpangan ini
Berdiri dengan setumpuk resah
Gamang menanti hadirnya malam

Kenapa demikian gelisah kawan?
Harusnya kita bergembira
Karena kemarin baru saja kau berkisah
Tetang sebuah surat sakti

Juga tentang cara lobimu yang unik
Hingga mereka para petinggi terbuai
Tak lupa kau juga berkisah Tentang segepok lembaran merah
Hasil jarahan yang sedikit sudah kau gunakan untuk membeli surat sakti

Kenapa kau gelisah kawan?
Katakan, karena aku ingin tertawa bersamamu
Aku letih menebak rasamu
Dan tak punya waktu untuk bermain dalam maya

Kemarin baru kau saja tersenyum
Kau bangga, katamu surat sakti itu akan membuatmu
Kembali bermegah diantara mereka kaum papa
Dan kelak berbekal surat sakti itu kau merebut kuasa
Dan bekuasa atas mereka yang melarat

Kawan, lihatlah
Senjah sudah menjemput malam
Tetapi bibir masih terkatup
Maka pulanglah, bawa seluruh gelisahmu
Tutup juga pintu mimpi agar di lelapmu kau akan sadar
Jika kau hanyalah seorang pencundang, perusak negeri ini



Yogi Making, Wangatoa 22/9/2016

Senin, 19 September 2016

Kebarek Aku Merindu (Gadisku..Aku Rindu)


Aku mencarimu sebab aku merindu
Karena bulan tak pernah tahu kemana bintang bersembunyi
Tetapi mentari masih terus datang menggoda
Dan memberi khabar kalau kau hanyalah mimpi

Ku yakini, Kau bukan sang tak terlihat
Juga bukan sang gelap
Yang di tulis khalil gibran

Sebab aku merindu
Dan memaksa otakku untuk terus bermain-main dengan bayangmu
Kau bukan mimpi, karena pernah hadir dalam nyataku
Pemandangan di Gunung Batutara, By Yogi Making
Dan aku memujamu

Aku bukan tipe pria penebar gombal,
Namun keanggunanmu adalah sebuah kenyataan
Yang memaksa lisan ku ini untuk terus berucap
Dan melantunkan puisi pujian untukmu
Kau begitu menggoda, hingga tak kuasa kupalingkan wajah darimu

Cantik, Titisan dewakah kau?
Sebab begitu indah, dan dirimu begitu sempurna
Hingga kau mampu memaksa Wens Kopong untuk menulis syair lagu tentangmu

Teti koten mete lodo,
Ago pake lolon sinhan
Nulu naen di beresa helon uran goka.
Lera dai nelo kulitem bura lesu,
sedon nimun aku lewun hulen esa matak hala
Lali lein mete gere Kowa towe matan jahwan
Walen naen di berowot same kowa tawa
 Seni pai paha esiken kuma loran,
Barek natan aku tanhan lile bale yale kuran....
Hulen esa matak hala

Ah Kebarek..
Adai kau tau kalau aku memujamu
Maka tak ada lagi aksara yang keluar dari isi kepala
Dan Takkan ada lagi goresan yang mampu membuat kata indah
Kebarek, Go SUKHANO


Yogi Making, Wangatoa, 19/09/2016

Senin, 12 September 2016

Tuanku Tuan Berdasi

Tuanku tuan berdasi
Kami lapar butuh nasi
Jangan datang buat janji
Omong kosong mulut basi

Tuanku tuan berdasi
Masihkah kau dengar nurani?
Bila di sodor amplop berisi money?

Tuan-tuan yang berdasi
Nada lagumu cinta negeri
Tepuk dada sebut lewo tana
Tapi buat rayat merana

Tuan-tuan yang berdasi
Tanya kembali pada hati
Dari mana dasi di beli
Dari siapa kau raih kursi

Tuanku yang berdasi 
Kerjamu memang hanya rapat
Biacara janji penuh nikmat
Tapi tak mau keluar keringat

Tuan-tuan yang berdasi
Ini puisi curahan hati
Jangan dikira demonstrasi
Yang di dorong rasa emosi
Maka mohon di baca dengan hati

Wangatoa, 12/9/2016

Yogi Making

Kalau Putih Hanya Di Moncong


Kalau putih hanya di moncong
Maka bisa di bilang pembohong
Yang hidup di bawah kolong
Berkat jasa para pemborong

Itu moncong
Bukan lontong
Maka tolong
Jangan sombong
Kalau masih tukang nyolong

Percuma putih kalau hanya di mulut
Karena mulut biasanya cerewet
Kalau tidak di kasih dompet
Sama si kampret
Yang habis jambret

Mocong putih gambaran hati
Bukan lahir karena laci
Yang tidak di kunci
Tapi untuk demokrasi
Yang mulai mati suri



Wangatoa, 11/09/2016

Yogi Making

Minggu, 11 September 2016

Berlatih Untuk Hidup Dalam Lelap

 
Kita perlu berlatih untuk hidup dalam lelap
Seperti angin yang datang menyapa
Dan daun melambai karenanya
Lelap seperti pohon, tak bersuara tapi terus tumbuh
Dan menungguh waktu untuk mati

Kita perlu berlatih untuk hidup dalam lelap
Tak perlu terjaga karena kita tak mampu menjaga
Harga diri sudah di jual
Warisan berhasil di curi
Lalu apa yang tersisah?

Teruslah tidur agar bermimpi
Karena dengan mimpi kau menggapai bulan
Membelai bidadari
Dan mencumbuh bintang
Biarkan matahari cemburu
Dan memelototimu dengan sinarnya

Kita perlu belajar untuk hidup dalam tidur
Agar tak lagi kau (kita) mendengar janji
Dari mulut busuk politisi
Dan mencium aroma amis tubuh pejabat

Tak perlu kau terbangun
Karena bunga-bungamu sudah di curi
Dari taman yang kau (kita) bangun dengan darah dan air mata

Tidurlah dan raih mimpimu
Karena membuka mata
Hanya akan membuatmu menyaksikan tangan ayahmu
Di ikat, dan di todong senjata
Dan kau menangis menyaksikan ibumu di perkosa
Dan kau tak mampu melawan

Kau, kita perlu belajar hidup dalam lelap
Karena di sana di gedung megah itu
Ribuan binatang dibiarkan hidup
Di gaji dan di bayar negera
Tetapi masih mencuri uang dari laci meja ayahmu

Kita perlu belajar untuk hidup dalam tidur
Agar mereka tak lagi datang mengemis suaramu
Meminta dukungan
Lalu pergi meninggalkanmu

Yogi Making, wangatoa 10/9/2016


Sabtu, 03 September 2016

Anak Biasa di Kampung Biasa

Ada kisah tentang laki-laki biasa
Punya istri perempuan biasa
Mereka tinggal di kampung biasa
Hidupnya juga biasa-biasa

Tapi ada yang luar biasa
Keluarga biasa punya anak luar biasa
Sekolahnya di sekolah biasa
Pendidiknya guru biasa
Namun lulus dengan nilai luar biasa

Dengan nilai yang luar biasa
Dia kuliah di kampus biasa
Pilih jurusanpun biasa saja
Juga diajar oleh dosen yang biasa-biasa

Tekad anak kampung biasa, kuliah untuk rubah nasib dari biasa ke luar biasa
Walau susah di kampung orang, tekun belajar sudah biasa
Akhirnya lulus dengan prestasi luar biasa

Biasa juga bagi anak kampung biasa dengan modal prestasi
Anak biasa lamar kerja ke kantor biasa
Sudah pasti bisa di tebak, saat bertemu pejabat biasa
Anak biasa di tolak kerja
Namanya juga kampung biasa
Luar biasa dianggap biasa

Apalagi oleh pejabat yang biasa
Yang bisanya kerja biasa-biasa
Maka sudah menjadi biasa
Anak orang biasa tak bisa kerja

Apa kata pejabat biasa
Prestasi itu hal biasa, apalagi oleh anak orang biasa
Katanya juga orang biasa terbiasa nganggur
Supaya hidup tetap biasa

ini hanya kisah yang biasa
 di tulis oleh orang biasa
Jangan di pikir luar biasa
Semoga di baca biasa-biasa
Agar terus menjadi biasa


Yogi Making

Wangatoa, 3/9/2016

Kamis, 01 September 2016

Aku, kau, kita

(Sajak Buat Istri Tercinta)

Aku satu
Kamu Satu
Dan kita bersatu
Dalam cinta
Termateraikan oleh Allah
Di depan altar
Disaksikan imam
Umat dan dua saksi
Kita berjanji
Saling cinta
Saling setia
Enam belas tahun sudah kita lalui bersama
Seperti janji kita untuk saling memberi dalam kekuarangan
Karena kau, aku, diikat
Bersumpah untuk saling setia
Dirimu, miliku
Aku, milikmu
Karena cinta
Kita bersatu
Dua hati menjadi Satu
Ah..karena cinta, maka kemanapun aku pergi
Ada bayangmu
Aroma tubuhmu ada di setiap desah nafasku
Cinta
Terimakasih, kau kekuatanku
Dan Terang bagi jalanku
Cinta
Mari dekap aku dalam rindumu
Gengam jemariku
Yakinku, kita akan selalu ada bersama
Buat mereka buah cinta kita
Tiga generasku yang lahir dari rahimu
Rahim yang terbekati
Cinta, aku ada, karena kau ada
Terimakasih untuk kebersamaan ini
Terimakasih untuk kasihmu
Hidupku, hidupmu, hidup kita


Yogi Making, Wangatoa 1/9/2016

Buat Istriku


Selamat malam sayang
Selamat malam cinta
Selamat malam kekasih
Selamat malam belahan jiwa
Terimakasih untuk cinta yang ku dapat sepanjang hari
Atas perhatian yang ku terima
Buat senyum dan kata manismu
Dan untuk kebersamaan kita

Tidurlah
Lelaplah dalam cintaku
Petiklah bintang dengan jemari lembutmu
Hingga pagi menjemput
Bangunlah dengan senyum

Railah hidup, bersamaan datangnya sinar pagi
Dan sisa embun yang menetes dari kaca jendela kamar kita

Tidurlah dalam keyakinanmu
Dan kupastikan kalau kau adalah miliku seutuhnya
Kau kekasihku, istriku dan ibu dari anak-anakku


Yogi Making,
Wangatoa, 1/9/2016

Rimba


Hadirku tuk mengajakmu bercinta
membayar seluruh rindu yang pernah kita pendam belasa tahun silam.
kau masih sama
kau cantik
kau seksi
dan...ah, keteduhan itu membawaku terbang

Yogi Making,
Wangatoa, 1/9/2016

Pantun celana


Cari nona ke Lamalera
Oleh-olehnya buah bidara
Agar tidak dapat mara
Datang pake calana mera

Menara tinggi di kota baru
Ikat tali ujung ke pohon waru
Buang lama cari baru
Cari yang pake calana baru

Nona baru panjat waru
Panjat waru tanpa calana
Jangan coba garu-garu
Nanti nona minta lu pung calana

calana baru belinya di pasar
Untuk hadia yang di sasar
karena dia orangnya kasar
Datang marah selalu nyasar

waktu nyasar dapat pelana
Pelana buat naik kuda
Bila nyong beli calana
Jang kasih ke mama muda

Datang berkunjung ke mama muda
Numpang duduk diatas sampan
Biar bisa awet muda
Harus pake calana umpan

Nyong deng nona naik kuda
Jang lupa ikat pelana
Datang kunjung nona muda
Jang lupa ikat celana

Yogi Making

Wangatoa, 1/9/2016

Sambar Rambang


Gunung Erupsi bawa Bencana
Peter lari angka calana
Datang singgah di toko Lencana
Yang di bangun tanpa rencana

Buang calana ganti sarung
Tak ada sarung pakai karung
Bertemu Abdy ajak bertarung
Baku guling didalam karung

Dasar dia si anak bujang
Jika sudah mulai bertarung peter suka lupa pulang
Apalagi ada peluang
Dapat ceweq yang punya uang

Jangan panggil dia peter kalau sudah punya uang
Dia beli boneka beruang
Agar di kira dia pejuang
Yang belajar di kampung Kluang

Di kampung Kluang Peter bertemu Ansel Deri
Anak Kluang yang suka diajak tante Meri
Untuk belanja ke pasar Weri
Tempat jual black berry

Tante Meri simpanan Peter
Suka koleksi HP senter
Juga hobi pakai daster
Punya alamat di media center

Media Center Punya Talena
Seniman yang hobinya terlena
Kalau di ganggu nona Helena
Om Talena telan pena

Pena Talena penuh tinta
Buat tulis surat cinta
Agar bisa masuk minta
Ade nona yang minta tinta

Yogi Making
Wangatoa, 31/9/2018

Kata Pamit Pelacur Kota

Saudara mucikari
budak-budaku
Kalian para lelaki kampung dan para penjilat
Yang saya kagumi

Senang sekali saya bisa berada di sini
Terutama untuk waktu lima tahun
Dan paling tidak sudah membuat saudara-saudara melayang
Waktu bersama itu segera (sudah) berakhir dan saya akan pamit

Tetapi jangan lupa kalau saya akan datang lagi
Membawa mimpi baru, tentu saja dengan tampilan fisik yang sedikit saya rubah
Saya harap mimpi baru itu bisa membuat kalian terpesona
Dan ahkirnya saya bisa di pilih menjadi pelangan kalian

Penting juga untuk saudara tau
Kalau saya akan datang dengan mucikari baru
mucikari bertato kepala sapi sudah meninggalkan saya
tetapi sekarang datang yang bertato burung merpati

tentu kepada mereka saya layani dengan sungguh-sungguh
yang bertato burung itu ternyata sangat bernafsu
semalaman saya melayani dia dan pagi tadi kembali memintah jatah
Tak apalah, toh semuanya demi jabatan pelacur

Oh, saya pun ingat, kalau nanti akan ada pemain baru
Dengar-dengar dari kelompok yang bertato bintang
Ada pula kelompok yang bertato pohon ketapang
Tentu mereka ingin menyaingi saya

Tapi dengan keyakinan penuh
Semua mereka tidak menandingi saya
Mereka punya apa? saya pelacur ternama
Beberapa pejabat pernah menikmati selangkangan saya

Katanya pemain baru, tapi apakah mereka juga akan menjadi pelacur seperti saya?
Apakah mereka bisa membuat saudara mabuk, lalu menyediakan selangkangan buat kalian?
Profesi pelacur ini saya dapat bukan dengan cara mudah
Sangat mahal, bahkan saya harus menjual orang kecintaan saya

Saudara sekalian yang saya kasihi
Jabatan pelacur periode kedua sudah saya dekat ke selangkangan saya
Sebentar lagi kalian akan coblos
Dan lubangi semau kalian, asal kalian puas dan saya akan mendapatkan kalian kembali

Hari ini saya pamit,
Tanpa perlu memandangi wajah kalian
Bau keringat birahi masih menempel di tubuh kalian
Biarkan itu menjadi kenangan yang akan kita ambil kembali

Saya perlu menyampaikan terimakasih
 terutama bagi yang sudah merasakan nikmatnya selangkangan saya
Serta memohon maaf bagi yang tidak sempat saya layani
Kalian baik hati, karena sudah menjual diri untuk saya

Bagi saudara yang kerena kenakalan saya
Mereka harus mengorbankan diri, terimalah, itu takdirmu
Juga bagi yang pernah bermasalah dengan saya
Tak apalah, nikmati saja. Pasti kalian marah dan saya bangga kerana bisa memenjara kalian

Buat warga lain yang baik-baik, saya mohon pamit
Saya pulang kerumah saya agar bisa membersihkan diri
Dari sisa lendir anak dan saudara kalian
Dan dari bau amis darah sepuhmu itu

Siapkan diri kalian paling tidak untuk menjemputku kembali
Tempuling nenek moyangmu harap di asah
Dan bila aku datang, hujamkan tempuling itu persis di selankanganku
Dan kita akan bersenggama lagi

Yogi Making
Wangatoa, 29/8/2016


Dendam Lelaki Kampung


Lima tahun silam
Saat kau datang dengan dandanan seksi
Gaun tipis membalut tubuh
Kemolekan yang memesona

Merangsang setiap mata yang memandang
Begitu memikat,
Kau menjanjikan klimaks pada ilalang yang kering diantara pematang sawah
Dan pada ikan-ikan yang merindukan laut

Pun pada lelaki yang merindu liang
Dan pada perempuan yang ingin meraih tongkat kenikmatan
Memberi hangat pada dingin yang liar
Menyulut api pada pada sekam yang menumpuk

Disini lima tahun silam
Kau bagai pelacur kota yang haus kenikmatan
Menggelayut mesra pada lengan-lengan kekar lelaki kampung
Dan ku dengar desah nafasmu memburu saat tangan kekar itu menggerayang

Kau ingin senggama
Di tengah kami sibuk beronani
Dan paha mulusmu kau sediakan buat lelaki kampung
Tempuling sudah ku asah

Sungguh sebuah kenikmatan yang kau janji
Kami merindu air tetapi kau menjanji madu
Memberi terang pada pekatnya malam
Bangkitkan semangat pada asa yang layu

Oh…Lima tahun adalah waktu yang cukup
Mestinya kita telah bersenggama
Dan tempuling lelaki kampung itu harusnya sudah merobek rahimu
Membuahinya, agar lahir generasi baru sebagai lambang kebahagiaan

Namun ketika aku sedang terbuai janji
Kau pergi, padahal paha mulusmu belum ku elus
Dan  liang kenikmatan itu belum kutembusi dengan tempuling pelaut lamalera
Kau pergi, sebelum tangan kekarku merobek kutang yang membalut bukit

Oh…ternyata aku teralu sibuk bermimpi untuk membuahi rahimu
Padahal tanganku terus bergerak mengocok kemaluanku sendiri
Aku beronani, mendesah diantara himpitan dinding kamar mandiku
Dan semakin terlena saat lendir kenikmatan melesak bagai panah menembus jantung

Kau pandai bermain kata, hingga akupun larut dalam janji
Pinggul seksimu mampu membuatku terlena
Dan lima tahun itu aku tertidur dalam lamunanku
Berhayal bila kita mencapai nikmat bersama

Ah..pelacur kota, aku tersadar kala mani terakhir menetes
Dan terperangah melihat tubuh telanjangku, karena pakain sudah kau lucuti
Aku malu pada kecoak kamar mandi, nyamuk dan sisa sabun yang ku beli
Aku sedih saat kudapati air kenikmatan itu menghambur diantara kloset

Rupanya kau pelacur kota,
Saat aku terbuai kenikmatan, kau datang merampas harta ayahku
Mencuri warisan moyangku
Kau pergi tanpa mengibas sisa debu di telapak mulusmu

Marahku menjadi-jadi saat mendapati tangan masih menggenggam kemaluanku
Sementara harta moyangku sudah kau ambil tanpa sekalipun aku melawan
Ah…pelacur kota, disini di tanah moyangku aku menantimu kembali
Ingin ku bayar seluruh utang kesalahan masa lalu

Ah…pelacur kota
Aku rindu memperkosamu,
Merobek selangkanganmu dengan tempuling
Dan membiarkan dagingmu di koyak anjing piaraanku

Yogi Making

Wangatoa, 29/8/2016